Kiana Anuradha Widjaya.
Perempuan itu lebih baik menikah muda, daripada berpacaran. Prinsipnya seperti itu. Dia berani nikah muda sekalipun masih duduk di bangku SMA.
Kiana menikah dengan ararya Sadira Pratama atau yang biasa dipanggil Arya.
Dalam pernikahan itu, Kiana membuat kesepakatan dengan Arya untuk menunda punya anak terlebih dahulu.
Namun sayangnya kesepakatan yang sudah disetujui itu, Arya langgar karena khilaf.
Hingga akhirnya Kiana dinyatakan hamil.
Jika seperti ini kejadiannya? Lalu bagaimana dengan kehidupan pernikahan mereka? Bagaimana dengan anak mereka nanti juga dengan cita-cita Kiana?
"Kamu bajingan! Kamu itu... jahat! Kasar! Pemaksa! Kamu mirip monster. Dan bodohnya aku, malah terbuai percaya sama kamu. Aku benci kamu, mungkin untuk selamanya. Aku menyesal bersamamu."
"Maafkan aku, Ki. Semuanya karena aku. Aku yang salah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunshine_n99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9 - Aku Cemburu!
Semakin ke sini, Kiana baru menyadari kalau hamil itu memang menyusahkan. Perutnya yang semakin hari semakin membesar membuat dia jadi susah bergerak.
Karena alasan itu, Arya akhirnya menyewa Asisten Rumah Tetangga atau ART untuk membantu Kiana mengurusi rumah juga menghindari Kiana beserta bayinya dari hal-hal buruk yang mungkin saja nanti bisa terjadi.
Di pagi ini, Arya yang baru saja selesai melaksanakan larinya di jam 11 siang harus mengantar Kiana ke supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari mereka.
Kiana langsung memilih barang apa saja yang akan dibelinya saat sampai. Lalu Arya, mengikuti diam saja mengikuti arah jalan Kiana sambil mendorong troli belanjaan.
“Belanjanya udah atau belum?” Tegur Arya pada Kiana yang sedang memilih buah-buahan.
“Ya belum lah, masih ada kebutuhan lainnya. Makanya kalau istri belanja tuh ikut coba, biar tahu. Jangan cuma suruh doang beli ini itu.” Sewot Kiana lalu pergi meninggalkan Arya.
Kiana berjalan tanpa tahu tujuannya harus ke mana. Ketika itu, ternyata Kiana berjalan sampai di tempat yang menjualkan perlengkapan bayi dan langsung menghentikan langkah kakinya melihat benda itu.
Tapi entah kenapa, saat melihat benda tersebut, rasanya Kiana ingin membelinya, padahal dia sendiri tidak menginginkan hadirnya bayi yang ada di perutnya ini.
Lalu setelah itu, Kiana pun melihat-lihat sepatu yang terpajang di sana. Tak sengaja, mata Kiana tertuju pada sepatu kecil berwarna putih yang cocok untuk bayi perempuan berumur dua tahun.
Menurut Kiana, sepatu itu begitu mungil dan lucu. Kiana gemas melihatnya. Dia pun mengambilnya dan refleks tangannya memegang perutnya sendiri. Tempat di mana anak yang tak diinginkannya hidup.
Aku emang gak mau kamu. Aku beli sepatu ini buat kamu juga ya sebagai hadiah perpisahan dari aku. Mau kamu nanti suka atau enggak juga aku sih gak peduli.
Ketika Kiana sibuk dengan kegiatannya itu, dia tidak sadar kalau Arya dari tadi ada di dekatnya dan mengamatinya dari waktu Kiana melihat sepatu itu.
Tak ingin disebut penguntit oleh orang lain, Arya pun akhirnya keluar dari persembunyiannya dan mendekat pada Kiana yang sedang memegang sepatu bayi.
Arya merangkul pundak Kiana tiba-tiba dan tersenyum menatapnya, “lagi ngapain?”
Kiana tersentak kaget akan kedatangan Arya dan menjadi tergagap kaku, “itu – enggak, Kiana lagi lihat-lihat doang kok.” Jawab Kiana dengan bahasa tubuh kakunya.
“Sepatunya bagus, Kakak mau beli.” Arya merebut sepatu itu dari tangan Kiana dan memasukkannya ke dalam
troli belanjaan.
“Eh itu... Kiana kan gak bilang mau beli.” Bantah Kiana dengan nada ketusnya.
