Insiden yang membuatnya harus mengandung anak dari pria asing yang mengaga*inya di Club. Niat hati ingin menjemput sahabatnya justru mendapatkan mala petaka baginya.
Cerita ini dibuat atas dasar pemikiran sendiri:)
Silahkan tinggalkan jejak sebagai bentuk apresiasi kalian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.K.A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicoret dari kartu keluarga
Dicoret dari kartu keluarga
Pukul 06.05 pagi, Cia terbangun karena ponselnya yang terus berdering. Ia mulai mengerjapkan dan mengucek pelan matanya. Diraihnya ponsel tersebut yang berada tak jauh dari ranjangnya.
Tertera nama ayahnya pada layar ponsel. Aaahhh, tumben sekali pagi - pagi ayahnya sudah menelponnya. Tanpa basa - basi Cia mengangkatnya.
"Hal..." ucapan Cia terhenti, saat ayahnya bersuara keras.
"Cia, pulang ke rumah sekarang!"
"Tapi ayah Cia har..."
"Tidak ada tapi - tapian, minta cuti satu hari memang tidak bisa." sarkasnya.
"Ayah, Cia ti..."
Tut
Tut
Tut
Telepon diakhiri sepihak, ia mulai menerka - nerka apa yang akan keluarganya lakukan kali ini. Lamunan Cia buyar ketika mendengar suara ketukan pintu kamarnya cukup keras.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ci buka, kita harus bersiap sekarang." ucap Vivi berteriak keras.
Ceklek!
"Ci ... astaga, kau baru bangun? akhir - akhir ini kau selalu bangun lebih siang." Vivi menggelengkan kepalanya pelan.
Cia menguap pelan dengan mata yang masih menahan kantuk. Memang benar apa yang dikatakan sahabatnya, akhir - akhir ini Cia selalu bangun lebih siang tidak seperti biasanya. Semenjak Cia tau bahwa dirinya hamil hampir setiap malam Cia selalu menangis.
"Vi bisa ijinkan aku hari ini ke mbak Hana. Aku akan pul..."
"Pulang? Kau yakin akan memberitahukan tentang kehamilan mu?" potongnya cepat.
"Iiisshh Viana jangan memotong ucapan ku." berucap sebal.
"Haha baiklah - baiklah lanjutkan dan jawab pertanyaan ku tadi."
"Nanti tolong bilang ke Mbak Hana aku akan cuti satu hari ini. Tadi tiba - tiba ayah telepon dan menyuruh ku pulang."
"Mau ku temani." tawarnya, sekarang yang ada dipikiran Vivi adalah khawatir jika terjadi sesuatu. Setiap Cia pulang dari rumah orang tuanya pasti selalu ada lebam - lebam ditubuhnya.
"Tidak perlu Vi, kau kerja saja ya."
Vivi menghembuskan nafas kasar.
"Okelah, jika terjadi sesuatu disana segera kabari aku."
"Iya, nanti aku kabari kalo ada apa-apa. Mending kita masak sekarang."
"Aku akan bersiap dulu. Kamu aja ya yang masak. Aku kangen masakan mu." yang diakhiri kekehan dan berlari pergi.
"Ya ya baiklah Viana Hanindiya." teriak Cia sedikit keras.
Cia kembali masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan tempat tidur, tidak membutuhkan waktu lama Cia keluar dan berjalan menuju kamar mandi. 5 menit Cia selesai menggosok gigi dan mencuci mukanya.
"Saatnya masak." gumamnya bersemangat.
45 menit kemudian.
"Vi, ayo makan!" jeritnya.
"Wiihhhh, ehhh Ci bukannya kamu gak suka udang ya."
"Euumm ... iya sih Vi cuma, entahlah tiba - tiba kepengin banget makan udang."
"Mungkin itu bawaan baby nya kali Ci."
"Ya mungkin aja." Cia mulai mengelus perutnya yang mulai berisi.
***
Pagi harinya di mansion Ziand. Pagi-pagi buta Anggelina mondar-mandir kesana kemari mencari suaminya. Kemarin malam Ziand bahkan tidak menyusul untuk tidur bersamanya.
