"Wanita murahan."
Roseta terdiam, ditatapnya nanar pria yang baru saja membuatnya bungkam bak menelan duri dan tersangkut ditenggorokan.
Ada apa ini?
Kenapa?
Walau bagaimanapun, Roseta mampu melihat betapa frustasinya seorang Matheo Ranu Pandega disamping perkataan kotornya. Roseta juga tahu di dalam mata berang pria itu menyimpan kegundahan. Roseta mengenal Theo, lebih dari siapapun.
Roseta sungguh ingin penjelasan, namun seolah mulut yang akan mengaga kembali dihentikan olehnya.
"Aku mendengar dari seseorang, kau membawa putrimu? Ah, jika boleh aku tebak, apa itu buah dari perbuatanmu dengan pria itu? Jay?"
Satu tamparan mendarat di pipi Theo.
Roseta merasa panas ditelapak tangannya, ia seperti tertusuk belati di ulu hati. Bagaimana bisa pria yang paling dicintainya berkata dengan tuduhan sedemikian rupa.
"Jangan berbicara lebih atau kau akan menyesal di setiap ucapanmu Matheo Ranu Pandega!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odipee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Bryna
"Tidak mau bercerita?" dengan sorot mata mengintimidasi, Liliana segera mencoba untuk mengintrogasi.
Liliana seakan melupakan dimana ia berada, ya benar, wanita itu mengganggu Roseta yang sedang bekerja.
Sesampainya Liliana di rumah sakit ini, wanita asal Negara T itu kangsung memasuki ruang kerja Roseta. Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore, bayangkan saja mau apa sebenarnya Liliana itu?
"Astaga, jangan menatapku seperti itu, Li," pinta Roseta merasa terpojok.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Liliana tetap saja tidak menyerah mencari jawaban atas rasa penasarannya.
"Beneran nggak ada Liliana. Kamu tahu sendiri 'kan pekerjaanku seperti apa, aku hanya sibuk karena akhir-akhir ini banyak jadwal operasi, belum lagi banyak berkas yang harus aku tanda tangani," jawab Roseta diakhiri hembusan napas pelan.
“Lalu kenapa kamu tidak membalas pesanku sejak seminggu yang lalu?”
Astaga, karena itu? Kenapa Roseta bodoh sekali sampai lupa begitu sih? Masalahnya pesan itu menyangkut nama Theo, makanya Roseta sampai enggan.
“Aku lupa Liliana.”
Liliana merasa tidak tega untuk lebih mengorek informasi dari sahabatnya ini walaupun ia sangat yakin ada yang disebunyikan darinya. Keadaannya Roseta ternyata sangat buruk, kantung mata sahabatnya itu menghitam, mungkin benar karena kelelahan. Liliana juga melihat tumpukan berkas masih banyak di meja Roseta.
"Aku hanya kawatir padamu. Maafkan aku berlebihan." Liana meraih tangan Roseta dan mengelusnya disana.
"Aku baik-baik saja, kenapa jadi melow gini sih, yaudah kamu temenin aku aja disini, tapi aku masih lama, Bryna baru aja pergi ke arena skate dekat taman bunga." Roseta akhirnya terkekeh diikuti dengan Liliana yang menatapnya sendu.
"Kalau memang tidak kuat, kamu tidak perlu memaksakan seperti ini 'kan?"
Liliana mengatakan dengan nada memohon, Liliana sekali lagi tahu pekerjaan Roseta yang cukup berat, berbeda dengan dirinya yang hanya fokus mengurus Swan dan Jeko saja.
Roseta mendengus kesal mengerutkan bibirnya. "Lalu siapa yang akan mengisi perut Bryna yang tidak pernah kenyang itu?" sarkasnya kemudian.
"Hei! Kamu pikir aku ini orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang kamu? Dengan mengurangi sedikit pekerjaanmu tidak akan membuatmu hidup seperti gelandangan, berlebihan sekali." Liliana memukul pelan lengan Roseta.
