NovelToon NovelToon
Duda Anak Satu

Duda Anak Satu

Status: tamat
Genre:Romantis / Duda / Tamat
Popularitas:781.2k
Nilai: 5
Nama Author: Riskaapa

Dosen, tampan, muda dan... duda.

Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.

Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.

Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.

Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi

Syafiq dan Adam berdamai. Bahkan ia bersikeras bahwa Adam tidak bersalah. Ia malah menyalahkan dirinya sendiri. Syafiq benar-benar buta. Matanya tertutup oleh rasa cinta yang begitu kuat terhadap Erica. Mungkin jika ia tahu Erica merupakan istri Adam, matanya akan terbuka lebar. Menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah lama bertepuk sebelah tangan.

Adam memarkirkan mobilnya di depan sebuah bangunan dua lantai. Pintu gerbang yang sedikit terbuka membuat Adam lebih leluasa melihat ke dalam. Bangunan yang memiliki panjang sekitar sepuluh meter itu memiliki lima pintu di setiap lantainya. Warna krem yang menjadi cat dinding terlihat banyak yang mengelupas, pun coretan yang hampir si setiap pintu kamar. Belum lagi alas kaki yang berserakan di atas lantai menambah kesan tidak terurus kosan yang di khususkan untuk mahasiswa laki-laki itu.

"Benar ini kosanmu?" Adam memastikan alamat yang Syafiq katakan benar.

"Kenapa, pak? Kumuh dan kecil ya?" Syafiq melepas safety belt-nya. Ia turun dari mobil Adam. "Maklumlah, pak. Kosan termurah."

Mobil Adam melesat menembus rinai hujan yang mulai membasahi jalanan. Hanya butuh lima belas menit untuk sampai di rumah. Teriakan manja Zhafran memanggilkan Papa menyambut kedatangan Adam. Penat seharian sirna begitu saja melihat Zhafran mengulurkan tangannya ingin di gendong. Sebuah kecupan mendarat di kening bocah itu, disusul kecupan lain di kening Erica yang menyambutnya dengan pelukan hangat.

"Kopi atau teh?" Erica meletakkan kotak pizza big box yang dibawa Adam.

"Apa aja, yang penting kamu yang bikin." Adam kembali mendaratkan kecupan yang mengenai pelipis Erica.

Erica pura-pura menghindar dengan kekehan di bibirnya ketika Adam mencoba kembali mendaratkan kecupan lain di keningnya. Malu-malu kucing.

"Kok air putih, Ri?" tanya Adam heran melihat Erica menyajikan segelas air putih.

"Gulanya habis."

"Kok tumben cepat habis, padahal belanja bulanan masih lama."

Erica mengambil sepotong pizza lalu duduk di samping Adam. Satu gigitan pizza masuk kedalam mulutnya. "Mbak Mona kan masak tiap hari, jadi gulanya cepat habis."

Tangan Erica bergerak menyuapkan pizza ke mulut suaminya yang langsung dilahap dengan gigitan besar. "Persediaan sayuran sama daging juga sudah mulai menipis."

"Besok kita belanja, sayang." Adam kembali menggigit pizza di tangan Erica.

Wajah sumringah langsung menghiasi wajah Erica, tapi kemudian luntur ketika ingat bahwa ia akan menemani Zhafran berenang.

"Besok aku mau renang sama Zhafran, Mas."

"Renang aja dulu, belanja kan bisa sorenya."

Wajah sumringah Erica kembali terpasang. Pizza ditangannya ia tandaskan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Adam. Belanja bulanan merupakan kegiatan kesukaan Erica. Ia bisa dengan bebas memasukkan makanan kesukaannya ke dalam troli yang Adam dorong ke kasir. Adam tidak pernah melarang, apalagi marah. Dengan senang hati ia menggesek kartu debitnya untuk menyenangkan hati Erica.

"Oiya Ri, tadi Ibu nelpon."

Seketika Erica melepas pelukannya. "Ibu?" Wajahnya berubah serius.

Adam mengangguk.

"Ibu bilang apa?"

"Katanya kangen sama mantunya ini." Adam menampilkan deretan giginya dengan diikuti kedipan sebelah mata, membuat Erica mencubit perutnya.

"Serius, Mas."

Adam terkekeh melihat wajah serius Erica. "Kenapa sih serius banget wajahnya?"

"Aneh aja denger ibu nelpon Mas." Erica menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

"Gini-gini juga mantu kesayangan ibumu."

"Aamiin." Dengan cepat Erica mengamini ucapan suaminya. Semoga ucapan Adam menjadi doa dan Tuhan mengabulkan doanya.

Adam tersenyum lembut. "Dia nanyain kabar kamu."

"Tumben Ibu nggak nanya langsung ke aku, ya?"

"Ibu sudah menelpon, tapi katanya ponsel kamu nggak aktif. Makanya Ibu nelpon Mas."

