Lima tahun yang lalu, Eden Kennard Anderson menjalin hubungan dengan wanita berparas cantik yang bernama Arabella Anastasya Walker, putri dari Keluarga Walker yang merupakan salah satu keluarga kaya raya di Kota Boston - Massachusetts Amerika Serikat. Karena berbeda kasta membuat hubungan mereka di tentang keras oleh Keluarga Walker. Hingga pada akhirnya wanita itu memutuskan dirinya secara sepihak dan bertunangan dengan pria
lain yang dijodohkan dengan wanita itu.
Lima tahun kemudian, Arabella kembali dipertemukan dengan mantan kekasihnya Eden Kennard Anderson. Pria yang dahulu
di pandang rendah kini menjelma menjadi salah satu pria terkaya di Kota New York. Memiliki paras tampan dan dijuluki pria sejuta pesona. Jabatannya yang sebagai seorang CEO membuatnya begitu diinginkan kaum wanita, termasuk seorang model cantik yang kini telah menjadi kekasihnya, Catherine Wilson.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa lepas dariku, Bella. Kau hanya milikku! Milikku!" - Eden -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranty Yoona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Itu Tidak Mungkin Berada Di Kota Ini
Bella menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia baru saja mencuci wajahnya untuk menghilangkan rasa mabuk. Sepertinya untuk kedepannya ia akan menghindari kadar alkohol yang berlebihan karena nyatanya saat ini ia tidak kuat minum seperti beberapa tahun yang lalu.
Setelah sudah merasa lebih baik, Bella segera keluar dari toilet. Ia melewati orang-orang yang berlalu lalang. Club yang besar itu memang dapat menampung setidaknya 4000 orang, sehingga wajar saja club tersebut menjadi club terbaik di New York.
Bella merasakan kedua matanya memburam. Minuman yang baru saja ia minum memang berkadar alkohol 40% dan ia sudah menegak nyaris menghabiskan dua botol.
"Oh, astaga. Rasanya melihat mereka seperti memiliki kembaran." Bella melihat di antara mereka menjadi dua. Benar-benar tidak bisa dibiarkan saja, ia sudah merasakan hangover dan harus segera mencapai ruangannya untuk segera minum obat pereda mabuk yang sudah disiapkan oleh Anne.
Baru saja Bella kembali melangkah, tubuhnya dibuat terpaku sekitar saat sorot matanya menangkap sosok pria yang tidak asing. Pria yang masih memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Ed...?" Bella mengucak kedua matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Namun ketika penglihatannya kembali jelas, ia tidak mendapati lagi sosok itu, seolah hilang di antara kerumunan para pengunjung club. "Tidak. Sepertinya aku sudah terlalu mabuk sehingga berhalusinasi melihatnya." Tidak ingin terlalu memikirkan apa yang ia lihat, Bella kembali melanjutkan langkah. Keseimbangannya masih tetap terjaga, untunglah ia tidak terlalu merasakan hangover dan masih menyadari sekitarnya.
"Ara, kau baik-baik saja?" Ketika Anne memasuki ruangan, ia mendapati Bella yang tengah memijat pelipisnya. Ia melirik satu botol obat pereda mabuk yang sudah diminum oleh Bella. "Apa kau mabuk? Sudah berapa botol kau minum?" tanyanya kemudian sembari membenamkan tubuhnya di kursi bersisian dengan Bella.
"Tidak sampai mengabiskan dua botol. Aku sudah tidak kuat minum seperti dulu," keluhnya memberitahu.
"Apa kau sebelumnya pernah minum minuman beralkohol?" Anne tentu penasaran. Padahal sepenglihatan dirinya, Bella wanita yang menjauhi minuman beralkohol.
"Ya, pernah dan itu sudah lama sekali. Karena itu saat aku minum lagi, aku tidak tahan dan langsung merasakan sedikit hangover." Masih dengan memijat pelipisnya.
Mendengar perkataan Bella, Anne terkekeh. "Itu tandanya kau harus mulai terbiasa lagi. Karena sudah lama tidak minum, wajar saja jika kau cepat mabuk."
Bella mengangguk setuju karena menurutnya demikian. Sepertinya mulai saat ini ia harus membiasakan minum minuman beralkohol demi pekerjaannya.
"Ah ya ampun, aku baru teringat sesuatu." Anne segera merogoh tas miliknya, lalu mengeluarkan ponselnya. "Kirimkan nomor rekeningmu," pintanya.
Bella mengernyit bingung. "Untuk apa?"
"Sudah, kirimkan saja nomor rekening dirimu." Anne malas menjelaskan, ia ingin Bella segera memberikan nomor rekening wanita itu.
Meskipun penasaran, Bella segera mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan nomor rekening kepada Anne melalui pesan singkat. "Sudah kukirim," ucapnya.
Anne hanya mengangguk. Lalu tanpa menjawab, ia seperti memainkan ponselnya dan tidak berselang lama terdengar notifikasi pesan dari M-banking, tentu membuat Bella membelalakkan kedua matanya lantaran terkejut menerima uang sejumlah 300 dollar atau setara dengan 4.638.915.
"Ini... kenapa kau mentransfer uang banyak sekali?" Lalu Bella menuntut jawaban kepada Anne.
