NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dirindukan!

Cinta Yang Dirindukan!

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Supernatural / Perjodohan / Tamat
Popularitas:634.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rose_Crystal 030199

Ridwan (25) harus menikahi gadis kecil baru kelas XII. Dia melakukan itu karena sebuah permintaan Kiai besar dan begitu patuh menyetujui permintaan sang Kiai. Ia harus menikah muda tanpa cinta serta belum tahu calon Istrinya. Namun, Ridwan akan berusaha menjadi Suami shaleh untuk Istrinya.

Annisa (16) gadis ceria seenaknya sendiri suka sekali bermain. Dia sangat marah saat Abah menikahkan dirinya dengan pria tidak dikenal. Ingin rasanya ia marah masa muda terenggut ketika perjodohan terjadi. Annisa benci walau akhirnya terima sewaktu tahu siapa calon Suaminya.

Pernikahan terjadi tanpa ada yang tahu kecuali keluarga di belah pihak. Rencananya pernikahan akan di rayakan usai Annisa lulus SMA.

Ridwan pemuda pendiam selalu sabar menghadapi sikap Annisa yang seenaknya sendiri. Namun, perlahan luntur saat tahu Istrinya mencintai sahabatnya. Dia sadar begitu mencinta, tetapi apa daya Istrinya mencintai sahabatnya sendiri.

Akankah kebahagiaan datang tatkala Ridwan perlahan mundur? Akankah Annisa menerima Ridwan dan melupakan Hamdan?

Cinta yang dirindukan Ridwan begitu besar. Cinta yang dirindukan Annisa untuk Hamdan hanya sebuah kekaguman. Cinta yang sangat dirindukan keduanya akan menjadi takdir sesungguhnya.

***///***///***

Copyright Rose_Crystal 030199
25*08*20

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYD - Dinner Romantis!

...Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ...

...Jangan lupa untuk tersenyum manis sebelum baca. ...

...Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini! ...

...Happy Reading Guy's! ...

***''~•~''***

Annisa merebahkan diri setelah setengah hari mencari oleh-oleh. Dia sudah kenyang makan beberapa porsi. Garis keras ia doyan makan, tetapi tubuhnya tidak mau gendut. Annisa melihat Ridwan membawa banyak paper bag.

Kalau di perhatikan lebih dalam Suaminya itu tampan sekali. Pakai celana formal warna hitam dan atasan kaus panjang warna kuning gading. Annisa heran ternyata Ridwan tampan pakai apa pun.

Merasa di pandang Ridwan menatap Annisa lamat-lamat. Ada apa menatapnya intimidasi? Dia teringat saat makan siang dengan ganas bocah aneh itu habis 3 porsi seakan perutnya tidak melar. Ia tidak sejahat itu sehingga memilih diam tanpa protes. Jika Ridwan tolak Annisa pasti menangis histeris, gawat!

Dompet Ridwan menangis histeris gara-gara Annisa belanja hal tidak perlu contoh beli mainan anak-anak dan di berikan pada semua anak kecil. Hal ekstrem lagi gadisnya membeli pakaian banyak sekali, tetapi di donasikan pada orang tidak mampu. Ini baru baik tetapi belinya ngga tanggung-tanggung sampai Ridwan harus ekstra sabar menghadapi Annisa.

"Ada apa, Dek?"

"Em ... Mas, nanti malam jadi dinner?"

"Insya Allah, ada apa?"

"Ngga, Adek hanya ingin menikmati hari terakhir sebelum pulang ke Kairo."

Annisa melepas hijabnya lalu menaruh di nakas. Dia ngantuk setengah hari mencari oleh-oleh dan buku. Pada akhirnya ia terlelap nyaman sebelum membasuh muka. Annisa cukup bersyukur sudah Shalat Dzuhur jadi tinggal tidur nyenyak sampai puas.

Ridwan menunduk untuk mengecup kening Annisa. Kalau begini ia seperti sosok Kakak bukan Suami. Adiknya Faakhira seumuran Annisa jadi sangat tahan akan sikap manja. Walau Adiknya tidak terlalu manja seperti Istrinya. Faakhira juga tidak ceroboh, cerewet dan suka merengek. Adiknya malah terkesan pendiam sedikit cerewet dan terkesan begitu manis nan mengemaskan sampai membuat Ridwan overprotektif.

