Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.
Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Sejak pagi, pintu rumah Luna tidak pernah tertutup lagi. Beberapa orang datang silih berganti. Ada yang mengambil pesanan ada juga yang baru mengukur. Luna memang bukan lulus sekolah fashion designer. Dia hanya memiliki bakat menggambar yang ditunjang keterampilan bisa mejahit. Di kampung dia sering ikut belajar menjahit di tempat ayahnya bekerja.
Dulu, saat lulus sekolah dia ingin sekali melanjutkan pendidikan mengambil jurusan fashion. Sayang, semua cita-cita harus terkubur bersama kenangan pahit yang menyakitkan.
Berkat teknologi yang serba canggih, gambar-gambar serta foto beberapa pakaian yang sudah pernah Luna buat, diunggah ke sosial media. Sama halnya usaha lain yang merintis dari awal, Luna pun mengalami yang namanya jatuh bangun. Orderan yang datang paling banyak hanya 4 dalam waktu satu bulan.
Luna tidak menyerah meskipun sering mengeluh kala malam menyapa kesendiriannya. Belum lagi saat itu sudah ada Vano bayi. Tubuh mungil yang menggeliat selalu jadi obat untuk Luna kembali bangkit. Sampai sekarang usahanya lumayan maju. Memang belum bisa hidup mewah tapi setidaknya cukup untuk masa depan Vano.
"Mbak, kalau bisa bagian dadanya sedikit kasih apa gitu, biar kelihatan berisi," ujar tamu Luna yang datang dan baru selesai mengukur badan untuk baju yang akan dibuat.
"Boleh itu bisa diatur. Ada lagi permintaan lain?" Luna mencatat semua permintaan orang yang ada di hadapannya.
"Udah cukup, mbak. Saya ambil tanggal 6 bisa ya?"
Lagi, Luna menyanggupi dengan mengangguk dan tersenyum. Setelah orang itu pergi Luna masih belum bisa duduk dan mengerjakan pekerjaannya. Sebab masih ada tamu lain yang datang untuk mengambil pesanannya.
"Bisa di coba dulu, Mbak," kata Luna menyerahkan paper bag berisi pakaian yang sudah jadi. Dia mmmeminta custimer untuk mencobanya karen takutnya ada yang tidak sesuai dan masih bisa diperbaiki jika masih di tempat.
"Enggak perlu. Saya udah buat baju di sini kan bukan sekali dua kali. Hasilnya tidak pernah mengecewakan." Orang itu mengibaskan tangan dan tersenyum puas.
Pemesan yang ini memang kerap meminta Luna membuatkan pakaian untuk acara-acara tertentu. Tentu saja otak Luna harus berputar mencari referensi model yang tidak monoton. Salah satu kebaikan dari canggihnya teknologi adakah tidak membiarkan Luna jadi pengangguran.
"Saya senang jika hasilnya tidak membuat Mbak kecewa." Luna tersenyum dibalas hal serupa oleh orang yang ada di di hadapannya.
"Kalau saya gak puas, saya nggak bakalan datang lagi. Susah nyari yang pas, mbak bisa aja membaca keinginan saya," kata sambil mengotak atik layar ponsel. "Bayarannya sudah saya transfer ya."
Setelah orang itu pergi Luna baru bisa merebahkan tubuh sebentar di sofa untuk melemaskan punggung yang terasa tegang. Jam sudah menunjukan pukul dua, artinya dia melewati makan siang lagi. Disambarnya roti yang ada di meja yang sebetulnya itu milik Vano.
"Rotinya ibu makan boleh?" Luna bertanya pada Vano yang sedang bermain di teras rumah. Seragam sekolanya belum diganti dan Luna membiarkan itu karena besok hari libur.
"Boleh."
Tak bisa terlalu lama duduk santai, sebab di ruang kerjanya masih banyak sekali pekerjaan yang menunggu. Dia melangkah ke sana namun berbalik saat mendengar Vano berteriak dan mengatakan ada tamu lagi. Meski pun lelah namun dia harus tetap tersenyum. Senyum sapa ramah adalah salah satu magnet untuk menarik rezeki.
Luna menghela nafas saat yang datang ternyata orang yang sudah tidak dia lihat selama beberapa hari kebelakang.
"Saya pikir tidak akan melihat anda lagi." Kalimat itu sudah menjadi ciri khas yang ditunjukan Luna saat bertemu Adnan.
