MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Waktu besuk tinggal setengah jam lagi. Pak Arif sudah menceritakan panjang lebar tentang kejadian yang sebenarnya.
"Bapak lupa bertanya padamu Kiran, Ibu apa kabar?" ucap Bapak melemah, tiba-tiba teringat Istrinya yang sedang sakit.
Hati Kiran seperti tersentak kaget, tatapannya beralih kepada Syakir yang duduk tepat berada di depannya.
Tatapan Syakir begitu tajam namun lembut seakan menguatkan Kiran untuk bisa mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada Bapak Arif.
"Kenapa tidak kamu jawab pertanyaan Bapak? Ibu gimana kabarnya?" tanya Pak Arif kembali dengan pelan kepada Kiran.
Kiran menatap kedua bila mata hitam Pak Arif dengan sangat lekat. Tatapannya penuh kerinduan yang mendalam.
Pak Arif membalas tatapan Kiran dengan penuh harap.
"Bagaimana? Ibu sudah baikan? Bapak belum bisa membahagiakan Ibu sampai saat ini. Menikahi perempuan baik, sabar dan ikhlas sepertinya adalah suatu anugerah untuk Bapak," ucap Pak Arif dengan suara pelan memuji istrinya.
Kiran hanya tersenyum kecut, mengingat kebersamaan mereka bertiga setiap hari. Walaupun Pak Arif begitu keras dan galak, namun semata-mata itu hanya untuk mendidik Kirana agar menjadi wanita baik dan bisa di andalkan.
"Ibu sudah tidak sakit lagi," ucap Kirana pelan seakan menggantung.
Pak Arif menatap Kiran dan mendengarkan anak gadisnya berbicara tentang kabar ibundanya.
"Sehat? Apa kamu mengobati Ibu?" tanya Bapak Arif penuh semangat mendengar Istrinya sudah tidak sakit lagi.
Kiran menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menatap nanar ke arah Pak Arif yang masih cemas menunggu jawaban Kiran.
"Ceritakan Kiran, jangan setengah-setengah, Bapak sangat penasaran sldan rindu pada Ibumu," ucap Pak Arif pelan dengan rasa penuh harap.
"Ibu sudah meninggal dua hari yang lalu, Ibu sudah tidak merasakan sakit lagi, Ibu sudah bahagia disana, Ibu sudah bisa tersenyum disana, Ibu sudah sembuh, Ibu sudah..." ucapan Kiran terhenti karenaPak Arif menyela dengan suara keras.
"Cukup Kirana!! Apa yang kamu katakan itu, Bapak tidak mengerti," tegas Pak Arif yang masih tidak bisa mencerna kata-kata Kirana, seolah apa yang dikatakan Kirana itu hanya omong kosong atau bualan semata.
Kedua mata Kirana sudah sembab dan basah, indera penciuman Kiran lagi-lagi seperti tersumbat tidak bisa menghirup oksigen dengan baik dan lancar.
Kirana menatap kedua mata Pak Arif yang menatap tajam pada Kirana dan berharap apa yang dikatakan oleh Kirana itu adalah suatu kebohongan dan ketidakbenaran.
Kirana menghilangkan kepalanya pelan.
"Semua terjadi dengan sangat cepat, Kirana juga tidak percaya dengan hal ini, Pak," ucap Kirana lirih.
"Apa yang kamu katakan Kirana, Bapak tidak mengerti dengan maksud arah pembicaraan kamu. Bapak hanya bertanya, bagaimana keadaan Ibu saat ini?" tanya Bapak Arif dengan suara tegas.
Kirana meletakkan dagunya dimeja dengan kedua tangan terlipat diatas meja itu. Tangisannya begitu keras hingga seluruh isi ruangan itu mendengar tangisan Kirana yang meyayat hati.
Syakir memegang kepala Kirana yang tertutup hijab dan mengusap kepala itu dengan pelan dan lembut. Syakir mencoba membantu Kirana untuk menyampaikan berita duka cita itu kepada Pak Arif yang kondisinya batinnya masih belum stabil.
Syakir menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya dengan pelan.
