Ella adalah seorang gadis yang pernah mengalami perundungan semasa SMA. Setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk pindah ke kota lain, dan mengganti nama serta penampilannya demi mengubur masa lalunya.
Akan tetapi, nasib membawanya bertemu dengan orang-orang yang pernah merundungnya. Salah satunya adalah Nico, yang kemudian menjadi CEOnya.
Berbagai cara dan kebohongan telah Ella lakukan, agar Nico tidak mengetahui identitasnya. Ia juga berusaha untuk mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Namun semua yang dilakukannya, malahan menimbulkan masalah baru.
"Sudah berkali-kali kukatakan kepadamu, untuk berterus terang saja pada Nico. Lihatlah apa yang terjadi sekarang? Kamu malahan menyeret dirimu dan orang lain ke dalam masalah!" bentak Vita, sahabatnya.
Akhirnya Ella pasrah akan nasibnya. Dan kebersamaannya dengan Nico membuat Ella sadar, bahwa selama ini ia telah salah menilai pria itu.
Bagaimanakah kelanjutan hubungan mereka? Mari kita ikuti kisah mereka, dalam My Enemy, My CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiko Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Nico dan Kurnia
Ella benar-benar bingung. Apa yang sebaiknya ia lakukan? Ia sempat berpikir untuk berterus terang saja pada Nico. Namun ketika ia mengingat tindakan-tindakan yang pernah dilakukan Nico padanya, ia mengurungkan niatnya.
Lalu Ella berpikir, lebih baik saat ini ia tetap menyembunyikan identitasnya. Dan segera setelah ia mendapat pekerjaan di tempat lain, ia akan menghilang dari pandangan Nico. Kemudian Ella membeli nomer telepon baru untuk mengelabui Nico.
Keesokan harinya di kantor, Ella menginfokan kepada Nico nomor telepon Kurnia. Ia menyerahkan secarik kertas padanya.
"Apa ini?" tanya Nico.
"Ini nomor telepon Kurnia, Pak Nico," kata Ella.
Mata Nico langsung berbinar. Senyum langsung mengembang di wajahnya yang tampan. "Benarkah? Wah, kerjamu bagus Ella. Terima kasih."
Ella menganggukkan kepalanya dan kembali ke meja kerjanya. Sedangkan Nico segera mengambil ponselnya untuk mengontak Kurnia. Sudah lama sekali Nico tidak mengetahui kabar temannya itu. Ia sangat merindukannya.
Nico: Hai Kur-kur ..., apa kabar? 🤪
Jantung Nico berdebar-debar tatkala ia mengirimkan pesan. Kemudian ia menunggu balasan dari Kurnia dengan terus memperhatikan ponselnya. Semenit, dua menit, lima menit, sampai akhirnya sudah satu jam Nico belum mendapat balasan apapun.
Nico menjadi gelisah. Apakah kata-katanya itu salah, sehingga Kurnia merasa kesal dan tidak membalasnya? Lalu ia kembali mengirim pesan.
Nico: Hai Kurnia. Ini Nico, temanmu saat SMA. Maafkan kata-kataku sebelumnya. Bagaimana kabarmu?
Nico menunggu dengan cemas, namun Kurnia masih belum juga membalasnya. Nico berpikir, apakah Kurnia tidak mau menerima pesan darinya? Lalu ia mencoba mengirim pesan dengan nomor lain.
Nico 2: Selamat siang. Apakah boleh berkenalan?
Namun tetap saja Kurnia tidak membalas pesannya. Nico mencoba mengirim lagi pesan dengan nomornya yang lain.
Nico 3: Permisi, ada paket. Apakah ada orang di rumah?
Nico mencoba menyamar sebagai orang yang mau mengantar paket. Namun tetap saja Kurnia tidak membalasnya. Tak sabar, ia segera meneleponnya dengan telepon kantor. Namun Kurnia tidak mengangkat teleponnya. Nico mencoba meneleponnya berkali-kali, namun tetap saja hasilnya nihil.
"Apakah memang dia sedang sibuk?" batin Nico.
Lalu Nico memutuskan untuk fokus ke pekerjaannya dulu. Namun satu jam kemudian, ia berusaha berkomunikasi lagi dengan teman SMAnya itu. Hampir tiap jam, Nico mencoba untuk mengontak Kurnia. Namun tetap saja tidak ada balasan sama sekali.
Nico menjadi kecewa. Ia bertanya pada sekertarisnya, "Ella, apakah nomor yang kamu berikan padaku itu betul kontaknya Kurnia?"
"Iya, Pak Nico. Itu benar nomornya Nia."
