NovelToon NovelToon
Beauty & The Boss

Beauty & The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Nikahmuda / CEO / Obsesi / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:699.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Okiramitzu

Hidup Vania langsung berubah saat kedua orang tuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki bernama Alfin yang merupakan putra dari sahabat papanya.

Berawal dari pertemuan yang tidak menyenangkan, keadaan terus memaksa mereka harus bisa hidup berdampingan dan saling memahami dengan segala perbedaan yang ada walau awalnya menikah tanpa cinta.

Let's cekidot⬇️
Story by Okiramitzu
________

📢 Mohon maaf jika masih terdapat banyak kekurangan🙏




enjoyyyyyy💃

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okiramitzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Halaman rumah Vania sudah terpenuhi dengan beberapa mobil yang terparkir.

Semua rombongan keluarga Alfin sudah memasuki ruang utama kediaman keluarga Vania. Begitupun pihak keluarga Vania sudah menunggu kedatangan mereka.

Semua orang di dalam ruangan kompak menggunakan seragam yang kompak bernuansa batik coklat bercampur warna biru pastel.

Hari ini Vania tampil cantik dengan balutan gaun kebayanya yang diberikan oleh keluarga Alfin, tampak selaras dengan Alfin yang berpenampilan rapi hari ini dengan batik.

Acara berlangsung santai dan hanya melibatkan kedua belah pihak keluarga besar.

Tak perlu memakan waktu lama untuk mereka menyepakati tanggal pernikahan Alfin dan Vania yang memang sudah ditentukan sebelumnya.

Ningsih memasangkan sebuah tanda ikatan Alfin berupa seperangkat perhiasan berlian berupa sebuah kalung, anting dan cincin kepada Vania.

Vania hanya terdiam pasrah, ia berharap ini hanyalah mimpi di siang bolong yang tidak pernah jadi kenyataan.

Setelah acara ini selesai, mereka pun menikmati berbagai hidangan yang telah disediakan sambil bersenda gurau, merayakan kebahagiaan hari ini.

“Akhirnya kita ketemu lagi.” Alfin mencoba mendekati Vania yang sedang duduk sendiri. Alfin duduk di kursi sampingnya.

“Siapa yang mau ketemu sama lo?!” ketus Vania. “Kenapa lo ngotot banget mau dijodohin sama gue sih?” tanya Vania sambil memperhatikan di sekitarnya.

Tampaknya mereka berada di zona yang aman untuk mengobrol.

“Semua ini maunya orang tua kita kan? Dan aku pikir kamu juga bukan tipeku. Cewek galak, tapi bisa ya bersikap manis di depan orang tuaku.” Alfin tersenyum sinis. “Apa salahnya kita menikah? Toh hanya sekedar berganti status aja kan? Kamu justru beruntung, harusnya bersyukur.”

“Ogah banget!!! Kalo pun cowok di muka bumi ini hanya tinggal lo, gue nggak bakalan mau!”

“Terus? Sekarang buktinya kamu mau?”

“Iya, tapi nggak bakalan sampai nikah! Lo kenapa sih? Apa susahnya bilang enggak ke ortu lo? Kita nggak harus dijodohin kayak gini!! Gue bakal cari cara biar pernikahan ini batal!”

“Silahkan! Tapi yang perlu kamu ketahui, orang tuaku sudah keluar uang banyak untuk ini. Kalo pernikahan kita batal, aku akan anggap itu sebagai hutang keluarga kamu! Belum lagi harus ganti rugi kaca mobilku yang retak!”

“Lo ngancem gue??!!” Vania melotot.

“Heeh.” Alfin mengangguk.

Vania tak habis pikir dengan cowok satu ini, ini adalah awal yang buruk baginya.

Alfin sangat menyebalkan, dan Vania berpikir dirinya pasti akan sengsara, jika harus hidup bersama Alfin nantinya.

“Kamu nggak usah geer duluan! Aku mau menikah sama kamu karena orang tuaku, dan aku rasa kita memang akan menikah karena takdir, jadi jalani saja.”

“Gila lo! Gue nggak cinta sama lo, lo ngerti nggak sih?” kata Vania dengan kesal.

“Tapi suka kan?”

Vania memalingkan wajahnya dari Alfin, tak mau melihatnya saat ini.

“Sampai ketemu di hari pernikahan,” kata Alfin.

