Menerima perjodohan dan mencoba menjalani pernikahan dengan baik adalah niat Zia setelah memutuskan setuju menikah dengan Zio. Namun, yang terjadi setelah menikah justru sebaliknya. Zio–suaminya justru mengajak Zia berteman dan berpisah jika suatu hari nanti salah satu dari mereka menemukan cinta yang sesungguhnya. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Akankah mereka menemukan cinta yang lainnya, atau justru benih cinta tumbuh diantara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Manda terlihat senang melihat anak dan menantunya berada dalam ruangan yang sama. Zio terlihat mengenakan celana pendek tanpa atasan, sementara jika melihat di sebelahnya Zia tampak mengenakan piyama yang terlihat cukup sexy.
Zio menoleh ke arah Zia yang duduk di sampingnya, wanita itu terlihat tegang dan tampak gusar. Zio mengerti mengapa Zia seperti itu, tentu karena mereka tak pernah saling menyentuh dan hanya berkomunikasi secukupnya saja.
Meski ragu, Zio mendekatkan kepalanya pada telinga Zia. “Berpura-puralah untuk tenang di sini dan seakan-akan kita telah terbiasa tidur bersama. Jangan mengeluarkan gelagat yang mencurigakan dan jangan sampai Mama curiga, karena nanti semuanya bisa berakhir dan hancur,” bisiknya, namun kemudian tersenyum seakan ia meyakinkan ibunya bahwa dirinya baru saja membisikkan kalimat yang romantis pada istrinya.
Zia mengangguk samar, lalu ia berpura-pura untuk tetap tenang.
“Wah, sepertinya kalian lagi sibuk sekali, ya. Bagaimana kabar kalian berdua? Walaupun baru sebentar ditinggal, Mama kangen sekali sama kalian,” sapa Manda dengan pandangan yang antusias.
Zio yang mengarahkan kameranya pada dia dan Zia tersenyum. “Kami baik-baik saja di sini, Ma. Mama tidak perlu khawatir dengan apa pun. Zia juga baik-baik aja di sini. Jadi Mama fokus saja di Jerman dan hidup dengan baik di sana. Aku bukan anak kecil lagi, tahu,” balas Zio sedikit diberi candaan pada akhir kalimatnya.
“Ah, ya begitulah seorang Ibu, Nak. Mama dan Papa pasti khawatir walaupun kamu sudah besar dan bahkan sudah berumah tangga. Orang tua akan menganggap anaknya seperti anak kecil meski umur berapa pun dia, jadi jangan aneh kalau Mama sering menanyakan kabar kamu. Apa lagi sekarang kamu sudah beristri, Mama juga harus memastikan bahwa kalian hidup dengan baik berdua di rumah itu,” ujarnya dengan lembut.
Wanita itu tentu masih memikirkan anaknya karena ia pun sempat berpikir bahwa pernikahan dengan Zia terlalu mendadak. Namun melihat bagaimana Zio dan Zia dekat seperti yang ditampilkan kamera, Manda berpendapat bahwa mereka sangat cocok satu sama lain. Hubungan mereka berjalan dengan sangat baik dan romantis, mengingatkan Manda tentang masa mudanya saat bersama sang suami.
“Ah, iya, Mah. Baiklah. Kemudian bagaimana kabar Papa di sana? Baik-baik saja, kan?” tanya Zio.
Manda mengangguk. “Semuanya baik-baik saja, kamu tidak perlu memikirkan kami dan fokuslah pada pekerjaan dan kehidupan rumah tangga kamu. Kamu harus mendengarkan Mama, bahwa saat ini kamu bukan bujangan yang bisa sebebas dulu lagi, kamu sudah punya Zia yang cantik, jadi kamu harus bisa memperhatikannya dengan lebih baik. Kehidupan kamu bukan tentang dirimu sendiri, tapi sekarang tentang Zia juga,” kata Manda menasihati.
“Iya, Ma, Zio tahu kok,” jawab Zio sekenanya. Diam-diam ia melirik ke arah Zia yang duduk di sebelahnya, ia hanya tersenyum saja mendengar nasihat dari mertuanya.
“Baiklah kalau gitu Mama minta maaf karena sudah mengganggu malam kalian. Bersenang-senanglah di sana, Mama tak sabar untuk menantikan kehadiran cucu Mama.” Manda tersenyum lebar, lantas ia langsung mematikan sambungan panggilan videonya.
Melihat tingkah Manda yang cukup aneh, Zia dan Zio saling bertatapan untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Zia langsung turun dari ranjang Zio dan berlari menuju kamarnya dengan cepat. Wanita itu masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan rapat. Ia bersandar di balik pintu dengan perasaan yang campur aduk dan masih sangat shock dengan kejadian yang menimpanya barusan.
Apa yang terjadi? Kenapa ia berada di sana? “Sial, tadi kenapa aku harus tatap-tatapan segala dengan Zio. Aku benar-benar bodoh, kenapa juga aku harus berlari dari kamarnya dan tidak bertindak biasa saja?” Zia menaruh telapak tangannya di dada dan merasakan jantungnya berdebar kuat.
Zio yang masih di kamarnya pun merasakan hal yang Zia rasakan. Seraya menaruh gawainya di meja, ia merasakan bahwa jantungnya benar-benar berdebar. Sebelumnya Zio tak pernah merasakan ini dan Zia-lah yang membuat kupu-kupu beterbangan di perut Zio.
“Baiklah Zio, kamu harus tetap tenang karena semua yang terjadi barusan hanya karena ketidaksengajaan. Lebih baik tidur dan lupakan kejadian sialan itu,” lirihnya dengan penuh keyakinan pada diri sendiri.
--
Tepat pukul 06.30, Zia sudah menyiapkan makanan kesukaan Zio, yaitu cumi pedas manis. Ia belum menanyai Zio lagi tentang makanan kesukaan Zio lainnya agar pria itu tidak bosan, tetapi saat ini ia tak memiliki waktu karena misi utamanya adalah meninggalkan Zio sebelum pria itu terbangun.
Selepas masakan sudah siap di meja makan, Zia kembali ke kamar dengan cepat. Ia membersihkan tubuhnya, menganakan blous cokelat muda dan celana hitam, kemudian rambutnya dikuncir dengan asal dan segera kembali menuju meja makan.
“Aku harus cepat-cepat pergi sebelum dia bangun. Jangan sampai papasan dengannya atau aku akan malu tujuh turunan,” desisnya seraya mengeluarkan kertas dari tas dan menulis catatan untuk Zio.
Hai Zio.
Selamat pagi dan aku sudah memasakkan cumi kesukaan kamu.
Makanlah dengan lahap dan jangan sampai tersisa. Kemudian kamu boleh meninggalkan catatan tentang makanan kesukaan kamu lainnya, agar besok atau malam nanti aku bisa membuatkannya untukmu.
Zia.
Ditaruhnya kertas kecil tersebut di samping piring yang masih terbalik, kemudian ia langsung pergi meninggalkan rumah tersebut menuju tempat kerjanya. Hari ini adalah hari pertama Zia bekerja, jadi pikirnya wajar jugan jika ia datang lebih awal dari pegawai lain.