Aurora Monique Ragnhild Nicandro, gadis berusia dua puluh delapan tahun yang ingin mempunyai anak, tapi dia tidak mau menikah.
Apakah yang akan dilakukan oleh Aurora.??
Apa dia akan mengadopsi seorang anak, atau memilih akan melakukan donor sp3rma.??
Ide gila tiba-tiba muncul dari dalam otaknya, ketika takdir mempertemukannya dengan seorang laki-laki yang bernama Enzo.
Mau tahu, apa yang akan di lakukan Aurora kepada Enzo.??
Dan bagaimana reaksi dari Enzo, ketika tahu jika Aurora hanya memanfaatkannya saja demi mendapatkan anak darinya.
Yuk, simak kisah mereka berdua di novel saya yang ke sekian, maaf jika nanti banyak typo🤗😉.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maria_azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN ENZO
Keesokan harinya, Aurora langsung menjual hasil kebunnya kemarin ke pasar, seperti itu terus kegiatan Aurora setiap harinya, hanya ladang, padang rumput dan juga pasar, hingga tanpa dia sadari waktu sudah berjalan sekitar tiga bulan dari kejadian dia tidur dengan Enzo.
Enzo sendiri di seberang sana, selalu marah-marah terus kepada Arvon, yang menurutnya kali ini pekerjaannya tidak becus, sebab di suruh mencari Aurora saja sampai tiga bulan lamanya tidak ketemu juga.
" Bodoh kamu Arvon,!! kerja kamu apa saja hah!! ," marah Enzo lagi ketika mendapatkan laporan dari Arvon.
" Cuma menemukan gadis biasa saja kamu tidak bisa menemukannya selama ini, kamu apa mau saya pecat Arvon!! ," kata Enzo lagi dengan nada yang sangat tinggi.
Terlebih lagi, karena keisengannya dengan Ayah Pippin kemarin, membuat Enzo semakin pusing saja, sebab sang Ayah terus menyuruhnya untuk menemukan Aurora.
Dan gara-gara Enzo juga, sang Mama akhirnya jatuh sakit sejak dua minggu yang lalu, karena kepikiran dengan Aurora yang dikira sedang mengandung cucunya.
Semua ini karena ulah Enzo sendiri, Keluarganya selalu menuntutnya untuk segera menemukan Aurora.
Enzo ingin menjelaskan, tentang cerita yang sebenarnya, siapa itu Aurora, akan tetapi rasanya mulutnya sangat susah sekali diajak kompromi.
Akhirnya, Enzo membiarkan saja apa yang sudah terlanjur dia katakan kepada ke dua orang tuanya.
Di saat Enzo sedang marah-marah dengan Arvon, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka dari luar, dan pelakunya adalah Arny, adik kandungnya sendiri.
" Kakak apa mencari wanita ini?? ," tanya Arny sambil menyerahkan selembar foto.
Enzo langsung saja mengambil foto yang baru saja diberikan oleh Arny.
" Iya,!! iya dia wanita yang sedang Kakak cari selama ini, bagaimana kamu bisa tahu jika dia wanita yang sedang Kakak cari Arny?? ," tanya Enzo kepada Arny.
" Aku tidak sengaja mendengar Kakak berbicara dengan Papa, dan Arny lalu mencari tahunya sendiri, untuk berinisiatif membantu Kakak ," jawab Arny kepada Enzo.
" Lagipula, dia sedang mengandung calon keponakan Arny, mana tega Arny membiarkan dia hidup di luar sana tanpa pertanggung jawaban dari Kakak ," kata Arny lagi kepada Enzo.
Sekali lagi, bertambah satu orang yang percaya akan kebohongan yang di ciptakan oleh Enzo, dan Enzo yang mendengar jawaban dari Arny, dia hanya diam saja, tidak tahu mau menanggapinya bagaimana.
" Lalu darimana kamu bisa mendapatkan foto ini Arny?? ," tanya Enzo kepada Arny.
" Anak buahku tidak sengaja melihat dia sedang bertengkar dengan seorang laki-laki tua di perbatasan desa Kak ," jawab Arny kepada Enzo.
Dan laki-laki tua yang dilihat oleh anak buah Arny adalah Ayah kandungnya Aurora sendiri yang sedang berkunjung ingin melihat Aurora.
Aurora pada waktu itu baru saja pulang dari pasar seperti biasanya, karena baru saja menjual satu domba miliknya dan hasil kebunnya, dan ketika di jalan dia tidak sengaja bertemu dengan sang Ayah yang sedang membawa sesuatu di tangan kirinya.
