Genre : Comedy, Harem, Petualang, Parody.
Dalam pengakuan cintanya Kenzi telah ditolak mentah-mentah oleh gadis yang disukainya hingga mengalami serangan jantung.
Di kematiannya dia bertemu dewi yang menawarkan kehidupan keduanya menjadi pahlawan di dunia sihir namun dia menolak dan memilih untuk jadi pria biasa, cita-citanya adalah menemukan 33 Heroine dan hidup damai dengan membuat Harem sendiri, sayangnya tanpa ia ketahui dunia ini lebih mengerikan dari yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 09 : Estel Dan Luka
Yang aku berikan untuk mereka hanya sebuah sup sederhana yang terdiri dari kentang dan daging, meski begitu keduanya tampak meneteskan air mata.
"Ini enak, enak sekali," ucap Estel yang mendapatkan anggukan Luka.
Aku senang jika keduanya merasa demikian.
"Nah Lin, besok aku akan berburu... pastikan kamu menjaga toko, ingat jangan ada ledakan.. paham."
"Baik tuan, jangan khawatir aku tidak akan melakukan hal ceroboh, kebetulan aku menyembunyikan kapak besar di belakang konter jika ada orang macam-macam ntar aku penggal."
Dia mengatakannya dengan nada datar.
"Sudah aku bilang jangan melakukan hal aneh, preman yang kau ledakan mati semua, aku bahkan harus menggali kuburan mereka."
"Kedepannya akan lebih banyak yang mati jika mereka macam-macam."
Ah, orang ini sudah tidak tertolong lagi.
Saat itu Estel berdiri dari kursinya.
"Aku tidak tahu kau siapa, dan apa yang kau rencanakan pada kami? Tapi jika kau membiarkan kami tinggal aku siap memberikan tubuh ini, asalkan jangan sentuh Luka."
"Tidak... aku saja, tolong biarkan kami tinggal dan bekerja, silahkan gunakan tubuhku."
Aku melirik ke arah Lin yang diam-diam mengalihkan pandanganya ke jendela, tentu saja aku tidak melepaskannya, aku mencengkeram wajahnya dengan kuat.
"Iron Hand Dinamic!"
"Iyaahhhh..... Sakit! sakit, penyerangan."
"Siapa suruh kau mengatakan hal-hal aneh tentangku."
"Apa seorang yang memilih untuk menikahi 33 wanita punya moral."
"Kau!"
Aku berdeham sekali untuk menenangkan diriku lalu menjelaskan.
"Kalian tidak perlu mengatakan itu, dari awal aku tidak berniat melakukan hal-hal tidak bermoral, lagipula aku ini pria yang terpelajar tahu akan sopan santun."
"Ah, aku ingat.. tuan Kenzi tidak sengaja melihat seorang pria menjatuhkan kantong uangnya, beliau memeriksa isinya... karena di dalamnya hanya uang kecil, beliau memberikannya... aku rasa itu bermoral."
"Lu diam ajah.. aku memeriksanya tahu-tahu di dalamnya ada bom."
Estel dan Luka jauh lebih waspada dari sebelumnya.
"Apapun itu kalian bisa tinggal dan bekerja di sini dan aku tidak akan melakukan hal apapun."
"Akhirnya kita tidak tidur di jalanan lagi Estel."
"Benar Luka, tapi kita tetap harus berhati-hati."
Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan, keesokan paginya aku telah memberikan seragam yang sama untuk kedua gadis yang sudah mulai bekerja hari ini. Tidak seperti sebelumnya mereka terlihat segar dan percaya diri.
Aku mengambil busur dan panah sebelum berpamitan meninggalkan toko.
"Selamat jalan tuan, tolong dapatkan daging yang sangat banyak"
"Serahkan padaku."
"Tunggu, biar aku ikut juga."
Estel kelihatannya bisa memanah jadi aku membiarkannya ikut juga, tempat yang aku pilih merupakan hutan yang tidak jauh dari kota.
"Ini mengejutkan bahwa kau menjual makanan dengan harga murah lalu berfikir untuk mengembangkan distrik kumuh."
"Aku hanya tidak punya pilihan lainnya, lihat ada kelinci di sana."
Kami segera bersembunyi di semak-semak, seharusnya dari jarak seperti ini aku bisa mengenainya, aku bersiap dengan busurku lalu melesatkan panahnya.
Skill penembak jitu, diaktifkan.
Saat aku menggunakan hal itu, panah yang seharusnya melenceng telah berbelok untuk mengenai targetnya dengan tepat.
"Dapat."
"Bagaimana panah barusan bisa seperti itu?"
"Hanya beruntung," balasku demikian agar tidak ada kecurigaan.
Dari tumpukan skill sampah yang diberikan dewi ada beberapa skill berguna juga, dan skill yang barusan aku gunakan merupakan skill pemburu, penembak jitu.
Aku mengambil kelinci tersebut lalu memasukkannya ke dalam skill penyimpanan. Estel terlihat terkejut.
"Apa yang barusan, sihir penyimpanan."
"Bisa dibilang begitu."
"Bagaimana kau bisa melakukannya, bukannya sihir seperti itu tidak mudah digunakan sembarangan orang."
"Benarkah?"
"Benar, kau sebenarnya siapa?"
"Aku mungkin yang lebih cocok mengutarakan pertanyaan itu."
Mendapatkan balasan tidak terduga, Estel sedikit mundur.
Bukan berarti aku tidak tahu, skill penilaiku menampilkan bahwa Estel dan Luka, bukanlah manusia.