Vania menolehnya namun Alfin sudah tidak di tempat duduknya lagi. Vania menggerutu kesal.

...❀❀❀...

Vania keluar dari mobilnya dengan membawa ransel besar, hari ini ia sudah siap untuk pergi camping.

Mang Karso sudah kembali melaju dengan mobilnya, Vania akan segera menemui Adelia.

“Vaniaa!!! Sini!” teriak Adelia memanggilnya.

Adelia sudah siap dan ditemani Oris, mereka di tengah kerumunan peserta yang juga ikut kegiatan.

“Haii ... gue nggak telat kan?”

“Hari ini lo harusnya telat, beruntung bus nya yang telat, lo beruntung deh.”

Tak lama kemudian, beberapa buah bus pariwisata telah datang. Para panitia menginstruksikan semua peserta masuk ke dalam bus.

Bus melaju beriringan dengan mulus. Sepanjang perjalanan tersa sangat menyenangkan, Vania, Adelia dan Oris yang satu bus terlihat begitu bersemangat. Untuk sementara mereka akan berfokus pada kegiatan ini.

Setelah tiba di tempat destinasi, mereka pun berkumpul dan mulai mendaki bukit yang berjarak kurang lebih lima kilometer tersebut.

***

Hari mulai gelap, para peserta kemah sudah tiba di lokasi puncak, mereka segera mendirikan tenda masing-masing.

“Vania, gue tidur deket lo ya.” Oris datang mengejutkan Vania yang sedang memasukan ranselnya ke dalam tenda.

“Idih … ogah banget, ini tenda cewek kali.”

“Iya gue tau, Vania. Gue mau bangun tenda di samping tenda kalian. Gue nggak pengen jauh dari lo, sekalian gue pengen jagain lo," ujar Oris dengan nada memohon.

“Terserah lo lah!” Vania hanya akan merasa lelah sendiri jika terus berdebat dengannya.

“Hei, gimana nih, udah siap tendanya kan?” sapa Nino yang tiba-tiba menghampiri mereka.

“Udah!” sahut Oris, Vania dibuatnya tak sempat menjawab pertanyaan Nino.

“Oke Vania. Aman ya?” Nino memastikan.

“Aman!!!”

Vania baru saja hendak berucap, Oris selalu menyerobotnya membuat Vania sangat kesal.

“Oke, kalo gitu gue liat yang lain dulu ya.”

"Oke," sahut Oris.

Vania memastikan Nino sudah pergi menjauh dari mereka.

“Oris!!! Lo bisa nggak sih nggak gangguin gue?!!”

“Hehe ... nggak bisa.” Oris nyengir.

***

Api unggun sudah dinyalakan, mereka semua berkumpul duduk bersama membuat lingkaran mengelilingi api unggun tersebut.

Beberapa panitia sudah memberikan sambutan untuk para peserta.

Tidak seperti waktu ospek kemaren, malam ini di acara ini semua panitia acara yang terdiri dari kakak tingkat semester atas tersebut, sangat ramah dan menyenangkan.

“Heii …” Oris duduk disamping Vania dan Adelia.

“Ngapain sih, Nyet?” ketus Adelia.

“Malam ini gue mau ikutan tampil ahh."

“Emang lo punya bakat?” tanya Adelia.

“Ya iyalah! Apa sih yang nggak bisa dilakukan sama Danioris Bima Prakasa? Selain ganteng, gue kan multitalenta,” kata Oris dengan bangga, rasa percaya dirinya sedang berada di level awan.

“Gue pikir lo mau pertunjukan topeng monyet, Ris.”

Adelia tertawa terbahak bahak meledeknya, diikuti Vania yang ikut tertawa geli.

“Rese lo Del!”

“Awas ketemu ular, ini hutan loh,” kata Adelia mengingatkan.

"Malam ini nggak ada marah-marahan, nggak ada galau-galauan ya? Gue mau semuanya di sini bisa senang-senang dan berteman baik, karena ini acara silaturahmi kita.” Sepenggal kata yang dilontarkan oleh Rikas, salah satu panitia.

Vania bisa melihat di sana ada Nino dan yang lainnya, ada juga Bella yang duduk di dekat Nino. Kadang mereka memang selalu terlihat bersama, menempel seperti perangko.

Malam semakin larut, api unggun yang besar sudah mulai sisa setengah dari tinggi aslinya.