Erica menepuk jidat. "Aku lupa charger, Mas."

"Mentang-mentang nikah sama yang tua jadi ikutan tua juga, ya?" Adam meraih dagu Erica, mendongakkan, agar wajah manis Erica dapat dengan leluasa dinikmati keindahannya.

Erica terkekeh dengan wajah yang bersemu, menambah kesan manis diwajahnya.

"Bubu, bobo." Rengekan Zhafran menginterupsi kemesraan mereka. Menyadarkan mereka bahwa di rumah itu ada mahkluk kecil lucu dan menggemaskan.

"Sini bobo sama Bubu." Tangan Erica tergerak menyambut tubuh Zhafran yang beringsut ke pangkuannya. Tidak butuh waktu lama, Zhafran sudah terlelap di pangkuan Erica yang menatapnya penuh kasih sayang.

"Mana ibunya?" Adam baru menyadari ketidak hadiran Mona diantara mereka.

"Mbak Mona pergi dari tadi sore." Erica menoleh jam dinding yang digantung tak jauh dari televisi. "Sudah cukup lama juga ternyata."

"Pergi kemana?"

"Nggak tahu, mbak Mona cuma bilang ada urusan."

Adam mendengus kesal menyadari perempuan itu tidak berubah, meninggalkan anak dengan alasan urusan yang tidak ia ketahui sepenting apa urusannya hingga tega meninggalkan Zhafran yang masih kecil.

Terdengar pintu dibuka dari luar, muncullah Mona dengan pakaian setengah basah terkena air hujan.

"Zhafran sudah tidur?" Mona menaruh paper bag diatas meja makan.

"Sudah." Erica menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Zhafran.

"Tidurkan saja dikamar, Ri," ujar Adam.

Erica bangkit dari duduknya, menggendong Zhafran yang tengah terlelap. Kamar tamu yang terletak di lantai dasar menjadi kamar Zhafran dan Mona. Dipilihkan langsung oleh Adam.

Mona meletakan martabak telur yang sudah ditata di atas piring ke depan Adam.

"Jadi seperti ini kelakuanmu mengurus Zhafran?" Adam menatap lurus ke depan.

"Aku ada urusan, Mas."

"Sepenting apa hingga membuatmu tega meninggalkan Zhafran?" Suara Adam meninggi.

"Kan ada Erica, Mas."

"Disini ada Erica, di rumahmu? Kamu tinggalkan Zhafran dengan siapa?"

Mona mengambil duduk di samping Adam. "Jangan marah dulu, Mas. Aku juga kerja sama sepertimu, untuk Zhafran juga, anak kita."

"Apa uang yang selalu aku berikan tidak cukup untuk menghidupi anak berusia empat tahun?" Matanya berkilatan penuh amarah.

Mona menghela napas. "Kamu harusnya ingat, Mas, aku ini janda. Kalau tidak cari uang sendiri mau makan apa?"

Adam bangkit dari duduknya. "Perlu kau ingat, istriku bukan ibu kandung Zhafran. Kaulah yang wajib mengurusnya, tak peduli statusmu apa."

"Maka jadikan aku istrimu lagi supaya aku bisa sepenuhnya mengurus Zhafran."

"Mimpi!"

Erica bergeming di balik tembok. Tubuhnya bagai disambar petir di siang bolong mendengar Mona terang-terangan meminta kembali pada Adam. Jantungnya remuk redam. Hatinya compang camping. Tangannya gatal ingin memiting leher perempuan tidak tahu diri itu.

Pagi menjelang. Mentari bersinar begitu cerah di Sabtu pagi itu. Zhafran bangun lebih pagi dari biasanya sehingga dapat menyantap sarapan bersama.

Dengan dibantu Erica, Mona menata piring dan makanan di meja makan. Sudah ada Adam dan Zhafran menunggu di sana. Menatap penuh lapar.

"Bagaimana rasanya, Mas?" Mona menaruh sendoknya, matanya menatap lelaki di depannya itu.

"Seperti biasa." Adam menyahut dingin, seperti biasa.

"Masa sih? Padahal aku buatnya spesial lho." Mona meraih piring capcay, lalu menuangkan beberapa sendok ke piring Adam. "Coba yang ini, Mas."

Adam terdiam sesaat. Menatap risih mantan istrinya itu.

"Bagaimana?" Mona mengamati setiap kunyahan Adam, menantikan komentar manis Adam. Tak ia pedulikan keberadaan Erica yang menatapnya jengkel.

"Biasa aja."

Bibir Erica mengembang mendengar ucapan Adam yang meluruhkan senyum Mona.

"Mas, Mbak Mona bawa berita baru." Kini giliran Erica yang berbicara, ia menoleh ke arah Mona sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Katanya mbak Mona mau pindah ke rumah baru, tapi nunggu waktu yang tepat. Bukan begitu mbak?" Pandangan Erica terpusat ke wajah Mona, menanti reaksi yang akan ditampilkan perempuan itu.

