NovelToon NovelToon
Perbedaan 18 Tahun

Perbedaan 18 Tahun

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Poligami / Patahhati / Contest / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Melaheyko

Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam

Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Tepat sasaran

Hari ini Laila sedang bekerja, mengerjakan pekerjaan rumah tangga setelah shalat subuh dan mengaji bersama di mushola dengan santriwati yang lainnya. Suaminya sedang pergi bersama Maryam, Laila yang tidak tahu rasanya cemburu seperti apa hanya bisa mengira bahwa dirinya sedang lelah. Padahal dadanya sesak dan sakit kepala karena terus menangis sebab Yusuf tidak mengajaknya.

” Assalamualaikum umi Laila” suara perempuan.

Laila yang sedang menjemur pakaian di belakang lekas berhenti seraya mengisap air matanya yang tidak berhenti menetes.

” Waalaikumsalam, sebentar" Laila terus melangkah lalu dia membuka pintu. Sosok wanita bercadar seperti dirinya ada di depan itu." Teteh siapa?"

” Aku Yanti, teh Salamah meminta aku memberikan makanan untuk umi Laila” Yanti tersenyum di balik cadar hitamnya dan Laila yang baru pertama kali bertatap muka dengan Yanti terkejut.

” Maaf ustadzah, saya tidak mengenali ustadzah” kata Laila karena dia sering mendengar ustadzah Yanti tapi tidak pernah bertemu seperti itu padahal Yanti selalu ada di sekelilingnya memperhatikannya.

” Tidak masalah" Yanti merasa tidak enak hati sekarang.

” Silahkan masuk” ajak Laila seraya membuka pintu lebar-lebar dan Yanti masuk ke rumah kecil yang hanya terdapat satu kamar itu.

Keduanya duduk bersama, bersebelahan dan Yanti melihat kedua mata Laila berair dan merah. Air mata Laila membekas jelas di cadarnya.

” Umi Laila bisa datang padaku jika ada sesuatu, apa umi Laila menangis?” Yanti, Salamah dan semua ustadz serta ustadzah yang diberikan pesan oleh Yusuf untuk menjaga Laila merasa takut ada sesuatu yang buruk terjadi kepada gadis itu, Laila menggeleng kepala. Tidak berani menjawab dan menekuk wajahnya dalam-dalam. Yanti tidak berani bertanya lagi dan bergeser lalu memeluk Laila, tidak lama tangisan Laila pecah karena merindukan suaminya. Laila tahu Yusuf dan Maryam pergi ke rumah kakak dari Maryam tapi tetap saja Laila tidak bisa menahan rasa sakit karena tidak di ajak oleh suaminya. Yanti mengusap kepala Laila lembut, Laila yang tidak dekat dengan siapapun di pesantren sekalipun banyak teman tapi Yanti yang membuatnya nyaman sampai bisa menangis sebebas itu seperti dalam pelukan ibunya sendiri.

****

Keesokan harinya, Laila ikut dengan Asila ke peternakan untuk belajar memerah susu. Laila menenteng ember untuk wadah susu dan Laila terkenal dengan keahliannya memerah susu.

” Teh asila kalau sapinya nendang gimana?” Laila takut dan hanya berdiri padahal Asila sudah berjongkok.

” Nya tendang balik weh" jawab Asila bercanda dan Laila terkekeh.

Laila berjongkok di sebelah Alisha, dia lihat payudara sapi yang sedang di remas Asila.

” Kasihan teh sapinya" Laila tidak tega.

” Tah begini meresnya, lalaunan weh harus menghayati” Asila tersenyum.

” Enggak ah teh, aku kasihan gak tega” Laila tidak jadi, belum juga menyentuh apalagi meremas dia sudah berdiri dan Asila menggeleng kepala.

” Teh, aku mah mau latihan memanah aja" kata Laila.

” Ih jangan, nanti aja bareng sama aku sekarang diam aja ya umi tunggu aku selesai memeras susu” pinta Alisha.