Banyak di antara peserta yang maju tampil ke depan. Sedangkan yang lainnya duduk membentuk lingkaran untuk sekedar menonton.

Ada yang jago standup comedy, ada yang sekedar berbagi kesan-kesan waktu ospek, ada yang berbagi pengalaman.

Juga ada unjuk gigi bermain alat musik sambil bernyanyi, seperti Oris yang tampil keren dengan gitarnya. Laki-laki itu mampu menghibur semua orang.

Vania dan Adelia tanpa hentinya dibuat gembira oleh acara ini. Keduanya selalu bersorak paling heboh saat Oris tampil

“Vania, gue pengen pipis nih, temenin gue yuk,” pinta Adelia.

“Ya udah ayo, ntar lo ngompol lagi.”

Sebelum pergi ke tengah hutan untuk mencari tempat buang air, mereka akan melapor dulu dengan salah satu panitia.

Adelia bersikeras untuk izin kepada Nino, meski banyak panitia yang lain, ia rela mencari-cari keberadaan Nino.

“Kak Nino,” panggil Adelia. Nino berdiri dari duduknya.

“Kita berdua mau izin ya. Mau buang air, udah kebelet,” kata Adelia.

“Oh, oke. Kalian bisa cari tempat agak ke dalam hutan sedikit ya, di sana ada aliran sungai kecil. Bawa senter kan?

“Iya, Kak," jawab Adelia.

“Tapi jangan jauh-jauh ya,” pesan Nino.

***

Vania dan Adelia sudah tiba di tepi aliran air itu, setelah melewati sedikit semak-semak.

Adelia segera mencari tempat yang aman untuk dirinya, sementara Vania menunggunya.

Ia harus berpijak dengan hati-hati, karena batu-batu di sekitaran tempat curam itu tampak licin.

Aliran air tersebut sepertinya lanjutan dari aliran air terjun di atas puncak bukit tersebut. Namun di dekatnya ada wilayah yang tampaknya agak curam.

Tiba-tiba Vania merasa sesuatu menolak tubuhnya dengan kuat dan membuatnya terjatuh ke tempat curam tersebut, ia tak dapat lagi menahan kuat pijakan kakinya karena batuan yang licin.

Akhirnya Vania terjatuh beberapa meter ke bawah aliran air tersebut, sampai ia tersangkut pada sebuah batu.

Beruntung di depannya saat ini ada ranting besar dari pohon, sepertinya cukup bisa untuk menahannya agar tidak jatuh lebih jauh.

Vania merasakan sakit pada bagian tubuhnya, ia menjerit dengan sangat keras.

“TOLONGGGG!!!!! Adelll…!!!!”

Sementara Adelia yaang sudah selesai dengan aktivitasnya, sedang kebingungan mencari-cari Vania.

“Vaniaa ... lo di manaa?!!!” teriaknya.

“Del, gue di bawah sini Del … tolongin gue!!!” teriak Vania sambil terus berusaha untuk naik ke atas.

Lagi-lagi ia merasa beruntung karena malam ini bulan bersinar terang, ia bisa sedikit melihat jalan di depannya.

Ia ketakutan berada ditempat ini sambil terus merasakan sakit di tubuhnya karena terhempas ke batu, juga bagian lehernya yang terasa perih karena luka akibat terkena beberapa patahan ranting yang tajam.

“Vania!"

Vania mendongakkan kepalanya dan melihat seseorang baru datang.

“Kak Nino?!” Vania merasakan angin segar dengan kehadirannya.

Laki-laki itu dengan hati-hati ikut turun untuk lebih bisa menjangkau Vania.

Ia mengulurkan tangannya."Pegang tangan gue!"

Vania menyambutnya dan berpegangan pada tangan Nino dengan kuat, hingga akhirnya Nino berhasil menariknya sampai atas.

“Vaniaa….!!!” Adelia sedikit histeris melihat keadaan Vania yang sekarang terlihat basah dan kotor, bagian leher dan lengannya berdarah.

“Kok lo bisa jatuh ke bawah sih?! Waduh gue harus ngomong apa nih sama bokap nyokap lo."

“Duhh, gue nggak tau Del, gue merasa ada yang ngedorong gue!!” Vania menatap ke arah Adelia, lalu ke Nino.

