NovelToon NovelToon
Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Berbaikan / Tamat
Popularitas:548.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uki Hara

Follow instagram @Ukiii__21 untuk info karya ini

ANGKASA SERIES
Seri 1: MENIKAHI TEMAN KELAS (END)
Seri 2: MUHASABAH CINTA (END)
Seri 3: (BUKAN) PERNIKAHAN SEMPURNA

***

Kegagalan pernikahan di masa lalu menghentikan niat Angkasa menikah lagi. Kehidupannya yang dulu kosong dan tanpa arah seolah terulang kembali, bahkan lebih buruk.

Angkasa tenggelam dalam kesedihan, hingga Sakti yang merupakan sahabat sejak SMA rela melepas kesenangan demi kesembuhan dirinya.

Kehidupan berjalan sesuai takdir. Bersama Sakti, Angkasa mulai membangun mimpinya yang pernah hilang. Namun, saat semua fokus Angkasa terarah pada pekerjaan dan pencapaian, mantan istrinya kembali.

"Kasa, kamu ingat aku?" Wanita bermata bulat dengan cadar hitam di wajahnya itu bertanya pelan.

Bibir Angkasa tertutup rapat, tetapi hati berbisik, "Bagaimana aku bisa lupa saat tajamnya namamu mampu memutus semua syaraf di kepala sampai aku nggak ingat lagi kehidupan yang sebenarnya, Myria?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uki Hara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Tiba di parkiran, Myria tak bisa menahan lagi laju air matanya. Dia menangis begitu kuat sampai sekuriti penjaga di sekitar area terheran.

“Tenang, My. Iya, aku tahu gimana perasaanmu, tapi dari awal aku udah wanti-wanti kalau semua nggak bakalan kayak dulu.”

Cadar yang menutup wajahnya basah, Myria menarik tisu dari dalam tas dan menelusupkan dari bawah untuk menghapus air mata serta ingus yang keluar secara alami saat menangis. “Tapi harus separah itu? Emangnya aku salah? Siapa, sih, yang salah di sini? Dulu aku udah bilang kalau aku bisa hidup apa adanya, tapi dia sendiri yang nggak mau. Sekarang dia benci aku, apa itu masuk akal, Fris?”

Raungan Myria kembali mengudara. Friska hanya bisa menghela napas melihat itu. Ada saat dirinya bingung memosisikan diri karena tidak ingin membela siapa pun.

Selama ini, semua hal yang didengar hanya dari sudut pandang Myria, Friska tidak bisa menyimpulkan keputusan sepihak tanpa tahu alasan Angkasa sebenarnya.

“Sabar, My. Iya, aku tahu kamu pasti sakit hati sekarang. Tapi kita juga nggak tahu apa yang dirasain dia.”

Myria merentangkan tangan, lalu memeluk Friska guna mencari ketenangan. Dua wanita seumuran itu sudah sering bersikap saling menguatkan karena memang sama-sama belum punya sandaran jiwa.

“Semua manusia punya akal sama pemikiran masing-masing, dan hampir setiap orang merasa dirinya, lah, yang paling benar. Aku mungkin kalau di posisi kamu bakal gini juga atau bahkan lebih parah lagi. Tapi kalau mau ngesampingin ego dulu buat mikir juga posisi orang lain, kita nggak bakal gampang nyalahin orang, kok.”

Kembali Friska menghela napas panjang sembari mengusap punggung Myria. “Jalani aja semuanya kalau kamu masih kuat, kalau nggak, jangan dipaksa. Ingat janji Allah di surat Al-Insyirah ayat lima sama enam.”

Tangis Myria mereda. Dada yang tadi begitu sesak, kini mulai lega setelah meluapkan segala isinya. Myria menarik diri, lalu mengambil cadar cadangan yang selalu disiapkan di dalam tas. Setelah itu, baru mengajak Friska pulang.

Motor yang mulai meninggalkan pelataran perusahaan itu menjadi perhatian Angkasa yang ada di ruangan. Sinar mentari mulai panas dan menerpa sebagian tempat kerjanya. Namun, angkasa tidak menutup gorden karena sengaja menanti seseorang itu pergi.

“Gue cuma bisa lihat lo dari jauh gini. Lihat lo sukses, gue bangga.”

Hari itu berlalu begitu saja tanpa ada kata menyapa lebih banyak lagi. Angkasa tetap fokus pada pekerjaan, sementara Myria masih terus berdoa ada keajaiban. Jodoh memang garisan takdir Tuhan, tetapi Myria tidak lelah meminta.

Hari ketiga setelah sesi interview, tak kunjung ada kabar diterimanya Myria di perusahaan Angkasa. Hampir setiap hari wanita itu gelisah dan makin pesimis.

“Perlu aku tanyain ke Sakti?” Friska memahami kegundahan sahabatnya. Dia sampai menawari jasa menyuapi orang karena gemas melihat Myria mendadak kehilangan selera makan sejak kemarin.