Roseta memang sudah bercerita banyak tentang masalah hidupnya. Berkat itu juga, rentetan kejadian-kejadian mengerikan yang dialami oleh Roseta dulu telah menjadi rahasia yang harus Liliana jaga dari siapapun, termasuk suaminya sendiri.
Tidak semua rahasia diceritakan oleh Roseta. Ada bagian yang tidak akan pernah diungkap mengenal sahabatnya yang sangat keras dan tidak suka dengan ketidak adilan, daripada ada pertumpahan darah, lebih baik Roseta menceritakan apa yang wajar untuk diungkapkan.
Roseta meminta dengan memohon agar Liliana merahasiakan dari siapapun, bahkan mereka harus bersandiwara layaknya tetangga yang baru saja saling mengenal saat mereka pertama kali bertemu lagi.
"Terimakasih, Liliana."
"Jangan mulai lagi deh."
"Maaf membuatmu berdosa lebih banyak." kali ini Roseta serius.
Liliana melihat tatapan mata itu begitu menyedihkan. Sebenarnya wanita itu sangat tidak suka dengan topik yang akan dibicarakan oleh Roseta. Seandainya, ya seandainya saja waktu itu Liliana sudah dewasa, dia akan memilih untuk menetap di Negara I saja, mungkin dengan begitu, setidaknya dia akan menjadi benteng pertahanan untuk Roseta.
"Ini tidak akan menjadi rahasia lagi kalau kamu tetap begini, Roseta," ancam Liliana karena tidak mau terlalu lama tenggelam dalam euforia kesedihan.
Roseta menghembuskan napas pelan. "Selalu saja mengancamku," keluhnya dan hanya mendapat kekehan dari lawan bicara.
...\~\~\~...
"Aku butuh coklat panas, aku kedinginan." Bibir Bryna menggerutu diiringi telapak tangan mengusap-usap lengan berharap menemukan kehangatan sedikit dengan gesekan yang ia ciptakan.
Bryna tersenyum mana kala matanya memeta taman bunga mawar yang sangat indah persis di sebrang sana, dengan tangan menggapit papan skateboard, tanpa ragu Bryna ingin mengunjungi sebentar saja sebelum ia menuju arena.
"Itu Theo Uncle?" monolognya sendiri saat melihat seorang pria yang tengah duduk di kursi kayu tepat di tepi taman.
"Haruskah aku menghampirinya?" tanya Bryna pada dirinya sendiri.
Sedikit ragu namun sangat ingin sekali menghampiri pria yang menurutnya sangat keren saat tadi siang beralih profesi lagi secara dadakan sebagai pelatih basket untuk sementara.
Akhirnya Bryna memutuskan untuk mengikuti kata hati, yaitu menghampiri Theo.
"Theo Uncle, kau 'kah itu?" intrupsinya mana kala tepat disebelah kiri orang yang sedang menjadi tujuannya.
Dengan mata yang masih berkaca karena sisa tangisan, Theo memutar kepalanya ke kiri melihat siapakah gerangan pemilik suara cantik yang baru saja terdengar indah mengalun di gendang telinga.
"Bryna," ucapnya, diakhiri dengan senyuman, lalu memindahkan bingkisan Rendang dari Ibunya di samping kanannya.
Bryna sedikit mengerutkan alisnya, dengan pasti juga gadis yang mengaku sempat kedinginan tadi secara cuma-cuma menaruh papan skateboard di tanah beralaskan paping.
Seakan benar-benar mengikuti kata hati, Bryna meraih kedua pipi Theo, karena pria dewasa itu sedang duduk, maka dengan mudah Bryna mendaratkan telapak tangannya untuk mengusap air mata yang sudah terlanjur keluar membanjiri pipi pria itu.
"Kenapa Uncle sedih? Siapa yang menyakiti Uncle?" tanya Bryna polos tanpa disangka, namun hal mengejutkan lainnya pun menyusul membuat Theo sedikit terhenyak, Bryna ikut menangis bersamanya.
Hati kecil Theo terasa nyeri melihat Bryna menangis. Terlebih tangan mungil yang menyentuh pipinya itu sangat dingin. Baju yang digunakannya gadis itu pun dirasa tak mampu menghalau dinginnya udara.
