CINTA TAK BERTEPI adalah sebuah cerita dari seorang gadis bernama Reya Agustiana Dewi.
Berawal dari saat dirinya remaja. Karena sang ayah yang dipecat membuat dirinya harus pindah sekolah ke sebuah desa kecil. Disana dia berteman dengan seorang laki-laki bernama Rama dan saling jatuh cinta. Namun sayang, hubungan yang baru saja seumur jagung itu harus terpisahkan oleh maut dan membuat Reya sedikit trauma untuk kembali mengenal cinta.
Tapi bukankah setiap manusia memang sudah memiliki jodohnya masing-masing?
Begitupun dengan Reya. Saat usianya dewasa, rasa cinta kembali mengetuk hatinya lewat seorang polisi bernama Seno. Tapi sekali lagi, hubungan diantara mereka tidak selurus jalan tol. Banyak sekali ujian di dalam hubungan mereka. dan banyak juga misteri yang muncul sejalan kasus yang sedang dihadapi oleh AKP Seno Pramudya.
Akankah cinta Reya dengan Seno akan berujung ke dalam sebuah pernikahan???
Selamat membaca sahabat... 😄😄😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sari N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMOHONAN MAAF RAMA
Malam hari di kamar Reya, angin dingin masuk dengan bebas melalui jendela kamar yang sengaja dibuka dengan sangat lebar. Disana tampak Reya yang sedang duduk sambil mengolesi pundaknya dengan salep. Akibat tendangan bola Rama yang cukup keras tadi, lengan Reya berubah menjadi berwarna biru. Sambil menahan rasa sakitnya, dia terus mengoleskan salep, berharap akan langsung sembuh, karena bagaimanapun juga, besok dia harus kembali ke sekolah.
Setelah selesai mengobati lengannya yang membiru, Reya berjalan ke arah jendela kamarnya. Dia berdiri disana sambil memandang bulan purnama yang juga seolah sedang menatapnya. Dia kembali teringat masa lalunya bersama teman-teman lamanya.
“Kenapa hidup gue, jadi menyedihkan gini. Dulu biasanya gue yang selalu ngejailin siswa-siswa yang lain sampai mereka menangis, tapi kenapa sekarang malah gue yang menangis gara-gara satu laki-laki aneh. Apa ini adalah hukum karma bagi gue?”
Reya membuka dompetnya, mengeluarkan sebuah foto kenangan. Disana tampak Reya bersama ketiga sahabatnya sedang berfoto selfie di sebuah taman ria. Air mata Reya kembali terjatuh setiap kali dia mengingat masa lalunya.
“Gue kangen banget sama kalian, guys. Seandainya kalian ada disini mungkin gue gak akan ngerasa sendiri. Mungkin kita udah ngerencanain sesuatu untuk bisa membalas Rama yang akan ngebuat dia kapok dan akhirnya bersujud minta maaf sama gue. Tapi sekarang, disini, nyatanya gue sendiri. Ayisha? gue ga yakin apa dia mau
ngebantu gue buat ngebales Rama. secara udah beberapa kali ini gue suka liat dia gabung dengan geng mereka. Kayaknya dia deket sama Rama.”
Reya menyimpan kembali foto itu ke dalam dompetnya dan berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap bulan.
“Tapi gue gak akan nyerah. Gue bakalan terus cari cara buat bisa ngebales elo, Ram. Liat aja, elo bakalan nyesel karena udah cari masalah sama gue. Gue akan pastiin kalau elo bakalan hancur.”
--Tuut..Tuut..—
HP Reya tampak berbunyi tanda ada pesan yang masuk, membuyarkan lamunannya. Pelan-pelan dia membuka pesan tersebut.
“Maaf!!!" isi pesan yang ternyata dari Rama.
Karena masih marah, Reya tidak menjawab pesan tersebut. Lama tak ada suara, HP Reya kembali berbunyi. Pesan yang sama dan dari no yang sama.