“Kakak beli sepatu ini atas kemauan Kakak sendiri, bukan kemauan kamu.” Timpal Arya, “toh yang cari uang juga Kakak, jadi terserah Kakak dong mau ngabisin uangnya dengan cara apa aja.”
“Ya udah iya gimana Kakak deh.” Kesal Kiana dan pergi.
Arya tersenyum melihat Kiana kesal. Ia tahu jika Kiana sebenarnya berbohong. Pada kenyataannya, Kiana ingin membeli sepatu tersebut, tapi mungkin saja karena gengsinya pada Arya terlalu tinggi, akhirnya dia mengelak tidak ingin membeli.
Sampai pada malam harinya, Arya sedang sibuk bersiap-siap akan pergi ke resepsi pernikahan Mino, sahabatnya sendiri. Arya tidak pergi sendiri ke acara tersebut, dia meminta Kiana untuk menemaninya.
Jika Arya sedang sibuk bersiap, maka Kiana duduk santai saja menunggu pria itu selesai merias dirinya.
Kiana duduk di dekat jendela yang memperlihatkan pemandangan luar rumahnya. Dia memegang perutnya yang sekarang membesar dan dia melamun.
Begitu tak terasa, ternyata kehamilannya sekarang sudah masuk bulan kelima saja. Lalu sampai sekarang, Kiana belum lagi memeriksakan kondisi kehamilannya. Dia memang benar tidak peduli pada hal itu, untuk memeriksakan kehamilannya pada dokter kandungan saja, dia selalu beralasan lupa.
“Ki, ayo berangkat sekarang.” Arya datang tiba-tiba dan menegur Kiana.
Kiana tersadar dari lamunannya, lalu menoleh pada Arya, “oh ayo.” Jawab Kiana dan bangkit dari posisi duduknya. Namun karena dia membawa beban berat di perutnya, Kiana jadi susah bangun.
Arya pun membantu Kiana yang kesusahan bangun dengan memegang tangan dan pinggangnya, “udah mulai susah bangun ya?”
Kiana mengangguk, “yah... namanya juga bawa anak di perut. Pasti kayak begini.”
Arya menarik tubuh Kiana perlahan untuk mendekatkan jarak di antara mereka.
“Kakak ngapain ih.” Kiana risih diperlakukan seperti itu oleh Arya.
Arya berjongkok saat jarak mereka sudah dekat, lalu memeluk pinggang Kiana. Dia mendekatkan wajahnya pada perut besar Kiana, lalu menciumnya.
Maafkan aku, Kiana. Semuanya gara-gara aku kamu kayak begini.
Sayangnya Ayah, baik-baik di dalam ya. Jangan nyusahin Bunda, Ayah mohon. Kasihan Bunda udah sering bawa kamu, berat katanya.Ayah akan jaga dan sayangi kamu Nak, walaupun Bunda belum bisa nerima dan sayangin kamu.
Ayah cinta kalian, kesayangan Ayah. Sehat dan bahagia selalu ya kalian.
Arya begitu bodoh. Dia tidak mampu mengungkapkan kata-kata itu secara langsung. Dia hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Arya tak ingin Kiana mendengarkan jeritan hatinya itu, yang menurut Kiana mungkin saja terlalu berlebihan.
Pria itu terlalu menghayati perkataan dalam hatinya tadi. Sampai-sampai, matanya pun kini mengeluarkan air. Tapi Arya segera menahan air tersebut, supaya tidak disebut cengeng oleh Kiana. Dia melepaskan pelukannya dan menunduk untuk menghapus air matanya yang keluar walau sedikit. Setelah itu, Arya berdiri kembali.
Kiana diam saja ketika Arya melakukan hal itu. Jujur memang, Kiana merasa senang ketika Arya seperti itu padanya. Tapi di satu sisi, dia juga masih benci dan belum menerima bayi yang dikandungnya sekarang. Dia masih bingung dengan perasaannya. Memang labil.
“Udah nangis ya?” Kiana menebak karena melihat mata Arya yang sedikit basah.
Tanpa seizin Arya, Kiana memegang pipi pria itu dan menangkupnya, “Kakak kenapa nangis? Kiana punya salah sama Kakak? Kalau gitu, Kiana minta maaf.” Tutur Kiana dan tiba-tiba langsung menangis sambil memeluk Arya dengan cukup erat.
