inilah ujian terberat dalam hidupku, Mas Rayhan suamiku yang aku cintai berselingkuh dengan mantan muridnya. Setelah aku tau perselingkuhan itu, Mas Rayhan bilang ia akan bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi. Tapi Mas Rayhan bohong, ia masih berhubungan dan bahkan malah menghamilinya.
Akankah aku bisa mempertahankan rumah tangga ini atau memilih bercerai?
ig author : wentyoktaria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wenty Oktaria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Menanti Mas Rayhan
"Ada apa Ndok, katanya mau seminggu disini. Kok baru dua hari kamu sudah mau pulang?" Tanya Ibuku yang heran dengan keputusanku untuk pulang ke Jakarta secepat ini.
"Ga apa-apa Bu... Mas Rayhan nanti malam mungkin sudah sampai Jakarta, makanya aku juga harus segera pulang." Terpaksa aku menutupi masalahku pada Ibu.
"Lho, katanya Rayhan mau sekalian jemput kamu disini setelah dari Jawa Tengah?" Tanya Ibu lagi.
"Mungkin ga jadi, Bu..." Jawabku.
"Kenapa?" Ibu masih penasaran.
"Aku juga ga tau, dari kemarin aku menghubungi Mas Rayhan, tapi belum juga ada jawaban."
Kulihat wajah ibu seperti menaruh curiga kalau aku memendam sesuatu, "Ada apa sebenarnya Ndok?"
"Ga ada apa-apa, Bu..." Aku masih berusaha menutup-nutupi.
"Ya sudah Ibu mau siapkan dulu oleh-oleh untuk mertuamu ya..."
Ibu berlalu kedapur dan aku lanjutkan mengemasi baju-bajuku dan Syafiq.
Maafkan anakmu ini Bu, yang tidak bisa menceritakan yang sebenarnya kepadamu. Aku hanya tidak ingin membuatmu sedih dan kepikiran dengan masalahku ini, biarlah ini jadi bebanku sendiri.
"Aku pamit ya Bu, salam buat Mba Widya ya..." Pamitku seraya memeluk Ibu, tak terasa air mataku menetes membasahi baju Ibu.
"Iya Ndok, baik-baik ya di Jakarta. Ibu selalu berdoa untuk kamu dan keluargamu."
"Makasih Bu..." Ucapku sambil mencium tangannya.
Aku tak bisa lepas dari pelukan Ibu. Pelukan yang belum tentu setahun sekali aku rasakan, rasanya masih rindu, masih ingin berlama-lama disini, masih ingin bermanja dengan Ibu.
"Aku pamit ya Pak, doakan anakmu ini ya Pak!" Ucapku sambil mencium tangan Bapak.
"Iya Ndok..."
"Semoga Bapak dan Ibu sehat-sehat semua." Ucapku.
"Aamiin..." Jawab mereka berdua.
"Salam untuk mertuamu ya Ndok!"
"Iya, Bu... Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Aku menaiki mobil Mas Bima, ia yang akan mengantarkanku sampai stasiun.
Sesampainya di stasiun, Mas Bima dengan sigap membawa barang-barangku sampai ke gerbong kereta, karena aku membawa oleh-oleh yang lumayan banyak untuk kubagikan kemertua dan tetanggaku.
"Udah ya Dek, Mas anter sampai sini aja."
"Iya Mas..."
"Da... da... Pakde..." Syafiq melambaikan tangan.
"Da... da... Hati-hati dijalan ya ganteng!" Ucap Mas Bima.
Kareta pun mulai bergerak, karena lelah dan ngantuk semalam tidak bisa tidur, aku pun tertidur dikereta.
"Ma, bangun hpnya bunyi!" Syafiq membangunkanku.
Benar saja, ponselku berbunyi, ternyata Mas Rayhan yang meneleponku.
"Assalamualaikum Sayang..."
"Waalaikumsalam Mas..."
"Maaf, aku baru bisa menghubungi kamu. Ini kamu lagi dimana?"
"Aku lagi dikereta, mau pulang."
"Hah, kok pulang?"
"Lho, kenapa Mas?"
"Nggak, ga apa-apa. Maksudnya, kan katanya seminggu kamu mau disana, nanti kan aku susul."
"Emang kamu lagi dimana, Mas?"
"Kan aku masih di Jawa Tengah..."
"Kamu bohong! Kita lanjutkan nanti dirumah Mas!"
Langsung kuputus saja teleponnya.
Aku ingin cepat sampai dirumah dan berbicara langsung dengan Mas Rayhan.
"Tadi yang nelepon Abi, ya Ma?" Syafiq bertanya kepadaku.
"Iya Sayang..."
"Mama kok marah sama Abi?" Rupanya ia tadi mendengar percakapanku.
"Nggak Sayang, Mama ga marah kok sama Abi." Langsung kupeluk dan kucium kepalanya.
Setelah kurang lebih delapan jam perjalanan, akhirnya aku sampai di Jakarta. Langsung kunaik taxi untuk menuju rumah yang perjalanannya hanya satu jam dari stasiun.
Alhamdulillah aku sudah sampai dirumah.
"Lingga, kok kamu udah pulang?"
Kumenengok kebelakang, rupanya Ibu mertuaku yang bertanya.
"Iya, Bu..."
"Nggak sama Rayhan, katanya dia mau nyusul kamu?"
"Ga jadi, Bu..."
"Oh..."
