NovelToon NovelToon
Miss Truth

Miss Truth

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Perjodohan / Tamat
Popularitas:42.8k
Nilai: 5
Nama Author: HANA NH. asuna

UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.

Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.

Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.

Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. SECOND MEET

"Oh, boleh. Kalian teman-temannya Ziva, ya? Perkenalkan, nama abang Sulthan," ucapnya dan kembali memperlihatkan senyum manisnya pada semua orang.

"Abang ini siapanya Ziva?" tanya Jeni out of thinking. Ia tersenyum menyeringai, seakan ingin mengorek lebih banyak tentang hubungan Ziva dengan Sulthan.

"Abang ini, adalah...."

"S-sudah... ayo pulang. Ziva nanti kena marah umi. Ayo pulang, Bang!" ucap Ziva memotong. Ziva menatap mata Sulthan dan sedikit menggeleng pelan. Sulthan pun mengerti, ia kembali tersenyum, dan Ziva membalasnya dengan senyum tipisnya.

Lissa dan Jeni mulai bertatap-tatapan. Saling melemparkan senyum aneh. Tampaknya mereka berdua tahu apa yang terjadi dengan Ziva dan Sulthan. Sementara Safana Nur Rizki mulai kesal karena ia hanya jadi penonton tanpa mengerti inti dari apa yang sedang dilihatnya didepan matanya sekarang.

Di dalam mobil Sulthan, Safana duduk di dekat jendela dan hanya menatap keluar jendela.

Ia juga kesal dengan kedatangan Sulthan yang dianggapnya perebut perhatian. Ia bahkan tadinya sudah merencanakan untuk makan mie sop bersama ke 3 sahabatnya disatu-satunya hari liburnya, yaitu hari sabtu. Namun laki-laki tak dikenal ini, merenggut kesempatannya dan teman-temannya, gerutunya dalam hati.

Dari kaca spion mobil, ditatapnya wajah Sulthan dengan tatapan matanya yang mengajak untuk bertempur. Tampaknya ia sangat tidak terima bahwa rencananya gagal di hari liburnya yang paling langka dan menyenangkan.

Sulthan juga merasa dirinya ditatapi, bukan merasa geer, Sulthan malah merasakan amarah yang berasal tepat di belakang kursinya. Dari kaca spion itu juga ia menatap Sulthan dengan marah.

"Maaf ya, misalnya abang mengganggu kalian. Pasti kalian punya agenda lain dan harus batal karena abang ajakin pulang," tanya Sulthan dan mengatas namakan 'kalian'. Padahal sebenarnya ia ingin bertanya pada Safana.

"Banyak banget sih, Bang. Seharusnya tadi kami itu makan mie sop, jalan-jalan ke danau dan makan jagung bakar, setelah itu kami mau lihat-lihat barang di pasar atap. Dan abang ajak kami pulang dengan buru-buru begini. Padahal hari ini libur les. Tapi abang malah main jemput aja," ucap Safana Nur Rizki dengan malasnya. Jarang-jarang Safana selesu dan sebadmood ini. Pasti karena rencananya yang gagal.

Tiba-tiba, Sulthan memutar balik mobilnya. Ia tersenyum ramah sekalian memandangi kaca spionnya. "Kalau gitu, kita ikutin semua agenda yang dibilang teman kalian, ya. Kamu setuju gak, Va?" tanya Sulthan dan memandang Ziva yang duduk di sampingnya dengan tatapan hangat.

Ziva tidak open. Selama Sulthan tidak membocorkan rahasia mereka, ia berusaha untuk fine-fine saja, "Yah, boleh sih. Itukan rencana kami dari awal," ucap Ziva.

"Dan 1 hal, Bang," ucap Safana dari belakang sana.

"Ya, ada apa?" semua mata menghadap pada Safana, termasuk Ziva dan 2 sahabatnya.

"Tolong panggil nama, kami ini punya nama, loh. Nama aku Safana Nur Rizki. Yang anggun ini Lissa Farhani Munggala. Dan yang pemberani ini Jeni Wulandari. Kalau Ziva sih sepertinya abang udah tahu," ucap Safana.

Semua temannya melongo, baru kali ini mereka melihat Seorang Safana Nur Rizki yang riang dan baik hati bisa sejudes dan sepemarah ini. Ini merupakan fenomena yang tak patut untuk dilupakan.

“Oh, maaf. Abang kurang sopan, ya? Safana?” ucap Sulthan dari depan kursi setirnya.

Safana mengangguk dan merasa sangat puas karena keinginannya terpenuhi. Sulthan benar-benar memperlakukan keempat gadis belia itu seperti temannya. Mereka pergi makan mie sop yang letaknya berada di dekat danau. Kemudian sambil menunggu datangnya es kelapa, mereka makan jagung bakar, lalu pergi ke pasar dan membeli pernak-pernik indah. Dan Sulthan sungguh tidak pelit, ia membayar semua yang dibeli oleh bocah-bocah itu.