” Gak mau, aku mau pergi sendiri aja assalamualaikum” Laila benar-benar pergi dan Asila meminta santri laki-laki lain meneruskan pekerjaannya. Dan Asila pergi menyusul Laila.

Sesampainya di tanah lapang, Laila dan Alisha berlatih di jaga oleh Imron dari kejauhan. Imron terkejut dengan kedatangan Yusuf dan Laila terlihat kesusahan memegang panah dan busur panah pertama kali. Yusuf tersenyum dan Imron memilih pergi.

Asila latihan di lapangan berbeda dari pengunjung lain. Yusuf berhenti melangkah dan memperhatikan kemampuan Asila sampai membuat istrinya terpaku pada Alisa.

” Teh, aku gak bisa” kata Laila sudah menyerah padahal belum mencoba.

” Lihatin aku terus umi coba, begini" Asila memperlihatkan caranya memegang panah dan Laila menirunya. Asila fokus memperlihatkan tapi Laila menoleh karena sadar ada yang memperhatikan. Laila berlari kencang dan menjatuhkan busur dan anak panahnya lalu menghambur memeluk Yusuf.

” Ya Allah umi bikin iri aja" Asila berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Yusuf dan Laila. Asila tidak berhenti tersenyum melihat tingkah Laila yang memang masih belia itu memperlakukan ustadz Yusuf seperti seorang kekasih. Yusuf tersenyum lebar dan melirik kanan-kiri takut ada yang melihat.

” Umi, sudah ya" kata Yusuf tapi Laila mengeratkan pelukannya.

” Abi kapan pulang?”

” Baru sampai, assalamualaikum"

” Waalaikumsalam. Abi pasti tidak ingat padaku karena Abi sibuk dengan ibu Maryam” terlalu jujur Laila berkata bahwa dia cemburu dan Yusuf tertawa kecil.

” Umi cemburu?”

” Enggak, mana mungkin aku cemburu sama ibu Maryam" berusaha menyangka padahal sudah makan dia menangis karena tidak melihat Yusuf. Yusuf tersenyum dan Laila menundukkan wajahnya.

” Umi jangan memeluk seperti tadi ya, jangan memeluk suami didepan orang lain" Yusuf menegur istrinya dan Laila terdiam.

” Cuma ada teh Asila" Laila menoleh dan sudah entah kemana Asila pergi." Teh! teh Asila!" Laila melangkah untuk mencari Asila tapi Yusuf meraih pergelangan tangannya.

" Sini aku ajari" kata Yusuf dan mengambil panah serta anak panah di atas rumput.

Yusuf berdiri di belakang Laila, memegang tangan Laila dan memberikan arah dimana gadis itu harus memegang dengan kuat.

” Ya begini" kata Yusuf.

” Yah..” Laila gagal anak panahnya sama sekali tidak mengenai sasaran, sampai pun tidak.

” Biar aku contohkan”. Yusuf mengambil busur dan anak panah lalu Laila memperhatikannya.

Seeet.... Anak panah melesat kencang dan mengenai papan sasaran.

” Abi hebat” puji Laila dan mencoba kembali. Yusuf berdiri kembali di belakang Laila.

” Tarik kuat seperti ini” Yusuf memegang tangan istrinya dan menariknya. Laila malah bukan fokus pada panahnya tapi malah terus menoleh dan pipinya berulang kali beradu dengan pipi suaminya, Laila terus tersenyum memperhatikan wajah tampan dan sedap dipandang itu. Yusuf berhenti dan menatap Laila yang menatapnya sedari tadi. Laila memalingkan wajahnya, kembali menatap lurus dan Yusuf melepaskan tangannya membiarkan Laila mencoba sendiri.

” Yes" Laila sangat senang karena anak panahnya menancap di papan sasaran dengan baik. Yusuf tersenyum melihat tingkah laku istri belia nya itu.

