NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Pembelaan sang Darah Daging

BAB 35: Pembelaan sang Darah Daging

​"Jangan sentuh anakku!" suara Kiara melengking tinggi, memecah kesunyian koridor belakang rumah makan. Tubuhnya gemetar hebat, memeluk Arka sekencang mungkin seolah-olah seluruh dunia sedang bersekongkol untuk merenggut separuh nyawanya.

​Dua orang pengawal berjas hitam kiriman Adrian baru saja mengambil satu langkah maju untuk mengeksekusi perintah sang CEO, namun gerakan mereka mendadak terhenti oleh sebuah interupsi keras dari arah pintu luar.

​"Lepaskan tangan kalian dari istri dan anak saya!"

​Sebuah derap langkah kaki yang tergesa-gesa bergaung kasar di atas lantai kayu panggung. Seorang pria dengan pakaian kasual sederhana—mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung hingga siku dan celana jins yang sedikit terkena noda tanah—segera merangsek masuk ke dalam lingkaran intimidasi tersebut.

​Pria itu adalah Rendra. Sahabat setia yang selama empat tahun ini menjadi malaikat pelindung Kiara di pinggiran kota. Rendra-lah yang mencarikan kontrakan, menjamin keselamatan Kiara saat melahirkan, dan meminjamkan namanya demi status sosial Kiara di desa udik ini agar tidak digunjingkan sebagai wanita simpanan.

​Rendra langsung berdiri pasang badan tepat di depan Kiara dan Arka, mengonfrontasi tubuh tegap Adrian yang berdiri menjulang. Meskipun dari segi pakaian dan strata sosial Rendra kalah telak, sorot mata pria itu memancarkan keberanian yang tulus untuk melindungi wanita yang diam-diam ia cintai dalam keheningan itu.

​"Siapa Anda, berani sekali membuat keributan di tempat kerja istri saya, bahkan berniat melakukan kekerasan pada anak saya?!" gertak Rendra dengan suara yang lantang, mencoba mengimbangi aura pekat yang menguar dari tubuh sang CEO.

​Deg.

​Mendengar kata "istri saya" dan "anak saya" keluar dari mulut pria lain, sepasang mata elang Adrian seketika menyalang merah. Rahang tegasnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di sekitar pelipisnya menonjol tegang, menciptakan ekspresi yang luar biasa mengerikan. Gairah birahi kepemilikan yang selama empat tahun ini mati suri, mendadak bergolak menjadi sebuah rasa cemburu gila yang membakar akal sehatnya.

​Adrian menatap Rendra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mata yang teramat meremehkan, dingin, dan sedingin es yang siap menghancurkan siapa saja.

​"Jadi... ini pria desa yang kamu maksud, Kiara?" desis Adrian, mengabaikan keberadaan Rendra dan memilih menembus lurus tatapannya pada wajah pucat Kiara yang bersembunyi di balik punggung Rendra.

​Adrian terkekeh sangat tipis—sebuah kekehan kejam yang sarat akan dominasi pria alpha. "Selera matremu ternyata menurun drastis setelah pergi dari apartemenku. Kamu mencampakkan aku demi pria jelata seperti ini, hm?"

​"Jaga mulut Anda, Pak!" potong Rendra, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. "Kami tidak tahu siapa Anda dan apa masa lalu Anda dengan Kiara. Tapi di tempat ini, saya adalah kepala keluarga mereka. Pergi dari sini sebelum saya meneriaki Anda sebagai penculik!"

​Suasana di koridor belakang itu semakin mencekam hingga pasokan oksigen seolah menipis. Pengawal Adrian sudah bersiap bergerak untuk menumbangkan Rendra dalam satu gerakan kasar atas perintah mata dari sang majikan. Kiara sudah hampir kehilangan napasnya karena ketakutan yang luar biasa.

​Namun, tepat sebelum bentrokan berdarah itu terjadi, sebuah pergerakan kecil dari balik dekapan Kiara mengubah seluruh jalannya takdir sore itu.

