Ardian Herlambang duda tampan yang tak memiliki keinginan untuk menikah lagi setelah sang istri meninggal harus berurusan dengan gadis yang selama ini selalu dihindarinya.
Kinanti Maheswari, dokter cantik yang selama ini selalu menatap satu pria di dalam hidupnya. Rasa cintanya yang besar membuatnya tak bisa berpaling dari Ardi, walaupun berkali-kali lelaki itu mematahkan hatinya.
Hingga akhirnya sebuah kesalahpahaman membuat Ardi terang-terangan membenci Kinanti dan mengucapkan kata-kata yang sangat menyakiti hati gadis itu. Hingga akhirnya Kinan memutuskan untuk benar-benar pergi.
"Jangan pernah menghubungiku hanya karena merasa bersalah, semua yang kamu ucapkan benar. Aku bukan siapa-siapa, hanya parasit yang menumpang hidup di tengah-tengah keluarga kalian." ucap Kinan pada Ardi sebelum berlalu menuju calon suami yang sudah menunggunya.
Akankah Ardi menyadari perasaannya setelah kehilangan Kinanti? Bagaimana kehidupan Kinanti bersama lelaki yang tak pernah bisa dicintainya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naira_W, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bian
Kinan menatap lelaki yang sedang duduk di sebelahnya. Baru satu jam yang lalu mereka berkenalan dan kini mereka sedang berada di sebuah warung sebuah restoran khas masakan rumahan.
"Kamu nggak mau nambah lagi?" tanya Bian menawarkan nasi yang masih tersisa di bakul.
"Nggak, makasih. Aku udah kenyang." kata Kinan.
Lebih tepatnya aku susah buat menelan makanan karena lelaki itu dari tadi menatapnya terus dengan mata coklatnya.
"Tumben makannya dikit, biasanya nambah-nambah." celetukan keluar dari mulut perempuan yang berada di seberang mereka.
Leni yang kini terlihat santai sedang menyuapi suaminya dengan tangan itu hanya tersenyum jahil saat melihat tatapan horor Kinan.
Sementara Bian hanya terkekeh melihat ekspresi Kinan yang terlihat lucu di matanya. Kinan hari ini terlihat cantik dengan dress sebetis berwarna salem. Rambutnya diikat simple twist yang membuatnya terlihat semakin elegan dan cantik.
"Kamu nggak usah khawatir, Bian itu nggak akan komplain kalau kamu gemuk. Dari dulu dia itu paling seneng kalau lihat cewek badannya semok." kata Leni lalu mendekatkan tubuhnya mendekati meja hingga sangat dengan Kinan.
"Katanya empuk, enak dipeluk." kata Leni usil lalu tertawa saat melihat wajah merah Kinan.
"Udah dong, yang. Jangan digodain terus, nanti mereka berdua malah makin malu." kata mas Rafa mengingatkan istrinya.
"Hehehe... Bablas aku, mas. Habisnya mereka berdua lucu, gemesin." kata Leni lagi.
Sementara Bian hanya tertawa mendengar ucapan jahil Leni. Mereka sudah lama saling mengenal, bahkan Bian lah yang mengenakan Rafa pada Leni. Bian adalah tetangga Leni dan Rafa jatuh cinta pada Leni saat pertama kali melihat Leni yang menjadi bridesmaids di acara nikahan kakaknya Bian.
Rafa meminta pada Bian agar dikenalkan pada Leni dan setelahnya Rafa melakukan pendekatan hingga mereka berpacaran dan akhirnya menikah.
"Kamu udah lama tinggal di kota ini?" tanya Bian pada Kinan.
"Baru dua tahun, mas." jawab Kinan.
Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil milik Leni.
Tadi Leni meminta Bian mengantar Kinan setelah mengantar pasangan suami istri itu pulang.
Leni menolak untuk mengantar Kinan lebih dulu dengan alasan yang amat sangat diluar nalar. Leni mengatakan jika mas Rafa sudah tak sabar untuk segera sampai di rumah karena sudah sangat merindukan kehangatan istrinya.
Tentu saja Kinan sangat malu mendengar ucapan frontal temannya. Walaupun Kinan seorang dokter tapi dia tak pernah melakukan hal yang lebih dari ciuman bibir.
"Hebat kamu berani merantau jauh dari orang tua kamu." kata Bian.
" Ah, nggak juga kok, mas. Aku ke sini juga karena sesuatu. Leni pasti udah cerita banyak tentang aku." kata Kinan sambil menatap ke arah trotoar yang banyak sekali pedagang makanan dan minuman berjualan di sana.
"Panas-panas gini enaknya minum es cendol. Kamu mau nggak?" tanya Bian dan dijawab anggukan oleh Kinan.
Bian membawa mobilnya menuju sebuah jalan yang tak jauh dari sebuah universitas negeri ternama di kota ini.
Dia memarkirkan mobilnya di bawah pohon sebuah taman terbuka.
"Yuk, aku ajak kamu ke tempat tongkrongan aku waktu kuliah dulu." kata Bian mengajak Kinan untuk turun.
Kinan pun mengikuti lelaki itu menuju sebuah tenda hijau yang terlihat cukup ramai.
"Bang Al, es cendol dua ya." kata Bian pada laki-laki kurus yang sedang memegang tiga buah ganggang gelas kaca dengan ahlinya sambil memasukkan beberapa bahan untuk membuat es cendol.
"Eh, mas Bian. Dua ya, mas. Sama pacarnya ya?" tanya Bang Al.
"Doakan saja ya, bang." kata Bian sambil tersenyum menatap Kinan.
Sementara Kinan hanya tersenyum kikuk mendengar ucapan Bian yang tak menyangkal pendekatan yang sedang mereka lakukan.
