"Mas Rizal jangan kaget, dia namanya Sulastri, memang sudah mengalami gangguan jiwa semenjak kecil. Keluarganya juga tertutup, sedikit misterius," terang salah seorang warga yang lekas membangkitkan rasa penasanku.
Di mana ternyata, hal itu dilatarbelakangi oleh masalah nan pelik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANTET DARI YANTI
Semenjak pulang dari rumah Sulastri, aku menjadi paranoid. Setiap kali berada dalam nuansa hening, pikiranku lekas teringat pada Sulis dan setiap kali pundakku pegal, aku khawatir kalau Sulis nempel lagi di gendongan. Bisa gila juga lama-lama. Aku harus segera mengendalikan diri dan nampaknya, ibu menyadari perubahan sikapku ini. Beberapa kali beliau coba menelisik dan beberapa kali juga aku mengelak. Aku juga tidak menceritakan perihal kedatanganku ke rumah buk War. Aku tidak ingin ibu khawatir dan malah memberikan ultimatum padaku. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah bercerita kepada Ari.
"Hah! Serius kamu Zal, lihat arwah mbaknya Sulastri?" tanya Ari seakan tak percaya.
"Ngapain aku bohong sih Ri? Kamu gak lihat tegangnya mukaku saat bercerita?"
Tiba-tiba Ari terjingkat, menghambur ke arahku membuatku kaget dan turut gelagapan juga.
"Ada apa sih Ri, tiba-tiba panik begitu?"
"Merinding aku Zal, sumpah! Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Nih lihat! Lagian yang kamu ceritain ini tuh, tetangga kita sendiri. Kayaknya dia ngerasa deh kalau lagi kita ghibahin."
"Jangan ngawur kamu!"
"Beneran Zal."
"Udah-udah! Duduk lagi sana!" pintaku.
Ari manyun lalu kembali duduk tapi kali ini, ia duduk sangat dekat denganku.
"Ngapain sih mepet-mepet? Risih aku."
"Ta-kut," bisiknya di telingaku yang lekas kubalas dengan dorongan sekuat tenaga.
Tak ayal Ari lantas terjatuh dan kami pun tertawa terbahak-bahak.
"Zal, udah tahu begitu, mending kamu berhenti deh! Jangan ke rumah si Lastri lagi! Biarin dia main sama mbaknya itu, jangan dideketin! Masih banyak cewek yang lain."
"Hais, siapa juga yang deketin? aku bukannya naksir tapi penasaran saja dan.. Ah, kamu mana ngerti. Setelah semua kejadian ini, aku jadi yakin kalau sosok yang mirip Lastri dan sempat masuk ke dalam kamarku itu, ya si Sulis. Dia pernah bilang kalau dia mati secara tidak adil. Sudah dengar seperti itu, mana bisa tidak penasaran coba?" jelasku panjang lebar.
"Bisa, aku bisa."
"Sialan!" umpatku disusul dengan tawa cekikikan.
Sebagai teman, Ari berusaha menasihati. Dia mewanti-wanti agar aku, tidak terlalu jauh mencampuri. Melihat sikap buk War, harusnya aku sudah mengerti. Sayangnya, penasaran ini harus terpuaskan. Ibarat keringnya tenggorokan, akan sangat lega kala es teh manis menyegarkan. Seperti itulah aku sekarang. Betapa pun Ari coba menasihati, hanya lisanku yang mengiyakan tapi batinku terus menggebu untuk mencari kebenaran.
"Eh, sudah jam sepuluh lewat, aku pulang ya!" pamitku.
"Iya, hati-hati loh! Entar si Sulis..."
"Husstt!"
Ari tertawa cekikikan.
dan ternyata memang benar. Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang. Tak jauh-jauh dari memikirkan si Sulis dan juga Sulastri. Bahkan, untuk melirik ke sisi kanan dan kiri saja, aku tak berani. Aku benar-benar takut kalau Sulis tiba-tiba muncul mengagetkanku. Apalagi kalau sampai nemplok ke punggungku lagi.
"Aman, sudah sampai di halaman," ucapku dalam hati.
Namun sialnya, sudah ada yang menungguku di teras.
"Rizal.."
"Suara ini..."
Deg..
Kulihat Sulis telah berdiri, segera kuberlari masuk ke rumah dan mengunci pintu kamar.
"Ah sial, dia kan bisa masuk ke dalam," umpatku dalam kepanikan.
Segera kuraih selimut di ranjang lalu meringkuk di baliknya. Hening, sangat hening hingga terasa sangat tidak biasa. Apa iya, Sulis sudah pergi? malam hari begini, biasanya tidak sehening ini. Satu pun suara jangkrik, tiada terdengar hingga akhirnya, aku mulai menaruh curiga. Perlahan, kusingkap selimutku seraya kuedarkan pandang ke seisi ruangan.
"Ini.. di mana ini? Kamarku.. bukan, di mana aku?"
Segera kubangkit sembari mempertegas penglihatan. Kini, suasana kamar telah berubah, tidak dapat kukenali. Dalam kebingungan, pintu kamar terbuka dan masuknya buk War dengan menggendong seorang bayi. Di belakangnya ada seorang laki-laki. Aku bingung sekaligus panik. Bagaimana caraku masuk ke kamar mereka dan bagaimana jika mereka menyadari keberadaanku? sebelum akhirnya kusadari kalau mereka sama sekali tidak bisa melihatku. Keduanya tetap ribut besar yang samar-samar kudengar kalau topik pertengkaran adalah mengenai si bayi. Buk War pun terlihat menangis di sela-sela amarahnya.
"Gila istrimu mas! Apa masih kurang, sudah mempermalukanku dan membuatku diusir dari rumah? Sekarang malah membunuh anakku!" bentak buk War dengan penuh amarah.
Suaminya berusaha menenangkan dan memberi pengertian.
"Aku tahu, kamu merasa sedih karena kehilangan anak pertama kita. Aku juga sama War tapi menuduh Yanti sebagai pembunuh, sangat tidak masuk akal."
"Aku tuh sudah mimpi dan jelas sekali, Yanti mau nyanyet aku tapi meleset. Akhirnya yang kena Sulis."
Suami buk War terlihat menahan diri dan berusaha mengiyakan agar istrinya tidak terus berteriak.
"Apa pun yang terjadi, sekarang kita harus mengurus jenazah Sulis. Kamu tenang ya! Kasihan Sulis kalau tidak segera dimakamkan."
Akhirnya buk War diam dan hanya menangis sesenggukan.
"Aku mau lapor dulu ke pak RT agar kematian anak kita diumumkan!" pamit suaminya.
Suami buk War pun berjalan keluar kamar seiring berubahnya suasana di sana. Keduanya menghilang dari pandangan dan kini, aku telah kembali ke kamarku sendiri.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...