Ridwan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan cuci tangan lalu wudhu. Dia akan tidur sebelum pergi dinner romantis di bibir pantai. Cukup bersyukur uangnya banyak jika tidak miskin mendadak Ridwan setelah ini.

Kemarin Ayah dan Abinya memberikan uang dengan nominal tidak sedikit. Awalnya Ridwan tolak halus, tetapi mereka tetap memaksa. Alhasil ia terima walau kurang enak pada Abi Azzam dan Ayah Aziz.

Tepat di jam 03:08 PM suara Adzan Ashar berkumandang membuat Ridwan terbangun dari tidur lelapnya. Dia mengerjap beberapa kali setelah merasa baikkan menengok ke arah Annisa sedang pulas di ranjang. Ridwan beranjak dari sofa menuju ranjang untuk membangunkan Istri polosnya.

"Dek, ayo bangun sudah Ashar."

Ridwan menepuk pipi gembil Annisa beberapa kali hingga si empu bangun. Dia tersenyum saat Istrinya malah berbalik memunggungi. Ya Allah, ini anak minta di gigit ya? Ridwan menepuk bahu Annisa agar lekas bangun.

Annisa merasa terganggu akibat ulah Ridwan. Dia memilih bergulung pada selimut agar tidak di ganggu. Ia masih kantuk jadi biarkan tertidur sebentar lagi. Annisa merengut kesal saat Ridwan malah menarik tubuhnya yang terlilit selimut.

"Bangun Dek, ayo jamyaah sudah waktunya shalat ashar," ajak Ridwan.

"Nanti saja, Mas. Nisa masih mengantuk jangan ganggu."

"Alangkah baiknya shalat tepat waktu, Dek. Ganjaran shalat tepat waktu itu lebih besar dari pada orang yang telat waktu. Ayo ambil air wudhu untuk shalat berjama'ah. Alangkah baiknya kita shalat tepat waktu dan setelah shalat hati kita tenang. Gih bangun jangan nakal, Adek Nisa!"

"Iya, iya Nisa bangun," gerutu Annisa.

Annisa masih menutup mata ketika Ridwan membantu duduk. Suaminya kini membantu melepas selimut yang melilit tubuhnya. Dia membuka mata dan alangkah terkejut melihat jarak mereka begitu dekat. Bahkan bibir Ridwan tepat di depannya. Annisa menatap bentuk bibir Suaminya terkesan seperti bentuk hati.

Bibir atas membentuk tajam dan bibir bawah sedikit tebal. Jika melihat bibir Ridwan maka akan melihat gambar love sampai Nisa kgum. Memang dasarnya polos jadi tetap menatap dalam bibir Suaminya.

Ridwan menyengit melihat Annisa terdiam sembari menatap bibirnya. Tangan kekarnya terulur untuk menyentuh bibirnya. Apa bibirnya ada sesuatu yang aneh? Dia tidak tahu apa yang dipikirkan gadisnya. Dirasa tidak ada yang salah Ridwan kembali menepuk pipi gembil Annisa supaya lekas sadar.

"Dek, jangan melamun terus gih ambil air wudhu untuk shalat."

"Hu'um, Mas kenapa bibir Mas bisa membentuk hati? Apa ada cetakan membuat bibir hati? Adek mau bibir kayak Mas Ridwan, manis sekali!" cetus Annisa tanpa sadar dan terkesan lugu menjurus bodoh.

Ridwan mengerjap mendengar perkataan Annisa. Jadi, si ceroboh menatap bibirnya karena itu. Dia menangkup pipi gembil Istrinya lalu mengecup sudut bibir gadisnya. Detik berikutnya Ridwan mengusap bibir Annisa dengan Ibu jari.

"Abi yang memiliki bibir seperti ini jadi nurun pada, Mas. Ambilah jika Adek mau Mas juga kurang suka memiliki bibir seperti ini. Hehehe, Mas suka bibir seperti Ayah dan Tole Mumtaaz. Bibir mereka terkesan sensual, tidak terlalu tebal namun terlihat bagus. Bibir Ayah terkesan begitu menantang untuk di tatap. Mas malah punya bibir mungil seperti ini, tetapi bersyukur karena mirip Abi."

"Iya juga, keluarga Mas punya gen luar biasa."

