NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Simfoni Kematian di Distrik Utara

​Hujan badai mengguyur kota malam itu, seolah langit ikut menabuh genderang perang bagi klan Vassiliev. Petir menyambar membelah awan hitam, menerangi puluhan mobil SUV antipeluru berwarna hitam pekat yang berbaris rapi di pelataran mansion.

​Ratusan pasukan elite bersenjata lengkap berdiri menembus hujan tanpa bergeming. Udara dipenuhi oleh deru mesin yang menggeram buas dan aroma tanah basah yang segera akan tergantikan oleh bau anyir darah.

​Di dalam Ruang Komando bawah tanah, Xavier sedang mengenakan rompi taktis berbahan kevlar hitam di atas kemejanya. Pria itu menjejalkan beberapa magasin peluru cadangan ke sabuknya, lalu menyelipkan sepasang belati tempur ke sarung di kedua pahanya. Matanya yang kelabu berkilat dingin, sepenuhnya bertransformasi menjadi sang iblis pencabut nyawa.

​Aletta berdiri di hadapannya, merapikan kerah rompi taktis suaminya dengan tangan yang sudah tidak lagi bergetar.

​"Pasukan sudah siap, Bos," lapor Diego yang baru saja masuk dengan seragam tempurnya yang basah kuyup.

​Xavier mengangguk pelan, lalu mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Diego keluar sebentar. Begitu pintu tertutup, Xavier menunduk, menatap lekat-lekat mata istrinya. Pria itu menyentuh sisi wajah Aletta, ibu jarinya mengusap tulang pipi gadis itu dengan kelembutan yang hanya ia miliki untuk satu orang di dunia ini.

​"Aku akan meninggalkan lima puluh pengawal terbaik untuk menjaga bungker ini. Pintunya akan dikunci dari luar dan hanya bisa dibuka dengan biometrik mataku," ucap Xavier dengan suara baritonnya yang dalam.

​Pria itu kemudian merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah earpiece komunikasi nirkabel berukuran sangat kecil dan menyelipkannya ke telinga kanan Aletta.

​"Aku tidak mengurungmu, Sayang," bisik Xavier saat melihat Aletta menahan napas. Pria itu menyalakan layar monitor utama di Ruang Komando yang terhubung dengan drone termal dan kamera taktis seluruh pasukannya. "Malam ini, kau bukan tawanan yang bersembunyi. Kau adalah mataku. Kau yang akan mengawasi pergerakan dari atas sini. Pandu aku menuju jantung musuh kita."

​Dada Aletta bergemuruh. Kepercayaan Xavier padanya kini benar-benar tanpa batas. Pria itu menyerahkan taktik perangnya ke dalam genggaman sang istri.

​"Aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka menyentuhmu dari titik buta," ucap Aletta mantap, menatap lurus ke dalam badai kelabu suaminya. "Habisi mereka, Xavier. Dan kembalilah padaku bernapas."

​Xavier menyeringai, sebuah senyuman mematikan yang luar biasa tampan. Pria itu merengkuh bibir Aletta dalam ciuman keras dan menuntut yang menguras napas, seolah mengambil energi dari istrinya sebelum turun ke medan perang.

​"Aku berjanji, Ratuku," bisik Xavier tepat di atas bibir Aletta, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar menuju badai.

​Distrik Utara adalah kawasan industri mati. Pabrik baja raksasa yang terbengkalai itu berdiri menjulang seperti kerangka monster di tengah kegelapan malam.

​Namun, di dalam layar termal yang Aletta perhatikan dari Ruang Komando, pabrik itu menyala terang oleh ratusan titik merah panas—menandakan seratus tentara bayaran elit Volkov yang bersiaga penuh. Ivan Volkov tidak bodoh. Ia tahu serangan balasan akan datang.

​"Posisi alfa siap. Kami masuk."

​Suara dingin Xavier terdengar jernih di telinga Aletta melalui earpiece.

​Di layar monitor, Aletta melihat rombongan Xavier mendobrak gerbang besi pabrik menggunakan truk lapis baja. Tembakan senapan mesin berat langsung menyambut mereka, merobek malam dengan kilatan api yang menyilaukan. Pertempuran pecah seketika.

​Suara rentetan tembakan, teriakan, dan ledakan granat menggema hebat dari saluran komunikasi Aletta. Jemari Aletta menari cepat di atas keyboard panel kontrol, memutar kamera drone menembus atap kaca pabrik baja tersebut.

​"Xavier!" panggil Aletta cepat, suaranya tenang namun tajam menembus kekacauan di telinga suaminya. "Ada dua penembak jitu di atas derek magnetik arah jam sebelas! Mereka membidik Diego!"

​Di medan perang yang dipenuhi asap tebal, Xavier tidak menoleh. Ia memercayai panduan istrinya seratus persen. Xavier langsung mengarahkan senapan HK416-nya ke atas, menembak membabi buta ke arah derek dalam kegelapan. Dua tubuh jatuh berdebum dari ketinggian, tewas seketika.

