Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman Bunga, lagi?
Tiga cangkir kopi berjejer di atas nampan yang dibawa Winda. Satu cangkir Espresso pesanan Ferry. Dua cangkir Macchiato milik Winda dan Tasya. Tasya sendiri membawa nampan yang berisi beberapa kue di atasnya. Bagel,
Croissant, dan Donat. Mengikuti arah jalan Winda dari belakang.
“Mba Winda!” seru seseorang dari belakang. Mendengar namanya dipanggil. Winda yang sedang menuju ke arah meja Ferry, lantas berhenti. Menoleh ke asal suara.
“Mina,” lirihnya setengah bergumam. Aminah menghampiri dengan raut sumringah.
“Kiriman bunga.” Sodornya ke arah Winda. Tidak menerima. Winda mengangkat sedikit tinggi nampan yang ada di tangannya.
“Bukannya nggak mau nerima. Sekarang tangan saya penuh loh,” tunjuknya kepada Aminah.
“Oya, Mba, maaf.” Amina menunduk sebentar. Tersenyum tak enak, “kalau gitu saya bawa bunga ini ke ruangan, Mba Winda saja ya. Permisi.” Aminah kembali membungkuk. Winda menganggukkan kepala. Tidak ingin ada banyak tanya. Padahal setelah ini pasti akan ada seribu tanya. Tasya melihatnya. Dan sudah pasti gadis bertubuh gempal itu akan mencecarnya dengan seribu pertanyaan.
Benar saja. dari tatapannya Tasya seperti meminta penjelasan. Winda berbalik, pura-pura tidak tahu. Melanjutkan langkah menghampiri Ferry yang sedari tadi ‘mungkin’ sedang menunggunya.
“Maaf lama.” Winda meletakkan nampan di atas meja. Mengangkat cangkir Espresso. Menyodorkannya ke pada Ferry. Setelah itu Winda kembali mengambil dua cangkir Macchiato. Meletakkan satu di depan Tasya, dan satunya lagi di depannya.
Winda kemudian beralih kepada nampan berisi kue yang dibawa Tasya. Mengaturnya di atas meja. Melingkar, tepat di depan Ferry.
“Santai aja.” Ferry mengulas senyuman. Memamerkan deretan gigi rapi, putih miliknya. Winda membalas dengan senyum kaku. Tasya sumringah.
“Silakan, Tuan. Kue-kue di sini dijamin enak,” kata Tasya.
“Saya sudah tau,” sambut Ferry. Mengangkat cangkir. Mendekatkan ke arah bibir. Menyesap Espresso nya. Tasya menaikkan sebelas alis dengan raut muka menuntut jawaban. Ferry mengerti, “kebetulan saya pelanggan tetap di caffe ini. Bisa dibilang hampir setiap hari saya menyempatkan waktu datang ke sini.” Ferry meletakkan kembali cangkir yang masih menyisakan setengah Espresso miliknya.
Tasya semakin mengernyit. Menoleh ke arah Winda. Dari sorot matanya. Lagi-lagi seperti menuntut jawaban. Winda mengedikkan bahunya. Tasya merengut kesal. Dalam hati gadis bertubuh gempal itu. Pura-pura tidak tau. padahal tau. sialan si Winda, punya pelanggan cakep dan tajir gini bukannya didekatin. Tapi malah dianggurin.
“Kalian tidak minum?” Ferry melirik ke arah Tasya. Sebentar. Kemudian mengalihkan pandangannya kepada Winda.
Gugup. Winda mengambil cangkir yang berisi Macchiato miliknya. Menyesapnya.
“Eh, iya. Sampai lupa,” kata Tasya, yang juga mengambil cangkir berisi Macchiato miliknya. Menyesapnya sedikit. Lalu kembali meletakkan di meja. “Anda juga, Tuan, dimakan kuenya,” tawar Tasya sambil menunjuk ke arah meja.