"Don't cry, Uncle, hiks, hiks," ucapnya lagi sambil mencibik, jangan lupakan lendir yang sudah keluar dari lubang hidungnya itu.
Namun, siapa sangka dengan cekatan Theo beralih membersihkan berbagai macam cairan yang keluar membasahi seluruh bagian wajah Bryna, lalu mengambil tissue dari kantong coat bagian dalam untuk mengusap telapak tangannya.
"Heei, anak manis, kenapa sekarang kamu yang menangis." Theo mencoba menenangkan, khawatir sudah jelas, walaupun rasanya sangat senang berada berdua disini bersama Bryna.
Satu sisi yang ditemukan Theo dari gadis yang dikenalnya sangat tomboy bahkan pemarah itu adalah, Bryna penyayang dan hangat, sentuhan tangannya mampu membuat hati Theo sakit sekaligus berdesir aneh.
Bryna tidak menjawab, namun tubuhnya bereaksi lain. Sudah sangat yakin, Bryna saat ini juga merasa kedinginan, hal yang paling bertentangan dengan kondisi tubuhnya.
Sedangkan Theo sudah pasti tahu, apalagi melihat bibir Bryna yang memucat. Segera saja Theo tanpa ragu mengangkat tubuh Bryna di atas pangkuannya, memeluk gadis itu lalu membungkusnya dengan coat cream yang di pakainya, beruntung coat yang dipakai Theo sedikit besar, hal baiknya mampu membungkus Bryna agar hangat.
"Apa sudah hangat gadis manis?" tanya Theo meyakinkan.
Bryna tersenyum, mendongak untuk melihat. "Apa tidak apa-apa Uncle? Bryna berat.”
"Hmmmm," Theo berdehem dan menggelengkan kepala. "Seperti ini dulu, kamu kedinganan." Theo mengeratkan pelukannya, sedangkan kedua tangan Bryna meringkuh di depan dada Theo.
Tanpa mengalihkan pandangan ataupun mengubah posisi pelukan. "Uncle, apa Uncle percaya dengan takdir?" pun Bryna bertanya guna memecah keheningan.
Theo nampak sedikit berpikir, menyondongkan kepalanya ke atas guna manyaring omongan yang terlewat dewasa, sempat tersenyum geli juga. "Ehm, Uncle tidak yakin," jawabnya.
Bryna sedikit sebal menerima jawaban yang tidak bisa memuaskan dirinya. "Ck, huh." terdengar decakan disusul ******* kesal dari Bryna.
Lagi-lagi Theo seakan tahu bahwa gadis kecil itu merasa kesal padanya, maka dengan tidak sengaja Theo mengatakan, "Takdir buruk." yang lolos begitu saja dari mulutnya.
Bryna mengangguk seolah-olah paham apa yang dimaksud oleh Theo. "Apa karena itu, Uncle tadi menagis?"
Theo menggeleng pelan, sebenarnya jawabannya adalah iya, namun apa pantas sebagai pria yang sudah beristri bahkan memiliki buah hati berbagi kesedihan bersama bocah sekecil ini yang Theo rasa sama sekali tidak tahu apa-apa untuk menilai kehidupan orang dewasa.
"Uncle, tolong dengarkan Bryna." Theo awalnya mengrenyit, namun tak lama pria itu hanya mengangguk.
"Kisah hidup manusia itu sejatinya selalu memiliki jalan yang berbeda."
Lamat-lamat Theo mengabaikan bisingnya sekitar dan hanya ingin mendengar ocehan dari gadis kecil yang berada dipangkuannya dan juga berada dipelukannya.
"Kebetulan, nasib, takdir." Bryna mencoba menghitung ketiga kategori itu dengan jarinya.
Theo masih setia mendengar.
"Namun sayang, banyak orang terlalu kolot dan merubah nasib mereka sendiri, merusak jalan cerita yang tidak sesuai dengan skenario sebenarnya, terlalu memaksa kehendak yang terlewat egois tanpa memikirkan perasaan dan kerugian orang lain, bahkan berbagai perangkai norak untuk memuaskan nafsu mereka."