​"Kerja bagus, Sayang," dengkus Xavier di sela-sela napas memburunya. Pria itu terus melangkah maju seperti dewa perang yang tak tersentuh. Peluru musuh seolah enggan mendekatinya. Setiap gerakan Xavier efektif, mematikan, dan tanpa belas kasihan.

​Aletta terus memandu dari bungker. "Sekelompok besar bersembunyi di balik tungku peleburan sayap kanan. Lempar granat ke sana sekarang!"

​Ledakan besar kembali terjadi. Tubuh-tubuh tentara Volkov terpental. Pasukan Vassiliev di bawah komando Xavier mendesak maju, membantai sisa-sisa pertahanan musuh dengan kebrutalan murni. Darah menggenang, bercampur dengan air hujan yang bocor dari atap pabrik.

​Hingga akhirnya, radar termal Aletta menangkap satu titik panas besar yang tidak bergerak di sebuah ruangan kantor kaca yang menggantung di lantai dua pabrik.

​"Dia di sana," bisik Aletta. "Lantai dua. Ruang mandor. Ivan Volkov sendirian."

​"Tahan posisi pasukan. Dia milikku," perintah Xavier melalui saluran terbuka yang didengar oleh seluruh anak buahnya.

​Xavier melangkah menaiki tangga besi yang berderit. Sepatunya yang berlumuran darah meninggalkan jejak kental di setiap anak tangga. Dengan satu tendangan keras, Xavier menghancurkan pintu kaca ruangan tersebut.

​Di dalam ruangan yang temaram, Ivan Volkov—pria Rusia raksasa dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya dan tato beruang menyeringai di lehernya—berdiri menunggunya. Di tangannya terdapat senapan Shotgun laras ganda.

​Ivan menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang menguning. "Anak kecil Vassiliev. Kau akhirnya datang. Aku sudah membayangkan bagaimana aku akan menyembelihmu seperti aku membakar ibumu lima tahun lalu."

​Rahang Xavier menegang hingga bunyi gemeretaknya terdengar ke saluran komunikasi Aletta. Udara di ruangan itu seolah membeku.

​"Kau menggonggong terlalu keras untuk seekor anjing yang pasukannya baru saja kubantai habis," desis Xavier, membuang senapan serbunya ke lantai dan perlahan mencabut belati tempur dari pahanya. Pria itu lebih suka mengakhiri nyawa dalang utama keluarganya dengan cara yang paling perlahan dan menyakitkan.

​Ivan mengaum, mengangkat shotgun-nya, dan menarik pelatuk.

​BAM!

​Peluru berhamburan, namun Xavier sudah bergerak secepat kilat. Ia meluncur ke bawah meja, menghindari tembakan mematikan itu, lalu menerjang ke depan dengan kekuatan buas.

​Xavier menendang lutut Ivan hingga berbunyi retakan keras, membuat pria raksasa itu terhuyung. Sebelum Ivan bisa mengokang senjatanya lagi, bilah belati Xavier menembus pergelangan tangannya, memaksa senjata itu jatuh.

​Ivan meraung kesakitan, mencoba memukul Xavier dengan tangan kirinya yang sebesar batu. Namun Xavier menangkisnya dengan mudah, memutar lengan Ivan ke belakang, dan menghantamkan lututnya tepat ke punggung Ivan hingga pria raksasa itu ambruk ke lantai bersimbah darahnya sendiri.

​Xavier mencabut belatinya dari tangan Ivan, lalu menjambak rambut pria Rusia itu, memaksa Ivan mendongak menatap matanya yang sekelam dasar neraka.

​"Ini untuk ibuku," bisik Xavier tepat di telinga Ivan, suaranya menggetarkan jiwa.

​Dalam satu gerakan mulus dan tanpa keraguan, Xavier menggorok leher Ivan Volkov. Darah menyembur deras. Mata Ivan membelalak sebelum akhirnya meredup dan mati, menyusul seluruh pasukannya ke neraka.

​Xavier melepaskan mayat itu dengan jijik. Ia berdiri tegap di tengah ruangan yang hancur. Napasnya terengah-engah, dada bidangnya naik-turun.

​Pria itu mendongak, menatap langsung ke arah drone kecil yang melayang di luar jendela—menatap tepat ke arah mata Aletta yang sedang mengawasinya dari layar monitor berkilo-kilometer jauhnya.

​Xavier menyeringai, menyeka cipratan darah Volkov dari rahangnya.

​"Pertunjukannya selesai, Ratuku," suara berat Xavier mengalun di telinga Aletta, dipenuhi kemenangan absolut. "Siapkan air hangat. Rajamu akan pulang malam ini."

​Di dalam bungker yang sunyi, Aletta menghembuskan napas lega. Air mata kebanggaan mengalir menetes di pipinya. Ia menyentuh earpiece di telinganya dan berbisik lembut, "Aku menunggumu, Suamiku."

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!