Malam hari tiba, malam ini adalah jatah Laila. Laila sedang menyisir rambutnya sebelum memakai kerudungnya. Yusuf hanya baru melihat sebatas wajahnya saja, rambut dan yang lainnya belum. Mungkin nanti, masih lama. Laila memakai kerudung dan cadarnya lalu keluar dari kamar dan melihat Yusuf yang baru selesai mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya, Yusuf lupa membawa bajunya.

” Abi" Laila terkejut dan menutup matanya seraya berbalik, dari pada dia khilaf melihat tubuh suaminya yang besar dan kekar serta putih mulus itu.

” Aku lupa bawa baju ke kamar mandi, maaf" kata Yusuf yang juga grogi dan meraih kain sarungnya untuk menutupi setengah tubuhnya yang telanjang.

” Assalamualaikum” suara Maryam terdengar, dia masuk lalu menutup pintu dan Maryam mengira Yusuf ada di mesjid karena melihat beberapa ustadz juga sedang di masjid.

Laila dan Yusuf menoleh, Maryam melihat tubuh suaminya di lihat oleh Laila. Laila menggigit bibir bawahnya kelu dan melirik suaminya.

” Maaf, aku kira abi tidak di rumah" kata Maryam lalu pergi keluar dari rumah Laila. Laila berdesis dan keluar dari rumah untuk menyusul Maryam dan Yusuf masuk ke kamar untuk memakai pakaiannya.

Di luar Laila terus menyusul Maryam.

” Ibu" Laila meraih tangan Maryam dan Maryam menoleh. Laila merasa bersalah melihat Maryam menangis saat ini, wajah dengan kerutan di bawah mata dan kening itu terlihat tidak bersahabat dengan Laila." Ibu jangan salah paham” tutur Laila dan Maryam menarik tangannya kasar ke teras rumahnya. Laila kesakitan dan terus meringis. Seorang santri baru yaitu Iqbal memperhatikan gadis bercadar itu ditarik oleh istri ustadz Yusuf, dia hanya tahu ustadz Yusuf memiliki satu istri.

” Kenapa ibu Maryam kasar sekali?" Iqbal berbisik.

" Laila jangan berbicara seperti itu di lingkungan pesantren, hanya kamu dan Abi yang tahu tidak boleh keluar dari rumah. Kamu beneran belum di apa-apain sama Abi Laila?" Maryam memegang kedua bahu Laila dan Laila menatap takut, Laila ketakutan melihat Maryam marah padanya.

” Maryam” tegur ibu Yusuf, ibu Nurjanah yang berjalan pun sudah kesusahan dan tidak tega melihat Laila di marahi oleh Maryam yang memang sangat tegas kepada santri pun dia sangat tegas.

” Ibu assalamualaikum" salam Laila menyapa ibu mertuanya setelah melepaskan tangannya dari bahunya.

” Waalaikumsalam, kembalilah ke rumah mu. Jaga anakku Yusuf" pinta ibu Nurjanah dan Laila mengangguk.

” Assalamualaikum" Laila melangkah pergi setelah mengucapkan salam.

” Waalaikumsalam" jawab Maryam dan ibu Nurjanah. Ibu Nurjanah menatap menantunya Maryam sinis, dan melihat ada santri yang melihat. Untuk tegas kepada santri masih wajar tapi kepada Laila bukan lah hal yang remeh.

Di rumah Laila, Laila dan Yusuf sudah berbaring bersama dengan jarak dua bantal di tengah-tengah. Yusuf menoleh dan menatap Laila, entah apa yang dikatakan oleh Maryam sampai Laila diam seperti itu.

” Umi” panggil Yusuf cemas. Laila menoleh dan tersenyum.

” Iya bi?”

” Umi kenapa?"

” Enggak kenapa-kenapa” Laila tidak mau menjadi perempuan mengadu sekalipun kepada suaminya, karena yang membuatnya takut adalah Maryam.

” Beneran?”

” Iya Abi”

” Dua hari lagi, aku ada acara. Rizky juga ikut, jaga diri baik-baik ya umi" pinta Yusuf setelah memberitahu Laila dia harus pergi lagi.