“Kok Kak Nino tiba-tiba ada di sini?” tanya Vania.

Nino sepertinya enggan menjawab, ia tampaknya khawatir.

“Kita langsung ke camp aja ya! Lain kali lo harus hati-hati,” ujar Nino tanpa basa basi.

...✿✿✿...

Pagi ini, matahari sudah terbit kembali.Udara di tengah hutan terasa sangat sejuk, memberi rasa kesegaran tersendiri.

“Lo udah baik kan, Vania?” tanya Adelia yang melihat Vania yan sedang mengemas barang-barangnya untuk kepulangan hari ini.

“Udah mendingan, Del. Kaki gue masih terasa nyeri sih.”

Adelia membelai leher Vania untuk melihat goresan lukanya.

“Luka lo udah mengering juga nih, bentar gue ambilin plester ya.”

Vania membelai bagian luka tersebut, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Vania langsung panik mengetahui kalungnya yang diberikan keluarga Alfin tidak ada lagi melingkar di lehernya.

Vania menepuk jidatnya, merutuki kebodohannya kenapa baru sadar akan hal itu.

“Adel!!!!” Mata Vania membulat, ia berselimut kegusaran.

“Ya, Van? Nih plesternya.”

“Del, lo liat kalung gue nggak??!”

“Kalung?”

Adelia melihat ke arah leher Vania, tidak ada lagi kalungnya.

“Iya, gue liat! Kemaren kan lo pake? Lo mau pamer sama gue?!!”

“Duuhhh ... Del, bukan gitu! Kalung gue nggak ada!!”

“Nggak ada?” Adelia menaikkan alis. “Maksud lo ilang?!”

Vania mengangguk panik.

“Nggak tau gue, Van! Ilang waktu lo jatuh tadi malam kali. Biasa aja dong Vania! Orang itu cuma kalung doang!” ketus Adelia sambil membuka ponselnya mencari-cari sinyal hp.

“Del, ihhh … itu kalung berlian, Del!!” Vania kesal.

“Hah???!” Adelia hampir menghempaskan ponselnya karena terkejut. Matanya melotot ke arah Vania.

“Gue serius! Kalungnya emang kelihatan biasa aja, tapi liontinnya berlian!"

“Berlian? Asli???!”

"Ya asli lah.”

“Lo dapat darimana?”

“Duuhhh, bukan itu yang mau gue bahas! Sekarang gimana caranya gue nemuin tuh kalung yang ilang?! Itu dari keluarganya Alfin di acara tunangan gue kemarin.”

“Hah? Lo udah tunangan, Van?”

“Del…!” Vania mulai meradang.

“Iya, iya sori.” Adelia nyengir. “Terus kita nyari di mana ya?”

“Nggak tau gue! Kena marah lagi gue nih!” Sementara Adelia menatapnya kasihan.

“Kenapa?” Oris tiba-tiba menghampiri mereka.

“Ini, Vania kehilangan kalung berliannya,” sahut Adelia.

“Ya udah ntar gue bantu nyari.”

***

Semua peserta sudah berada di dalam bus, mereka saat ini dalam perjalanan kembali ke titik awal, halaman utama kampus.

Vania menyandarkan kepalanya ke belakang kursi

duduknya. Adelia menatap ke arah Vania yang sedang murung dan termenung.

Beberapa saat sebelumnya ia sudah dibantu oleh Adelia dan Oris, sudah berusaha mencari benda tersebut di sekitar area camping, tetapi tidak mendapatkan hasil.

“Vania udah dong, nggak usah di ambil pusing, kita ganti aja dengan yang baru. Kita cari model yang sama,” saran Adelia.

“Kalo pun bisa nyari model yang sama, tetep aja itu palsu!”

“Kita ganti dengan yang asli, Vania!”

“Lo mau jual ginjal buat gantiin tuh kalung?” Vania beranjak dari sandarannya.

“Iya juga ya. Mahal banget ya harganya? Gue nggak pernah berurusan sama benda gituan.”

“Heeh.”

“Ya nggk papa Vania, lo kan udah mau jadi istrinya Alfin juga. Gue penasaran deh keluarganya sekaya apa sih Van?”

“Tau deh, gue tuh kaya diiket pakai harta gitu tau nggak. Papa sama mama gue aja jadinya nggak bisa nolak permintaan mereka buat mempercepat acara pernikahan.”