"Iya, Adek juga luar biasa."

"Mas Ridwan."

Annisa tersipu malu mendapat usapan lembut di bibirnya. Bahkan Ridwan memberikan ciuman di sudut bibirnya. Entah kenapa detak jantungnya menggila meminta keluar. Anisa memilih diam tanpa mau menjawab perkataan Suaminya.

Dari awal Annisa sadar betapa rupawan Ridwan jika di lihat sedekat ini. Ingin sekali menyentuh wajah rupawan Suaminya agar bisa merasaka sebuah debaran. Namun, malu mau menggerakkan tangan membelai pipi Suaminya. Annisa jadi menunduk tidak sanggup menatap mata Ridwan.

Ridwan tahu arti tatapan Annisa memilih membawa tangan mungil sang Istri untuk mengusap wajahnya. Dia tersenyum saat Istrinya memberikan usapan di wajahnya. Ridwan menutup mata merasakan tangan lembut Annisa terus menari di atas permukaan wajahnya.

****

Tepat di jam tujuh malam Ridwan dan Annisa akan pergi ke tempat romantis. Usai melakukan ibadah Shalat isya mereka siap-siap pergi. Mereka masih berbenah terutama Annisa sibuk merias diri. Sementara Ridwan tinggal menunggu seraya membenarkan blazer.

Ridwan mengenakan style menggoda iman kaum hawa. Dia menggunakan pakaian serba gelap menantang. Ia membiarkan poninya menjuntai menghiasi dahinya. Hingga Ridwan menatap dirinya di cermin dengan pandangan bangga.

"Aku memang tampan tidak terbantahkan. Mau pakai apa pun tetap ganteng maksimal," ucap Ridwan terdengar songong.

Ridwan memakai aksesori jam tangan. Kemeja brokat hitam di lapisi blazer terlihat begitu mempesona. Apa lagi ia membuka tiga kancing teratas sehingga memperlihatkan dada bidangnya. Untuk bawahan menggunakan celana bahan katun warna hitam. Bisa di bilang penampilan Ridwan begitu menggoda untuk di pandang.

"Mas ... Nisa masak pakai ...."

Ucapan Annisa menggantung tatkala melihat penampilan Ridwan yang luar biasa beda. Dia bersemu melihat Suaminya berpenampilan serba hitam begitu kontras dengan warna kulit putih bersih. Annisa menunduk malu melihat penampilannya terbilang aneh.

Annisa hanya menggunakan pakaian kasul khas remaja. Jilbab segi empat ia model sederhana. Dia hanya pakai manset baju di lapisi long coat dan bawahan celana bahan. Annisa jadi malu jalan dengan Ridwan terlihat begitu mempesona.

Tidak lupa pipinya bersemu melihat Ridwan berponi terlihat begitu tampan. Apa lagi gaya busana sang Suami sangat elegan. Ingin rasanya ia kancingkan semua agar dada bidang sang Suami tidak terekspos. Annisa menunduk sedih jika ingat penampilannya beda jauh dengan Ridwan.

Ridwan tersenyum melihat Annisa begitu manis. Dia angkat dagu Istrinya untuk melihat matanya. Sepertinya dia tahu penyebab sang Istri murung begitu. Ridwan menarik pinggul Annisa untuk di rengkuh.

"Jadilah diri sendiri jangan jadi orang lain. Bagi Mas Adek sangat cantik nan manis menggunakan pakaian begini. Jangan masam Adek tambah manis. Apa Mas terlihat tampan jika begini?"

Annisa tersipu mendengar godaan Ridwan. Dia mendongak menatap mata Suaminya penuh arti. Tangannya terangkat untuk mengancingkan kemeja Suaminya. Setelah selesai Annisa menunduk malu tidak berani menatap Ridwan.

Ridwan tersenyum ketika Annisa mengancingkan kemejanya. Manis sekali sampai ia ingin mencubit gemas pipi gembul Istrinya. Dia ingin tahu jawaban Istrinya soal ketampanan hari ini. Ridwan yakin Annisa akan mengatakan dirinya sangat tampan.

"Mas sangat tampan berpenampilan begitu, apa lagi jam ini begitu bagus. Ayo kita makan Adek lapar!"