Rama :
Maaf
Reya :
Hmmm
Rama :
Elo masih marah ya sama gue?
‘Pertanyaan aneh. Ya iyalah gue marah sama elo. Dasar laki-laki kejam. Ga berperikemanusiaan. Udah nendang bola ke badan gue sampai jatoh. Ga mau nolong gue berdiri. Bikin gue malu dihadapan banyak orang’ gerutu Reya pada Hpnya yang seolah-olah ponselnya itu adalah Rama.
Reya :
Hmm..
Rama :
Ya udah, sebagai permintaan maaf gue, gimana kalau besok malam gue ajak elo jalan?
Reya :
Bukan hari libur
Rama :
Kata siapa? Di rumah elo memangnya ga ada kalender? Atau jangan-jangan elo ga bisa baca tanggal ya?
Reya :
Maksud elo apa?
Rama :
Cek sendiri aja deh. Males gue ngomongnya. Pokoknya besok gue tunggu jam delapan malam di depan gang rumah elo. See You
"Iihh seenaknya banget nyuruh-nyuruh gue, emangnya siapa elo?" gerutu Reya.
Karena penasaran, Reya langsung melihat kalender duduk yang ada di nakasnya. Dia mencari-cari tanggal hari ini dan ternyata dia baru tahu kalau besok lusa adalah tanggal merah.
“Kenapa gue baru tahu kalau besok lusa adalah tanggal merah?” ucap Reya pada dirinya sendiri.
Karena lelah Reya lalu merebahkan badannya di atas kasur. Tapi walaupun begitu otaknya masih terus berfikir. Kemana Rama akan mengajaknya pergi? Apa Reya harus menerima tawaran jalan dari Rama? Apakah ini
adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan agar dia bisa membalas dendam pada Rama?
***
“REYYAAAAAA, BAANGGGUUUUUNNN, SEEEKKOOLLLAAAHH!!!!!” teriak sang ibu membangunkan anaknya yang masih tertidur pulas.
“Aduuhh Ibuuu, Reya masih ngantuk,” jawab Reya dengan suara khas bangun tidur.
“Alarm kamu ga nyala, ya? Liat sekarang jam berapa?"
Dengan perlahan Reya membuka matanya dan melihat ke arah jam wekernya.
“AAAAAAAAA, lima belas menit lagi masuk!!!!! Ibu kenapa ga bangunin Reya dari tadi sih?” jawab Reya yang langsung berlari masuk ke kamar mandi.
Dengan secepat kilat Reya bersiap dan langsung berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Sialnya jalanan menuju ke sekolah sudah mulai macet. Beberapa kali dia melihat ke arah jam tangannya. Dia sudah yakin kalau dirinya pasti akan datang terlambat. Tapi semoga saja dia bisa datang sebelum gerbang sekolah ditutup.
Mungkin dewi fortuna masih ada di pihaknya. Reya datang tepat saat gerbang sekolah akan ditutup. Dengan setengah berlari, dia menerobos gerbang yang sedang ditutup oleh penjaga sekolah. Setelah memberikan senyuman manisnya pada sang penjaga sekolah, Reya kembali berlari menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Reya melihat para penghuni kelasnya masih super berisik, artinya sang guru belum datang. Dia langsung duduk di bangkunya.
“Dari mana Rey? Tumben jam segini baru dateng?” tanya Ayisha.
“Gue bangun kesiangan,” jawab Reya yang masih terengah-engah.
“Habis begadang?”
“Semalam gue ga bisa tidur.”
“Pasti mikirin Rama.”
“WHAATTTT????”
“Hehehe, gue becanda kali. Gitu aja melotot.”
Selang beberapa menit, bu Layla, guru bahasa Indonesia, masuk. Kegiatan belajar mengajarpun dimulai.
