Demi menyelamatkan perusahaan dan hidup suaminya. Renata terpaksa menerima kenyataan bahwa dirinya harus menikah dengan rekan bisnis suaminya. Berpisah dengan orang yang kita cintai, memang sangat menyakitkan. Pil pahit pernikahan harus dirasakan oleh keduanya saat memutuskan untuk merelakan cinta mereka.
Akankah mampu Renata menjalani nya?penasaran? Yuk langsung baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @melaniptri__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TJC EPISODE 9
Tak ada raut wajah semangat dari Renata, Yang terlihat hanyalah raut wajahnya yang sungguh sangat memendam kesedihan. Bagaimana tidak? Dia harus berpisah dengan orang yang dia cintai, Dan kini? Dia terjebak dalam ikatan pernikahan konyol ini.
Sungguh miris nasibnya, Apa Renata tidak pantas bahagia? Entahlah, Yang pasti kini Renata sedang berperang dengan isi kepalanya.
"Non baru pulang? Tadi tuan menanyakan Non Rena."
Renata tak menjawabnya, Dia langsung naik ke lantai atas. Jujur saja, Kali ini rasanya Renata ingin sekali pergi menghilangkan rasa sakit di hatinya.
Renata langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, Dia menangis dalam pelukan bantal. "Bagaimana sekarang?" Lirih Renata.
Apa dia harus pergi dari mansion ini? Tapi jika dia pergi tentunya itu akan membuat Rey menarik lagi saham yang dia berikan kepada perusahaan KUSUMA GROUP.
Karna terlalu banyak menangis, Renata akhirnya tertidur. tidurnya cukup lelah, Batin Renata tertekan!
Sedangkan itu, Rey masih berada di pesta. Dia menghadiri pesta itu untuk mewakili kedua orang tuannya.
"Kita pulang saja!" Sahut Rey yang mulai merasakan hal aneh ditubuhnya, Dia ingat saat meminum jus yang diberikan oleh pelayan.
Wildan yang melihat gelagak dari bosnya itu, Dia langsung menganggukkan kepalanya. "Ayo tuan!"
Saat Rey hendak berdiri dari duduknya, Terlebih dulu sepupunya Rey memanggilnya. "Hei! Rey, Buru-buru sekali? Kalian mau kemana?" Tanya Roni, Sepupunya Rey.
Rey memicingkan matanya, Dia sungguh tak kuat. Dan dia tau apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Rey tidak menjawabnya, Dia memilih untuk langsung bergegas keluar dari gedung.
Rey dan juga Wildan kini sudah berada di dalam mobil, Rey terus menerus merasakan hawa panas ditubuhnya.
"Apa kamu tidak menyalakan ace?" Tanya Rey sambil membuka jasnya.
Wildan mendongak dari spion, "Saya sudah menyalakan ace tuan!" Jawab Wildan.
"agh! Cepatlah!!!" Bentak Rey yang sudah tak tahan dengan gejolak yang ada ditubuhnya, Bisa m@t1 dia.
Wildan menambah kecepatan mobilnya menuju ke mansion utama, karna pikiran Wildan pasti tuannya membutuhkan Aulia. Apalagi kini Aulia sedang ada di mansion utama, Jadi Wildan menjalankan mobilnya menuju mansion utama.
Sesampainya di mansion utama, Wildan langsung bergegas masuk ke dalam mansion. Sementara itu Rey kini sungguh tidak bisa mengontrol dirinya, Rey memejamkan matanya untuk meredakan nyeri yang dia rasakan.
"Ada apa Wildan? Kenapa kamu terlihat buru-buru sekali?" Tuan Bram bertanya karna melihat Wildan masuk ke dalam mansion dengan tergesa-gesa.
Wildan menghentikan langkah kakinya, "Maafkan saya Tuan jika saya lancang, Tapi keadaan sungguh genting." Jawab Wildan sambil menundukkan kepalanya.
Pak Bram berdiri dari duduknya, dia menghampiri Wildan. "Sudah, Tidak apa-apa. Memangnya ada apa?" Tanya lagi Tuan Bram
"Seseorang memasukan obat p3r4ng$4ng ke dalam minuman Tuan Rey, Obat itu dosisnya tinggi."
Tuan Bram memekik terkejut saat mendengar anaknya diberi obat berbahaya seperti itu? Bagaimana sekarang?
"Dimana Rey?!"
"Mohon maaf Tuan, Dimana Nyonya Aulia?"
"Aulia sudah pulang dari pagi, Kenapa memanggilnya Wildan?" Bukannya Tuan Bram yang menjawab justru malah Nyonya Widia.
Wildan mengangguk, "Baik, kalau gitu saya permisi. Tuan, Nyonya.." Wildan langsung bergegas berpamitan.
