Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tempat tinggal baru
Di kota yang terus bergerak tanpa menoleh ke belakang, setiap orang menyimpan rahasia di balik pintu apartemennya masing-masing.
Ada yang datang membawa luka lama.
Ada yang tinggal bersama kesepian.
Ada pula yang tanpa sadar, menjadi takdir bagi orang lain.
Yao Yao akhirnya berdiri di tempat yang ia pilih sendiri tanpa paksaan, tanpa jerat masa lalu.
Sementara Fengyun masih bergulat dengan pengkhianatan dan kebenaran yang terlambat terungkap.
Dan di antara lorong-lorong sunyi apartemen itu, sebuah pertemuan sederhana mulai menuliskan cerita baru ringan, hangat, namun penuh kemungkinan.
Karena terkadang, kehidupan tidak berubah lewat balas dendam atau kekuatan besar…
melainkan lewat satu pintu yang terbuka, satu senyuman asing, dan satu langkah berani meninggalkan masa lalu.
---
.
.
.
Meimei kembali bersama seorang staff membawa map cokelat dan tablet.
Yao Yao duduk di sofa empuk dekat jendela besar, menggelayut manja seperti kucing yang baru dapat tempat tidur baru.
“Baik, ini kontraknya,” ujar staff itu ramah.
Yao Yao mengangguk sopan… lalu tiba-tiba menyengir, “Uh-huh, boleh saya baca dulu? Takutnya kalian tiba-tiba memasukkan syarat aneh kayak, ‘penyewa dilarang membawa kecoa raksasa peliharaan’ atau ‘penyewa wajib menyanyi lagu kebangsaan tiap jam 6 pagi’.”
Staff itu hampir tersedak udara. “T–tidak ada begituan, Nona…”
Xinyao dalam hati ' Kalau pun ada syarat begitu, aku orang pertama yang bikin kecoa raksasa duluan untuk menghancurkan peraturan itu.'
Ia mulai membaca kontrak cepat sekali, mata nya bergerak seperti scanner kemampuan lamanya otomatis bekerja.
Beberapa detik kemudian ia berhenti.
Alisnya terangkat.
“Hmm? Bagian ini apa?” Ia mengetuk halaman dengan kuku kecilnya. “Dilarang membuat keributan setelah pukul sepuluh malam… definisi keributan ini termasuk apa? Kalau aku ketawa karena nonton drama yang lucu banget, itu termasuk?”
Staff menjawab dengan sopan “Eee… tidak? Itu masih normal.”
“Kalau aku teriak karena liat kecoa tiba-tiba terbang?”
Staf bingung tapi tetap di jawab “E… masih bisa ditoleransi?”
“Kalau teman aku datang terus kami debat siapa paling ganteng antara Dewa Perang atau CEO tampan?”
Meimei menahan tawa. “Yang itu… mungkin agak ribut, tapi tetap manusiawi.”
Yao Yao mengangguk bijak. “Oke, jadi masih aman. Sip.”
Ia melanjutkan membaca, lalu lagi-lagi nyengir.
“Apa ini? Deposit segini banyak? Apa apartemen ini bisa berubah jadi robot raksasa kalau malam hari? Atau ada hantu premium di dalamnya?”
Meimei akhirnya ngakak kecil. “Tidak ada robot, tidak ada hantu di sini Yao Yao Hanya standard deposit.”
Yao Yao mengembungkan pipinya. “Hmm, mahal kali… tapi ya sudahlah. Aku memang mau mulai hidup baru. Investasi masa depan gitu ya.”
Ia mengambil pen, tapi sebelum tanda tangan, ia menatap meimei dan staff dengan sangat serius.
“Aku mau nanya satu hal…”
Staff gugup. “S-silakan.”
“Di sini… air panasnya stabil nggak? Aku trauma soalnya. Pernah mandi air panas, eh di tengah-tengah asik mandi malah jadi air dingin sampai aku teriak ‘ DEWA LANGIT APA DOSA KU?!’.”
Meimei langsung mengangguk mantap. “Stabil, 24 jam.”