***
--Teng-Teng—
Bel tanda istirahat berbunyi. Karena masih lelah, Reya langsung menelungkupkan kepalanya di atas meja. Matanya dia pejamkan karena dirasa masih sangat ngantuk. Hari ini badan Reya benar-benar terasa sangat remuk. Belum juga lengannya yang masih terasa sakit akibat tendangan bola Rama kemarin, dan hari ini dia harus berlari ke sekolah agar tidak datang terlambat.
“Mau ke kantin bareng, Rey?” ajak Ayisha.
“Duluan aja,” jawab Reya dengan tanpa melihat ke arah Ayisha.
“Elo kenapa gadis kota?” ucap Rama dengan nada yang sedikit khawatir. Sayangnya tidak ada satu orangpun yang bisa menangkap nada kekhawatirannya.
Mendengar suara Rama yang sangat dekat di telinganya, membuat Reya dengan cepat mengangkat kepalanya. Pandangan merekapun saling bertemu dan terdiam untuk beberapa saat.
“Ekhemm.. udah belum saling tatapnya? Gue laper nih,” ucap Dean dan berhasil membuat wajah Rama dan Reya memerah.
“Sha, ayo cepet, hari ini Dean mau traktir makan di kantin. Biasanya elo paling semangat kalau dapet makanan gratis,” ajak Alex pada Ayisha.
“Wah dalam rangka apa?” tanya Ayisha.
“Ternyata bener ya, dari ketiga sahabat gue, cuman elo yang lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun gue,” ucap Dean.
Ada kata-kata Dean yang membuat Reya kaget. Sahabat??
~Flashback on~
“Sebenarnya, dalam geng mereka, ada satu orang lagi. Dia adalah orang yang paling baik diantara mereka berempat. Demi untuk membela kebenaran, dia selalu maju paling depan. Dia paling tidak suka jika sampai ada kecurangan atau ketidakadilan terjadi di sekolah ini,” ucap Ayisha.
“Siapa dia?” tanya Reya penasaran.
“Dia............”
~Flashback off~
Jadi ternyata satu anggota lagi dari geng mereka yang belum sempat Ayisha ceritakan itu, dia adalah saudaranya. Pantas saja mereka sangat dekat.
Ayisha, Dean dan Alex berjalan menuju ke arah kantin. Sambil melangkah, dengan tanpa aba-aba, Rama langsung menarik tangan Reya, membuatnya dengan cepat berjalan mengikuti Rama.
“Apa-apaan ini? Rama lepasin tangan gue!” ucap Reya sambil terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Rama.
Akan tetapi sekuat apapun dia berusaha, tenaga Rama jauh lebih besar dari tenaganya. Kembali, dia menjadi tontonan dan perbincangan dari para siswa yang melihat adegan tersebut. Akhirnya disinilah dia berada sekarang. Di kantin, bergabung dengan 4 sahabat yang sedang asyik melahap makanan yang sudah dipesan Dean.
“Terima kasih ya Reya, udah mau gabung buat ngerayain ulang tahun gue,” ucap Dean sambil tersenyum.
“Iya sama-sama. Selamat ulang tahun juga buat elo,” jawab Reya dengan senyum yang kikuk.
Dia masih bingung bagaimana bisa dia bergabung dengan geng yang selama ini dia benci.
Setelah selesai makan-makan, merekapun kembali ke kelas untuk melanjutkan proses belajar mengajar yang sebentar lagi akan dimulai kembali. Sebelum masuk ke dalam kelas, Rama yang berjalan dengan posisi paling belakang langsung menarik tangan Reya kembali.
“Elo mau apa lagi sih? Seneng banget narik-narik tangan gue. Sakit tau?” ucap Reya ketus.
Dia masih marah dengan tingkah laku Rama kemarin. Dan sekarang dia juga marah karena untuk kedua kalinya dirinya dibuat jadi bahan omongan orang lain. Rama tanpa seizinnya menarik tangannya agar dia bisa bergabung dengan geng mereka.
“Jangan lupa ntar malem,” bisik Rama di telinga Reya dan lalu pergi masuk ke dalam kelas.
###