my first novel❤️
---------
Lidya, seorang gadis sederhana diterima bekerja di sebuah hotel terkenal, hotelier merupakan salah satu impiannya.
Disaat Lidya bahagia mendapatkan pekerjaan, disaat itu juga dia menerima kenyataan pahit tentang kekasihnya yang mengkhianatinya.
Semua itu, membuat Lidya bertemu dengan Luckas Ryans, si pewaris tunggal pemilik hotel Ryans. Luckas yang jatuh hati pada Lidya saat pertama bertemu, mencoba mendekati Lidya.
Semua begitu indah, sampai Lidya harus dihadapkan kembali oleh keluarga Luckas yang menolaknya dan juga pertunangan Luckas dengan wanita lain
######
enjoy 🔥
~~~~~
Now season 2 on going..💪
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Via Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Club
Keesokan malam harinya,
Club Burn
Terlihat tiga wanita yang berdiri bersama-sama memandang bangunan club yang terlihat begitu norak. Lidya menyipitkan kedua matanya seakan tidak mempercayai dirinya bisa berada di sebuah club. Seumur hidupnya, baru kali ini dia menginjakan kaki di tempat seperti ini. Pretina memakai baju terusan yang berwarna hitam yang sedikit terbuka,tapi baju tersebut menambah kecantikan Pretina keluar, orang-orang tidak akan tahu jika Pretina adalah seorang ibu jika begitu. Gina memilih pakaian terusan silver yang sedikit menonjolkan kedua belahan dadanya,ditambah rok yang super pendek. Lidya sedikit risih dengan pakaian Gina yang sangat terbuka. Jangankan memakai pakaian Gina yang begitu seksi, Lidya saja sekarang merasa risih dengan pakaiannya sendiri yang padahal kalah terbuka dengan pakaian Gina dan Pretina. Lidya memakai baju terusan berwarna merah, tidak terlalu terbuka ataupun tertutup,tapi baju itu sukses memperlihatkan lekukan tubuh indahnya. Warna merah menyala semakin kontras dengan warna kulitnya yang putih. Rambutnya dibiarkan tergerai seperti biasa. Lidya terlihat sangat cantik dan seksi.
"Let's party,ladies!!!" pekik Gina kegirangan sambil mendorong kedua temannya untuk masuk kedalam.
Dentuman musik yang begitu keras mulai terdengar saat mereka berjalan mendekati pintu masuk, Gina seakan sudah sering berada di club..dia menarik kedua temannya untuk duduk di kursi kosong yang ada di meja bar,depan bartender. Gina berbisik kepada pelayan bar untuk memesan minuman bagi mereka bertiga, suara musik yang begitu keras mengharuskan dia untuk berbisik jika tidak maka dia harus pasrah untuk kehilangan suaranya besok. Pelayan tersebut menyodorkan tiga minuman gelas kecil yang sama,
"Nah..girls.. kalian harus coba ini. ini minuman favoritku dan aku yakin kalian akan menyukainya" sahut Gina.
Pretina dan Gina menyesap minuman yang disodorkan Gina. Pretina langsung memekik selesai minum minuman tersebut "Gina!!! apa ini?? don't you think its too strong???".
Lidya yang awam dengan minuman beralkohol,hanya diam saja dan menikmati minuman itu "I think..this not too bad.." sahut Lidya diiringi lototan mata Pretina.
Gina tertawa senang "see???? ini favoritku,Pretina!! bahkan Lidya terlihat menikmatinya"
Pretina menahan gelas Lidya "jangan minum terlalu banyak,Lidya".
Beberapa menit kemudian,terlihat sosok dua laki-laki berjalan mendekati mereka. Keduanya terlihat biasa saja, tapi anehnya mereka terlihat cocok dengan Pretina dan Gina. Satu memiliki perawakan Amerika dengan rambut kuning gelap dan satu lagi memiliki perawakan Asia dengan mata yang sedikit sipit. Lidya tertawa, Lidya menolak saat Pretina menyuruhnya menerima ajakan kedua pria tersebut untuk menari di lantai dansa yang sudah penuh akan lautan manusia yang sedang menari menikmati alunan musik yang mampu memecahkan telinga. Akhirnya Pretina dan Gina mengikuti kedua pria tersebut,meninggalkan Lidya yang sendirian menikmati minuman yang masih ada di gelasnya. Lidya bahkan tidak menyadari dia hampir menghabiskan seluruh minuman miliknya.
