Zeta seorang wanita 25 tahun, anggota agen pembunuh bayaran. Suatu hari mendapat tugas dari kliennya untuk membunuh orang penting yang mempunyai pengaruh besar di dunia politik. Saat menjalankan tugasnya ia melakukan kesalahan. Dia tertembak dan akhirnya sekarat. Ketika ia bangun, ia menemukan bahwa dirinya telah bereinkarnasi sebagai Lumie, putri seorang duke dari keluarga Crylle yang ayahnya merupakan seorang Assassin yang bertugas membunuh orang-orang korup atau pengkhianat di kerajaan Arandelle. Meski ia sekarang menjadi gadis bangsawan yang cantik, ia tetap sama dan bertekad menjadi Assassin untuk melindungi negaranya di kehidupan yang sekarang. Namun, selain tidak bisa menggunakan Sihir ia juga sakit-sakitan dan rapuh, ia juga dihadapkan pada nasib buruk seorang wanita. Ia harus belajar sopan santun dari ibunya yang tegas, bertunangan dengan pria yang tidak ingin dinikahinya, dan masih banyak tantangan lain yang menghalanginya untuk menjadi seorang Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FeryZheferly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 8
Pergi Berburu
Setelah mendapat latihan keras dari Ayah kemarin, hari ini saatnya melatih instingku dengan berburu lagi di hutan. Aku juga ada janji dengan AL hari ini, entah kenapa aku sangat bersemangat hari ini, mungkin karena sekarang aku punya teman.
Saat saya sampai di tempat pertemuan, AL belum ada di sana, mungkin saya datang terlalu awal dari waktu yang dijanjikan karena terlalu bersemangat.
"Hah!" aku menghela nafas.
Apa yang bisa kulakukan, aku menunggu sambil berbaring di dahan pohon besar.
Beberapa menit kemudian AL datang, sepertinya dia mencari saya.
Aku memasang wajah jail.
Aku akan mengejutkannya dari belakang.
Aku langsung bergerak cepat berdiri di belakang AL tanpa ketahuan, aku menepuk punggungnya sambil memanggilnya.
"AL!"
AL terkejut.
"Waaaaaaa!! L-Lumie? Kamu mengagetkanku."
"Pffftttt...Kukira kamu tidak akan datang, aku sudah lama menunggumu lho."
Kataku sambil menahan tawaku.
"Ah, maaf Lumie, aku kesulitan untuk pergi."
"Apakah kamu melarikan diri lagi?"
"Iya...kamu benar hehe." Jawab AL sambil tersenyum kecil.
"Begitu... waktu itu kamu bilang kalau kamu selalu dipaksa melakukan tugas yang tidak kamu sukai, kan, tugas apa itu?"
“Ya, seperti menandatangani dokumen dan memeriksa file penting.”
"Ah, itu merepotkan juga."
"Iya, begitulah, makanya aku selalu kabur ke sini untuk mencari hiburan."
"Hei AL, apa kamu punya mimpi?" Aku bertanya.
"Mimpi?" AL terlihat berpikir sambil memegang dagunya.
“Ya… kamu seorang bangsawan kan? Bukannya bangsawan laki-laki bisa memilih untuk menentukan nasibnya sendiri, sudahkah kamu memutuskan nasibmu sendiri?”
Aku tidak bisa mengatakan pada Lumie bahwa aku adalah calon penerus Kerajaan, suatu saat aku pasti akan dicalonkan sebagai Raja yang baru, padahal aku tidak menginginkan hal itu karena merepotkan. pikir AL.
“Impianku hidup bebas mungkin,” jawab AL
"Ha ha ha..."
Setelah mendengar jawaban AL aku tertawa.
"Kenapa kamu tertawa Lumie? hmmmm...."
"Maaf-Maaf, aku hanya terkejut, kamu orang yang aneh, aku iri padamu."
“Iri? Apa maksudmu?”
Gawat! Aku hampir mengatakannya, aku sungguh merasa iri padanya karena dia bisa menentukan nasibnya sendiri, padahal takdirku sudah ditentukan sejak kecil.
“Ah, lupakan saja, ayo kita berburu AL!”
Kataku sambil mengangkat tanganku.
"Eh...!"
Setelah itu kami berangkat berburu Babi Hutan.
“Lumie, ayo berkompetisi, siapa yang mendapat mangsa paling banyak akan menjadi pemenangnya.” kata AL.
"Oke, aku tidak akan kalah darimu."
Kami berdua pun berkompetisi dalam berburu Babi Hutan.
Saya melihat sekawanan Babi Hutan berkumpul.
Oke, saatnya bertindak, saya akan menjebak mereka semua.
