NovelToon NovelToon
Possessive Husband

Possessive Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:863.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji Rahayu Ningsih

"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.

"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.

Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.

"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.

"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Ada apa dengan besok?

Nadia memeluk tubuhnya sendiri. Dia sedang berada di atas tempat tidurnya. Tentunya setelah mandi.

Sekarang Nadia sedang mengenakan kemeja putih milik Rehan yang kebesaran. Nadia sediri di kamar. Sedangkan Rehan sedang membereskan kedua satpam hotel kurang ajar itu.

"Seharusnya kalian tidak melakukan itu kepada istri ku?!" Bentak Rehan. Dia benar-benar marah ketika melihat istrinya di permalukan di depan umum.

Suami mana yang tega melihat istrinya hujan-hujanan di luar kantornya sendiri? Bahkan kehadirannya di tolak oleh pekerjanya.

"Saya benar-benar tidak tahu jika perempuan tadi istri bapak." Seorang lelaki tegap menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap kedua mata Rehan yang sekarang ini sedang melotot tajam.

"Alasan yang kamu berikan tidak bisa saya toleransi. Jika dia bukan istri saya, kamu juga tidak berhak mengusir dia. Kalau seperti ini caranya, hotel saya akan sepi. Kalian berdua saya pecat." Rehan melempar dua amplop coklat ke dada mantan satpam hotelnya.

"Tapi pak, perempuan tadi kotor, kami..."

"Jaga mulut kamu!!" Bentak Rehan, semakin marah.

"Kamu tidak berhak menghina istri saya. Pergi kalian dari sini. Satpam, seret mereka keluar dari area hotel saya." Rehan menyuruh satpam lainnya untuk menyeret kedua manusia iblis itu.

"Pak, maafkan kami pak."

"Kami janji tidak akan mengulanginya lagi."

Rehan tidak perduli. Dia masuk kedalam lift untuk segera menemui istrinya yang sedang sendiri di kamar.

Rehan berjalan cepat menuju kamar VVIP yang di dalam kamar itu terdapat Nadia.

"Hiks..., Hiks...," Hati Rehan bagaikan di remas mendengar Isak tangis istrinya. Dia gagal menjadi suami yang baik dan siaga.

"Shutt..., ada aku. Jangan nangis lagi." Nadia tidak perduli. Lututnya perih, sikunya sakit, badannya dingin, kepalanya juga pusing.

Nadia mendorong dada Rehan. Dia menatap wajah sangar Rehan dengan tatapan terluka.

"Andai kamu datang tepat waktu, semua ini tidak akan pernah terjadi." Nadia menyalahkan Rehan atas semuanya. Hatinya yang sudah mulai menerima kehadiran Rehan, sekarang tertutup kembali.

"Aku kira kamu tidak datang. Aku kira tadi tidak suara kamu. Aku tidak tahu jika itu memang benar suara kamu." Bela Rehan. Disini dia tidak sepenuhnya salah, Nadia datang setelah jam makan siang habis.

"Aku datang, Rey. Aku datang untuk mu. Tapi apa yang aku dapat? Sekarang aku ragu, kamu benar-benar mencintai ku, atau sekedar terobsesi ingin memiliki ku?" Mata sayu Nadia menatap kedua mata tajam Rehan.

Ucapan Nadia tadi membuat Rehan terluka. Dia harus membuktikan seperti apa lagi? Kalau dia benar-benar mencintai perempuan itu.

"Aku kedinginan diluar, di permalukan, bahkan kesakitan. Kamu dimana, Rey? Kamu datang disaat aku sudah ingin pergi. Apa itu yang di namakan cinta?" Nadia menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya.

"Maaf sayang, maaf, maaf, maafkan aku." Rehan merengkuh tubuh Nadia. Dia membiarkan perempuan yang dia cintai memberontak disana.

Perlahan mata Nadia terpejam. Dia tidur di pelukan Rehan. Rehan menghapus jejak air mata istrinya. Rehan tersayat mendengar Isak tangis istrinya ketika dia sudah tidur.

"Aku akan melindungi mu. Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti mu lagi." Rehan mengambil salep yang sudah asistennya beli. Dia mengoleskan ke bekas luka Nadia.

"Semoga lekas sembuh." Rehan ikut berbaring di samping Nadia. Dia memberikan kehangatan dengan mendekap tubuh Nadia.

***

Danil menatap lukisannya, nanar. Dia melukis seorang perempuan yang sedang tersenyum sambil membawa bekal makanan. Perempuan itu sangat cantik, rambutnya dia kuncir kuda, mata bulatnya membuat dirinya tertarik.

Dulu dia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya kepada perempuan yang dia sayang. Dia pulang dari London untuk melamar perempuan itu, namun dia kalah cepat, perempuan itu sudah menjadi milik orang lain.

Danil mendongak keatas. Dia tidak mau menjadi lelaki yang lemah. Cincin yang sudah dia siapkan untuk melamar perempuan itu, masih tersimpan di dalam lemarinya.