Getaran handphonenya menyadarkan Lidya dari kesendiriannya "Halo.." jawab Lidya tanpa melihat siapa yang telah meneleponnya.
".............." terdengar balasan suara yang tidak jelas karena tertutup suara musik.
"wait... wait" sahut Lidya sambil berjalan kearah toilet, suara musik terendam karena toilet yang kedap suara. Hal ini disengajakan supaya customer club ini memiliki space untuk 'mengistirahatkan' telinga mereka sejenak ataupun "sudah...ini siapa?"
"kamu dimana?" tanya Luckas dengan suara yang terdengar berat saat mendengar telepon Lidya yang sepertinya sedang berada di klub.
"Luckas???? Ada apa? aku sedang bersama temanku di klub"
"klub??!!! klub yang mana Lidya??" tanya Luckas sambil berjalan mengambil jaketnya dan juga kunci mobilnya.
"namanya Club Burn..hik..dekat..hik..sepertinya dekat..hik..dekat Mall hik.. Mall..hik.." Lidya mulai merasa cegukan, dan kepalanya mulai terasa berat. Lidya menutup telepon Luckas,dia tidak sanggup melanjutkan pembicaraannya. Kepalanya cukup membuatnya berputar, Lidya memegang meja wastafel untuk menompang tubuhnya.
'aku harus keluar dan memanggil Pretina atau Gina..aku harus segera pulang' pikir Lidya.
Perlahan-lahan Lidya berjalan keluar menuju meja bartender dimana tempat dia duduk tadi. Dengan pandangannya yang mulai berputar,dia mencoba memfokuskan pengelihatannya untuk mencari kedua temannya yang berada diantara banyaknya lautan manusia yang tengah menari. Tapi, rasa berat dikepalanya tidak ingin mengajak kerja sama membantunya. Lidya akhirnya pasrah dan mengambil handphonenya untuk mencoba menelepon Pretina yang sangat sedikit kemungkinan dia mendengarnya, tapi Lidya harus mencobanya.
Seseorang tidak sengaja menyenggol Lidya,hingga handphonenya jatuh di lantai "ya ampun..maafkan saya,Miss" sahut pria itu dan mengambil handphone Lidya dari lantai.
Lidya mencoba tersenyum "no.. it's okay.."
"ini handphone anda,Miss.... Li..Lidya???" seru pria itu, dia cukup terkejut melihat sosok Lidya berada di tempat ini.
Lidya mencoba menatap pria tersebut karena pandangannya yang mulai buram "Siapa?"
"ini aku...Rico!"
Lidya memegang kepalanya yang semakin berat "Rico???"
Rico memegang tangan Lidya karena melihat Lidya yang kesusahan untuk berdiri "kamu baik-baik saja?". Lidya menepis tangan Rico yang memegangnya. Dia mencoba berjalan,dia tidak ingin berbicara dengan Rico. Tapi kepalanya yang berat membuat tubuhnya sempoyongan. "Biarkan aku membantumu,Lidya"
"Lepaskan aku!!!" pekik Lidya
"Biarkan aku membantumu. Kamu sendiri sudah kesulitan untuk berdiri apalagi berjalan"
"No..no..I'm fine!!! lepaskan aku!!" seru Lidya,tapi Rico tidak mengindahkan perkataan Lidya.
"Lepaskan dia!!!!" Lidya dan Rico menoleh kearah pemilik suara yang terdengar seperti menahan amukan amarah dalam dirinya. Luckas menepis dan mendorong Rico,menggantikan Rico untuk membantu Lidya.
"Luckas??? Bagaimana kamu bisa disini?"
"ayo kita pergi" sahut Luckas meninggalkan Rico yang kebingungan.
Rico hanya bisa menatap kedua insan itu melangkah pergi meninggalkannya, dia tahu dia sudah tidak berhak merebut Lidya kembali dari lelaki itu,walau dia tidak tahu apa hubungan mereka sebenarnya. Namun,bayangan wajah Lidya masih membayangi Rico.
'apa kamu tidak bisa melupakanku hingga mabuk seperti itu,Lidya?'
Rico berasumsi Lidya mabuk karena dirinya.
ya kalo cinta ,mau anak siapa ya kawin ,kawin aja kalo bule kan biasanya gitu .Kalo urusan restu mah nomer sejuta.Beda kalo indonesia atau asia .Kalo settingnya di Amrik mah kurasa bebas sih.Tinggal aja ke catatan sipil beres
Here some double 🎁🎁🌹semoga sehat selalu kak.. Can't wait to read another amazing stories.. 👍🎉