"Terimakasih, Adek juga sangat cantik malah terlihat begitu menggemaskan. Ok ayo kita makan."

"Mas Ridwan jangan goda Adek malu. Iye, makan banyak."

"Kenyataan sesungguhnya."

Ridwan menggendeng tangan mungil Annisa menuju tempat romantis. Selama perjalanan menuju bibir pantai atensi para wanita tertuju padanya. Risi juga di tatap memuja seolah jadi santapan empuk. Risiko pria tampan ke mana saja di lihat. Apa lagi penampilan Ridwan sangat mempesona jadi wajar banyak pasang mata menatap damba.

Annisa sebal sendiri pada para wanita dewasa menatap lapar Ridwan. Apa mereka tidak lihat dirinya sedang jalan bersama Suaminya? Apa mata mereka rabun tidak bisa melihat tatkala tangan mereka saling menaut? Annisa sebal ingin mengetok kepala mereka pakai panci.

Sampai di tempat tujuan Ridwan dan Annisa tampak kagum pada tempat makan malam romantis di bibir pantai. Desahan ombak terdengar merdu apa lagi angin malam menerpa kulit membuat keduanya saling mengeratkan pegangan tangan.

Mereka duduk sembari menikmati udara segar yang sangat menyejukan. Tempatnya sangat indah di penuhi lilin. Apa lagi di belakang mereka ada lilin membentuk love. Ridwan dan Annisa saling menatap pemandangan pantai.

Tidak lama makanan datang melengkapi Dinner romantis mereka. Musik romantis mengalun indah di iringi desahan ombak yang sangat indah. Angin nakal mengusap rambut Ridwan membuat semakin berantakan.

Ridwan memotong daging untuk Annisa lalu menyuapkan pada Istrinya. Dia tersenyum saat Istrinya menerima suapan tampak malu-malu tetapi mau. Ia juga memberikan suapan pakai nasi. Setelah itu Ridwan makan dengan tenang dan sesekali menatap Annisa.

Annisa juga menyuapi Ridwan seraya tersenyum polos. Dia tidak pernah menyangka bisa makan malam seromantis ini. Ia bahkan tidak bisa bernapas beberapa saat ketika Suaminya mengusap noda di bibirnya. Annisa menunduk dalam menyembunyikan wajah saat Ridwan tersenyum memperlihatkan deretan gigi.

Ridwan menjilat Ibu jari yang digunakan untuk mengusap noda pada bibir Annisa. Dia tersenyum saat Istrinya tambah merona parah menyembunyikan rona malu. Ridwan yang gemas tanpa sadar mengecup pipi bulat Annisa.

Annisa terbelakak menerima ciuman Ridwan. Dia mengerjap merasakan bibir Suaminya masih menempel. Tangan mungilnya terulur untuk menyentuh bekas ciuman Suaminya. Annisa gugup memilih menunduk malu tidak berani menatap Ridwan.

"Maaf Mas terlalu berlebihan," sesal Ridwan.

"Tidak, Adek paham lagian Nisa suka," cicit Anisa.

"Benarkah? Jadi mau Mas cium lagi?"

"Iya, eh tidak. Jika mau cium di kamar biar tidak ada yang lihat."

"Adek ini manis sekali. Ok, nanti cium di kamar."

"Umh sepuas, Mas."

Hati Ridwan berdegup kencang merasakan betapa lembut Istrinya. Hatinya berasa mau lari maraton tatkala menerima usapan di bibirnya. Dia mendelik horor saat Annisa balik mencium rahangnya. Ridwan terdiam tanpa mampu berkata di kala hati berbunga dengan detak jantung terasa menggila. Semua itu begitu mendebarkan untuknya. Satu hal yang ia tahu ada perasaan menggelitik dalam relung hati.

Ridwan seperti tersedot akan lembah bunga penuh warna. Debar jantung mengiringi langkah kaki ketika ingat hanya Annisa yang ada dalam pikiran dan hati. Satu hal yang Ridwan sadari telah jatuh dalam pesona Aninsa. Dia sadar hati dan pikiran itu terasa mengganggu, tetapi mendebarkan.

Annisa dan Ridwan usai makan kini semua terganti dengan hidangan penutup. Annisa menatap depan dengan pandangan kagum. Sementara Ridwan menatap Annisa penuh makna.

