"Aku hanyalah wanita biasa yang tak rela suamiku berpoligami"-Maryam Azzahra-
Poligami menjadi penyebab renggangnya ikatan suci pernikahan antara Maryam dan Faiz. Sampai suatu saat Damar Langit datang membawa getaran lain di hati Maryam yang membuatnya bimbang antara bertahan dan melepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hatiku Bagai Di Remas
Haii berikan komen, like dan vote kalian sebagai bentuk dukungan kalian pada author. Terima kasih.
***
Kursi meja makan di rumah utama keluarga Gufron sudah terisi penuh. Maryam meremas jahitan samping pakaian yang dikenakannya tak kala matanya menangkap sosok istri muda suaminya sedang disuapi dengan begitu manjanya.
"Mas, jangan brokolinya dong aku gak suka," rengek Kanaya seperti seorang bocah.
"Iya sayang, maaf-maaf."
Hati Maryam panas tak terperi, di depannya sendiri Faiz tampak sangat perhatian pada Kanaya.
"Hhmm,," dehem Gufron memecah keheningan. Menyadari hal itu Maryam langsung tertunduk lesu.
"Maryam, Ayah harap kamu maklum ya. Karena Kanaya sedang mengandung," ucapan Gufron seakan membuat Maryam tak bergeming.
Kanaya melirik Maryam sinis dan tatapan licik. Ia sudah selangkah lebih maju darinya.
Kamu kalah sekarang Maryam, aku selangkah lebih maju.
"Maryam, kamu cobain ya ayam kremesan buatan ibu. Kamu kan paling seneng makan menu ini," Laila seakan tahu dan hanya Laila lah di rumah ini yang selalu mengerti akan perasaannya. Bahkan satu-satunya orang yang selama ini menjadi pelindung dan pendukungnya tengah berbahagia di atas penderitaannya sendiri.
"Iya Bu, Maryam cobain ya. Pasti enak seperti biasanya," jawab menantu yang sangat ia rindukan selama ini. Rasa khawatirnya sirna tak kala melihat senyum indah menyungging di bibirnya. Maryam datang memenuhi undangan dari mertuanya untuk makan malam bersama.
"Maryam, aku harap kamu mengerti jika aku tidak sering mengunjungimu. Kanaya sedang hamil muda, sekarang pun sakit karena muntah-muntah jadi tubuhnya lemas. Aku khawatir jika meninggalkannya sendiri. Jadi kami memutuskan untuk tinggal sementara dengan Ayah dan Ibu,"
Deg,
Kenapa kamu harus memperjelasnya lagi Mas. Ucapan Ayah sudah membuatku cukup mengerti.
"Iya Mas, tak apa. Aku ngerti ko,"
"Kamu gak bakalan ngerti Maryam, karena kamu belum merasakan yang namanya hamil." Kanaya seolah menampar keras Maryam dengan kalimatnya. Hati mana yang tidak sakit mendengar madunya melontar kalimat menyakitkan di hadapan kedua mertuanya.
"Nay," pekik Laila pelan. Kanaya tahu jika ibu mertuanya tak senang dengan ucapannya barusan.
"Tapi Kanaya benar bu, keluarga kita harus punya keturunan. Untungnya Kanaya bisa cepat hamil di usia pernikahannya yang belum genap setahun. Kalian jaga baik-baik ya keturunan Gufron ini." ucapan menohok kembali digulirkan Ayah mertuanya seolah Gufron sangat mendukung pernikahan Faiz dengan Kanaya dari pada dirinya.
Setahun menikah belum punya keturunan bukan berarti Maryam bermasalah dengan kandungannya. Banyak orang menikah bertahun-tahun lamanya, bahkan belasan tahun pun mereka masih bersabar.
Astagfirullah, Ya Allah kuatkanlah hatiku.. Ampunilah lidah mereka. Hatiku bagai diremas-remas.
***
"Yah, nggak baik loh mengeluarkan kalimat seperti tadi. Kita harus menjaga perasaan Maryam. Ibu tidak suka Ayah seolah membandingkan mereka berdua," keluh Laila atas sikap suaminya saat sedang makan malam bersama.
"Ayah bicara yang sebenarnya Bu. Maryam harus tahu kedudukannya. Seharusnya sedari dulu Faiz dan Kanaya menikah, bibit, bebet dan bobotnya jauh dari standar Maryam,"
"Yah, tolong jaga ucapan Ayah. Jangan korbankan kebahagian anak-anak kita demi ego Ayah," hardik Laila secara halus.
"Justru Faiz bahagianya dengan Kanaya Bu. Apa ibu tidak melihatnya?"
Kedua kali hatiku bagai di remas-remas, mendengarnya. Ya Allah apa yang harus aku lakukan?