"Oh ya Bu, Mas Rayhan waktu ke Jawa Tengah berangkat jam berapa dari rumah?"
"Dari waktu abis nganter kamu ke stasiun, dia udah ga pulang lagi, mungkin dia nginep disekolah dan besoknya langsung berangkat."
Oh ternyata Mas Rayhan langsung pergi setelah mengantarku, tapi kemana dia? Dia bilang, ke Jawa Tengahnya hari selasa tapi kenapa hari senin dia sudah berangkat? Pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak dipikiranku.
"Kenapa Lingga?"
"Ga apa-apa, Bu... Yaudah saya mau istirahat dulu ya Bu, didalam."
"Yaudah, istirahat dulu sana!"
Kumemasuki rumah yang baru beberapa hari kosong, lantainya kotor, berdebu. Kumembuka kamar, masih rapi, masih sama ketika aku pergi beberapa hari yang lalu, itu berarti Mas Rayhan tidak tidur disini.
Kumembuka lemari, barangkali ada sesuatu yang aku temukan untuk dapat petunjuk dimana Mas Rayhan berada, tapi dilemari tidak ada apa-apa. Kumasuk keruang kerjanya, kuperiksa satu persatu laci meja kerjanya, tapi tak satu pun sesuatu yang kutemukan.
Ponselku berbunyi, dari nomor yang tidak dikenal. Begitu kuangkat.
"Hallo... ini benar istrinya Rayhan?" Tanya suara dibalik telepon.
"Iya benar, ini siapa?"
"Dari kemarin saya menghubungi Rayhan tapi tidak diangkat, Rayhan kemana Bu?"
"Lagi ga ada dirumah, ini siapa?"
"Saya Candra, temannya Rayhan. Begini Bu, dua bulan yang lalu Rayhan pinjam uang dua puluh juta ke saya, dia bilang bulan lalu dia mau mulai menyicil. Tapi sampai dua bulan ini dia belum menyicil sedikitpun, sedangkan saya butuh uang itu untuk biaya anak saya yang sedang dirawat dirumah sakit."
"Suami saya pinjam uang ke Bapak, alasannya untuk apa Pak?"
"Dia bilang untuk biaya Ibunya yang sedang sakit."
Hah? Ibunya siapa yang sedang sakit? Ibu mertuaku alhamdulillah sehat, Ibuku dikampung juga sehat. Jangan-jangan Ibunya wanita itu?
Ya aku ingat, waktu itu Mas Rayhan pernah bilang bahwa Ibunya Zidny sedang sakit dan Zidny selalu meminta uang kepadanya untuk biaya Ibunya.
"Hallo, Bu... tolong ya Bu... saya benar-benar butuh biaya untuk pengobatan anak saya!"
"Tapi sampai saat ini saja suami saya belum pulang Pak, saya ga tau keberadaanya dimana..."
"Tolong dong Bu..."
Tangisku mulai pecah, kututup telepon itu. Kubanting ponselku kelantai, aku benci, aku benci Mas Rayhan yang selalu berbohong kepadaku.
Syafiq yang melihatku menangis langsung berlari keluar.
"Lingga, kamu kenapa?" Ibu mertuaku datang, melihatku masih menangis sesenggukan.
"Mas Rayhan, Bu..."
"Rayhan kenapa? Cerita sama Ibu!"
Aku mulai menceritakannya pada Ibu, kuceritakan dari awal kecurigaanku kalau dia sebenarnya tidak pergi bersama teman-teman gurunya, sampai masalah hutang ketemannya sebesar dua puluh juta rupiah.
"Rasanya ga mungkin Rayhan masih seperti itu, ibu ga percaya!" Kalimat yang pertama kali keluar dari mulut Ibu.
"Tapi yang aku ceritakan tadi itu menjadi bukti kalau dia masih berhubungan dengan wanita itu, Bu..." Sanggahku.
"Mungkin aja Rayhan pinjam uang ketemannya itu untuk kebutuhan kamu, selama ini kan kamu berobat sana-sini untuk bisa hamil, kamu juga diet, kamu juga perawatan wajah, hampir setiap minggu kamu jalan-jalan ke Mall. Semuanya itu butuh biaya Lingga, ga gratis!" Jawaban ibu seolah memojokkanku.
Percuma saja aku cerita ke Ibu, Ibu masih membela anaknya dan seolah malah memojokkanku. Harus cerita ke siapa lagi aku ini?
"Makanya, kamu jangan banyak nuntut ke suami, karena kamu sendiri kan ga kerja. Jadi suamimu yang banting tulang untuk kamu dan anakmu, sampai-sampai pinjam uang ke orang lain." Ibu jadi menyalahkanku.
Sebenarnya bukan banyak menuntut, tapi Mas Rayhan yang pada waktu itu merasa bersalah. Karena ingin menebus rasa bersalahnya itu, lalu ia ingin memanjakanku dengan mengajakku jalan-jalan dan mengajakku ketempat perawatan kecantikan. Aku diet dan berobat hamil kesana-kemari, itu pun semua atas perintah Ibu. Apa mungkin Ibu lupa? Ah entahlah.
Aku tidak mau berdebat, aku diam saja. Kalau terus menjelaskan ke Ibu, akan lebih panjang lagi jawabannya, aku tak ingin mendengarnya. Kutinggal kekamar saja ibu yang masih duduk diruang tamu seorang diri.
ki ga dilanjut
kutunggu kelanjutannya