Bian tak mengajak Kinan duduk di dalam tenda bang Ali. Melainkan duduk di sebuah kursi yang disediakan di bawah pohon itu tak jauh dari tenda bang Ali.
"Sering ke sini, mas?" tanya Kinan.
"Hemm... Lumayan." jawab Bian sambil tersenyum.
Kinan menatap lekat laki-laki di sebelahnya itu. Baru beberapa jam Kinan berkenalan dengan Bian tapi dia bisa menyimpulkan jika Bian adalah lelaki yang sangat mudah tersenyum.
Bian tak seperti laki-laki yang dulu pernah mendekatinya saat di Jepang. Mereka lebih senang membicarakan kelebihan dirinya sendiri dan membuat Kinan merasa bosan.
"Kamu sepertinya nggak nyaman ya jalan sama aku?" tanya Bian
"Eh, kata siapa? Aku nyaman aja kok, mas." sahut Kinan.
"Aku perhatiin dari tadi kamu nggak terlalu antusias jalan sama aku. Padahal kata Leni, kamu itu orang yang ceria dan penuh semangat." kata Bian
Kinan menatap Bian lalu tertawa lepas, membuat lelaki itu terlihat bingung.
"Aku kan gak mungkin langsung pecicilan di depan kamu, mas. Baru kenal masa udah langsung petakilan. Bisa-bisa kamu anggap aku aneh." kata Kinan lalu tertawa geli karena sepertinya sikap jaim tak cocok untuknya.
"Justru aku akan sangat suka melihat kamu yang begitu." kata Bian lalu tersenyum lagi.
"Jangan jaim-jaim sama aku. Aku lebih suka melihat perempuan yang apa adanya." kata Bian.
"Oh ya? Kalau begitu berapa perempuan yang sudah menunjukkan sisi apa adanya ke mas Bian?" tanya Kinan penasaran.
Bian hanya mengangkat bahunya pertanda tak tau.
"Aku tak pernah memperhatikan, tapi saat ini ada dua." kata Bian sambil tersenyum pada bang Ali yang datang menghampiri mereka sambil membawa dua gelas es cendol.
"Makasih, bang." kata Bian.
"Cantik, mas. Lebih cantik dari mbak Nana." kata bang Ali.
Bian hanya tersenyum mendengar ucapan bang Ali. Sementara Kinan menatap ekspresi Bian yang sempat terlihat berubah saat bang Ali menyebutkan nama Nana.
'Nana, siapa lagi ini?' batin Kinan
Baru saja mau mulai membuka hati tiba-tiba saja Kinan menjadi ciut karena sebuah nama.
"Enak?" tanya Bian saat melihat Kinan sudah menghabiskan hampir setengah gelas es cendolnya.
"Telat... Udah mau habis, baru kamu tanya." kata Kinan lalu menyedot kembali es cendol yang menurut Kinan sangat enak ini.
"Siapa Nana, mas?" tanya Kinan setelah dia menghabiskan es cendolnya.
Bian yang tadinya sedang menyedot sisa esnya pun terhenti sejenak. Lalu dia menggeleng pelan dan melanjutkan menyedot minumannya.
"Bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang pernah hadir dan singgah lalu berlalu." kata Bian terdengar santai tapi Kinan tau tersirat kesedihan di dalam kalimat itu.
"Masa lalu ya, mas." ucap Kinan pelan.
"Andai saja melupakan masa lalu semudah membuang upil, pasti nggak akan merasakan kepedihan ya, mas." kata Kinan lalu mendesah keras.
Bian tertawa mendengar ucapan Kinan, tubuhnya bahkan berguncang keras karena menahan diri agar tak tertawa keras.
"Upil, jahat sekali perumpamaan kamu itu. Nggak ada yang lebih bagus apa?" ucap Bian setelah bisa mengendalikan dirinya agar tak tertawa lagi apalagi melihat ekspresi bengong Kinan yang lucu.
"Yah...kan, memang bener mas. Nggak dibuang ganggu banget, kalau dibuang harus dikotek terus baru... tuing... buang jauh-jauh." kata Kinan dengan ekspresi serius dan membuat Bian tertawa lagi.
"Sudah...Sudah... jangan bahas itu lagi. Kita baru selesai minum es cendol, ambyar kenikmatannya gara-gara kamu ngomongin upil." kata Bian sambil menahan tawanya.
Kinan yang mulai merasa nyaman berbicara dengan Bian pun akhirnya mengangguk dan mereka berbincang cukup lama. Entah itu pembicaraan mengenai diri mereka masing-masing atau pembicaraan absurd lainnya.
Baik Bian maupun Kinan merasa cocok dan memutuskan untuk mulai berteman dan berjanji akan bertemu di lain hari. Mereka bahkan sudah bertukar nomor kontak.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap kesal ke arah mereka berdua. Apalagi saat melihat mereka berdua berbincang akrab dan sesekali tertawa lepas layaknya pasangan kekasih yang sangat serasi.
😀😀😚😍😙😗
alfian bawa kabur aja Era..
biar Rukmini keoanasan..
❤❤❤😘😍😙😙
❤❤❤😘😍😙😙😙
kasihan pak prabu...
❤❤❤😘😍😙😙
❤❤❤❤❤
gmna kabar Rukmini yaa..
apakah masih kenceng mukanya..
decara si tuan golek kan dibuang gak dikasih makan lagi..
❤❤❤❤😀😀😘😍😍😙
❤❤❤❤😀😀😀😘😙😙
❤❤❤❤❤
❤❤❤❤
nana syok tuhhh..
😀😀❤❤❤❤
laki2 tau dori dan baik hati..
❤❤❤❤❤