Tanpa sengaja Maryam akan berpamitan pulang dari rumah mertuanya. Saat akan mengetuk pintu kamar terdengar percakapan keduanya jelas sangat jelas di telinga Maryam.
Air matanya tak terbendung lagi, ia memutuskan untuk pergi begitu saja.
Lama Maryam duduk di tepi jalan dekat dengan rumah orang tua Faiz. Kendaraannya ia tinggalkan di kantor karena ban mobilnya kempes sewaktu akan berangkat, jadinya sore tadi Maryam naik ojek online.
Maryam memutuskan menghubungi Anindya dan mengirimkan pesan padanya untuk meminta menjemputnya di alamat yang di share-nya. Belum ada tanda-tanda Anin menjawab pesannya, mungkinkah Anin sudah tidur. Pikirnya saat itu. Maryam bisa saja memesan ojek online untuk pulang berhubung keadaan dirinya sedang kalut, ia khawatir akan menjadi hal boomerang untuknya sendiri.
Tak sampai setengah jam menunggu sebuah mobil hitam mewah mendekat, jendela terbuka menyembul di balik kemudi ternyata Langit. Bosnya sendiri sedang menatapnya aneh.
"Sedang apa lo malam-malam di tempat seperti ini?"
"Saya sedang menunggu jemputan Pak,"tak ada cara bagi Maryam selain berbohong dari pada Langit berpikiran macam-macam padanya.
"Siapa? Teman apa pacar?"
"Teman saya Pak,"
"Sudah sampai mana dia?"
"Tidak tahu Pak. Saya-,"
"Cepetan naik! Gue antar lo dari pada duduk sendiri di tempat remang-remang seperti ini kaya yang lagi jualan. Tahu gak sih?"sembur Langit tanpa ampun.
Maryam berpikir sejenak, apa baik jika dirinya pulang dengan pria yang bukan suaminya. Apalagi hanya berdua di dalam mobil. Tapi benar apa yang dikatakan Langit.
"Apa boleh jika saya numpang mobil Bapak?"
"Makanya gue ajak juga berarti gak keberatan. Mau gak?"
Melihat Langit seperti sedang tergesa-gesa. Maryam mengikuti perintah Langit untuk mengantarnya pulang.
Di dalam mobil mereka berdua saling terdiam dengan pemikirannya sendiri.
Langit melirik sekilas mata Maryam yang sembab.
Kenapa dengan perempuan ini? Kenapa matanya seperti habis menangis.
Langit segera melajukan kendaraannya memecah kesunyian malam melewati jalan alternatif menuju rumah yang ditunjukan Maryam. Cukup menempuh 15 menit, mereka tiba di sebuah rumah minimalis modern berwarna abu dengan halaman terdapat banyak bunga-bunga di dalam pot. Halamannya luas, cukup untuk menyimpan dua mobil di sana.
Langit menurunkan Maryam tepat di depan pagar rumahnya, ada rasa canggung menyelimuti dirinya saat ini.
"Pak, terima kasih sudah mengantar. Apa Bapak mau mampir terlebih dahulu?" hanya sebuah tawaran saja sebagai bentuk kesopanan untuk tamunya. Mana iya Maryam pergi begitu saja.
"Tidak perlu. Gue lagi terburu-buru. Kalau begitu gue pamit." tanpa menunggu Maryam menjawab, Langit sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan Maryam.
Beruntung ada Pak Langit, kalau tidak entahlah.
***
Pagi sekali bel rumahnga berbunyi beberapa kali. Maryam melihat dari kaca jendela tampak seorang perempuan sedang menunggu di depan pintu.
"Masya Allah, Fani," Maryam memeluk erat Fani yang ternyata adalah adik iparnya sendiri. Adik dari suaminya yang berkuliah Ausie.
"Mbak, Fani kangen banget. Mbak apa kabarnya? Mbak sehat?" Fani menatap penuh keadaan Maryam. Istri kakanya ini tampak kurusan dari terakhir mereka bertemu. Ada semburat kesedihan dalam matanya.
"Alhamdulillah Baik, mari masuk. Mbak hampir lupa."
Keadaan rumah yang masih sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Tata letak perabotan di rumah Maryam masih seperti dulu. Rumah yang Faiz beli atas nama Maryam.
Fani mengedarkan pandangannya pada sebuah foto pernikahan Faiz dan Maryam di ruang keluarga. Mereka berdua seperti pasangan pengantin bahagia.
***
Bersambung
penasaran akan mamfir
rela harga diri diinjak2
klu org SDH dak suka kenapa masih memaksakan diri?
laki2 macam apa
ayo Maryam cerai aja cari laki2 yg mencintaimu