“Hey, kok jadi kamu yang nangis Ki?” Arya jadi panik melihat Kiana menangis dan balik memeluknya untuk menenangkannya.
Cukup lama bagi Arya untuk menenangkan Kiana sampai bisa kembali menjadi biasanya.
Arya memegang tangan Kiana, “eh Kakak ambil jaket atau kardigan dulu ya buat kamu, di luar suhunya dingin, takut nanti kamu masuk angin.” Arya mencium kening Kiana lalu pergi meninggalkannya sendiri.
Arya bergerak cepat. Sekarang dia sudah kembali sambil membawa kardigan untuk Kiana dan langsung memakaikannya.
Kiana diam saja menurut pada Arya. Toh memang benar kata pria itu kalau malam hari ini suhunya begitu dingin, padahal tidak hujan.
Arya selesai memakaikan kardigannya pada Kiana, “yuk berangkat.” Arya menuntun Kiana berjalan. Selama kehamilannya bertambah, Kiana jadi semakin susah berjalan. Mungkin karena keberatan bawa bayi di perutnya.
Sampai di tempat acara, mereka langsung masuk ke dalam, yang ternyata di sana sudah banyak tamu yang berdatangan.
Baru saja masuk, mata Kiana sudah merasa lapar karena melihat beberapa makanan yang sudah disediakan.
Ada es krim, sate, bakso, dan masih banyak lagi. Itu semuanya makanan kesukaan Kiana.
Tapi dasar Arya yang tidak peka. Bukannya memilih makanan untuk Kiana, pria itu malah mengajaknya untuk menyapa Mino terlebih dahulu. Karena ini acara Arya, jadi ya Kiana tahu dirilah dan harus menuruti apa kata Arya.
Sampai selesai menyapa Mino, ternyata Arya juga tidak mengajak Kiana makan dan malah mengajaknya untuk bertemu temannya, yang di sana ada Fabian juga.
“Eh, Adik Kiana. Kamu ikut?” Fabian menyapa Kiana dengan merangkul pundaknya.
“Kamu kenapa ikut sih De? Perut udah gede kayak badut begini, masih aja mau ikut.” Ledek Fabian sambil memegangi perut Kiana dan tertawa pelan.
Perkataan Fabian membuat Kiana kesal. Karena itu, Kiana pun memukulnya dengan tas yang dibawanya,
membuat Fabian jadi ditertawakan oleh temannya termasuk Fiska, pacarnya sendiri. Sementara Kiana, dia tersenyum puas karena berhasil membalas Fabian.
“Makanya, kamu itu jangan godain perempuan hamil, Bi. Perempuan hamil itu harusnya diperhatiin, dimanja, bukan diledekin kayak tadi.” Cibir Fiska pada Fabian.
“Kiana, kamu pasti pegel ya? Kita duduk aja yuk. Eh kita ambil makan dulu deh, kamu pasti laper.” Fiska menarik tangan Kiana.
Fiska menepuk pundak Arya yang memperhatikan perbincangan antara Fabian, Kiana, dan Fiska.
“Arya, istri lo sama gue ya. Lo ngobrol aja sama anak-anak sesuka hati lo, gapapa.”
“Ya udah. Gue titip dia ya, mau ngumpul sama yang lain dulu.” Balas Arya.
“Kakak kumpul dulu ya, gak jauh-jauh kok. Kamu kalau laper minta anter Fiska aja ya.” Arya mencium kening Kiana.
Semua teman Arya langsung bersorak ria melihat perlakuan Arya itu pada Kiana.
“Wooowww Aryaaaa!!!” Seru Jino terkejut.
“Gue baru tahu, ternyata si Arya bisa begitu juga.” Kali ini Kaivan yang menyeru.
“Ternyata di depan istrinya, dia tuh gitu ya.” Bani ikut menimpali.
“Hebat dia bisa kek gitu.” Juna pun ikut berkomentar.
“Padahal dulu dia sama cewek gak kayak gitu.” Kata Fabian, “aduh adik gue sekarang jadi pawangnya si Arya, gak nyangka gue.” Canda Fabian.
Arya mengacuhkan ocehan temannya dan meninggalkan Kiana bersama Fiska, juga meninggalkan temannya yang rumpi itu.
Akhirnya, setelah berlama-lama menunggu, perut Kiana bisa diisi juga dengan makanan. Kiana sudah tidak sabar ingin segera menghabiskan makanan itu.