Dari kalung, anting-anting, ikat rambut, jepit rambut, gelang, sepatu, underware, dan banyak hal. Mungkin, Sulthan sudah mengeluarkan setidaknya lima ratus ribu untuk anak-anak itu. Sementara, Ziva sama sekali tidak membeli apapun. Ia tidak ingin merepotkan Sulthan. Ia sungguh sudah menolak Sulthan agar tidak mentaktir mereka sebanyak ini, tetapi Sulthan tetap memaksa.

Sekarang, sudah jam 4 sore. Waktu ashar pun masuk. Sejenak, mereka berhenti di masjid terdekat untuk melaksanakan solat. Semuanya melaksanakan solat ashar kecuali Ziva yang sedang berhalangan. Sulthan yang sudah selesai solat langsung memasuki mobilnya. Ia hanya melihat sosok Ziva yang masih saja sendirian sembari membaca buku sekolah.

“Ziva, ini hadiah pertemuan kedua untuk kamu,” ucap Sulthan dan memberikan sebuah boneka kelinci berwarna pink yang terletak di dalam jok mobil yang baru diambilnya.

Ziva sangat menyukai boneka kelinci itu. Selain ukurannya yang lebih besar dari pada yang diberikan Bram, ini juga kali keduanya diberikan boneka. Sungguh bahagia hatinya.

Ia berniat untuk menolak, namun kebahagiaannya sudah tampak jelas, ia jadi segan untuk menolak. Perlahan diterimanya boneka dari Sulthan dengan senyumannya yang indah. Sulthan kembali tersenyum pada Ziva.

“Makasih banyak atas hadiahnya, Bang.” Ziva meneteskan air mata dibalik senyumannya. Bukan karena sedih, tetapi karena terlampau bahagia. Ia berfikir bahwa dunia luar itu sama kejamnya dengan lelaki. Tetapi, sekali ia keluar ternyata dunianya tidak sesuai ekspektasinya selama ini yang penuh dengan lelaki bajingan.

“Hm, hm. Kami restui hubungan bang Sulthan dengan Ziva. Sejauh ini, abang sudah lulus tes kami untuk menjadi suami idaman Ziva. Walau sekarang cuma pacar Ziva, tapi semoga tetap langgeng sampai dipelaminan,” ucap Jeni Wulandari dengan senyumannya. Sesekali ia menatapi Lissa Farhani Munggala dan juga Safana Nur Rizki sembari menyeringai.

“Tunggu, maksud kalian apa?” tanya Ziva dengan wajahnya yang mulai cemas sekaligus terkejut dengan kehadiran 3 temannya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu mobil.

"Kamu gak usah sembunyikan lagi, Va. Abang ini pacar kamu kan? Wih, Ziva keren ei, gini-gini dia udah punya pacar," goda Safana Nur Rizki sembari tersenyum.

“Eh, bukan. Abang ini...” Ziva berhenti, ia bingung ingin berkata apa.

"Udahlah, Va. Kamu itu memang ditakdirkan gak bisa bohong dan males bohong. Gausah nambah dosa buat ngeles, Va. Udah, kami udah setuju kok sama abang ipar,” kali ini Jeni Wulandari yang menggoda Ziva.

“Selamat ya, Ziva,” ucap Lissa kemudian semakin mendekat ke telinga Ziva. “Atas pernikahannya nanti,” bisik Lissa Farhani Munggala.

“Ih, si Lissa mah gak enak ei, main bisik-bisik segala. Kita teh kan juga kepingin dengar,” ucap Safana Nur Rizki dengan gaya Sundanya yang selalu mendominasi nada bicaranya.

“Ra-ha-si-a,” ucap Lissa sambil menutup pintu mobil. Ia tersenyum melihat Safana yang masih kebingungan. Sementara Jeni dari sampingnya masih tersenyum seperti memberikan isyarat kedipan mata pada Lissa, dan Lissa pun sama.

“Ih, Lissa mah jahat sama aing. Baiknya sama Ziva doang,” ucapnya cemberut.

...***...

Di depan rumah kecil, dengan halaman rumah yang tidak cukup luas, tampak mobil Sulthan yang sudah menepi di pinggir trotoar rumah kecil itu. Tampak Ziva yang sudah keluar mobil dengan lari kecil. Ia segera menutup pintu rumahnya dengan segera, entah kenapa, dari balik pintu itu jantungnya terasa sangat berdebar. Entah perasaan takut ataupun perasaan lain, namun jantungnya sedang bersquat walau ia sudah menarik dan membuang nafas begitu seringnya.

“Ada apa, Nak? Kok muka Ziva merah?” tanya ibunya, Syahrotul yang sedang duduk di kursi sofa dan menonton serial india bersama ayahnya.

“Eh, Ziva... Ziva, malu... eh, bu-bukan, Ziva a-anu...” ucap Ziva gugup sekali. Ia berbicara ngelantur padahal hanya kepada ibunya.

Ibu tersenyum seperti mengerti sesuatu “Tadi umi lihat dari jendela, Ziva diantar ya sama Sulthan?” tanya ibunya lembut sekali, suaranya sehalus sutra.