"Aku sadar perasaan apa ini. Aku tahu perasaan ini muncul waktu 1 jam kita bersama. Hingga perasaan ini tambah besar akan kebersamaan kita selama di Dahab. Aku sadar perasaan ini telah tumbuh lebih awal tanpa kukehendaki. Aku sangat mencintaimu, Dek. Jangan salahkan cinta karena cinta singgah pada orang dan waktu tanpa terprediksi. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Ya Allah, izinkan aku pendam cinta ini sampai waktunya tiba. Mas akan menjadikan Dek Nisa sebagai Ratu di hati. Mas, sangat mencintai dan izinkan menjadikan Adek penghuni Surga-Nya. Mas akan menjadikan Adek wanita shalehah yang bisa meraih kebahagiaan dunia atau pun akhirat. Mas akan menunggu Adek sampai kapan pun," monolog Ridwan tanpa mau mengalihkan pandangannya.

Annisa menatap Ridwan aneh pasalnya sedari tadi dipandang intimidasi. Dia menepuk bahu Suaminya hingga tersadar dari lamunan. Siapa sih yang di lamunkan Suaminya? Annisa heran kenapa Ridwan malah menatap dirinya bukan pantai.

"Apa yang Mas lihat? Apa Adek lebih menarik dari pantai?" tanya Anisa retoris.

"Adek dan mungkin saja begitu. Mau berdansa?"

Ridwan beranjak dari tempat duduk. Dengan gaya ala pangeran membungkuk sembari mengulurkan tangan kanannya. Dia tersenyum tatkala Annisa menerima uluran tangannya. Ia maju di depan tempat mereka menatap pantai. Ridwan memegang pinggul Annisa.

Annisa berpegangan pada bahu lebar Ridwan. Dia merasa bergetar merasa gugup luar biasa. Jujur ia tidak bisa berdansa sehingga hal ceroboh terjadi. Beberapa kali Annisa menginjak kaki Ridwan.

Ridwan mengakhiri dansa itu dengan merengkuh bahu dan pinggang ramping Annisa. Dia hanya tersenyum maklum sewaktu Istrinya banyak kali menginjak kakinya. Karena gemas ia menunduk mengecup hidung bangir Istrinya. Ridwan menegakan tubuh Annisa perlahan dan mengajak jalan-jalan di pesisir pantai.

Annisa berjalan beriringan bersama Ridwan. Dia sangat senang di hari terakhir di Dahab terasa begitu menyenangkan. Besok adalah akhir dari semua kebersamaan. Pasalnya mulai besok mereka terpisah rumah. Ridwan di asrama, sedangkan Annisa di Ndalem.

Sungguh kesal lantaran Annisa baru bisa bertemu Ridwan tiga hari sekali dan tanpa ada komunikasi. Tidak ada pelukan saat tertidur dan kini adalah hari terakhir paling mendebarkan. Dia bisa menghabiskan waktu berdua tanpa hambatan walau sangat menyebalkan ingat besok. Annisa mau terus bersama, tetapi Ridwan ada tugas jadinya pulang.

...•'~To be Continued~'• ...

...Mulai chap depan akan sesuai deskripsi dan prolog Story ini. ...

...Siap-siap mendapatkan Mas Ridwan sakit hati akibat Dedek Nisa suka Mas Hamdan. ...

...Kisah cinta rumit antara Suami dan Istri serta Ustadz ganteng. ...

...Salam hangat dari ...

...Rose_Crystal 030199...

...19_09_20...

...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ...

1
Surati
bagus
Amora
🤲🙏😇
Amora
🤲
Amora
jadi malu adek mas
Amora
😊
Amora
iya ayah baiklah
Amora
🙏😇
Amora
🤭
Amora
heeemm
Amora
heeemmmm
Amora
yaa ... salam
Amora
nah ... kan ...
dengerin ning ! .
Amora
🤲🙏
Amora
👍
Amora
baiklah ...
kumala sari
suka sama cerita kak rose mulai dri assalamu'alaikum imamku
Jane Eka
kebalikan cerita zaviyar ni
Retno Astuti
kangen novel nya ummi🥰❤
Sundari
part ini mengandung bawang ,,
aku baru tau ceritanya di tahun ini😭
Rahma Nisa
ngakak abis q thoorr😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!