"Pak Arif, maaf Syakir lancang untuk melanjutkan apa yang akan dikatakan Kirana, mungkin Kirana tidak sanggup untuk mengatakannya karena masih dalam keadaan bersedih dan berduka. Ibu Asih sudah meninggal dua hari yang lalu, saat itu jenazah menunggu kedatangan baoak, namun hingga sore hari, Bapak tidak kunjung datang, akhirnya jenazah dikebumikan langsung," ucap Syakir dengan pelan menjelaskan secara detil.
Pak Arif menatap tajam ke arah Syakir, rasanydunia Pak Arif berhenti saat itu juga, degub jantungnya juga terasa tidak berdetak beberapa saat karena terkejut dengan berita duka cita yang luar biasa menghujam hati Pak Arif dan membuat penyesalan teramat dalam seumur hidupnya.
Air mata Pak Arif sudah luruh deras di pipinya yang tirus itu. Kedua matanya sudah menghitam akibat begadang setiap malam.
"Apakah berita ini benar, bukan berita bohong. Jangan buat Bapak merasa bersalah dan menyesal selama hidup Bapak," ucap pak arif lirih dan terbata-bata. Suaranya terdengar sangat serak dan tertahan, rasa sakit yang begitu menusuk hati Pak Arif mendengar berita mengejutkan itu.
"Itu adalah suatu kenyataan. Takdir kematian tidak ada yang tahu dan tidak bisa menunggu siapa saja yang harus menemaninya saat sakratul maut," ucap Syakir lembut menenangkan hari Pak Arif.
Pak Arif memeluk Kirana, putri semata wayangnya. Kini mereka hanya tinggal berdua tanpa ada seorang Ibu yang penuh kelembutan yang bisa menenangkan hati sleuruh isi rumah.
"Kirana ... Ibu ... Dia istriku yang paling sholehah, bagaimana dia pergi saat aku juga sedang mengalami fitnah keji seperti ini," teriak Pak Arif dengan suara keras.
"Sudah Pak, jangan seperti ini," ucap Kirana menegakkan duduknya dan membalas pelukan hangat penuh kasih sayang itu kepada Bapak Arif.
Pak Arif menggelengkan kepala pelan dan menahan rasa sakit serta tangisnya agar tidak terus turun tanpa hambatan di pipi dan wajahnya.
"Kirana harus tegar dan tabah menjalani kehidupan ini, jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Bapak juga belum bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki untuk Ibumu selama hampir dua puluh tahun pernikahan," ucap pak Arif dengan pelan menjelaskan.
Syakir yang sejak tadi hanya menatap dramatis kedua orang didepannya, anak dan Bapak yang begitu mendalam kesedihannya.
"Pak Arif, ada yang ingin Syakir katakan," ucap Syakir pelan lalu menatap Pak Arif dan Kirana secara bergantian.
Pak Arif menegakkan duduknya, masih memeluk Kirana dengan lembut dan mengusap punggung anak itu dengan pelan.
"Apa itu Syakir?" tanya Pak Arif dengan suara lembut namun masih terdengar serak.
"Syakir akan mengkhitbah Kirana, apakah Bapak merestui dan meridhoi hubungan Syakir dan Kirana," ucap syukur dengan lembut.
Kirana dan Pak Arif menegakkan duduknya dan menghapus sisa air mata yang masih membekas pada wajahnya. Kirana menatap Syakir dengan tatapan sendu dan seoakh tidak percaya, apa yang dikatakan Syakir saat ini adalah pembuktian. Pak Arif juga menatap wajah Syakir dengan rasa yang tidak percaya serta heran.
"Syakir, bisa kamu ulangi perkataan kamu tadi. Bapak itu harus meyakinkan kalau ini bukan sebuah mimpi buruk untuk Kirana," ucap Pak Arif pelan dan menitah Syakir untuk mengatakan kembali ucapan tadi.
Syakir tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Syakir sangat paham, pernyataan ini adalah pernyataan keseriusan bukan hanya omong kosong. Syakir sudah memikirkan bagaimana ke depannya. Orang tua Syakir tidak pernah keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Syakir selama itu masih positif, tapi untuk menikah di usia muda tentu bukanlah hal mudah untuk meminta restu dari kedua belah pihak dengan alasan masih terlalu muda, memang mau makan cinta.
Hidup ini sederhana kalau kita tidak membuat takdir itu menjadi rumit, yang terpenting ikhlas dan sabar, hanya itu kuncinya.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana