Namaku Saliya, aku disukai seorang pria bernama Rizal, yang menurutku terlalu sempurna, aku sempat menolak saat ia mengajakku menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan. Aku justru memilih mantan pacarku, tapi Rizal tidak menyerah hingga akhirnya kami menikah.
namun, kebahagiaan rumah tanggaku ternyata menyedihkan.
Ayo baca kisah ku di sini, ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Tidak Terjadi
Seperti Tidak Terjadi Apa-apa
Tak lama setelah itu, azan magrib mulai terdengar dan aku memutuskan untuk segera mandi dan berwudhu. Lalu, segera menunaikan kewajibanku. Setelah selesai shalat dan berdo’a, aku merenungi perjalanan hidupku kembali.
Maha benar Allah, yang berfirman bahwa, sesuatu yang manusia anggap baik belum tentu baik, dan yang dianggap manusia buruk belum tentu buruk.
Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi yang menandakan ada pesan masuk. Saat kuusap layar, kulihat itu pesan dari Rizal. Sejenak aku ragu untuk membukanya, sebab ia pasti tahu pesannya sudah dibaca, sebab aku tak berniat untuk membalasnya, apa pun pesan yang dituliskannya.
Apa mungkin dia tahu kalau aku dan Zikri sudah putus? Dia kan, kayak mata-mata.
Ternyata pesan itu sebuah foto pelangi di salah satu sudut kota, yang berbias antara lampu jalanan dan siluet sinar matahari, dengan warna jingga di sisi lainnya. Aku hapal sekali tempatnya.
“Ini pelangi setelah hujan sore tadi, aku yakin kamu nggak lihat, makanya aku kirim fotonya biar kamu tahu, ada pelangi seindah itu!” tulisnya.
Entah kenapa jempolku yang semula tidak hendak kugerakkan untuk membalas, kini bergerak lincah untuk mengetik kata, “Terima kasih.”
Aku mematikan ponsel setelah itu dan berniat untuk tidur, aku jadi tidak enak makan. Walaupun, ibu mengajak dan merayuku untuk makan malam, aku tetap tidak mau. Malas saja rasanya dan tidak ingin melakukan apa-apa selain diam dan merenung.
Putus cinta untuk kedua kali patah hati lagi dan lagi itu nggak enak, ibarat lukanya belum kering sudah terluka lagi. Aku pikir hubungan kali ini akan jauh lebih baik, tapi yang terjadi justru lebih buruk.
Aku belum sempat menanyakan, mengapa Zikri bersikap begitu, tapi dia sudah pergi. Sekarang aku malas menghubunginya, mungkin saja jawabannya akan tetap sama. Ia akan selalu menuduhku dan tidak mau berpikir jernih, tentang hubunganku dan Rizal.
Seharusnya dia tahu kalau selama ini aku masih sendiri, itu artinya aku tidak tergoda pada siapa pun juga, termasuk Rizal. Apa ada laki-laki yang pantas membuatnya cemburu, rasanya tidak.
Kalau aku memang benar-benar ingin menjalin hubungan dengan Rizal, tentu aku sudah melakukannya sejak dulu. Atau sejak kuliah dan awal bekerja, bukankah ia selalu ada? Namun, aku tidak melakukannya. Jadi, kenapa Zikri tidak mengerti juga.
Aku melihat jam dinding, ini hampir tengah malam, aku sudah berhasil menguasai perasaanku, menyudahi tangisku dan meraih ponsel yang mati.
Aku nyalakan kembali hanya untuk mengirim pesan pada Zikri sebagai akhir kisah kami.
“Baik, aku terima keputusan kamu buat mengakhiri hubungan kita. Besok-besok lagi, kalau kita bertemu berarti kita hanyalah teman biasa dan tidak ada urusan apa pun lagi di antara kita. Kamu yang meminta, kamu juga yang menyudahinya. Terima kasih sudah menjadi bagian dalam cerita dan pelajaran dalam hidupku. Setelah ini, aku harap semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku tidak seperti yang kamu kira.”
Setelah itu, aku kembali mematikan ponsel dan berbaring sambil memeluk guling. Aku memaksa untuk memejamkan mata meski tak bisa.
$$_$$_$$_$$_$$
Hari Senin aku kembali bekerja dan bersikap seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bahkan, saat ibu bertanya keadaanku pun, aku mengatakan hal yang sama bahwa, aku baik-baik saja.
Saat tiba di kantor, kulihat beberapa pegawai berkerumun, mereka membicarakan pengumuman seleksi pegawai yang akan diperbantukan, untuk mengerjakan sebuah proyek di luar kota. Pemerintah akan menempatkan beberapa pegawai jauh di pedalaman desa.
Itu salah satu program unggulan pemerintah baru yang bertujuan untuk pemerataan pembangunan. Mereka membutuhkan pengawas. Memang pekerjaannya tidak berat, seputar laporan dan pemantauan seperti tugas biasa.
Aku berinisiatif untuk ikut, aku menghadap sendiri ke pimpinan divisi agar aku termasuk salah satu yang di kirim untuk mengawasi jalannya program pemerintah ini. Itu berhasil, aku di tempatkan di desa yang jarak tempuhnya bisa mencapai lima jam perjalanan, padahal masih terletak dalam satu kabupaten kota. Mau tidak mau aku harus menginap kalau sedang melakukan tugas, hingga aku dianggap wajar kalau tidak masuk kantor, dalam beberapa selama satu pekan.
“Sal!” panggil seseorang dari belakangku, begitu aku keluar dari ruang penyuluhan, di mana semua pegawai yang melakukan tugas diberi wejangan sebelum pergi.
❤️❤️❤️❤️