( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dika Dan Kenangan
Rizwan Menyalakan komputer dihadapannya. Sementara Dika masih betah berlama-lama duduk sembari memainkan bolpoin di atas meja.
"Taani resign, dia ingin menghabiskan harinya hanya di rumah."
"Kukira akan ada drama suami istri yang pura-pura tidak kenal di kantor ini." Dika terkekeh teringat beberapa film favorit istrinya.
Dika tau semua jenis drama karena setiap malam, Dini istrinya akan memaksa ia untuk nonton.
Ah, Dika akan jadi si pasrah jika dihadapkan dengan istrinya itu.
Rizwan bergeming.
"Baiklah, saat ini kebahagiaan Taani ada padamu, dan kau harus bahagia." Meninju pelan bahu pria yang tak bergeming.
Kemudian berjalan menuju meja kerjanya.
Rizwan adalah sahabat sekaligus saudara baginya. Tempatnya berbagi cerita dan keluh kesah.
Rizwan akan melakukan apapun demi kebahagiaan dirinya. Pun sebaliknya.
Mencari teman yang akan selalu ada di saat susah maupun senang sangatlah susah.
Memiliki teman yang mampu menerima kekurangan dan kelebihan kita sangatlah langka.
Masih teringat dan tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya, ketika dirinya demam, Rizwan yang satu kamar dengannya berlari seperti kesetanan dengan air mata yang terus membanjiri wajah tampan itu.
Rizwan berlari memanggil pengawas panti agar segera menangani Dika yang menggigil kedinginan.
Padahal hal itu terjadi karena Dika anak yang sedikit bebal, ia akan kabur dari panti ketika langit mulai mendung. Dika menyukai hujan, tetapi Ibu panti akan berteriak jika ia terlalu lama di bawah guyuran hujan.
Oleh karena itu, ia kabur hanya untuk mendapatkan kepuasan mandi air hujan.
Tidak perduli Ibu panti atau Rizwan yang menunggunya dengan khawatir.
Saat itu usia Rizwan lima belas tahun, dan Dika bukanlah anak-anak lagi. Tapi prilakunya yang sering membuat penghuni berdecak dan menggelengkan kepala pasrah.
"Sampai kapan kau akan berhenti membuat kami panik hah? aku berharap semoga ada konglomerat yang dengan berbaik hati mau membawamu, meski itu terdengar mustahil." Ibu panti menggerutu, karena sudah kesekian kalinya, anak yang sedang demam itu, melakukan hal yang sama. Kabur ketika akan turun hujan deras dan kembali dengan baju yang sudah berwarna coklat kotor, karena lumpur.
Awal pertemuannya dengan Dini, wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya. Ketika sore hari, ia mengantar Rizwan berkunjung ke rumah Ayah nya Taani di akhir pekan.
Entah sebuah kebetulan, atau memang karena sudah takdirnya, hari itu juga Dini berkunjung ke rumah Taani untuk mengembalikan buku yang di pinjamnya.
Bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama. setelah pertemuan itu bayangan wajah Dini seolah enggan berhenti berputar di kepala Dika.
Dengan berbagai macam paksaan, Dika meminta Rizwan untuk menemaninya berbicara dengan Ayah Taani.
Tentu saja untuk mencari informasi tentang wanita yang sudah beberapa hari ini seolah tidak berhenti terus berlarian di kepalanya.
Ayah Taani saat itu masih bekerja di kantor yang sama terlalu malu untuk menemui laki-laki paruh baya itu seorang diri.
Ah, Dika.
Mereka bertemu di kantin kantor.
Setelah mengumpulkan sejuta keberaniannya untuk menanyakan dimana rumah Dini sekaligus meminta nomor handphonenya.
Pria paruh baya yang selalu terlihat ramah itu hanya menganggukkan kepala.
"Kenapa tidak berusaha menemuinya secara langsung, Dika?" Tersenyum hangat memandang dua pemuda dihadapannya.
Mereka sudah tumbuh menjadi pemuda yang gagah.
Ah kenapa waktu begitu terasa cepat sekali.
Kedua pemuda itu masih diam.
"Atau kau bisa datang ke kampus tempatnya belajar." Meraih teh hangat di hadapannya.
Kisah cinta Dika dan Rizwan tentu saja jauh berbeda. Karena sejak pertemuan pertama pun Dini merasakan hal yang sama.
Namun karena gengsi tentu saja ada beberapa kali penolakan ketika Dika datang untuk menemuinya di kampus.
Berbeda dengan Rizwan yang hanya mampu memendam atau menceritakan melalui tulisan di buku tebalnya itu.
Kisah cinta setiap orang memang tidak akan pernah sama. Namun akan ada akhir yang bahagia pada setiap cerita nya.
Dan tidak ada cinta yang salah pun dengan perasaanmu. Tentu saja dengan batasan yang wajar.
Tetap jaga cintamu sampai kamu benar-benar menemukan orang yang berhak menerimanya.
sukses
semangat