“Nggak usah. Aku nggak enak sama Sakti.”

Bola mata Friska berputar. Dia buang napas lalu kembali menyuap makan siangnya sendiri. “Ya, udah, makan. Kamu itu jauh dari keluarga, hidup sendiri harus bisa peduli. Om Tirta kalau tahu kamu gini, yakin, deh, My, beliau bakalan ngelarang kamu ini itu. Cinta boleh, tapi jangan sampek jadi bodoh apalagi nyiksa diri. Kamu zalim tahu, sama raga yang dipinjami Allah buat kamu.”

Omongan Friska terkesan tajam. Namun, adakalanya memang perlu tamparan saat kalimat lembut tak bisa menyadarkan seseorang. Bukan dia tidak kasihan, melainkan jika kemauan Myria yang aneh itu terus dituruti, kapan sahabatnya bisa bangkit.

“Aku rasa kepulanganmu kemari itu salah, My.”

“Maksudmu?” Baru hendak menyuap sesendok nasi, ucapan Friska menghentikan. Myria mengunci pandangan dan kembali meletakkan sendok.

“Kamu jadi lembek gini abis ketemu Kasa. Padahal kamu juga tahu sikap Kasa udah kayak apa. Dia aja bisa tegar gitu di depanmu, dia masih bisa kerja. Tapi kamu?”

“Pria lebih didominasi sama akal pikirannya, jangan samain aku sama dia, lah.”

“Kalau nggak gini, kamu nggak nyadar. Udahlah, sabar. Ntar kalau ada waktunya sama dia lagi, pasti itu bakal kejadian. Jangan nyiksa diri kamu dari sekarang. Dia fokus kerja, harusnya kamu juga bisa fokus ningkatin skill.”

Kata-kata Friska tidak ditanggapi. Myria melahap makanan dan tak lagi curhat daripada makin panjang urusan.

Sementara itu, Angkasa sibuk menjalani rapat bersama karyawannya.

“Rancangan tim desainer memang demikian, Pak. Beberapa bulan ke depan, mungkin ada baiknya kita inovasi produk yang pernah keluar dengan beberapa sentuhan. Data dari tim merchandising saya kira cukup membantu untuk membuat beberapa sampel sebelum produksi dimulai.” Sakti bicara, sementara semua yang ikut rapat hanya diam memperhatikan.

Ketua tim desainer menyimak dan mencatat semua detail yang dibahas untuk memunculkan ide-ide baru. Pria berkacamata itu menyampaikan pendapat, “Masih ada beberapa waktu untuk revisi andai Pak Kasa kurang tertarik dengan rancangan kali ini, hanya saja, mungkin selama proses revisi itu tidak ada Faiza lagi. Maafkan saya kalau lancang, tapi kehilangan satu personil tetap berimbas pada efektivitas pekerjaan tim kami, Pak.”

Tujuh orang yang menjadi bagian desain mengangguk bersama. Tidak terkecuali wanita bercadar hitam yang jadi pembicaraan sekarang. Faiza, wanita itu yang selalu memiliki ide-ide unik dan banyak sekali produk rancangannya sukses di pasaran.

Menanggapi omongan kepala tim desainer, Sakti ikut mengangguk. Sengaja pria itu tidak menjawab karena semua keputusan ada di tangan Angkasa.

Angkasa menarik napas cukup dalam, lalu mengembalikan lembaran gambar pada kepala tim. “Oke, rapat kita cukupkan di sini. Lakukan revisi sebisanya dulu sambil menunggu tim kalian kedatangan anggota baru.”

“Baik, Pak.” Semua orang mengemasi perlengkapan mereka. Kemudian, satu per satu mulai meninggalkan ruangan.

Tersisa Sakti yang masih duduk tenang di samping sahabatnya. Dia menyibukkan diri dengan laptop dan mengabaikan Angkasa.

“Lo nggak ada rekomendasi orang lain selain Myria?” Kursi sengaja diputar Angkasa menghadap Sakti. Dua tangannya bertumpu di atas perut.

“Ada, si Friska. Kemampuannya mirip sama Myria. Tapi, gue nggak menjamin dia mau kerja di sini, soalnya nyokap dia juga buka konveksi.”

Baru saja hendak tersenyum, penjelasan Sakti membuat Angkasa kembali datar. Pria itu meninggalkan kursi, lalu memandangi jendela luar. “Seriusan kita harus ngerekrut Myria?”

“Kalau nggak kuat, nggak usah. Ntar lo teriak-teriak mulu tiap hari, gue yang pusing.” Laptop telah mati sepenuhnya, Sakti mengangkat tangan dan menjadikannya bantalan di balik kepala.

“Tapi perusahaan harus terus jalan.”

