Kemil Izdan Arayan merupakan anak dari sahabat papa Kamelia Sipria Effendi. Kemil di paksa untuk menikahi Kamelia yang tengah hamil tiga minggu. Sedangkan dia sudah memiliki kekasih yang sangat sulit untuk dia dekati sebelumnya. Gadis itu bernama Misya Putri.
Misya bersedia menjadi kekasih Kemil hanya karena Misya mengetahui Kemil anak dari Idris Arayan pemilik perkebunan terluas di desanya.
"Kemil sudah punya kekasih pa... Dan lagipula Kemil tidak akan pernah sudi menikah dengan wanita murahan itu..." ujar Kemil ketus dengan setengah berteriak.
PLAAAAKK..
Satu tamparan mendarat di pipi Kemil.
Kemil memegangi pipinya yang panas dan memerah akibat tamparan papanya.
"Papa... kenapa kamu memaksa anak kita untuk menikahi anak temanmu yang sudah hamil itu...? Entah anak siapa yang ada dalam kandungannya. Suruh saja orang tuanya mencari lelaki yang telah menghamilinya..." Rahma istrinya Idris mencoba untuk membela Kemil.
"Kamu tidak usah ikut campur kecuali untuk membujuk anak tidak tau diri ini menikahi Kamelia.
Jika anakmu ini tidak mau menikah dengan Kamelia, maka aku sendiri yang akan menikahi gadis itu." Ancam Idris sambil berlalu meninggalkan Rahma dan Kemil yang terperangah oleh kata-katanya.
Akankah Kemil bersedia untuk menikahi Kamelia atas paksaan papanya?
Penasaran bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNAH AKRAB
Sudah pukul sembilanan Misya dan kekasih lainnya Toni masih bergemul dalam satu selimut.
Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya berdering dengan sangat keras sehingga membuat mereka berdua terganggu.
"Siapa sih pagi-pagi sudah menelpon...?" Sungut Misya kesal. Dia membiarkan panggilan telpon itu berakhir dengan sendirinya. Tapi panggilan itu pun berulang kembali.
"Angkat saja, sayang... Mana tau penting..." Ujar Toni berbisik ke telinga Misya yang berada dalam dekapannya.
Dengan malas, Misya merogoh ponselnya itu. Dia melihat nama Kemil yang meneleponnya.
"Kemil..." Bisiknya sambil menoleh kearah Toni.
"Angkat saja..." Jawab Toni seraya bangkit dan berusaha setenang mungkin.
Misya menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya dan meloudspekerkan suara ponselnya agar Toni juga dapat mendengar percakapan dari Kemil.
"Hallo..." Sapanya sambil melirik kearah Toni.
"Loh kok cepat???" Raut keterkejutan di wajahnya membuat Toni bangkit dan membalas tatapannya.
"Mungkin takut terlihat membesar kali perutnya..." Ujar Misya menyeringai.
.......
"Ya sudah... Nanti sore aku tunggu kamu di depan rumah... Dan aku akan kosongkan kesibukanku untukmu."
"See you too"
Misya mengakhiri telpon mereka dan menghempaskan ponselnya kembali ke atas nakas dengan kesal.
"Tuh, kan... Aku bilang apa...? Aku jadi repot, kan, ngurusin dia..." Sungut Misya.
"Nanti hasilnya juga bakalan bikin kamu repot kok, sayang..." ujar Toni tersenyum licik.
"Maksud kamu?" Tanya Misya masih kesal.
"Repot menghabiskannya, sayang..." jawabnya menyeringai.
Mereka berdua pun tertawa licik setelah itu.
***
beberapa orang dari kerabat Idris sudah berkumpul di rumahnya. Mereka diundang Idris untuk membantu melakukan prosesi lamaran ke desa sebelah. Segala persiapan juga telah tersedia.
Kemil membawa mobil pribadinya bersama kedua orang tuanya. Dan dua mobil lagi mengikuti dari arah belakang.
Sesuai persyaratan yang diajukan Kemil kepada papanya, Kemil berhenti di depan rumah Misya untuk menjemput kekasihnya itu.
Ketika Misya sudah naik ke dalam mobil. Tanpa diketahui siapapun, Idris melihat sekelabat bayangan Toni di samping rumah Misya.
Tetapi Idris lebih memilih untuk diam sementara waktu agar anaknya tidak kehilangan mood lebih banyak.
Di perjalanan, Rahma dan Misya yang berada di kursi belakang, diasikkan untuk berbincang-bincang satu sama lain. Kemil merasa senang dibuatnya. Sesekali matanya melirik ke kaca spion depannya untuk melihat kekasihnya yang begitu cantik di matanya.
Sedangkan Idris terlihat tidak suka dengan itu. Dia masih ingat sekali kalau matanya pernah melihat Misya sedang bersama dengan Toni, anak dari musuhnya. Ditambah lagi dengan tadi, membuat dia semakin yakin bahwa Misya hanya memanfaatkan Kemil saja.
Hampir sejam perjalanan, akhirnya mereka sampai ke sebuah rumah yang terkesan sangat mewah. Halamannya yang sangat luas dan ditumbuhi rerumputan hijau yang membuat kaki merasa geli-geli nyaman apabila menginjaknya. Di sampingnya juga terdapat kolam ikan yang sangat indah. Jendela-jendela besar pada fasad membuat rumah itu terlihat mengagumkan.
Misya sampai berdecak kagum melihat rumah itu ketika dia mulai turun.
"Bukankah ini rumahnya Kamelia?" Gumam Misya menyeringai licik namun terdengar oleh Kemil yang berada di sampingnya kala itu.
"Kamu mengenalnya, sayang?" Tanya Kemil heran.
"Oh... Eh... Aku cuma sekadar tau dia saja kok, kemil. Kebetulan dulu kami satu sekolah di SMA, tapi kami tidak pernah satu lokal." Ujar Misya gugup karena berbohong.
Sebenarnya mereka dulu berteman akrab. Tapi karena Misya menyukai Toni, sedangkan Toni menyukai Kamelia. Misya memutuskan untuk menjauhi Kamelia dan menghasut Toni juga membenci Kamelia.
Misya tidak ingin Kemil tahu hubungan mereka. Karena Misya masih belum mendapatkan hati Toni seutuhnya. Meskipun dia telah mengatakan kebohongan tentang Kamelia kepada Toni. Tapi Toni masih saja menyimpan perasaan kepada Kamelia.
Sekarang Misya mendapatkan kartu as untuk menjerat Toni ke dalam hidupnya. Misya sangat tahu betapa pentingnya surat tanah itu bagi Toni.
Dan dia yakin Kamelia pun bisa dimanfaatkannya untuk itu.
.
.
.
.
.
.