Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kesabaran Seorang Penguasa
“Yang Mulia, mohon tenangkan hati dan pikiran Anda,” ujar Shu Yu dengan nada lembut namun penuh rasa hormat.
Ia melangkah mendekat dengan gerakan yang sangat halus, lalu menuangkan air teh panas ke dalam cangkir porselen putih yang sudah tersedia di atas meja. Suara air yang mengalir itu terdengar pelan, cukup untuk mengisi keheningan di ruangan yang luas namun terasa sunyi itu.
Raja Xiao—Wang Ruyan—duduk bersandar di kursi kerjanya yang terbuat dari kayu cendana mahal. Ia mengangkat tangannya, lalu dengan lembut memijat pangkal hidungnya yang terasa tegang dan sedikit nyeri, tanda bahwa kepalanya sedang terasa berat karena terlalu banyak pikiran dan pekerjaan yang menumpuk. Wajahnya yang biasanya terlihat tegas dan berwibawa kini terlihat sedikit lelah, meski tatapan matanya tetap memancarkan ketajaman yang tidak bisa disembunyikan.
“Anak itu… benar-benar tidak tahu aturan dan batasan sedikit pun,” gumamnya dengan suara rendah, namun cukup jelas terdengar oleh Shu Yu yang berdiri di dekatnya. Nada bicaranya mengandung rasa kesal sekaligus kelelahan menghadapi tingkah laku putranya yang semakin hari semakin sulit dikendalikan.
Selama ini ia sudah berusaha mendidik Wang Xian dengan cara yang paling tegas dan disiplin, sesuai dengan kebiasaan dan aturan yang berlaku di lingkungan keluarga kerajaan. Namun, hasilnya justru berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan. Semakin ia menekan dan membatasi, semakin keras kepala dan berani bertindak anak itu.
Mendengar keluhan itu, Shu Yu segera mencoba menenangkan hati tuannya. Ia meletakkan teko tehnya perlahan, lalu menjawab dengan nada yang bijaksana, “Yang Mulia, mohon dipahami bahwa Pangeran Kecil masih sangat muda. Pada usia seperti itu, memiliki sifat yang sedikit keras kepala, penuh rasa ingin tahu, dan berani mengambil keputusan sendiri adalah hal yang wajar terjadi pada anak-anak. Ia hanya belum mengerti sepenuhnya mengenai aturan dan risiko yang ada di dunia ini.”
Namun, jawaban itu justru membuat sudut bibir Raja Xiao terangkat sedikit membentuk senyum yang terasa dingin dan penuh sindiran. Ia menatap pelayan setianya itu sekilas, lalu berkata, “Teruslah membela dia seperti itu. Lihat saja nanti, suatu hari nanti ia akan bertindak lebih jauh lagi hingga sampai menginjak kepalamu sendiri, dan saat itu kau akan menyadari bahwa kesabaranmu selama ini sia-sia belaka.”
Ia tahu betul bahwa Shu Yu memiliki niat baik dan sangat menyayangi Wang Xian, sama seperti anggota keluarga lainnya. Namun, bagi Wang Ruyan, terlalu banyak memanjakan dan membela kesalahan hanya akan membuat anak itu semakin terbiasa bertindak sesuka hati tanpa memikirkan akibatnya.
Setelah terdiam sejenak dan memikirkan kembali ucapan-ucapan aneh yang keluar dari mulut Wang Xian tadi, Raja Xiao mengangkat kepalanya, tatapannya kembali menjadi tajam dan penuh perintah. “Selidiki siapa wanita yang disebut-sebut oleh Wang Xian itu. Cari tahu segala hal tentang dirinya, mulai dari nama lengkap, asal-usul keluarga, tempat tinggal, hingga sifat dan latar belakangnya yang sebenarnya.”
Mendengar perintah itu, Shu Yu hanya mengangguk patuh dan menjawab singkat, “Baik, Yang Mulia.” Namun, di dalam hatinya ia merasa sedikit bingung dan berat. Kenyataannya, ini bukanlah tugas yang mudah untuk dilakukan. Wang Xian hanya menyebutkan bahwa wanita itu mampu menghadapi pengawal yang dikirim, namun tidak memberikan informasi yang jelas dan rinci.
Wanita seperti apa yang dimaksud? Di mana ia tinggal? Bagaimana rupa wajahnya? Dari keluarga mana ia berasal? Tanpa keterangan yang pasti, mencari seseorang di tengah keramaian ibu kota yang luas ini sama seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Ia bertanya-tanya dalam hati: di mana sebenarnya Pangeran Kecil bisa bertemu dengan wanita yang begitu istimewa hingga membuatnya terobsesi dan ingin menjadikannya sebagai ibunya?
Raja Xiao pun seolah mengerti kesulitan itu, namun ia tetap mengeluarkan perintahnya. Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih tenang namun tetap tegas. “Huh… anak itu sungguh menyusahkan. Nanti setelah tubuhnya benar-benar pulih dan luka-lukanya sembuh total, bawa dia ke lapangan latihan. Biarkan dia berlatih fisik dan bela diri dengan keras setiap hari. Biarkan dia merasakan lelah yang sesungguhnya, agar ia tidak memiliki banyak waktu luang untuk berpikir hal-hal yang tidak masuk akal dan membuat rencana yang membahayakan dirinya sendiri.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia mengangkat tangannya perlahan sebagai tanda bahwa ia ingin duduk sendiri dan tidak ingin diganggu lagi. Ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya, menyusun rencana kerja untuk hari esok, serta memikirkan langkah apa yang harus diambil untuk menjaga keselamatan putranya yang keras kepala itu.
“Siap, Yang Mulia,” jawab Shu Yu segera. Ia membungkukkan badannya dalam-dalam sebagai tanda penghormatan, lalu berbalik melangkah menuju pintu keluar. Ia membuka dan menutup daun pintu itu dengan sangat hati-hati dan pelan, seolah suara sekecil apa pun bisa mengganggu ketenangan sang majikan yang sedang dalam keadaan tidak tenang itu.
Begitu berada di luar ruangan dan memastikan pintu sudah tertutup rapat, Shu Yu berhenti sejenak dan menghela napas panjang yang terasa melegakan sekaligus berat. Ia menatap ke arah lorong yang sepi, lalu bergumam pelan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
“Yang Mulia… menjadi diri Anda sendiri sungguh tidak mudah. Memikul beban kekuasaan yang besar, menghadapi banyak musuh, dan di saat yang sama harus mendidik serta menjaga seorang putra yang memiliki pemikiran dan sifat yang sangat unik seperti Pangeran Kecil. Sungguh, hati dan pikiran Anda pasti terasa jauh lebih berat daripada yang bisa dilihat oleh mata orang lain.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia meluruskan punggungnya kembali, menata raut wajahnya agar tetap terlihat tenang dan siap bertugas, lalu melangkah pergi dengan langkah yang mantap untuk menjalankan perintah yang baru saja diterimanya. Ia tahu tugas yang diberikan tidaklah mudah, namun ia harus melaksanakannya sebaik mungkin demi kebaikan dan keamanan kedua orang yang paling ia layani seumur hidupnya.