"Saya sudah menghubunginya dari tadi, tapi tidak ada tanggapan sama sekali."
Ella membatin, tentu saja Kurnia tidak bisa menanggapi. Kurnia adalah dirinya. Dan selama bekerja, Nico melarangnya menggunakan ponsel selain ponsel kantor. Sehingga ia meninggalkan ponselnya di kamar kosnya.
"Nia biasanya tidak suka diganggu kalau sedang sibuk. Mungkin Bapak bisa menghubunginya lagi nanti," saran Ella.
Nico mengangguk-anggukan kepalanya. Ia merasa perkataan Ella masuk akal. Ia akan mencoba menghubungi Kurnia lagi, saat jam makan malam.
Setelah Ella sampai di kosnya. Ia segera mengecek ponselnya. Seperti yang ia duga, ponselnya itu penuh dengan pesan dan panggilan telepon dari Nico. Ella sampai menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia membalas salah satu pesan dari Nico.
Kurnia: Hai Nico, kabarku baik.
Di tempat lain, Nico sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Ia mendengar ada pesan yang masuk di ponselnya. Begitu ia tahu bahwa Kurnialah yang mengirimkan pesan, ia langsung melompat bangun. Ia buru-buru membalas pesan, sampai ponselnya hampir terjatuh.
Nico: Hai 😊. Di mana kamu sekarang? Lama tidak mendengar kabar tentangmu.
Belum sempat Ella membalas, Nico langsung melakukan panggilan video dengannya. Ia langsung panik dan segera mematikan ponselnya.
Nico bingung karena panggilannya langsung ditolak oleh Kurnia. Ia berpikir, apakah Kurnia sedang sibuk? Tapi kalau ia memang sibuk, seharusnya ia tidak akan membalas pesannya. Ataukah sikapnya itu terlalu agresif dan tidak sopan? Seharusnya ia menginfokan terlebih dahulu kalau ia mau menelepon.
Nico: Kur-kur, maaf. Tadi aku tidak sengaja menekan tombol panggilan video.
Kurnia: Iya Nico, tidak apa-apa.
Nico: Apakah aku boleh meneleponmu?
Nico sangat merindukan Kurnia. Ia ingin bisa mendengar suara dan melihat wajahnya. Ia penasaran, seperti apa kondisi temannya sekarang.
Kurnia: Jangan telepon Nico. Kirim pesan saja.
Nico merasa kecewa. Namun yang terpenting baginya, ia bisa berkomunikasi lagi dengan Kurnia.
Nico: Baiklah, Kur-kur.
Kurnia: Jangan panggil Kur-kur. Aku tidak suka!
Nico sebenarnya suka menggoda Kurnia dengan panggilan Kur-kur. Namun karena takut pesannya tidak dibalas, ia memilih mengalah.
Nico: Kamu mau aku panggil dengan panggilan apa?
Kurnia: Panggil Nia saja.
Nico: Baik, kamu akan kupanggil Nia. Kamu sekarang tinggal di mana?
Kurnia: Sekarang aku di Jakarta.
Ella tidak mungkin berkata kalau ia berada di Surabaya atau Semarang. Ia tahu bahwa Nico memiliki perusahaan di sana, sehingga bisa saja Nico melacaknya.
Nico: Bekerja? Atau lanjut kuliah?
Ella berpikir keras, bagaimana caranya agar Nico berhenti bertanya-tanya padanya? Semakin lama ia berkomunikasi dengannya, ia akan semakin membuat kebohongan yang lebih besar. Ella sudah lelah dengan hal itu. Tiba-tiba terbesit sebuah ide di kepalanya.
Kurnia: Ibu rumah tangga. Kebetulan suamiku orang asli Jakarta. Maaf ya Nico, aku tidak bisa berlama-lama. Suamiku sudah menunggu.
Setelah itu Ella segera memutup ponselnya. Ia tersenyum puas. Ia merasa bahwa idenya ini sangat cemerlang. Dengan mengaku sudah menikah, Nico pasti akan berhenti menghubunginya.
Di lain pihak, Nico sangat terkejut setelah membaca pesan tersebut. Ia tidak percaya bahwa Kurnia sudah menikah! Orang yang susah payah ingin ia temui, ternyata sudah menjadi milik orang lain. Nico langsung merasa lemas. Ada kesedihan luar biasa yang ia rasakan sekarang.
Sebelumnya Nico tidak begitu menyadari perasaannya terhadap Kurnia. Namun kesedihan yang ia rasakan sekarang, membuatnya tersadar. Ternyata, diam-diam ia menyimpan rasa suka dengan teman SMAnya itu. Nico merasa kesal dengan dirinya yang terlambat menyadari. Ia juga menyesal, mengapa ia terlambat menemukan Kurnia?