"Beruntung sekali laki-laki kemarin yang memiliki mu." Gumam Danil. Perempuan yang Danil cintai adalah Nadia. Iya, Nadia Zaen. Adik kelasnya dulu. Nadia tipekal orang yang tidak banyak menuntut, sederhana, dan apa adanya.

Nadia bukan seperti perempuan pada umumnya. Nadia selalu bisa menyesuaikan diri. Dia akan berpenampilan sederhana ketika di tempat yang sederhana, dan dia tidak akan membuat seseorang yang mengajaknya pergi malu. Karena Nadia akan berpenampilan menarik, cantik, dan mempesona ketika di ajak ketempat yang penting.

"Aku mencintai mu, Tapi aku tidak bisa memiliki mu. Miris memang, ketika perempuan yang aku cintai menjadi milik orang lain." Danil marah dengan dirinya sendiri. Dia Menggegam erat kuasnya hingga....

Klek..

Kuas yang Danil pegang patah. Kuas itu mewakili perasaannya yang retak.

***

Sekarang Nadia sudah pulang ke rumah keluarga Mahendra. Sejak kejadian siang tadi, Nadia lebih banyak diam. Dia tidak mau makan ataupun keluar kamar.

"Ma, bujukin Nadia supaya maafin aku." Rehan sudah menceritakan semua kejadian tadi kepada kedua orang tuanya. Bram dan Eva terlihat sangat marah.

"Kamu sendiri sana yang bujukin. Masa mama, kamu suruh bujukin Nadia." Tolak Eva. Rehan masuk kedalam kamarnya dengan ragu. Setelah menutup pintu kamarnya, Rehan menghampiri Nadia yang sedang membaca novel, Islamu adalah mahar ku.

"Kaki dan siku kamu sudah tidak sakit?" Rehan mengusap pucuk kepala Nadia.

"Udah." Jawab Nadia, singkat.

"Mendiamkan suami dosa loh, Nad." Rehan mencoba merayu Nadia yang sedang marah.

"Membiarkan istri di hina orang lain lebih dosa." Balas Nadia, sinis.

"Tapikan aku gak tahu kalau kamu datang ke hotel aku." Nadia hanya diam, percuma ngomong sama lelaki otak batu.

"Kamu tidak ingin jalan-jalan? Di alun-alun banyak makanan enak loh, Nad." Rehan tidak akan menyerah untuk membujuk Nadia agar tidak marah lagi kepadanya.

"Gak perduli." Nadia acuh, dia mengambil heandponenya yang dia letakkan di atas nakas.

"Kamu gak mau belanja ke Mall? Atau Traveling gitu?" Rehan tersenyum manis kepada istrinya.

"Emang kamu izinin aku buat traveling? Orang keluar rumah aja kamu buntutin." Sindir Nadia.

Skatmat!!

Rehan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Yang istrinya katakan memang benar, dia sangat posesif kepada Nadia.

"Aku Posesif kayak gitu kan untuk kebaikan kamu juga." Nadia mendengus. Layar pipih di depannya lebih menarik dari pada ocehan Rehan.

Melody

Di caffe dekat alun-alun ada resep kue baru, Kata teman aku sih enak.

Me.

Kue apa?

Melody

Kue pelangi. Pokoknya enak. Kita harus cobain.

Me.

Okeh.

Nadia tersenyum senang. Dia menyukai semua makanan. Lebih tepatnya dia penyuka kuliner.

"Tidur ah, gak sabar besok." Nadia memeluk gulingnya, senang. Sedangkan Rehan yang sedang mengecek emailnya, Mengerutkan keningnya.

"Besok? Emang besok dia mau ngapain? Kayaknya senang banget." Gumam Rehan, penasaran.

1
Muna Junaidi
Hadirrrr kembali thorrrr💃💃💃
Alyah Nasution
😂😂 lucu hahaha
Apih Nabila
lanjut kak
Teriyanti Yan
Musiknya terlalu brisik, sehinga suaranya kurang jelas
Rahayu
Kalau saya lanjut ceritanya masih ada yang baca?
Rita Erisha
visual + bio nya nadia donk thor
Rita Erisha
visual nadia nya donk thor
Andez Ajja
🤣🤣🤣😂😂😂😂resiko mas hhhhh
Andez Ajja
cerita xa sangat mnarik
Yana Saleh
next dong
Ulfa Sawani
asyik bacax
Ulfa Sawani
seru yaaa
Ulfa Sawani
ceritax seru yaaaa..pengen sepeti dlm cetita ini..
Reni Tri Cahyowati
lanjut thor
Onih Sumarni
.😁😁🤲
Wiwin Yustika Yustika
Lanjut dong
Öžôŕã
bunuh aja si rehan sebel aq
Öžôŕã
gedek gwe sma rehan,,,, cuma manis di mulut doang
Öžôŕã
knapa kagak keluar negri skalian thorr
Ni Made Partini
habis sampai sini Aja nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!