“Bagus!” Yao Yao mengangkat pen seperti pahlawan. “Dengan ini! Aku! Yao Yao! Resmi pindah!”
Ia tanda tangan dengan gaya heboh seperti menandatangani perjanjian perdamaian dua negara.
SWOOSH!
Tanda tangan lentik tapi tegas.
“Done!” katanya bangga. “Sampai jumpa, hidup lama! Halo, kehidupan baru yang indah!”
Staff menghela napas lega. “Terima kasih sudah memilih apartemen kami.”
Tapi Yao Yao masih belum selesai.
“Oh iya, satu hal lagi,” katanya sambil mengangkat jari.
Meimei menghela nafas panjang “Ada apa lagi?”
Yao Yao mendekat dan berbisik dramatis, “Jangan kaget kalau aku suka ngomong sendiri. Itu bukan karena aku gila… itu karena aku jenius.”
Meimei memutar bola mata nya “…… Terserah.”
Yao Yao tersenyum cerah. “Sampai jumpaa~!”
Ia pergi dengan langkah ringan dengan aura protagonis ceroboh yang manis.
Meimei menatap lama punggung sahabat nya itu
" sekian lama tidak berjumpa ternyata sebanyak ini perubahan mu " gumam nya ringan
________
Setengah tanda tangan berkas kepemilikan yao Yao segera pergi apartemen yang sudah di beli nya
pintu apartemen terbuka perlahan
KLIK
Pintu apartemen tertutup pelan.
KLIK.
Yao Yao berdiri di tengah ruang tamu yang masih kosong, menatap sekeliling dengan mata berbinar.
Sinar matahari masuk lewat jendela besar, memantul di lantai marmer yang bersih dan hangat.
“…Wah.”
Ia berputar satu lingkaran penuh, lalu membuka tangan lebar-lebar.
“Mulai hari ini, ini wilayah kekuasaanku.”
Sunyi.
Tenang.
Tidak ada teriakan Zhang Lian.
Tidak ada tatapan sinis Haoran.
Tidak ada Meilin dengan suara lembut beracun.
Yao Yao menghela napas panjang.
“Enak banget ya hidup tanpa orang-orang gila itu.”
Ia berjalan ke jendela, menarik tirai. Kota membentang luas di hadapannya gedung-gedung tinggi, lalu lintas sibuk, cahaya yang hidup.
“Hmm… bagus. Feng shui-nya lumayan,” gumamnya sambil menyipitkan mata. “Rezeki ngalir, aura bersih… cuma kurang satu.”
Ia menoleh ke sudut ruangan.
“Kulkas.”
Perutnya langsung berbunyi.
Kruk.
“Tenang… tenang… bentar lagi mama beliin kamu makanan.”
Yao Yao mulai menjelajah seperti anak kecil masuk rumah mainan baru.
Ia membuka pintu kamar.
“Ohhh~ kamar tidur,” katanya sambil menjatuhkan diri ke kasur kosong. “Empuk… tidak berderit… tidak bau obat… tidak ada bekas air mata—”
Ia berhenti, lalu menepuk kasur.
“Bagus. Kita cocok.”
Bangkit lagi, ia menuju dapur.
“Dapur juga oke,” gumamnya. “Kompor baru, wastafel kinclong… hmm walaupun sebelumnya udah di cek tapi rasa nya pengecekan kedua kali ini lebih memuaskan " ujar nya tersenyum puas.
Ia membuka lemari atas.
Kosong.
Lemari bawah.
Kosong juga.
Yao Yao mengangguk serius. “Tidak apa-apa. Kita akan isi bersama-sama.”
Ia lalu menuju kamar mandi.
Begitu pintu dibuka—
“WOW.”
Kamar mandi modern, kaca besar, shower bersih, air panas digital.
Yao Yao meneteskan air mata palsu.
“Nenek… lihatlah… cucumu sekarang mandi pakai air panas yang stabil…”
Ia membalikkan badan hendak keluar—
TOK TOK TOK.
Ketukan pintu terdengar dari luar.
Yao Yao membeku.