“Gue sih mau.”

“Gue keberatan, Del! Gue nggak cinta sama dia,” gerutu Vania.

“Gue tau, kayaknya bokap gue nggak bisa menolak keinginan orangtuanya Alfin, mereka tuh baik banget sama keluarga gue! Bahkan udah rela bayar WO mahal-mahal buat pernikahan gue.”

“Waw … gilaaaa, ya udah lah. Masalah kalung yang hilang pasti nggak akan jadi masalah buat mereka, pasti mereka bisa belikan lagi yang baru.”

Sementara Vania masih menatap kesal ke arah Adelia. Sebenarnya lebih kesal karena ia belum menemukan solusi. Ia terus menyesali kebodohannya.

***

Mata Saira dan Suherman terbelalak mendengar cerita Vania. Mereka menatap tajam ke arah Vania yang duduk di kursi seberang.

“Kok bisa sampai hilang?!” tanya Saira panik.

“Kamu ingat ingat lagi, barangkali terselip di mana.”

“Beneran ilang, Pa. Vania yakin hilangnya waktu aku jatuh.”

“Jatuhh???” Suherman terlihat mulai stres. Ini tentu akan jadi beban untuknya.

“Vania kamu ceroboh banget sih, kamu nggak tau berapa harganya?” Saira mengerutu. “Kita nggak mungkin bisa menggantinya!”

“Ya Vania minta maaf. Harusnya aku melepasnya dulu sebelum bepergian. Ya udah, Vania akan ngomong deh sama Alfin dan minta maaf.”

“Maaf?” Saira menatapnya heran.

“Ya sudah, biar gimana pun kita yang salah, Papa akan ngomong ke keluarga mas Haris. Kamu, Vania! Cukup membuat kesalahan yang fatal seperti ini!” tegas Suherman yang sepertinya sangat marah.

Vania hanya bisa terdiam melihat papanya, sudah berjalan keluar pintu utama rumahya.

“Itu sebabnya Vania, Mama ngelarang kamu pergi ke tempat-tempat seperti itu. Sekarang kamu ke kamar, istirahat. Tapi ada luka yang parah nggak?”

“Nggak ada kok, Ma.” Vania menunduk dan berjalan lunglai menuju kamarnya.

Hari ini ia berniat akan tidur selama yang ia mampu, untuk meringankan rasa bersalahnya.

Ia akan memejamkan mata untuk belajar menerima semua yang akan terjadi ke depannya nanti.

***

1
Lonafx
ini novel lama, tp masih seru aja dibaca.. wkwk kocakk beettt/Facepalm/
nuning 29
ambil jurusan apa? bukan arsitek. tapi, arsitektur.

arsitek itu profesi. sedangkan, ilmunya arsitektur.

ambil jurusan apa? dokter. anehkan?
yang benar ... kedokteran.
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: wahh Terima kasih Kak 🙏🙏 nanti saya perbaiki
total 1 replies
roma widia
ceritanya bagus kak. up yang banyak kak 😁
Murti Ningsih
ceritanya garing
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: Terima kasih
total 1 replies
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
kok ga diteriakin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
padahal bisa jadi solusi. ck
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
mantan? baiklah
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
oh Vania cantik. baiklah
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
valid! tp klo senior cewek biasanya agak bermanis2 muka sama junior cowok yg goodlooking.
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
pemalas mah pemalas aja
Ig : Author_fanie.liem
semangat terus Kaka ..
Aszenapena
ayo author. aku padamu (◍•ᴗ•◍)
Risalah_Hati
sementara dilempar batu dulu Vin, entr dilemparnya pakek cinta
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: wkwwk,

makasih ya mampir dimari🙏
total 1 replies
PORREN46R
sudah kukirim vote nya.
Risalah_Hati
kayaknya alvin sama nino bakalan jatuh cinta ma vania deh
Ig : Author_fanie.liem
bunga untuk author yang cihuy...
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: cihuyyyyy, maacih kakak thorr yg caemmm😘
total 1 replies
Ig : Author_fanie.liem
jadi ingin main skuter..
mengingat masa remaja wwkwk
canvie
strict parent ya??
canvie
senioritas lagi :") kebiasaan pribumi kita
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: pengalaman pribadi author sih ini sebenarnya 🤣
total 1 replies
canvie
duh, gerah gerah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!