Aurora yang melihat sang Ayah, dia berpura-pura tidak melihat, akan tetapi sang Ayah yang bernama Ebert ini sengaja memanggil Aurora.
" Maaf, apa kita saling mengenal ," begitulah yang dikatakan Aurora kepada sang Ayah.
" Apa kamu masih marah kepada Ayah Aurora?? ," tanya Ayah Ebert kepada Aurora.
" Ini Ayah bawakan makanan kesukaan kamu ," kata Ayah Ebert lagi kepada Aurora.
" Saya tidak mempunyai Ayah, Ayah saya sudah meninggal sejak saya masih kecil ," jawab Aurora kepada Ayah Ebert, sambil melempar makanan yang tadi diberikan kepadanya.
" Aurora, maafkan Ayah, itu sudah berlalu sangat lama sekali, janganlah kamu menyimpan dendam untuk Ayah, Ayah sedih Aurora ," kata Ayah Ebert kepada Aurora.
" Kesedihan anda tidak penting bagi saya, karena nama anda sudah tidak ada lagi di dalam hati saya, jadi silahkan anda pergi dari sini, nanti anda bisa di cari sama istri dan anak anda yang manja itu ," jawab Aurora kepada sang Ayah.
Aurora yang ingin berlalu pergi, dia langsung di cegah lagi oleh Ayah Ebert.
" Aurora, ikutlah dengan Ayah sekarang Aurora, Ayah akan memberikanmu kemewahan yang selama ini tidak kamu rasakan ," kata Ayah Ebert kepada Aurora.
" Huh kemewahan,!! nanti jika saya ikut dengan anda, bukan kemewahan yang akan saya dapatkan, tapi penderitaan, semenderitanya saya di sini, lebih menderita jika ikut dengan anda ," kata Aurora kepada Ayah Ebert.
" Aurora ," kata Ayah Ebert sambil menampilkan wajah sedihnya di wajahnya yang sudah keriput.
Sekarang Ayah Ebert menyesal, karena dulu sudah pernah menyia-nyiakan Mama Dama dan juga Aurora.
" Pergi!! ," kata Aurora.
" Ra ," kata Ayah Ebert.
" Pergiiiiiiiiiiiii!!! ," teriak Aurora lagi kepada sang Ayah.
Mau tidak mau, Ayah Ebert pun pergi sambil menahan rasa sedih di dalam hatinya, sedangkan Aurora langsung meneteskan air matanya sepeninggal dari sang Ayah.
Kembali ke Enzo lagi.
Enzo yang mendengar cerita dari sang adik, dia langsung saja menugaskan Arvon dan beberapa anak buahnya untuk menyelidiki desa yang di maksud oleh Arny.
Sedangkan Aurora sendiri, sejak pagi tadi, tubuhnya merasakan gejala seperti tidak enak badan, bahkan jika Aurora ingin beranjak bangun dari atas ranjang, kepala dia akan terasa sangat pusing sekali.
" Kenapa kepalaku sangat pusing sekali hari ini ," kata Aurora sambil memegangi kepalanya.
" Tapi perutku lapar ," kata Aurora lagi.
Mau tidak mau dan tidak ada yang bisa dia mintai pertolongan, akhirnya Aurora beranjak menuju ke dalam dapur untuk membuat masakan sederhana.
Ketika Aurora mencium aroma masakan itu, entah kenapa perutnya terasa mual sekali, dan hal itu membuat Aurora langsung bergegas menuju ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Aurora berpikir jika dia sedang kecapekan dan masuk angin, sebab dari kemarin dia sudah bekerja keras untuk mengumpulkan uang lagi, untuk jaga-jaga jika dia hamil nantinya.
Sekuat tenaga Aurora menahan rasa mual di perutnya, untuk bisa menyelesaikan masakannya dan memakan makanan itu untuk mengisi tenaga.
Sama seperti tadi, ketika baru saja satu sendok makanan masuk ke dalam mulut, Aurora muntah-muntah lagi, bahkan semakin parah saja dari sebelumnya.
" Aku tidak tahan dan aku tidak kuat ," kata Aurora dengan wajah yang terlihat sangat pucat sekali.
Aurora lalu memutuskan untuk tidur kembali ke dalam kamarnya, dan ketika dia tertidur, Aurora samar-samar mendengar seseorang yang sedang berbicara, dan ketika Aurora berusaha membuka mata, dia melihat seperti ada bayangan seseorang masuk ke dalam kamarnya.
Namun, semuanya menjadi gelap, ketika bayangan itu tiba-tiba memukul tengkuknya hingga membuat Aurora pingsan.
