Lilis tumbuh besar bersama kawan kawannya. Tanpa keluarga, tanpa kasih sayang orang tua. Hanya beberapa teman yang selalu ada. Termasuk seorang remaja bernama Kak Nur. Yang selalu ada dan menjadi pelindungnya, walaupun takdir membuat mereka terpisah.
Lilis behasil meraih mimpi menjadi seorang kowad. Dirinya ternyata berbakat memegang senjata. Dalam kariernya dia mengenal cinta. Juga patah oleh cinta itu sendiri.
Kenapa Lilis patah? Lalu mampukah ia bangkit kembali meraih bahagia? Apakah Lilis kembali bertemu Nur lagi?
Bagi yang sudah membaca novel saya, mungkin anda sudah mengenal tokoh ini. Dalam novel ini akan ada orang yang ada kira jahat, ternyata tidak sejahat itu. Dan orang yang anda kira baik, ternyata tidak sebaik itu. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendidikan dimulai
Lilis lulus SMA dengan nilai yang baik. Dua hari setelah kelulusan, ada tes kowad yang dinanti nantikan gadis itu. Lilis berjuang keras untuk lolos serangkaian tes kowad. Gadis itu berhasil menyelesaikannya. Sekarang dirinya adalah seorang siswi. Lilis ingin berbagi kabar bahagia itu pada Kak Nur, tapi pria itu sangat jarang berkunjung di panti. Meskipun tetap menjadi donatur ter royal.
Hal pertama yang dilakukan siswa adalah mencukur rambut sesuai ketentuan asrama. Jadilah Lilis dan siswi lain mengantri. Menanggalkan rambut panjang dan halusnya untuk dipotong cepak. Suasana baru untuk Lilis. Mereka sekamar 20 anak. Bercampur seluruh suku di Indonesia. Calon calon kowad yang terpilih.
"Kenapa sempit sekali lemarinya," keluh seorang siswa.
"Udara disini dingin sangat. Aku bisa membeku," kata yang lain. Jika bagi yang lain suasana asrama ini menyiksa, tapi bagi Lilis ini bahkan lebih baik. Kasur sendiri, lemari pribadi, jemuran handuk pribadi, semuanya hal mewah untuk Lilis.
"Kau tidak membeku Lis?" tanya Maria. Teman samping tempat tidur Lilis. Berasal dari ujung timur negeri ini. Maria sudah pakai baju panjang. Sudah sembunyi di balik selimutnya, tapi masih terasa dingin katanya. Sedang Lilis santai saja. Selimutnya saja masih rapi.
"Lilis asal sekitar sini. Dia udah biasa. Kita ini yang bisa membeku," sahut Laras. Lilis cuma tersenyum.
"Tidak sedingin itu. Kalian yang lebay," kata Lilis sambil meringis. Merasa beruntung karena besar di tempat ini.
"Somboooong…. Awas saja kau. Terbakar kalau sampai asalku sana," kata Maria.
"Matahari tempatku sampai katanya ada 7 biji sangking panasnya," kata Eri yang berasal dari Sumba. Mereka sibuk bercerita daerah asal sambil rebahan. Tiba tiba pintu kamar mereka di gedor.
"Tidur!!!" teriak instruktur dari luar. Suasana kamar langsung senyap.
***
M.O.S dimulai. Mereka bukan mawar penghias taman, tapi melati pagar bangsa. Dari pagi sampai pagi mereka dididik. Bukan hanya keras secara fisik, tapi mental juga ditempa. Nyanyi sampai habis suara. Diguyur air tengah hari. Tiarap sampai lupa cara berdiri dan lain lain. Tangisan sudah tidak terbendung. Lilis yang terbiasa hidup keras saja menangis. Apalagi mereka yang terbiasa oleh pelukan dan hangatnya keluarga.
"Terima MOS ini dengan lapang hati. Terima atau kalian akan sakit sendiri," kata ketua instruktur. Ya, itu yang bisa dilakukan oleh para siswa. Mereka harus menerima dan bergembira dalam segala keadaan. Karena ini saat mereka ditempa untuk menjadi melati pagar bangsa.
"Kau dari mana?" tanya instruktur saat tiba giliran Lilis ditanya.
"Siap dari panti Xxx," jawab lilis dengan suara serak karena seharian melafalkan yel yel dan nyanyi.
"Sejak kapan tinggal di panti?" tanya instruktur lagi.
"Siap sejak bayi," jawab Lilis. Instruktur terdiam. Tidak ada lagi yang ingin ditanya. Biasanya mereka ditanya orang tua atau saudara. Akan tetapi Lilis hanya sebatang kara. Mos berlanjut sampai seminggu. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai latihan. Suka tidak suka, mau tidak mau, menangis, tertawa, tersiksa, lemah, asrama ini akan menjadi rumah mereka selama 7 bulan kedepan.
***
Dari pendidikan ini Lilis tahu bakatnya yang lain. Ternyata suaranya tidak buruk. Justru terbilang merdu dibanding teman temannya yang lain. Itulah kenapa dia selalu ditunjuk menyanyi saat mereka diizinkan santai sejenak.
"Apa lagu rikues teman teman?" tanya Lilis sudah berdiri di depan teman temannya membawa mic. Teriakan judul lagu terdengar.
"Karena Cinta," kata Lilis menyebut judul lagu yang dikuasai liriknya. Intro mengalun dari teman teman band di belakangnya.
Dan bila… aku berdiri
Tegar, sampai hari ini
Bukan karena kuat dan hebatku
Suara merdu mengalun dari bibir Lilis yang kini tak berkulit mulus putih lagi. Kulitnya legam menghitam. Dengan beberapa bagian kulit menebal. Terutama kaki dan siku. Juga tak terhitung berapa goresan pada tubuhnya akibat latihan fisik yang keras luar biasa.
maklum y thoor masih terbiasa bca yg happy ending.
Nah, ws thor... aku promosikan lagi tuh