"Ziand!!" teriaknya lantang memenuhi penjuru mansion.
"Anggelina, kenapa dia memanggilku." batinnya.
Ceklek!
Tap
Tap
Tap
"Ada apa Nggel?" tanyanya saat sudah berada dibelakang sang istri.
Anggel yang mendengar suara Ziand, segera membalikan tubuhnya dan berlari menubruk tubuh Ziand. Anggel memeluknya erat. Ziand yang mendapat perlakuan tersebut secara tiba-tiba sangat terkejut. Setelah beberapa saat mereka masih berpelukan, Ziand juga membalas pelukan sang istri.
"Ada apa Nggel?" tanyanya lagi.
"Hikkss ... kau dari mana saja, aku mencarimu sejak tadi." tangisnya semakin kencang.
Ziand menghela nafas panjang, tekadnya semakin bulat untuk merubah sikapnya.
"Duduk dulu ya, nanti ku jelaskan."
"Aku berada di ruang kerja."
"Ohya, kenapa kemarin malam tidak menyusul ku dikamar?"
"Aku ketiduran Nggel."
"Huuuhhhhh, ya sudahlah. Ziand usap perutku, sepertinya bayi ini merindukanmu." pintanya.
***
08.45
Cia tiba dirumah orang tuanya.
Tok
Tok
Tok
Ceklek!
Tara yang membukakan pintu untuk adeknya, tersenyum miring.
"Masuk Ci, ayah dan mama diruang keluarga." ucapnya lembut.
Cia terheran-heran dengan nada sang kakak. Aaahhh, bahkan ini baru pertama kalinya Tara berbicara dengan nada lembut.
Harso dan Sania yang melihat Tara bersama Cia seketika wajah mereka memerah padam penuh amarah.
"Apalagi ini tuhan." batin Cia menundukkan kepalanya dalam, saat melihat tatapan mematikan milik ayah.
Belum sempat Cia mendudukan dirinya dikursi, ayahnya berdiri dan berjalan kearahnya.
Plak!
Plak!
Plak!
Tiga kali tamparan dilayangkan Harso di pipi putri terakhirnya. Sudut bibir Cia bahkan sampai mengeluarkan darah segar.
"A ... ayah ke ... kenapa menamparku." Cia memegangi pipinya yang terasa panas dan pastinya sudah memerah.
"J*l*ng!!! hamil anak siapa kau haha!" teriak ayahnya keras sembari mencengkram kuat leher putrinya.
"Dasar wanita mu*a*an!!" lanjut ibunya yang tak kalah keras berteriak.
Cia terbatuk dan mengatur nafasnya.
"Mah, yah. Cia diper..."
Bugh!
Bugh!
Dua kali tendangan di kaki dilayangkan Sania kepada putrinya, ada sedikit rasa kecewa walaupun selama ini dia bersikap tidak semena-mena.
"Kami tidak perlu penjelasan mu sakarang!! kamu bukan anakku lagi. Akan ku coret kau dari kartu keluarga!" putusnya fatal. Harso benar-benar marah kali ini.
"Tapi aya..."
"Ambil yang perlu kau ambil dikamar mu, lalu pergi. Jangan pernah menginjakkan kaku mu dirumah ini lagi" sarkas Sania.
Tara? Ah wanita itu hanya diam dari tadi, seakan-akan sangat menikmati pertunjukan didepannya.
***
"Hikkss ... ini semua karena dirimu." lirihnya dengan memukul pelan perutnya.
"Arrgghh aku harus apa sekarang, semuanya hancur."
Daripada terus-menerus di halte bus, Cia memilih untuk pulang ke kos-kosan. Karena dirinya sudah tidak memiliki uang untuk menaiki kendaraan Cia lebih memilih untuk berjalan kaki.
Karena jarak rumah orang tua Cia sangat jauh dari kos-kosan tempatnya bekerja. Cia sampai di kos-kosannya pukul 17.56
Ceklek!
"Yaampun Cia ka..."
Brugh!
Apakah Cia akan sanggup melewati ini?
Cobaan apalagi yang harus ia terima setelah ini?
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu