Rania gadis manja yang dipaksa masuk ke sebuah pesantren karena kelakuannya yang tidak bisa diatur oleh kedua orang tuanya dan selalu membuat masalah.
Namun, Rania menolak mentah-mentah perintah orang tuanya lebih tepatnya perintah sang Mama.
Nikmati kisahnya hanya di NOVELTOON
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umul khaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
HAPPY READING!!!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Keesokan paginya Rania terpaksa harus bangun lebih pagi dari biasanya, Rania bangun untuk shalat subuh. Biasanya Rania setelah shalat subuh dia akan tidur lagi berbeda dengan kali ini dia tidak bisa tidur karena harus ke sekolah yang ada di pondok, sebentar lagi Syakilla akan segera lulus. Walaupun sekarang sekolahnya berbeda.
Inilah yang membuat Rania kesal, dia harus mengantri hanya untuk mandi saja. Sungguh membosankan. Soal semalam tidak ada yang tau, untungnya Rania masih menyisakan seragam sekolah yang sudah di kasih oleh pihak pondok jadi dia masih bisa memakai pakaian, kalau tidak mungkin dia harus memakai pakaian yang sama karena kopernya yang sudah dia lemparkan ke belakang pondok.
Bukan Rania namanya kalau tidak punya akal untuk cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi, dia tidak akan bisa menunggu antrian yang membosankan.
" Aduhh" Rania sedang membuat drama sakit perut di hadapan teman-temannya.
" Kamu kenapa?" Tanya mereka.
" Perut gue sakit banget, gue duluan boleh ya!" Ucap Rania.
" Ya kamu duluan saja" ucapnya.
" Oke, thanks," balas Rania masuk ke dalam kamar mandi.
Dia berhasil membuat teman-temannya percaya dengan drama yang dia buat. Rania mandi sambil bernyanyi di dalam, dia lupa kalau hari ini dia akan tamat.
Satu jam Rania baru menyelesaikan mandinya dan keluar sudah lengkap menggunakan seragam sekolahnya. Kalau bukan karena bajunya yang sudah tidak ada lagi, Rania tidak akan mau ke sekolah. Namun, semua sudah terlanjur bajunya hanya ini yang tersisa di dalam kamar mandi.
Rania masuk ke dalam kelasnya yang sudah dibantu sama salah satu teman sekamarnya. Rania mulai mengikuti pelajaran yang gurunya adalah Salman. Rania sangat malas mengikuti pelajarannya dia hanya tidur di dalam kelas. Dia memikirkan cara bagaimana dia akan mengambil kopernya sekarang dan tidak ketahuan seperti semalam.
Masalah semalam Rania berpikir kalau semua sudah selesai karena tidak mendapatkan panggilan dari Kiyai pagi ini.
" Bagaimana caranya aku mengambil koperku sekarang, ya kali aku harus terus memakai baju ini" batin Rania.
" Kamu," panggil Salman yang memanggil Rania yang tidur tapi tidak tertidur.
Rania tidak peduli dengan panggilan itu, kerena dia pikir yang di panggil bukanlah dirinya.
" Maaf," ucap Salman mengetuk meja Rania.
" Apaan sih? Ganggu banget!" Ucap Syakilla mengangkat kepalanya dari meja.
" Karena kamu dari tadi tidur di kelas saya, kerjakan soal yang di papan jelaskan kepada teman-teman kamu," ucap Salman.
Rania dengan malas bangun dari tempat duduknya dan mengerjakan soal yang ada di papan tulis dengan cepat.
" Ustadz saja yang jelaskan saya malas bicara, saya ngantuk," ucap Rania kembali ke bangkunya.
Semua murid yang ada di dalam kelas kesal dengan tingkah Rania yang tidak punya sopan santun sama sekali tapi mereka juga kagum dengan Rania yang pintar mengerjakan soal yang rumit hanya dalam hitungan menit.
" Apa kamu tidak mampu menjelaskannya?" Tanya Salman sengaja memancing emosi Rania karena dia tau kalau Rania mampu melakukannya. Terlihat dari bagaimana cara Rania menjawab soal yang diberikan olehnya.
" Saya hanya malas menjelaskannya, mereka juga pasti sudah mengerti, lagian itu pertanyaan yang sangat mudah. Kalau itu saja mereka tidak bisa mending di keluarkan saja" jawab Rania tidak mau ambil pusing.
" Keluar dari kelas saya, berdiri di lapangan selama pelajaran saya berlangsung" ucap Salman tegas dia tidak mau Rania membuat semaunya, meskipun dia menyukai Rania bukan berarti dia akan membiarkan Rania berbuat seenaknya.
Rania tidak membantah apa yang di perintahkan oleh Salman dia keluar dengan senang hati dari dalam kelas.
" Saya juga tidak suka masuk ke kelas ini, ini juga karena ustadz saya jadi gagal kabur dari tempat ini" bisik Rania sebelum keluar dari dalam kelas.
" Astagfirullahaladzim, kenapa aku bisa suka dengan gadis seperti dia," batin Salman.
Salam melihat ke arah papan tulis setelah Rania keluar dari kelasnya. Dia kagum dengan Rania meskipun dia anak yang sangat bandel tapi dia sangat pintar. Salman sengaja membuat pertanyaan yang sulit untuk membuat Rania jera tapi dia salah besar ternyata Rania mampu menjawab dengan hitungan menit saja.
" Kenapa dia bisa bandel seperti itu padahal dia adalah anak yang pintar," lirih Salman heran. Padahal yang dia lihat Mama dan Papanya Rania juga sangat menyayangi Rania bahkan memanjakannya. Lalu apa yang membuat Rania jadi pembangkang seperti itu.
" Kalian jawab soal ini di buku masing-masing, saya mau melihat teman kalian dulu di luar," ucap Salman setelah menulis beberapa pertanyaan lain di papan tulis.
Salman ke luar dari kelas untuk memeriksa apa yang tengah di lakukan Rania setelah dia usir dari kelas.
" Kemana dia pergi!" gumam Salman karena tidak menemukan Rania di luar.
" Apa dia pergi ke belakang untuk kabur lagi? Untung saja aku sudah mengambil kopernya," lirih Salman tersenyum karena dia lebih cepat dari Rania.
Salma melangkah menuju ke belakang pondok tepatnya tempat di mana dia memergoki Rania yang hendak kabur semalam.