Perjuangan seorang Gadis Desa yang tengah mencari jati dirinya hingga bertemu dengan pengusaha muda tampan yang sangat mencintainya. namun apakah keluarga CEO tampan tersebut mampu menerima seorang gadis desa itu?
jangan lewatkan kisah selanjutnya,
yuk kepo'in😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanjiwani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.
Sintya benar benar kesal, karena papa dan mamanya bukan membelanya, malah sebaliknya, papa dan mamanya justru senantiasa membangga banggakan dan membela gadis desa itu. Sintya pun jadi tidak kerasan berada di rumah, karna kalau dia terus berada di rumah, maka ia akan sering bertemu Lisa yang selalu membuatnya kesal.
dengan perasaan memendam kekesalan dan kejengkelan, Sintya pun menghubungi nomor Dava. tapi ternyata nomor ponsel pemuda itu tidak aktif. tak mau menyerah Sintya kemudian menghubungi nomor rumah Dava.
"Hallo selamat malam, sapa Sintya, setelah dari seberang terdengar sahutan seorang wanita.
"Malam ini siapa ya?"
"Saya Sintya. ini siapa?"
"Saya mamanya Dava."
"Oh tante..."
"Ada apa Sintya?"
"Davanya ada tante?"
"Baru pergi, katanya mau kerumah temannya, mungkin ke rumahmu."
"Baiklah tante, kalau begitu biar saya tunggu. Makasih ya tante."
"Ya sama sama, salam untuk papa dan mamamu ya."
"Ya tante, nanti akan Sintya sampaikan, udah dulu ya tante.."
Sintya menghela nafas panjang setelah memutuskan hubungan telponnya dengan mamanya Dava. dia harus sabar menunggu sampai Dava datang.
Dava Rahardi adalah pacar Sintya, mereka sudah berpacaran sejak satu bulan yang lalu, Dava termasuk pemuda yang tampan, sehingga Sintya merasa sangat bangga menjadi pacarnya, karna di luar sana banyak para gadis cantik yang berebut ingin menjadi pacar Dava. Dava juga memiliki banyak teman gadis lainnya. bahkan tidak jarang para gadis itu mendatangi rumah Dava hanya untuk bertemu dengannya. meskipun begitu Sintya tidak pernah khawatir untuk hal itu. ia sangat yakin dengan cinta Dava, dan ia yakin bahwa Dava hanya setia kepadanya saja.
dugaannya ternyata benar, ketika ia sampai di teras rumah,Sintya melihat Dava baru saja turun dari mobilnya. kemudian Sintya menghampirinya.
"Sayang untung saja kamu cept datang." ucap Sintya menyambut.
"kenapa memangnya?" ucap Dava penasaran."
" aku lagi bad mood, kita jalan yuk, kemana kek." ajak Sintya sembari memeluk lengan Dava dan merebahkan kepalanya di bahu milik Dava.
"Dengan senang hati tuan putri." ucap Dava bersemangat.
mereka kemudian bergegas meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada orang tuanya.
saat itu jam menunjukam pukul 01.00 pagi.
Bu Dewi yang saat itu sangat cemas karna putrinya belum juga pulang sampai selarut ini, ia berjalan mundar mandir, sesekali ia memandang ke arah pintu gerbang, namun belum juga terlihat putrinya datang. hatinya semakin cemas dan khawatir takut terjadi apa apa kepada putri nya itu, ia sudah berkali kali menghubungi nomor ponsel Sintya, namun tetap saja tidak aktif.
"mama istiraht saja, biar papa yang menunggunya disini." ucap sang papa dengan wajah kesal.
"tapi pa, jika Sintya pulang nanti, tolong jangan menyakitinya pa." ucap Bu Dewi memohon kepada suaminya. karna Bu Dewi sudah sangat paham betul kepada sifat suaminya itu jika sedang marah, ia tidak segan segan untuk memukul, menampar bahkan menendang sekalipun bila ia sudah sangat marah, dari sejak kecil anaknya sendiri pun tidak luput dari tamparanya jika ia sudah sangat marah dan tentunya jika anaknya benar benar bersalah.