“Tidak perlu terlalu formal. Santai saja. Panggil aku, Ferry. Kamu?” Ferry menaikkan sebelah alisnya. Menunggu jawaban setelah tadi memperkenalkan dirinya.
“Tasya.” Tasya mengulurkan tangannya. Ferry menyambutnya. “Dan ini teman saya. Sekaligus Manager utama di caffe ini. Namanya, Winda.” Tasya menunjuk ke arah Winda. Winda membelalakkan mata. Ferry tersenyum.
“Kalau dia saya sudah tau. Kemarin di depan caffe kita sudah berkenalan,” kata Ferry. Kalimat tersebut membuat Winda semakin membelalakkan matanya. Pun dengan Tasya yang kembali menoleh ke arah Winda. Menuntut jawaban.
***
“Winda . . . jelasin!” Tasya melipat kedua tangan di dada. Menatap lurus ke arah Winda yang sedang duduk di kursi panasnya. Begitu banyak kejadian hari ini. Dari kiriman bunga hingga tentang Ferry yang ternyata sudah kenal lebih dulu dengan Winda. Namun, gadis itu sama sekali tidak pernah menceritakan apapun tentang sosok Ferry. Padahal menurut Tasya, Ferry itu perfect. Tampan, dan tajir.
Menatap malas. Winda menyandarkan tubuh di kursi kebanggaannya. Memijat pelipisnya. Enggan membahas rentetan pertanyaan yang Tasya ajukan.
“Kepalaku pusing,” kata Winda.
“Pusing mikirin begitu banyak lelaki yang mendekatimu?” sarkas Tasya. Winda melotot.
“Ck, apaan sih!” semakin malas. Winda menoleh ke arah lain.
Tasya bangkit dari duduknya. Menghampiri meja kerja Winda. Meraih buket bunga yang tadi Aminah letak di sana. Tasya melihat ada dua batang coklat silverqueen yang terselip di antara tatanan tumpukan mawar tersebut. Serta sebuah kartu?
Tasya membukanya.
Tidak pernah terbesit bisa mencinta dalam sekejap. Hanya pada pandangan pertama. Senyum lugumu, sorot mata polosmu, suara lembutmu. Menggugat hati, merasuk ke dalam jiwa. Taukah kamu seberapa besar aku mencinta? Tidak bisa di ukur. Seperti langit dan bumi yang sampai kapanpun tidak akan pernah dapat terukur.
Dari aku yang mencintaimu.
“Puffftt . . . hahahahaha.” Tergelak. Tasya tertawa terbahak-bahak setelah membaca setiap bait yang dituliskan di atas kertas kartu ucapan tersebut. Kepalanya menggeleng, matanya melirik ke arah Winda. “Berat,” ucapnya, yang kemudian kembali meletakkan buket bunga tersebut di atas meja kerja Winda. Mengambil dua buah coklat. Menyodorkan satu untuk Winda.
“Nggak, makasih.” Winda menolak. Menatap malas pada coklat tersebut. Kemudian beralh kepada Tasya yang sudah menarik pita merah yang melingkar di badan coklat. Membuka bungkusnya. Melahap isinya.
“Enak,” kata Tasya. Menunjukkan coklat di depan Winda. Winda kembali mengempaskan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya.
“Sejak kapan kamu mendapatkan kiriman seperti ini?” tanya Tasya sembari terus memakan coklatnya.
“Satu bulan yang lalu,”jawab Winda malas.
“Lalu, Ferry. Kapan kalian berdua berkenalan?”
“Satu bulan yang lalu.” Winda kembali menjawab dengan kalimat yang sama.
Mendengar hal tersebut. Tiba-tiba saja sekelebat perkiraan mampir di benak Tasya. Menghentikkan kunyahannya. Menatap lekat wajah sahabatnya.
“Kenapa bisa pas seperti itu? jangan-jangan—“ Tasya tidak meneruskan kalimatnya. Matanya melotot ke arah Winda. "Mungkinkah?"
TBC.
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.