"Itu artinya kamu merindukan saya." Adnan menanggapi dengan santai kemudian duduk tanpa menunggu tuan rumah mempersilahkan. Wajahnya begitu cerah dengan senyum yang terukir manis. Menambah nilai pada wajah yang memang sebelumnya sudah dikatakan tampan.
Luna tidak menanggapi, dia hanya menunggu apa yang akan di keluarkan pria itu dari saku jasnya kemudian diletakan di atas meja dan didorong ke arahnya.
"Apa?"
"Buka aja!"
Luna mengambil dan membuka amplop tersebut kemudian membacanya dengan seksama. Dia sudah menebak saat melihat logo Bhakti Hussada yang tertera di depan amplop. Namun dia tidak menyangka dirinya kecolongan. Dia juga tidak kaget dengan hasil tes DNA-nya.
"Sekarang kamu gak bisa membantah lagi." Adnan menyandarkan tubuh. Terlihat santai namun angkuhnya tetap kentara.
"Tapi memang dia bukan anak Anda." Luna lipat lagi kertas itu dan meletakannya di atas meja. Meskipun ada rasa takut seperti yang dia pikirkan sebelumnya, namun dia tak menampakan itu dari riak mukanya. Dia tetap terlihat tenang.
"Buktinya sudah ada di depan mata dan kamu masih mengelak." Adnan tertawa sinis.
"Saya tidak mengelak, tapi memang benar adanya begitu," kata Luna tak kalah santai. "Biar saya beri tahu, anak yang lahir di luar pernikahan yang sah adalah milik ibunya. Dia tidak memiliki ikatan apa pun dengan pria yang disebut ayah biologisnya. Jadi anda tidak berhak mengklaim dia anak Anda."
Adnan menoleh pada Vano yang tengah sibuk dengan mainnya.
"Kalu begitu kita tanya dia." Adnan memanggil Vano, dia mendekat. Anak itu terlihat bingung namun melihat senyum Luna yang tenang dia jadi ikut tenang. "Vano, Om boleh tanya sesuatu?"
Lagi Vano melirik ibunya kemudian mengangguk.
"Selama Om kesini, Om tidak pernah bertemu ayah Vano," katanya mengusap rambut Adnan.
"Ayah Adam?" Vano menyebutkan suami dari Aas yang sering dia panggil ayah. Begitu juga pada Aas dia memanggil dengan sebutan bunda. "Ayah di rumah bunda Aas."
Adnan ingat mungkin yang disebut Vano adalah orang yang dia lihat bersama perempuan selain Luna di restauran waktu itu.
"Bukan, tapi ayah Vano yang lain?"
"Yang mana, Ibu?" Vano menoleh pada ibunya karena tidak mengerti.
"Maksud Om ini bukan ayah Adam tapi ayahnya Vano yang sudah meninggal," jawab Luna.
Seketika hati Adnan tercubit. Tidak terima dikatakan sudah meninggal padahal bukti nyata sudah dia pegang dan ditunjukan pada Luna. Dasar keras kepala, umpat Adnan saat itu yang dilontrakan di dalam hati.
"Ooooooh yang itu." Vano mengangguk mengerti, "kata Ibu sudah meninggal."
"Kalau semisal ayahnya Vano hidup lagi dan ingin memeluk Vano gimana?"
Kening Vano berkerut, "kata Bu Guru orang meninggal tidak bisa hidup lagi. Soalnya sudah dipeluk sama Allah. Kalau bisa kembali, aku tidak mau memeluknya." Kalimat Vano membuat Adnan dan Luna tercengang.
"Kenapa?" masih Adnan yang bertanya.
"Karena ayah gak sayang sama aku dan Ibu. Ayah meninggalkan kami. Ayahku jahat, aku benci sama dia." Dari raut wajahnya Vano terlihat kesal.
Luna mengangkat bahu ketika Adnan melayangkan tatapan protes. Sebab dia memang tidak pernah mengatakan kalau ayahnya jahat. Dirinya hanya pernah mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal. Hanya itu, jadi dia tidak tahu kalau Vano akan menjawab demikian.
"Main lagi ya." Luna sentuh pundak Vano membuat anak itu mendongak dan mengangguk kemudian kembali pada mainannya. "Aku tidak pernah mengajarkan kalimat seperti itu."
Entah kenapa Luna ingin mengatakan kalimat itu. Entah sebagai bentuk pembelaan agar tidak disalahkan atau untuk menenangkan Adnan agar tidak kecewa.