Cukup lama Aurora pingsan, dan ketika dia terbangun, mata dia langsung melihat sebuah kamar yang sangat mewah sekali.
" Aku ada di mana?? ," kata Aurora sambil membiasakan matanya dengan cahaya yang ada.
Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, Aurora melihat ada seorang laki-laki sedang duduk di sofa sambil menatap ke arahnya.
Aurora semakin menajamkan pandangannya, supaya dia bisa melihat semakin jelas ke arah laki-laki tersebut, dan ketika sudah bisa melihat dengan jelas, mata Aurora langsung melotot dengan sangat lebar sekali.
" Anda!! ," kata Aurora sambil menunjuk laki-laki itu.
" Aurora Monique Ragnhild Nicandro, nama yang cukup bagus ," kata laki-laki itu kepada Aurora.
" Apakah anda tidak mengenal siapa saya Nona Aurora?? ," tanya laki-laki itu sambil berjalan mendekati Aurora.
" Tuan Enzo Diedrich ," jawab Aurora kepada Enzo.
Iya, semua ini adalah ulah Enzo yang menyuruh Arvon tadi, dan sekarang Aurora berada di dalam penthouse mewahnya.
" Jadi selama ini anda sudah tahu siapa saya, tapi anda sengaja berpura-pura tidak tahu, begitukah Nona!! ," kata Enzo dengan sangat tegas sekali.
Aurora reflek langsung menggelengkan kepalanya kepada Enzo, sambil memundurkan tubuhnya.
" Berapa yang anda minta dari saya Nona, huh,!! cepat katakan!! ," kata Enzo sambil mencengkeram mulut Aurora.
" Tidak Tuan, saya tidak mau uang anda ," jawab Aurora dengan sangat ketakutan sekali.
" Bohong!! ," teriak Enzo kepada Aurora, sambil melepaskan kasar cengkeraman mulutnya tadi.
" Anda sudah menipu saya supaya bisa hamil anak saya, lalu anda akan menggunakan anak itu untuk memeras saya begitu, hah,!! jalan pikiran anda sudah saya tebak lebih dahulu Nona!! ," kata Enzo terlihat sangat marah sekali kepada Aurora.
Yang bisa Aurora lakukan hanya menggelengkan kepalanya dengan sangat ketakutan sekali.
" Sekarang anda sudah tidak bisa pergi lagi dari saya, dan karena saya sudah pernah mengeluarkannya di dalam, sekarang puaskan saya lagi, saya akan membayar berapapun yang anda minta ," kata Enzo sambil melepaskan semua yang melekat di tubuhnya.
" Tidak Tuan, saya tidak mau ," kata Aurora mencoba beranjak turun dari atas ranjang.
Dengan tubuh yang lemas dan karena body juga sedang tidak fit, membuat pergerakan Aurora sedikit terbatas.
Enzo yang melihat Aurora ingin kabur lagi darinya, tentu saja dia tidak akan membiarkannya.
Enzo langsung saja menarik paksa tubuh Aurora dan menjatuhkannya lagi ke atas ranjang, setelah itu Enzo langsung merobek semua yang melekat di tubuh Aurora.
Tidak ada kelembutan sama sekali saat ini Enzo melakukannya kepada Aurora, tidak ada f0r3play, dan tidak ada cum6u4n terlebih dahulu untuk Aurora.
Semuanya Enzo lakukan dengan sangat kasar, hingga tiba waktunya Enzo memasukkan pisang jumbonya itu ke dalam surga dunia milik Aurora pun, dengan sangat tidak sabaran sekali, hingga membuat Aurora langsung berteriak kesakitan.
" Aaaaaargghh sakit Tuan, aaaah perutku sakit ," kata Aurora sambil memegangi perutnya.
" Aku tidak peduli, kamu harus tetap memuaskan saya!! ," kata Enzo sambil terus menggerakkan pisang jumbonya itu.
Aurora terus menahan rasa sakit di perutnya, wajah dia meringis kesakitan, tapi Enzo tidak peduli walau dia melihatnya.
" Aaarrgghh Tuan ini sakit, perutku sakit sekali ," kata Aurora lagi.
" Diamlah, kamu membuat konsentrasiku buyar!! ," marah Enzo kepada Aurora.
Enzo semakin cepat saja menggerakkan pisang jumbonya itu, dan semakin sakit pula yang di rasakan oleh Aurora di dalam perutnya.
Hingga pada akhirnya, Enzo sampai juga pada puncak kenikmatannya yang sudah dia tahan selama beberapa bulan ini.
Bersamaan itu pula, Aurora yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit di perutnya, dia langsung pingsan seketika.
...✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️...
...***TBC***...