Wanita itu hanya tersenyum. Ia sungguh tidak menyangka reaksi Bella yang begitu terkejut. Padahal uang yang ia dapatkan dalam satu pelanggan bisa lebih dari itu jika bekerja dengan baik.
"Bukan dariku, tetapi dari Tuan Calvin. Dia bilang dia menyukai cara kerjamu. Dia merasa cocok berbicara padamu, padahal jika wanita lain pasti sudah mengambil kesempatan untuk menggodanya. Jadi itu adalah tips tanda perkenalan, selanjutnya dia ingin kau yang menemaninya minum lagi." Anne memaparkan apa yang disampaikan oleh Calvin kepadanya. Tadi ia sempat bertemu dengan Calvin dan pria itu begitu senang ditemani oleh Bella.
Bella sungguh tercengang mendengarnya. Ia tidak menyangka jika semudah ini mendapatkan uang dalam kurun waktu dua jam saja. Bagaimana jika dirinya menemani beberapa pelanggan VIP? pikirnya.
"Kau sungguh beruntung karena Tuan Calvin sepertinya menyukaimu. Dia pria yang baik, tidak seperti pria kaya lainnya yang memanfaatkan wanita lemah seperti kita. Banyak hidung belang yang sering aku temani minum dan mereka terkadang bersikap kurang ajar. Berbeda dengan Tuan Calvin yang masih menghargai teman minumnya. Aku mengatakan seperti ini karena aku beberapa kali menemani Tuan Calvin, lalu dia ingin aku memperkenalkan teman minum yang lain dan kebetulan kau masuk. Jadi aku memberimu kesempatan untuk menemaninya." Penuturan Anne yang panjang lebar itu membuat Bella mengangguk saja. Memang dari para pria yang satu ruangan dengannya, ia melihat Tuan Calvin lebih baik dari rekan-rekannya.
"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Anne kemudian memastikan. "Jika sudah, lebih baik kau ikut denganku menemani pelanggan di ruangan VIP nomor 29. Kau bisa memesan soft drink atau Bir non alkohol." Wanita itu berbicara sembari menebalkan riasannya.
"Sepertinya aku sudah merasa lebih baik." Bella merasa tubuhnya sedikit lebih ringan dan kepalanya sudah berhenti berkunang-kunang.
"Baiklah, kita kembali bekerja." Anne melangkah lebih dulu disusul oleh Bella.
Bella memandangi punggung Anne, sepertinya ia salah menilai wanita itu. Ia sempat berpikir jika Anne adalah wanita arogan dan akan mencoba menindasnya. Tetapi pada kenyataannya wanita itu bersikap baik dan mengajarkan semua yang tidak ia ketahui.
***
Di ruangan lain, tepatnya masih di dalam Pacha Club. Eden tengah melakukan pertemuan bisnis dengan salah satu klien dan ditemani oleh asistennya Kevin. Ini bukan pertama kalinya mereka melakukan meeting di Club malam, karena beberapa para kliennya menyukai dunia malam.
"Ah, sebentar. Aku akan menerima telepon terlebih dulu." Eden menjeda percakapan mereka sejenak. Setelah kliennya mempersilahkannya, ia merogoh ponselnya yang sejak tadi berdering. Kemudian segera keluar dari ruangan untuk menjawab panggilan yang ternyata dari kakeknya.
"Kakek, ada apa?" tanyanya to the point.
"Cucuku, kau berada dimana?" Kakek Aldrick bertanya di seberang sana.
"Aku sedang bertemu klien. Ada apa?"
"Oh, begitu. Sebaiknya kau menjawab panggilan Catherine, sejak tadi dia menghubungiku karena kau tidak menjawab teleponnya."
Mendengar tujuan kakeknya menghubungi dirinya, membuat Eden menghela napas pelan. "Setelah selesai aku akan menghubunginya."
"Baguslah. Kalau begitu aku matikan dulu."
Begitu telepon terputus. Eden menahan kegeramannya. Selalu saja seperti ini. Jika dirinya sengaja tidak menjawab panggilan dari Catherine, maka wanita itu akan menghubungi kakeknya. Dan setelahnya ia akan menghubungi Catherine atas desakan Kakek Aldrick.
Eden kemudian memasukan ponsel kembali ke dalam saku jas, lalu berbalik badan, tanpa ia sadari jika Bella baru saja masuk ke dalam ruangan yang bersebelahan dengan ruangannya. Aroma parfum tidak asing terendus di indera penciumannya. Eden mengurungkan langkahnya, lalu berbalik arah untuk melihat seseorang yang menggunakan parfum tersebut.
Namun Eden tidak mendapati siapapun, meskipun ia sudah menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Tanpa sadar ia mencari keberadaan seseorang yang tentunya teramat ia benci. Hingga seperkian detik kemudian Eden segera tersadar dan bergumam, "Wanita itu tidak mungkin berada di kota ini." Lalu ia kembali masuk untuk melanjutkan pembahasan pekerjaan yang sempat tertunda tanpa memastikan kembali aroma parfum tersebut.
To be continue
Eden
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
cpt ditamatin aj thor. hehehee
jangan suka nabung bab napa
ayuuk ndang up thor,, cerita seru lho
apalagi cogannya waahh
maaf y thor....
ada apakah?..