"Menarik...!" seringai misterius seorang Ardiaz menghiasi wajah tampannya.
"Jangan panggil gue Ardiaz, kalau untuk mendapatkannya saja gue nggak bisa!!" imbuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
"AAARGH...!! Cewek sialan...!!" teriak Starla sambil menatap cermin.
Setelah pesta berakhir, Starla langsung pergi ke kamarnya. Padahal tahun-tahun sebelumnya setelah semua tamu pulang, dia masih akan bercengkrama dengan Ardiaz dan orang tuanya. Tapi sekarang Ardiaz justru meninggalkan acara lebih awal, bahkan tanpa berpamitan padanya.
"Diaz..., kamu jahat banget..." ujarnya sambil terisak.
Tok... Tok... Tok...
"Starla, sayang...!" teriak Gisel dari balik pintu.
"Buka pintunya, nak...!" ujar Gisel lagi.
"Pergi, maa...!! Aku nggak mau dengar apapun. Pergi...!!" teriak Starla.
Di luar sana Gisel meremas tangannya, membuat anak tunggalnya menangis tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Sejak menjanda, Gisel selalu berupaya melakukan apapun demi kebahagiaan putrinya. Dia tidak ingin membuat Starla menangis. Dia juga kerap memberi pelajaran pada orang-orang yang membuat air mata putrinya lolos begitu saja.
"Kenapa? Ada apa sebenarnya? Kenapa Diaz jadi seperti ini?" pikir Gisel.
"Dia bilang aku dan Starla bermain-main dengan keluarganya...? Bicara apa dia..!"
"Nyonya...?!" seorang asisten rumah tangga mendatangi Gisel.
"Ada apa?" tanya Gisel.
"Kado-kado non Starla mau disimpan di mana?" tanya perempuan itu.
"Simpan saja di kamar tamu." balas Gisel sambil menoleh ke arah tangga.
Biasanya Starla akan membawa semua kadonya ke kamar, tentu saja ditemani oleh Ardiaz. Gisel mendengus panjang. Dia berniat mencari tahu apa penyebab perubahan sikap Ardiaz.
___
Ardiaz dan Alea sudah tiba di rumah. Alea pamit menuju ke belakang, tempat dia tinggal bersama asisten rumah tangga yang lainnya. Ardiaz menatap bagian belakang tubuh Alea, kemudian tersenyum tipis.
"Cantik, ya..." bisik seseorang.
"Astaga!!" Ardiaz tersentak karena suara itu.
"Pak Hakim ini...!!" geram Ardiaz.
"Mas Diaz suka ya sama non Alea...? Ngaku...?!" goda pria paruh baya itu.
"Apa, sih?! Enggak!!" balas Ardiaz.
"Iih..., apa iya...?! Itu pipinya merah..." Hakim semakin bersemangat menggoda anak majikannya itu.
"Pak Hakim jangan mengada-ada ya. Sudah ah, aku mau masuk. Capek." kata Ardiaz.
"Makanya mas, langsung pulang. Jangan malah keluyuran..." cibir Hakim yang masih konsisten dengan kejailannya.
Ardiaz menoleh ke arahnya sambil menyipitkan mata.
"Tenang, mas. Saya tidak akan bilang bapak dan ibu kalau mas tadi sudah sampai depan tapi lolos entah kemana bawa anak orang." katanya sambil cengengesan.
"Pak Hakim...!!" Ardiaz menunjuk pria itu saking gemasnya.
"Tenang, mas. Aman...!! Saya waktu muda dulu juga begitu. Setiap jemput pacar tidak pernah langsung pulang, tapi saya ajak mojok dulu, atau jajan cilok." ceritanya.
"Oh iya?! Sekarang masih mau dijajani cilok?" sahut Ardiaz.
"Sekarang sudah jadi istri, maunya jajan di mall." balasnya.
"Hahahaaa...!!" Ardiaz justru tertawa terbahak mendengar jawaban Hakim.
Beberapa saat yang lalu Hakim mengantarkan camilan untuk security yang menjaga pintu masuk kompleks. Dan saat dia asyik mengobrol, dia melihat mobil Ardiaz melintas.
Ardiaz tidak menyangka kalau ada yang melihatnya. Bisa diceramahi habis-habisan sama maminya kalau sampai ada yang lapor. Pertama karena tidak langsung pulang, kedua karena meninggalka pesta lebih awal. Untuk yang kedua, dia yakin sekali Starla dan Gisel pasti ada mengadukannya.