Aku membuat benang yang kuat, tajam dan transparan dengan sihirku untuk menjebak kawanan Babi Hutan, benang itu aku ikat pada batang pohon, setelah itu aku mengincar salah satu Babi Hutan dengan Anak Panah, ketika salah satu Babi Hutan terkena serangan dengan panahku, kawanan itu akan panik dan lari, ketika mereka melarikan diri disitulah mereka akan mati karena jebakan benang yang sudah saya pasang.
Saya mendapat tujuh ekor babi hutan, sedangkan AL hanya mendapat empat ekor babi hutan.
AL kaget saat melihatnya.
“Hua…aku kalah, kamu sungguh hebat Lumie.”
"Ah, ini karena aku sudah terbiasa ahahaha."
Apakah buruk jika aku melakukannya secara berlebihan lagi?
"Babi hutan sebanyak ini akan sia-sia jika dibiarkan begitu Saja Lumie, bagaimana kalau kita memberikanya kepada penduduk desa di sana, kulihat ada desa kecil di sana." tegas AL.
"...umm, baiklah kalau begitu."
"Baiklah, aku akan mencari tumpangan ke sana."
AL berangkat mencari tumpangan, beberapa menit kemudian ia kembali membawa seorang lelaki paruh baya yang ternyata juga warga desa sana.
"Kalian berdua? Apakah kalian yang memburu semua Babi Hutan ini?" tanya pria itu.
"Benar sekali, kami berniat memberikan semua ini kepada warga disana, oleh karena itu aku butuh bantuanmu untuk membawa ini dengan gerobakmu, aku punya uang untuk membayarmu jadi jangan khawatir." tegas AL.
"Tidak-Tidak, kamu tidak perlu membayarku, aku sangat berterima kasih karena kamu telah memberikan ini kepada masyarakat desaku, itu sudah lebih dari cukup." jawab pria itu.
Setelah itu, laki-laki itu membawa semua hasil buruannya ke dalam gerobak yang berisi banyak jerami.
Kami pun berangkat ke desa dengan menaiki gerobak.
Setelah sampai disana kami langsung membagikan hasil buruan kami kepada seluruh warga desa setelah dikuliti oleh salah satu warga disana.
Desa ini terlihat sangat kumuh dan banyak terdapat masyarakat miskin, mereka terlihat sangat senang mendapatkan daging Babi Hutan. Setelah selesai membagikan kami memutuskan untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang saya bertanya kepada AL.
“AL, penduduk desa disana sepertinya masih banyak anak-anak yang kelaparan, mereka semua sangat miskin, kenapa mereka tidak mendapat bantuan dari kerajaan? Apa yang sebenarnya dilakukan raja dan para pangeran bodoh itu?"
Mendengar perkataan Lumie, hati AL serasa tertusuk anak panah.
Kata-katanya sangat menusuk, tapi Lumie benar, kenapa Ayah tidak menyadari kalau ada desa yang penduduknya kelaparan seperti itu? Aku tahu ayahku seperti apa, dia tidak mungkin mengabaikan ini, pasti ada sesuatu yang salah. pikir AL.
Kulihat AL terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu?
"Hoe AL! Kenapa diam saja?"
"Ah, maaf, aku sedang melamun."
"Dasar, apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan tadi hmmm...menyebalkan."
Aku menggembungkan pipiku.
"Tidak, aku mendengarnya kok."
Dasar orang aneh? Saya sangat terkejut.
Hari sudah sore dan langit tampak kuning.
“Lumie, hari ini menyenangkan sekali bisa berburu bersamamu lagi, apakah kamu ada waktu luang besok?” AL bertanya
"Besok? Emmm... mungkin aku bebas, ada apa? Mau berburu lagi?"
"Iya, itu? Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke ibu kota?" ajak AL.
Kenapa aku bilang begitu? Ini sama saja dengan mengajaknya berkencan, idiot! AL berpikir dengan wajah merah.
"Kenapa wajahmu merah sekali? Ibu kotanya ya?"
Saya berpikir.
Jalan-jalan ke Ibukota, mungkin itu ide yang bagus, aku belum pernah ke sana sebelumnya, aku selalu takut bangsawan lain akan melihatku jika aku ke sana, Ibu juga selalu melarangku pergi ke Ibukota sendirian, jika Saya bersama AL mungkin tidak apa-apa.
Aku menatap AL dengan mata berbinar.
"Baiklah AL, kebetulan aku belum pernah kesana, sebenarnya aku selalu ingin pergi ke ibu kota, tapi takutnya aku bingung kalau ke sana."
Aku tidak menyangka Lumie akan sebahagia ini. AL berpikir sambil tersenyum kecil.
"Baiklah, sudah diputuskan, besok pagi kita bertemu di tempat biasa jam delapan." tegas AL.
"...umm, oke!"
Setelah itu kami berpisah.
Bersambung....