Kiana duduk bersama Fiska di kursi yang kosong saat sudah mengambil makanan.
“Kamu pegel ya jalan terus?”Fiska melihat Kiana memijat kaki bagian betisnya.
Kiana menoleh pada Fiska dan tersenyum canggung, “iya Kak.”
Fiska tersenyum, lalu memegang tangan Kiana, “wajar aja, hamil gede kayak begini emang sering gampang pegel, kan bawa bayi gede di perutnya.”
“Oh iya, kamu udah periksa lagi belum kehamilan kamu, Ki?”
“Belum Kak. Bulan ini Kiana belum periksa lagi. Abisnya Kak Arya bilang gak bisa terus.” Kiana berbohong.
“Duh si Arya, emang suka sok sibuk dia tuh.” Cibir Fiska, “makanannya abisin ayo, kamu pasti laper banget.”
Kiana tersenyum mengangguk dan lanjut makan. Dia mengunyah makanannya, tapi ketika dia mengedarkan pandangannya ke sekitaran tempat, tanpa sengaja matanya malah tertuju pada sosok Arya yang sedang bersama wanita lain. Bahkan sampai mereka sama-sama saling tersenyum, juga wanita itu menatap Arya.
Tidak suka!
Kiana tidak suka dan benci melihat kedekatan mereka. Menurut Kiana, wanita itu terlalu berlebihan. Memakai baju yang terbuka, lipstik sangat merah, kecentilan lagi. Kiana rasanya ingin menjauhkan dia dari jangkauan Arya sejauh-jauhnya.
Tapi tunggu. Siapa ya wanita itu? Kiana sebelumnya belum pernah melihatnya. Kiana pun bertanya pada Fiska.
“Kak Fiska, cewek yang lagi sama Kak Arya itu siapa ya?” Kiana menunjuk dengan mengarahkan matanya pada Arya yang bersama wanita itu.
Fiska memandang ke arah yang Kiana maksud, dan membelalakkan matanya.
“Ya ampun, itu!” Fiska menutup mulutnya karena terkejut, “dia mantannya Arya sewaktu SMA.” Fiska berkata pelan-pelan, takut Kiana cemburu.
Kiana terdiam. Dia ingat akan suatu hal.
Mantan? Oh berarti dia yang dulu bikin kekacauan sama Kak Arya nyampe mabuk terus hamilin aku. Tapi kok Kak Arya seleranya dulu jelek sih punya mantan yang modelan begitu! Masih bagusan juga aku ke mana-mana! Tatapan mata Kiana semakin sinis menatap penampilan wanita itu dari atas sampai bawah.
“Oh mantannya. Kirain bukan mantannya. Soalnya penampilannya kurang bagus gitu. Masih bagusan Kiana ke mana-mana. Selera Kak Arya dulu bener-bener jelek ya, untung dia jadinya pilih Kiana, bukan perempuan itu!” Kiana berkata ketus dan masih menatap sinisnya
“Kenapa? Kamu cemburu ya Ki?” Goda Fiska sambil menyenggol tangan Kiana.
“Eh? Enggak. Kiana baik aja kok.” Kiana berbohong dan tersenyum kaku.
Di saat mereka mengobrol itu, seseorang yang beruntungnya mereka kenali muncul datang ke hadapan mereka berdua dan memanggilnya cukup kencang.
“Kiana! Kak Fiska!” Panggilnya yang ternyata itu adalah Anita.
Kiana bingung dengan kedatangan Anita. Kenapa dia bisa ada di sini? Ini kan bukan acara temannya.
“Lo kok bisa di sini? Sama siapa ke sininya?” Tanya Kiana langsung.
“Ya bisalah. Orang gue diajak sama Kak Eshan.” Jawab Anita jujur.
“Kamu deket sama Eshan?” Tanya Fiska dan dijawab dengan anggukan oleh Anita.
“Siap-siap deh kalau deket sama dia.” Refleks Fiska menjawab itu.
“Ha?! Maksudnya apa Kak?” Tanya Anita dengan bingung dan ingin tahu jawabannya.
“Eh eggak ah, lewat aja.” Fiska tersenyum menyengir.
Hampir aja gue bongkar kartunya si Eshan. Untung gak jadi. Duh ini mulut!
Siapasih yg naruh bawang dsni..?
Buat air mata jatuh tau😭😭