” Iya bi" Laila hanya bisa mengiyakan.

Laila tiba-tiba membaca doa, bersiap untuk tidur dan Yusuf membuang nafas kasar. Dia masih ingin banyak bercerita dengan istrinya, Laila pendengar yang baik walaupun dia bercerita berjam-jam Laila tidak pernah lelah. Karena Laila sendiri juga seperti itu padanya, sering banyak berbicara menceritakan apapun kepadanya. Merasa di percaya oleh Laila adalah hal yang sangat berharga bagi Yusuf.

Yusuf pun bersiap untuk tidur juga, Laila berbalik dan membelakangi suaminya. Yusuf hanya diam tidak berani menegur.

Brak! brak! brak.. Tok tok toko

Gebrakan Dan ketukan pintu membuat Laila dan Yusuf terkejut dan keduanya kembali membuka mata.

” Assalamualaikum Aa" suara Salamah terdengar. Laila turun lalu meninggalkan kamar bersama Yusuf untuk melihat apa yang terjadi.

” Waalaikumsalam" jawab keduanya kompak.

Yusuf membuka pintu dan sosok Salamah terlihat.

” A, ibu Maryam pingsan" kata Salamah dengan nafas terengah-engah lalu Yusuf berlari menuju rumah Maryam.

” Kamu disini saja, biarkan Aa sama ibu Maryam dulu" kata Salamah dan Laila berhenti, dia sudah memakai sendal untuk melihat apa yang terjadi. Salamah pergi dan Laila menutup pintu perlahan-lahan. Wajahnya merah, kedua matanya berair dan Laila mengunci pintu.

” Hiks...” Laila menangis terisak-isak pelan dan meringkuk di atas sofa. Air matanya menetes deras, dia hanya bisa menerima apapun sebagai istri kedua

1
Dysha♡💕
luar biasa
Dysha♡💕
aduh ga di jelasin ya Thor malam pertamanya,,,
Fatma Juniansyah
sudah berapa kali baca.dan saya juga kasih tau ke teman kalau ada bacaan yang bagus.saat ini mau kasih tau ke anak gadis supaya baca mana tau bisa contoh lailanya aa Yusup.aamiin
Nur Maryam
aku jadi gimana gitu y orang2 di komen menghina Maryam soalnya nama aq juga Maryam🥲
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
Lina Herlina
baca yang ke 5 kali nya gak pernah bosan😊
Zahro Mbk Jr.
Bagus banget aku bolak balik baca gak bosenin banyak hikmah sekaligus ilmu yang dapat kita ambil di cerita ini love sekebon untuk author yng sudah membuat novel ini
Qudsiyah Agus
aku sudah membayangkan suaranya
Ka Za
untuk kesekian kalinya kembali ke Novel favorit ku ini, Selalu semangat berkarya kak Mela 😊😍
MelMel
sula banget sama ceritanya, ga pernah bosen buat baca ulang
Ai Ai
tebel bener tu muka,👿
Ai Ai
Ada. ya orang jahat kaya gitu, pantes sering sakit dan sulit punya keturunan, hatinya kotor👿
Ai Ai
jadi orang ngarep boleh, tapi jangan malu maluin🤣🤣🤣
Rizqinur Hayati
bagus alur ceritanya dan dapat menambah ilmu
Rizqinur Hayati
alur ceritanya bagus dan dapat menambah ilmu
nisutt
Seru banget ceritanya, walaupun udah baca berulang kali tapi ga ngebosenin.
Lilisdayanti
sok siah ngomong ken Batur,eta biwir bisa jontor gera sok,,pamali ualah sok nga gosip 🤭
Lilisdayanti
hadir siapa tau lucu,, karena aqu lagi bosan sama yg mehek mehek 🤭siapa tau ceritanya sama kaya Sagara dan king,,
Nurjanna Nhanna Jhe
luarbiasa
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘
Deistya Nur
masyaallah bagus bnggt
Alis
ceritanya bgus dan banyak sisi positif yg bisa diambil dri cerita in
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!