​Arka kecil mendadak menggeliat turun dari gendongan ibunya. Kakinya yang mungil menapak kokoh di atas lantai kayu. Anak berusia tiga tahun itu sengaja berjalan maju, melewati perlindungan Rendra, lalu berdiri tegak tepat di hadapan Adrian Alkatiri.

​Tangan mungil Arka yang masih memegang robot plastik murahan terangkat, menunjuk tepat ke arah wajah Adrian. Anak itu memiringkan kepalanya sedikit—sebuah gestur tengil dan arogan yang lagi-lagi menjiplak seratus persen kebiasaan Adrian saat sedang menyudutkan mahasiswanya di kelas dulu.

​"Om jelek pakai jas, jangan berisik!" ucap Arka dengan nada suara yang teramat ketus, datar, dingin, dan tanpa rasa takut sedikit pun.

​Deg.

​Adrian Alkatiri terkesiap, tubuh tegapnya tersentak mundur setengah langkah. Sepasang mata elangnya melotot sempurna menatap bocah kecil di bawahnya. Kata-kata ketus itu... nada bicara yang sedingin es itu... bukan hanya fisiknya saja, tetapi seluruh tabiat dan genetik keangkuhan yang mengalir di tubuh Arka adalah cetakan mutlak dari dirinya sendiri.

​Arka menatap mata elang Adrian dengan sorot mata yang tak kalah tajam, sekeras batu granit khas Alkatiri. "Om jangan ganggu Bunda. Bunda Arka tidak salah. Kalau Om jelek ini berani bikin Bunda menangis lagi... Arka akan pukul Om pakai robot ini sampai rusak!" ancam Arka kecil dengan keberanian yang luar biasa, memosisikan tubuh kecilnya sebagai pelindung utama Kiara.

​"Arka, sayang, jangan..." lirih Kiara, air matanya menetes deras melihat bagaimana anak sekecil itu harus ikut merasakan ketegangan orang dewasa. Ia segera menarik kembali Arka ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah sang anak yang berwajah jiplakan Adrian itu agar tidak terus memicu kegilaan sang mantan profesor.

​Adrian masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap tangannya yang gemetar karena syok yang teramat ekstrem. Jiwa dan insting alpha-nya berteriak histeris menolak kebohongan Kiara dan pembelaan Rendra. Anak seketunggal dan secerdas itu tidak mungkin lahir dari gen pria biasa seperti Rendra. Itu adalah darah dagingnya. Itu adalah anak kandungnya yang disembunyikan Kiara selama empat tahun ini.

​Adrian menarik napas panjang, mencoba mengembalikan kewarasan kepemimpinannya yang sempat runtuh. Ia menegakkan tubuh tegapnya, menatap Rendra, Kiara, dan Arka bergantian dengan sorot mata yang kini dipenuhi oleh kabut obsesi, birahi kepemilikan, dan dendam yang kian membara.

​"Permainan yang bagus, Kiara. Kamu berhasil membawa pelindung dan menyusun skenario pernikahan palsu ini dengan rapi," bisik Adrian dengan suara bariton yang teramat rendah namun mengintimidasi batin siapa saja.

​Adrian memutar tubuhnya perlahan, melangkah pergi meninggalkan koridor belakang dikawal oleh barisan pengawalnya. Namun, tepat sebelum bayangannya menghilang di sudut belokan, Adrian menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang, menyisakan sebuah kalimat ancaman yang teramat seksi sekaligus mematikan bagi masa depan Kiara.

​"Nikmati sisa malam ini bersama 'suami desa'-mu itu, Mahasiswaku. Karena besok pagi... aku sendiri yang akan menyeretmu dan anakku kembali ke Jakarta. Dan tidak akan ada satu pun pria di dunia ini yang bisa menghentikan kuasaku untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak milikku sepenuhnya."

1
Blu Lovfres
saya liat di semua judul novel mu, semuanya hott😁
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!