Setelah membersihkan diri, Ardiaz rebahan di kasurnya sambil mengecek ponselnya. Banyak sekali pesan masuk di salah satu grupnya. Ardiaz membuka grup obrolan yang diberi nama Kandidat Mantu Idaman. Lutfi yang membuat grup dan juga memberikannya nama seunik itu. Bukannya keberatan, anggota grup malah membiarkannya saja, karena cukup menarik.
"Anak ini...!!" geram Ardiaz.
Fotonya bersama Alea ternyata sudah menjadi trending topik dalam grup. Lutfi yang mengambilnya secara diam-diam, dan dia juga yang mengirimkan pemandangan langka itu di grup.
Galang : sudah diread guys...🤣🤣
Rasya : ah..., ini dia aktornya. Waah..., curiga kemana-kemana ini. Pulang dari sore masa baru buka HP jam segini...
Lutfi : Ardiaz..., dicariin dedek Alea itu...!!
Ardiaz hanya geleng kepala tanpa ada niatan membalasnya.
___
Alea menatap langit pagi yang cerah, birunya sungguh membuat hatinya tenang. Dia tiba-tiba teringat mendiang orang tuanya. Rindu yang sungguh berat, karena yang dirindukan sudah tidak bersamanya lagi. Air matanya lolos begitu saja dari kedua sudut matanya.
"Nona, Lea..." panggil Ranti dengan nada yang selalu lembut.
Alea dengan gerakan cepat menghapus air matanya.
"Kenapa non menangis...?" Ranti duduk di samping Alea sambil mengusap bahunya.
"Aku kangen orang tuaku, bi." balas Alea.
Bukannya tenang karena kehadiran Ranti, air mata itu justru semakin terurai.
"Ssstt...!" Ranti berusaha menenangkannya. "Mau bibi antar ke makam orang tuanya non?"
Alea menggeleng dalam dekapan Ranti.
"Aku takut ketemu orang-orang itu lagi, bibi..." ujar Alea di sela isak tangisnya.
"Ya Allah..., kasihan sekali si non. Kenapa ya bisa ada orang sejahat itu...?" batin Ranti.
"Kakak cantik...!!"
Suara itu mengejutkan Alea dan Ranti. Alea kembali mengusap air matanya, sebelum menoleh pada asal suara.
"Evelin..., jalannya yang baik, biar nggak jatuh, ya...!" tegur Alea saat melihat Evelin berlari ke arahnya.
Gadis 4 tahun itu terdiam. Dia pun berjalan dengan santai setelah sebelumnya berlari. Dengan gaya yang menggemaskan sambil menenteng satu toples coklat, dia menuju ke arah Alea yang juga tengah berjalan untuk menjemputnya.
"Sama siapa, sayang?" tanya Alea.
"Tadi sama mama dan bibi. Sekarang mamanya lagi ketemu om." jawabnya. "Ini buat kakak, kata mama, aku nggak boleh makan ini. Tapi kalau kakak boleh, jadi ini buat kakak saja, ya." Evelin memberikan toples itu pada Alea.
"Terimakasih, sayang..." Alea mengusap puncak kepala Evelin.
Alea menggandeng Evelin menuju ke halaman. Seperti biasa, mereka akan bermain di sana.
"Non Evelin...?!"
Deg
Jantung Alea tiba-tiba berdetak kencang saat mendengar suara itu. Suara yang begitu familiar, yang cukup lama tidak bisa dia dengar.
"Bibi..., kemari...!!" seru Evelin.
Alea menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dia, saat melihat siapa orang di belakangnya.
"Non Alea...?!"
"Bibi...?!"
Seperti anak kecil yang kembali bertemu orang tuanya, Alea berlari menghampiri perempuan itu. Lalu dia memeluknya tanpa ragu. Perempuan itu kemudian menciumi wajah Alea, lalu mengusap pipinya dengan tangis yang belum reda.
"Mama...!!" seru Evelin.
Kini Evelin yang berlari pada mamanya.
"Kakak mengambil bibiku..." dengan polosnya Evelin mengadu pada Mala sambil menunjuk dua orang yang tengah melepas rindu.
Mala pun ikutan terharu melihat pemandangan itu.
......................