“Hmm?”
Ia mengernyit. Siapa? Aku baru pindah, belum sempat bikin dosa… kan?
Ia berjalan pelan ke pintu, mengintip lewat lubang kecil.
Seorang pemuda berdiri di luar.
Tinggi.
Rambut hitam agak acak-acakan.
Kaos putih polos, jaket hitam.
Ransel satu bahu.
Wajah bersih, alis tegas, mata tenang.
Yao Yao berkedip.
“…Astaga.”
Ia membuka pintu sedikit.
“Iya?”
Pemuda itu menoleh. Saat mata mereka bertemu, ia terlihat sedikit terkejut… lalu tersenyum tipis.
“Oh, kamu pindahan baru ya?”
Suara rendah, bersih, sedikit serak.
Yao Yao refleks menegakkan punggung.
“Iya,” jawabnya cepat. “Kenapa?”
Pemuda itu mengangkat plastik di tangannya. “Aku tetangga sebelah. Tadi ada paket nyasar ke aku. Nama di paketnya… Zhang Yao—”
“LIN!” potong Yao Yao spontan. “Maksudku iya itu aku.”
Pemuda itu terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk.
“Oh. Oke.”
Ia menyerahkan paket itu.
“Terima kasih,” kata Yao Yao sambil mengambilnya. Lalu matanya menyipit curiga. “Kamu mahasiswa?”
Pemuda itu tampak terkejut dengan pertanyaan mendadak itu.
“…Iya. Kok tahu?”
Yao Yao menunjuk ranselnya. “Aura anak kos.”
Pemuda itu terkekeh kecil. “Aku Wei Chen. Fakultas teknik.”
“Oh.” Yao Yao mengangguk pelan. “Aku Yao Yao. Pengangguran profesional.”
“…Hah?”
Yao Yao mengibaskan tangan. “Becanda. Aku kerja… di bidang spiritual.”
“Spiritual?” Wei Chen mengulang.
“Iya.” Yao Yao menatapnya serius. “Kalau kamu tiba-tiba sial, jangan kaget. Itu bukan ulah ku.”
Wei Chen menahan tawa. “Kamu… unik.”
“Terima kasih.” Yao Yao mengangguk bangga. “Aku sering dibilang begitu.”
Mereka terdiam sebentar. Suasana agak canggung… tapi entah kenapa tidak sedikit pun perasaan tidak nyaman muncul..
“Oh iya,” kata Wei Chen lagi. “Kalau butuh apa-apa—”
“—makanan,” potong Yao Yao cepat. “Aku butuh makanan.”
Wei Chen tertegun.
“…Kebetulan aku mau masak. Mie telur. Mau?”
Mata Yao Yao langsung berbinar.
“Mahasiswa tampan yang bisa masak?” Ia menepuk dada. “Aku tidak salah pindah ke sini.”
Wei Chen tertawa kecil. “Anggap saja… Ucapan selamat datang.”
Yao Yao mengangguk mantap.
“Mulai hari ini, hidupku di apartemen ini pasti seru.”
Bersambung 🥂
________
Tidak semua luka harus dibalas dengan kebencian.
Tidak semua masa lalu layak kita bawa ke masa depan.
Jika hari ini kamu merasa sendirian, tersesat, atau sedang memulai hidup dari nol ingatlah, seperti Yao Yao, kamu juga berhak memilih tempatmu sendiri di dunia ini.
Terima kasih sudah membaca cerita ini 🌙
Kalau kamu suka dengan alur ceritanya, dialognya, atau penasaran dengan kelanjutan kisah Yao Yao dan Fengyun
💛 Jangan lupa Like untuk dukung penulis
💬 Tulis Komentar biar aku tahu pendapat kamu
🔁 Share ke teman yang suka novel & kisah tak terduga
🔔 Subscribe / Follow supaya nggak ketinggalan kelanjutan ceritanya
Karena satu klik kecil darimu…
bisa jadi semangat besar untuk melanjutkan kisah ini 🤍
---
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...
lbh kasihan hauron, uangnya sia2 😜