Di mobil terdengar jelas suara rintihan dari Rey, Rey terus mengumpat kesal.
"Obat s14lan!!"
Wildan langsung melajukan mobilnya menuju mansion Rey, Pikirannya berputar dengan dimana Aulia sekarang? nyonya Widia tadi bilang kalau Aulia sudah pulang dari mansion utama.
"WILDAN!!! CEPATLAH SI4L4N!!!"
Wildan menambah kecepatannya, Hingga sampailah di mansion Rey.
Wildan meminta semua orang untuk pergi dari mansion Rey, Dia menghampiri tuannya yang kini sedang lemas tak berdaya. "Tuan, Semuanya sudah pergi. Silahkan masuk." Wildan membantu Rey untuk masuk ke dalam mansion.
Rey berjalan dengan memejamkan matanya, Raut wajah Rey sungguh merah. Dia menahan hasrat yang bergejolak ditubuhnya, Rey bisa saja tadi menyewa wanita untuk memuaskanya. Tapi Rey bukanlah laki-laki seperti itu.
"Pergilah Wil, Cari orang yang sudah berani menjebaku dengan obat si4l4n ini!" Perintah Rey yang menyuruh Wildan untuk pergi dan mencari orang yang menjebaknya dengan obat itu.
Setelah Wildan pergi, Entah kenapa langka kaki Rey seakan menuntunya untuk naik ke lantai atas.
Rey tak mau ambil pusing, dia langsung naik ke lantai atas. Sampai akhirnya kini dia berhadapan dengan kamar wanita yang kemarin dia tiduri, Rey perlahan membuka pintu kamar itu.
Klek...
Dengan langkah pelan, Rey masuk ke dalam kamar istri keduanya itu. Rey perlahan menutup pintu dan menguncinya. Dia beralih dengan menatap seorang wanita cantik yang tengah tertidur pulas.
"Cantik..." Lirih Rey tanpa sengaja dia mengucapkan itu, Rey perlahan naik ke atas tubuh Renata.
Ya, Kini Rey ada di dalam kamar Renata. Rey ingin menyatukan itu ke Renata.
Rey langsung raja menyessap bibir manis Renata, Sungguh rasanya berbeda dengan bibir Aulia istrinya itu. lebih manis bibir Renata, Entahlah pikirannya sungguh kacau.
Tangan Rey tak tinggal diam, Tangganya itu masuk ke dalam kaos yang dikenakan Renata.
Dibawah alam sadarnya, Renata bermimpi sedang mendapatkan permen lolipop yang sungguh manis. Tanpa sadar, Renata ikut membalas ciumman dari Rey.
Rey yang mendapatkan balasan, Tentu jiwa nya semakin tertantang.
Renata merasa sesuatu terus menggigit bibirnya, Dia perlahan membuka matanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang sedang berada diatasnya itu.
"AAAGGHH!!!"
Renata memekik terkejut saat melihat seseorang sedang bergerak di atas tubuhnya, Namun sedetik kemudian dia langsung terdiam saat tau siapa yang ada di atas tubuhnya ini.
"Re-Rey?"
Terkejut? itulah yang dirasakan Renata. dia terkejut saat melihat Rey yang sedang bergerak di atas tubuhnya, Renata sempat memberontak namun Rey mengunci pergerakan Renata.
"Saya butuh kamu, Bantu saya!" Lirih Rey dengan suara beratnya.
Renata mengerutkan keningnya, "Ba-bantu apa?"
"Bantu menuntaskan hasrratku!" Sentak Rey yang langsung m3lum4t bibir manis Renata.
Rey tidak. memberikan celah untuk Renata bernafas, Dia sungguh menguasai bibir manis Renata, Sungguh manis!
Rey melepaskan tautan itu, Dia mengusap bibir Renata yang basah karna ulahnya. "Manis,"
Renata cukup terdiam, Dia memejamkan matanya saat Rey menciiumnya kembali.
Renata perlahan membalas itu, Bagaimanapun dia juga perlu melepaskan beban yang ada di pikirannya. Dengan melakukan hal itu mungkin beban yang ada dipikirannya sedikit berkurang, Karna bagaimanapun Rey juga berhak atas tubuhnya karna dia adalah suami Renata.
"Aku sudah tidak tahan..."
Srek...
Srek...
Renata memekik terkejut saat baju yang dia kenakan di sobek oleh Rey.
Rey langsung melahap habis sesuatu yang sungguh menggoda.
Benda kenyal yang membuat Rey membenamkan wajahnya di dalam sana, Dia melahap dengan sangat kenikmatan.
...----------------...
Hay salam hangat dari author, Mohon dukungan dan supportnya.
Like+komen+vote!!
Beri bunga juga 🌹🌹🌹