Adam mengangkat wajahnya, menatap Erica lalu menoleh sekilas ke Mona. "Oya? Bagus dong."

Mona mendelik kesal ke arah Erica yang sedang melancarkan aksinya.

"Memangnya nunggu apa lagi?" Adam sepenuhnya mengalihkan pandangannya kepada Mona. Menunggu jawaban.

"Zhafran sudah telanjur betah tinggal disini, Mas." Mona mengaduk nasinya, mengatur jawaban.

"Biar Zhafran tinggal disini selama dia mau, ini kan rumahnya juga."

"Aku tidak akan meninggalkannya, Mas."

Erica memutar bola matanya, malas mendengar alasan Mona untuk tetap tinggal di rumahnya.

"Mbak jangan khawatir. Zhafran aman bersama kami. Lagi pula mbak kan sering meninggalkannya." Erica meraih gelasnya, lalu menenggak setengah isinya untuk memadamkan hatinya yang panas, terbakar.

Mona mengulas senyum. Sudut matanya yang tidak berkerut menandakan senyumnya tidak tulus. "Tidak, Erica. Aku tidak ingin merepotkanmu. Biar aku tinggal sedikit lebih lama lagi menemani Zhafran."

Tak mau kalah, Erica menampilkan senyum yang sama. "Justru aku tidak ingin merepotkanmu, mbak. Aku dan Mas Adam tahu mbak sibuk kerja."

"Aku pun tahu kamu sibuk kuliah, dan Mas Adam sibuk mengajar. Lagi pula aku hanya kerja di setiap weekend."

Mona memutus percakapan dengan beranjak dari tempatnya, menyimpan piring kotor ke wastafel. Ia tahu, Erica mengusirnya dengan halus. Persetujuan Adam dan bujukan-bujukan Erica membuatnya muak. Rumah mana yang akan ditinggali jika ia keluar dari rumah ini?

Kamu tidak bisa dengan mudah mengusirku, gadis kecil. Batin Mona.

1
Darni Jambi
bgus bnget,laki2nya teguh penditian,
Ma Em
Biasa
Ma Em
sudah usir saja si mona biang kerok itu Erica mau jadi pelako dia, , dulu Adamnya ditinggalin sekarang mau balikan lagi, kamu harus tegas Erika jangan kalah sama si Mona biang kerok itu.
Ma Em
emang yah rumah tangga itu ada aja godaannya segala mantan istrinya yang selalu datang mengganggu, hati-hati Erica harus dijagain tuh mas Adamnya jangan sampai tergoda lagi.
Ifa Lai
👍👍👍
Raning Raning
keren
Andi Fitri
Mona tak tau malu seharusnya Adam cpt2 Carikan kontrakan atau srh plg ke rmh ortunya dri pada rmh tangga kmu sm erica nnt berantakan..
nurul hidayah
zhafran nya jangan ama Erica adam mulu thor.. biar ama mona..
Imas Priyanati Anggoro
kasihan Syafiq..gmn klo ketahuan jika Adam sm erica suami istri
Imas Priyanati Anggoro
jangan² rumhnya kebakaran dia sendri yg buat supaya tinggl bareng drumh adam
Kinan Rosa
kapok Lo Adam
Kinan Rosa
astaga Safiq lebih tegas dari Adam ternyata
Adam kamu harus sadar
Rida Sriwati
bagus
Elsina Heatubun
Erika oh erika...kasar dan lebay
Elsina Heatubun
Erika egois bangat...
Elfrina Tinambunan
ga ada sekuelnya thor.. rasanya masih pengen baca kelanjutannya hahaa
Diana Puntian
teruslah berkarya thorrr dengan cerita2 yang lebih fokus lagi, tetap semangat thorrr lanjuttt 💪👍
ykwia: maaciii sudah setia dengan cerita Duda Anak Satu 🤗 Sampai jumpa di cerita selanjutnya ❣️
total 1 replies
Kartika *PUCUK🌱 SQUAD🐛*🌽
Kehilangan mendewasakan seseorang. Terimakasih ka author atas ceritanya🤗
ykwia: terimakasih juga sudah setia dengan cerita Duda Anak Satu 🤗 Sampai jumpa di cerita selanjutnya ❣️
total 1 replies
Imay HIATUS 🐥
Endingnya syuka bangettt Thor, gk brrbelit2 mantap jiwa.. dgn hadirny bayi Erica mampu mengatasi Mona, ada hikmahnya jg orgtua meninggal Erica bertambah dewasa.
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂
ykwia: Sejauh ini belum kepikiran buat bikin extra part wkwk tapi pasti akan segera di update jika sudah siap hihi
Terimakasih sudah setiaa🤗 Sampai jumpa di cerita selanjutnya❣️
total 1 replies
Nuri 73749473729
lanjuuttt...
ykwia: sudah tamat kak😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!