--o0o--
Keesokan harinya, Nico berangkat ke kantor jauh lebih awal. Bahkan ia menjadi orang yang pertama kali sampai. Di sana, Nico menyibukkan diri dengan banyak sekali pekerjaan. Dan sebagai sekertarisnya, Ella ikut terkena dampaknya. Sudah seminggu lebih, Ella sampai harus pulang larut malam.
"Apakah Nico kesal denganku? Sehingga ia menghukumku dengan lembur sampai jam segini?" keluh Ella dalam hati.
"Ella, besok kita akan berangkat ke Jakarta. Segera carikan tiket penerbangan paling pagi ke Jakarta. Kita akan kembali ke Surabaya setelah semua urusannya selesai."
Ella mengangguk walau dalam hati ia mengomel, "Gila apa? Ini sudah jam 11 malam. Dan besok pagi-pagi masih harus berangkat ke Jakarta?"
Keesokan harinya, Ella bangun dengan terburu-buru. Ia begitu lelah sehingga tidak mendengar alarmnya berbunyi. Ella sampai keliru memasukkan ponsel pribadinya ke dalam tas. Namun ia masih beruntung, karena tidak sampai terlambat tiba di bandara.
Ella terus mengomel dalam hati sepanjang perjalanan. Ia merasa sangat lelah sekali. Dan sebisa mungkin, ia harus menahan diri agar tidak tidur di pesawat. Pengalaman sebelumnya membuatnya lebih berhati-hati. Ia tidak mau Nico memfotonya lagi saat sedang tidur.
Sesampainya di Jakarta, Nico mengajak Ella untuk sarapan di sebuah cafe. Ella masih merasa sangat mengantuk, walaupun ia sudah memesan secangkir kopi. Kemudian ia meminta izin ke kamar mandi, agar dapat membasuh wajahnya.
Nico teringat perkataan Kurnia, bahwa ia sekarang tinggal di Jakarta. Ia memang merasa kecewa karena Kurnia sudah menikah. Namun bagaimanapun, Nico masih ingin bertemu dengannya. Ia ingin melihat bagaimana kondisinya, seperti apa suaminya, dan apakah ia baik-baik saja?
Nico juga menyadari, bahwa ia harus tetap membina hubungan baik dengan siapapun, meskipun ia sudah kecewa. Sudah seminggu lebih, ia tidak berkomunikasi dengan Kurnia. Dan setelah menyibukkan diri, ia merasa perasaannya sudah jauh lebih tenang. Ia merasa siap untuk bertemu dengan Kurnia dan suaminya.
Lalu Nico mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Kurnia. Tiba-tiba, ia melihat sebuah sinar ponsel dari dalam tas Ella. Nico kembali mencoba mengirimkan pesan. Dan lagi-lagi, ponsel di dalam tas Ella kembali bersinar. Nico merasa curiga. Lalu ia menelepon Kurnia sambil membuka tas sekertarisnya itu.
Betapa terkejutnya Nico, kalau pada ponsel Ella, sedang ada panggilan dari dirinya. Ia segera mematikan ponselnya dan mengecek ponsel Ella. Dan Nico mendapati kenyataan, bahwa Ella dan Kurnia, adalah orang yang sama!
Kemudian Nico segera menghapus pesan dan panggilan darinya. Ia mengembalikan ponsel Ella ke dalam tas, dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Agenda Nico di Jakarta ternyata tidak begitu padat. Nico hanya mengunjungi dua customer saja di sana. Sore harinya, mereka segera kembali ke Surabaya.
Di dalam pesawat, Ella merasa sangat lelah. Ia menyandarkan kepalanya di jendela. Ia sudah tidak peduli, apakah Nico akan memfotonya atau tidak. Saat ini, ia hanya mau beristirahat.
Melihat Ella yang tampak mengantuk, Nico segera menyandarkan kepala Ella ke bahunya. Ella sangat terkejut. Ia hendak menegakkan kepalanya, namun aksinya itu ditahan oleh Nico.
"Tidak apa-apa. Bersandarlah di bahuku. Kamu pasti sangat lelah," kata Nico.
Ella tidak berani membantah. Kemudian ia tertidur di bahu CEOnya itu. Nico tersenyum lebar. Lalu ia membelai lembut kepala Ella. Ia merasa sangat bahagia sekali sekarang.
salam kenal..
jangan lupa mampir jg ya 🤗