“Iya! Eh, i-iya, Mi. Maaf, suara Ziva kekencengan,” entah kenapa, Ziva semangat sekali menjawab pertanyaan uminya.

Kini ibu menatap pada pergelangan tangannya yang di letakkannya ke belakang punggungnya. Ibu hanya tersenyum, kini putrinya akhirnya bisa tersipu seperti itu. Sungguh hatinya sangat bahagia melihat perkembangan putrinya. Tak sengaja, air mata ibu jatuh didepan mata Ziva. Ziva merasa bersalah, karena dipikirnya ialah penyebab air mata ibunya bisa tumpah.

“Mi, maaf. Ziva salah, Ziva tidak bermaksud untuk menyakiti hati umi. Tadi, bang Sulthan masangin gelang ini di tangan Ziva. Bang Sulthan juga kasih boneka Kelinci ini. Maaf umi, Ziva gak berniat buat umi sedih,” ucap Ziva dan memeluk ibunya yang selembut sutra itu.

"Umi tahu, umi cuma terharu karena Ziva umi sudah besar. Ziva tahu? Umi sangat menyayangi dan mencintai Ziva. Saat nanti di rumah suami Ziva, jangan pernah menganggap kalau Ziva sendirian, karena umi dan abi selalu bersama Ziva di hati Ziva," ucap ibunya denga matanya yang mulai sayu.

Ziva kembali masuk ke kamarnya, ia memandangi gelang yang dipasangkan Sulthan dipergelangan tangan kanannya. Gelang yang indah, dengan batu permata biru kecil di setiap inci gelangnya. Gelang emas imitasi yang dibeli Sulthan ketika mereka di pasar atap tadi. Sulthan melihat benda indah yang dirasanya sangat cocok berada dipergelangan tangan Ziva yang gendut.

Ketika mobil Sulthan berada di depan rumah Ziva, Sulthan meminta Ziva untuk memberikan pergelangan tangannya. Dan secara suka rela, Ziva memberikan pergelangan tangan kanannya pada Sulthan. Dengan lemah lembut, Sulthan memasangkan gelang imitasi yang mirip asli itu ke pergelangan tangan Ziva. Ziva tersentak saat itu, namun ia sungguh terkejut dan bahagia sehingga langsung membuka pintu mobil Sulthan tanpa mengucapkan apa- apa.

Sekarang, Ziva sedang tersenyum sendiri di atas spring bednya yang nyaman sembari mengelus dan menatap gelang itu. Dikeluarkannya boneka beruang tedi yang diberikan Bram serta jajanan yang diberikan Bram yang masih tersisa, boneka kelinci yang diberikan Sulthan dan juga gelang indah yang paling di sayanginya dari semua benda itu.

Ziva tersenyum dan mulai berseraya, “Terima kasih... ya Allah. Karena telah mempertemukan Ziva dengan orang-orang yang baik,” ucap Ziva.

...***...

1
HANA.NH
up lagi setelah sekian lamanya
Yoanita_Situmorang
ditunggu kelanjutannya thor🔥
HANA.NH: iya, kak. makasih, sudah terus menunggu.
total 1 replies
Bang Regar
👍
R.F
2 like hadir. cemungut. like balik yw
MayaTika Channel
Terima Kasih Thor sudah menghibur . Adem bacanya kalo suami istri sama" saling ngerti gtu 🥺
HANA.NH: Ulu-ulu, maacih banyak komennya, kak. Seger bener kek abis minum extra jos👍👍
total 1 replies
Komah Xyamat
semoga ziva sama sultan bisa dipersatukan kembali dan bahagia. 😁😀 lanjut kaka aku tungguin nih jangan lama2 kaka semangaka (semangat kaka)
HANA.NH: aamin kk
total 1 replies
Ipah Cakep
penyelidikan di mulai
HANA.NH: eheee....😁
total 1 replies
Ipah Cakep
wajan siapa sih Thor? pa pernah suka ama ziva?
Ipah Cakep: kok bisa baek bgt?
total 3 replies
R.F
semangat kaka.like. like balik ya
HANA.NH: makasih kkk, Hana comeback ya
total 1 replies
Heni Lestari
hai salam kenal aku Heni lestari mapir juga ya kak ke novel ku kisah cintaku dengan adik kelas ku aku juga dah like kak sampai 6 back y author 😂
Ipah Cakep
auto mewek 🤧😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
wajan?
Ipah Cakep
astaghfirulloh.. kaget
Ipah Cakep
Kaya itu hati yg tulus
Navizaa
lanjutt kak
HANA.NH: iya kk, makasih❤❤❤
total 1 replies
Susi Ana
like, mampir ya
HANA.NH: iya kk, Hana mampir ya
total 1 replies
R.F
semangat up.like like balik ya
HANA.NH: iya kkk, Hana mampir Ya... makasih karena udah mampir
total 1 replies
Ipah Cakep
Alhamdulillah
Ipah Cakep
Sahabat selamanya 🥰🥰🥰
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim 🥵🥶🤧🤒🤕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!