Lagi-lagi hati Theo berdesir hebat, kenapa mulut semungil dengan otak sekecil itu mampu mengatakan hal yang bahkan diluar jangkauan orang dewasa seperti dirinya, luar biasa, Theo dibuat malu sendiri.
Theo menarik kedua sudut bibirnya keatas, tidak mau menyela dan hanya menunggu sampai putri kecil yang menjelma sebagai orang dewasa ini menyelesaikan racauan yang akan Theo ingat sepanjang hidupnya, ia berani bersumpah.
"Bryna yakin, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan terbaik, kita harus percaya. Hanya orang beruntung dan terpilih yang akan mendapatkan kebetulan yang menakjubkan, siapa tau hari esok Uncle mendapatkan kebahagian dan takdir yang bagus, begitupun dengan Bryna yang selalu menantikan takdir yang bagus juga."
Bryna mengakhiri kalimat dengan sebuah harapan yang mungkin bisa merubah takdir yang dimilikinya pula.
Bryna mendongak. "Apa Uncle mendengarkanku? Bryna terlalu cerewet ya? Maaf." wajah Bryna memelas seakan menyesal terlalu banyak bicara.
Theo dibuat terkekeh. "Kamu ini lucu sekali sih." tak sadar Theo mengecup kening Bryna. Namun Theo juga tak menyesalinya, begitupun Bryna hanya meringis saja.
"Ayo kita buat harapan bersama-sama," putus Theo diakhir kalimat.
Keduanya pun menutup mata saling merapalkan do'a.
'Please make things better, God'
'Jujur, aku tidak bisa berharap apa-apa lagi'
Bryna sedikit melonggarkan pelukan yang diberikan oleh Theo. Pria itu peka, tangan yang terulur melingkari tubuh gadis itu juga sedikit ditarik guna melancarkan aksi Bryna.
Telunjuk jari kanan milik Bryna secara lancang menyentuh kelopak mata Theo. "Jangan pernah lagi mengeluarkan air mata selain air mata kebahagiaan." Lalu telunjuknya beralih di hidung Theo. "Tetap sehat, dan terus bernafas sampai kebahagiaan itu datang, sampai menua." Lalu telunjuknya beralih di bibir Theo. "Banyak berdo'a."
Langit gelap gulita dengan udara dingin yang menyerbu saat ini telah menjadi saksi bisu betapa mirisnya Theo yang sedang menangis tersedu-sedu dengan memeluk lagi tubuh gadis pembawa harapan baru.
Kali pertama juga seorang Matheo Ranu Pandega yang terkenal angkuh dan keras kepala bisa menjadi dirinya sendiri, kelemahan yang ia sembunyikan dengan rapi, secara tidak tahu malu keluar dengan mudahnya.
Karena bocah ini, bocah kelewat cerewet dan sok dewasa namun nyata dengan ucapannya, sosoknya mampu meluruhkan bongkahan es dalam hati Theo yang telah lama membeku, seperti kutub yang tiba-tiba diguyur sinar matahari, meleleh.
"Gadis manis, Uncle malu nih," celetuk Theo di sela-sela tangisnya tanpa melonggarkan pelukan.
"Malu kenapa Uncle?"
"Menangis dihadapan kamu, jangan bilang siapa-siapa ya."
Lantas Bryna mendongak guna melihat ekspresi Theo setelah mengatakan permintaannya. "Bryna janji tidak mengatakan pada siapapun, Uncle, tenang saja."
Lalu keduanya pun tersenyum, Bryna sampai kehilangan matanya saat ini juga, giginya pun menderet rapi saat bibirnya tertarik keatas.
"Ah. Lagi-lagi senyuman itu." batin Theo meringis.
Theo beberapa kali sangat familiar saat melihat Bryna tersenyum, tapi entah bagaimana pria itu tak kunjung menemukan jawaban atas rahasia dibalik senyuman gadis itu.