"Itu karna ulah mu yang terlalu memanjakannya, setiap dia ingin pergi kau selalu ijinkan. bahkan dia sering pulang malam kau selalu membiarkannya. sekarang kau lihat. ini lah hasil didikanmu yang selalu memanjakannya." bentak Pak Hadi kepada istrinya. kini kemarahanya sudah naik hingga ke ubun ubun. Bu Dewi yang mendengar kemarahan suaminya itu hanya terdiam tidak berani
"Ada apa ma, pa?" tanya Lisa memberanikan diri menghampiri papa dan mama tirinya. krna sejak tadi Lisa seperti mendengar ada keributan di ruang tengah, jadi ia terbangun dan ingin tahu ada apa yang sebenarnya.
"Kamu tanyakan saja kepada mamamu ini." ucap sang papa dingin.
"Ada apa ma? tanya Lisa lagi.
"Adikmu Sintya belum pulang juga sampai selarut ini nak." jawab Bu Dewi dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Ya Tuhan kemana dia.., mama tenang ya, Lisa akan coba menghubunginya." ucap Lisa.
"Percuma nak, karena nomor ponselnya tidak aktif." ucap Bu Dewi yang kini mulai menangis, Lisa mengusap punggung mama tirinya itu, kemudian memeluknya, ia sangat tidak tega melihat seorang ibu menangis.
Beberapa saat kemudian terdengar suara deruan mobil menghampiri rumah mereka, Mang Ujang tampak terbangun kemudian membuka gerbangnya. terlihat Sintya sedang turun dari mobil dan berjalan memasuki ruangan.
Sintya yang baru datang berjalan sangat pelan, ia mengendap ngendap bagai maling, bermaksud agar orang tuanya tidak tahu jika ia baru saja pulang. Sintya kemudian menyentuh gagang pintu dan memutarnya perlahan. setelah pintu terbuka, betapa terkejutnya Sintya yang kini mendapati mama dan papanya beserta Lisa telah menunggunya di balik pintu. Sintya sangat takut, ia berjalan dengan kecepatan tinggi menuju kamarnya, berharap mama dan papanya membiarkan begitu saja ia lewat di depan mereka. namun kenyataanya tak seperti itu, denga cekatan sang papa menarika tangan Sintya hingga ia terlempar kelantai.
Bu Dewi yang melihat kejadian itu dengan sigap menghampiri Sintya dan mengangkat tubuh Sintya untuk membangunkannya.
"Dari mana saja kamu?" tanya sang papa dengan suara bergetar karna kemarahanya yang selama ini ia pendam.
Sintya yang ketakutan hanya terdiam dan menundukan kepalanya, ia sama sekali tidak berani melihat wajah papanya saat itu.
"Jawab..!!!" suara Pak Hadi semakin menggelegar, bagai petir yang akan memecah gendang telinga Sintya. namun Sintya tetap saja tidak menjawabnya.
"Plakkk.." sebuah tamparan kembali mendarat di wajah Sintya.
"Apa kamu tuli hah, dasar anak tidak tahu diri." kemarahan sang papa semakin menjadi.
"Cuku pa..." teriak Lisa yang melihat papanya hendak kembali menampar Sintya.
kemudian sang papa mengurungkan niatnya untuk menampar Sintya lagi.
"Jika papa terus menampar Sintya itu tidak akan menyelesaikan masalah pa, justru akan menambah buruk ke adaan. tolong papa berikan Sintya waktu untuk menenangkan dirinya dan beristirahat dahulu pa." ucap Lisa memberanikan diri.
Sintya yang mendengar semua itu memandang papanya dengan tatapan penuh kebencian, lalu melepas paksa pelukan mamanya dan berlari menuju kamarnya. Bu Dewi kemudian mengikuti putrinya itu.
Pak Hadi yang mendengar ucapan Lisa kemudian mencoba menenangkan dirinya, ia duduk bersandar di atas sofa disamping Lisa. sembari memegangi jantungnya yang terasa agak sakit karna kemarahanya barusan.
"Papa tenang lah dulu, biar Lisa besok yang akan mencoba membujuknya, siapa tahu nanti ia akan bicara tentang kemana ia pergi tadi.
sang papa mengangguk pelan, ia memejamkan matanya, seakan berusaha sangat keras untuk menghilangkan kemarahanya.
Lisa kemudian meninggalkanya papanya dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat, karna masih ada waktu untuk istirahat sebelum pagi menjelang.
#jangan lupa ya untuk selalu like, koment dan votnya setelah kalian selesai membaca.
Terimakasih😊