“Buang ego lo itu kalau emang mau professional. Lagian kita sama Myria beda ruangan, jadi nggak bakal sering ketemu. Hampir nggak pernah kalau bukan rapat gini. Tapi beda lagi ceritanya kalau lo sengaja merhatiin dia mulu.”

Hampir saja Sakti mendapat tendangan dari Angkasa. Akan tetapi, pria itu cukup gesit untuk menghindar.

Sakti melenggang pergi, tetapi berhenti di dekat pintu. Sembari menarik gagang pintu, pria itu berkata, “Pikirin saran gue. Kalau lo masih ngeyel, lo nggak lebih dari pengecut. Omongan lo yang bilang mau ngelawan trauma, itu cuma omdo. Lo harusnya inget, sembilan tahun itu bukan waktu bentar, buktinya lo masih hidup, kan? Allah tahu mungkin waktunya lo naik level sekarang, jadi dikasih ujian hati gini.”

Urung keluar, Sakti justru kembali ke dalam. “Kita udah ditanya sama Malaikat sebanyak 77 kali sebelum lahir ke dunia, dan jawaban kita itu siap dengan semua perjalanan hidup. Jadi, gue yakin kalau lo nggak bakal nyerah gitu aja dapat masalah gini, lo bisa ngelewatin itu.”

Penjelasan Sakti mengantarkan perasaan lain di hati. Angkasa terdiam dan hanya menatap punggung sahabatnya yang kini hilang sepenuhnya setelah menutup pintu. Dua tangan Angkasa menyugar rambut ke belakang, lalu membuang napas sekuat mungkin.

Pikiran Angkasa bercabang. Namun, perusahaan harus tetap berjalan. Banyak manusia bergantung di perusahaannya itu, banyak anak yang butuh penghidupan dari sosok ayah maupun ibu, ada orang tua yang ingin dibanggakan oleh sosok anak, ada pula orang yang harus bekerja demi melanjutkan hidup.

“Gue nggak bisa ngebiarin semua rusak gitu aja karena masa lalu.” Angkasa merogoh saku, lalu menelepon manager HRD secara pribadi.

“Ya, Pak.”

“Berikan panggilan kerja pada Nona Myria yang interview beberapa hari kemarin. Katakan padanya untuk bisa bekerja mulai besok.”

Manager HRD hanya bisa menelan ludah mendengar sang pimpinan turun secara langsung menangani masalah sumber daya. Dia waswas andai selama ini kinerjanya tidak memuaskan. “Ba–baik, Pak. Saya akan segera lakukan perintah Bapak. Ada yang lain, Pak?”

Mendengar keanehan bicara pekerjanya, Angkasa berkata lagi, “Apa kamu ragu menerimanya?”

“Tidak, Pak. Sesi interview kemarin memang banyak hal yang membuat saya takjub pada kandidat ini. Tapi, memang ada beberapa pertimbangan yang perlu saya pikirkan.”

“Aku tahu soal karyawan adalah urusan bagian personalia, tapi karena tim desain butuh segera, terpaksa keputusan kali ini aku ambil alih. Segera hubungi agar besok dia bisa bekerja.”

 .

1
Uti Cimoy
Hai kakak author, aq suka tulisan mu. ini lagi baca maraton
ig: ukiii__21: udah tamat di f1zz0 kak
total 3 replies
Sri Puryani
kok gt sih sakti ....mbok yo mendekati faiza kasihan kan
Sri Puryani
ya deketin faiza dong sakti.....msk tanya sama ibrahim
Sri Puryani
myria egois....mementingkan diri sdr
Sri Puryani
kok rasanya gk percaya ya myria bs mikir gt, kirain ilmu agamanya tggi itu pinter ternyata.......
kenapa bs menekan suaminya spt itu? kyk gk menghormati & menghargai suaminya
Sri Puryani
thor faisa srh nolak nikah sama angkasa blg aja mo nikah sama sakti biar myrianya gk ngeyel
Sri Puryani
oalah myria ....jd orang kok gk sabar....br jg sethn blm punya anak dah bingung, aq aja 5 th br punya anak gk papa 🤭
Sri Puryani
oh faisa kirain friska ....ya udah faisa sama sakti aja
Sri Puryani
udah sama sakti aja friskanya
Sri Puryani
semangat angkasa myria
Sri Puryani
jangan" myria lg tekdung😀
Sri Puryani
sdh jd suami panggilannya dirubah dong my....
Sri Puryani
ternyata dendam
Sri Puryani
kyknya ada yg dendam sama angkasa
Sri Puryani
Luar biasa
Sri Puryani
ikut seneng baca 😀
Sri Puryani
kok gk rela ya thor angkasa sama orang lain
Sri Puryani
oalah thor kok gt nasib angkasa....kasihan thor, hukum bpk nya myria aja thor
Sri Puryani
ortu yg egois....myria lakukan sesuatu spy ayahmu kehilangan dirimu
Sri Puryani
kyknya yg dtg ortu angkasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!