"Pernikahan kontrak perjanjian, tapi pernikahan satu kali seumur hidup antara aku dan kamu.
~Alterio Mahendra
Alterio Mahendra, terpaksa menikah dengan Gabriela key Angelin. Yang berawal dari kesalahpahaman, dan untuk kebahagiaan orangtuanya.
Tak disangka, Al terpesona dengan istri kontaknya, dan berusaha mendapatkan hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minsecret03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. PERHATIAN
"Gue jemput, gak ada bantahan."
Al langsung memutuskan sambungan sepihak, menyambar jas hitamnya berlari kecil keluar ruangan. Al memang sengaja pulang cepat, sekalian menjemput istrinya.
Dengan kecepatan sedang, Al membelah jalanan yang padat dan berhenti tepat didepan cafe Key. Dari mobil Al dapat melihat wajah kesal istrinya, yang ditekuk dengan menghentak-hentakan kakinya.
Sebenarnya umur key berapa? selalu berpenampilan layaknya remaja. Apalagi wajahnya hanya dipoles bedak tipis dan liptint tipis dipermukaan bibirnya. Sebenarnya Al suka melihat penampilannya, tapi tingkah gadisnya yang selalu aneh.
"Selamat sore tuan, bagaimana hari anda?" Sapa key kearah Al, dengan senyuman lebar.
Al menautkan alisnya, menatap aneh kearah Istrinya. Baru juga Al memikirkan tingkah anehnya, dan sekarang
Key memang aneh. Key keluar dari cafe dengan wajah yang ditekuk, dan sekarang tersenyum lebar. Lebih baik dihiraukan saja.
"Ck, jawab Al."
"Biasa."
"Apanya yang biasa?"
"Hari ini biasa aja."
"Kenapa?"
"Bangun kesiangan."
Key terkekeh, melirik kearah Al yang fokus menyetir.
"Langsung pulang?"
Key berpikir sebentar, dan mengelengkan kepalanya.
"Supermarket, bahan makanan dirumah kosong."
Al menganggukan kepalanya, menuruti ucapan Istrinya. Memilih fokus menyetir, dan key fokus mengotak ngatik ponselnya. Tak menunggu lama, kini mobil Al terparkir didepan supermarket.
"Eh mau kemana?" Key menahan lengan kekarnya, yang hendak turun dari mobil.
Siempunya hanya menaikkan alisnya, menoleh kearahnya.
"Lo gak usah turun, tunggu dimobil aja."
"Kenapa?"
"Ck, fans Lo banyak. Nanti malah gak enak belanjanya. Lo tunggu disini aja, gue bisa sendiri." Jelas key, sembari mengacak-ngacak tasnya mencari dompet.
Al menganggukan kepalanya, dengan cepat mengeluarkan dompetnya. Dan menyerahkan satu kartu hitam tepat didepan wajah key.
"Pakke ini."
Key melototkan matanya, dan tersenyum lebar kearahnya.
"Pengertian banget sih suami gue." Key langsung menarik kartu pemberian Al, dan kelur dari mobil.
Al hanya bisa mengelengkan kepala, menatap punggung kecil Istrinya berlalu kedalam supermarket.
Dengan kegirangan, key menarik troli dan memulai aksi belanjanya. Kartu hitam Al harus digunakan sebaik-baiknya, dan tentunya key akan belanja bahan makanan sepuas-puasnya. Mulai dari bahan makanan segar, sampai makanan kaleng. Kadang key malas masak, jadi makanan kaleng wajib ada sebagai persediaan.
"Makanan kesukaan Al apa yah?" Key mendorong troli belanjaannya, sembari menatap ikan segar satu persatu.
"Pilih ayam aja deh, besok belanja ikan. Siapa tau Al gak suka ikan." Key kembali melanjutkan kegiatannya, mencari bahan makanan yang kurang dalam trolinya.
Al mengotak ngatik ponselnya, sembari menunggu Istrinya. Apa selama itu belanja? Key hampir satu jam didalam supermarket, dan Al mulai bosan. Bolak balik mematikan ponselnya, menatap kembali kearah pintu masuk supermarket. Dan tepat, key keluar mendorong troli.
Dengan cepat Al keluar, membantu key memindahkan belanjanya kedalam mobil.
"Capek." Key bersandar pada jok mobil, sembari memejamkan matanya.
"Lain kali gue ikut, gak ada penolakan."
"Terserah."
Jalan yang padat membuat perjalanan mereka makin lama, seingat key dia keluar dari cafe pukul 17:30. Dan sekarang pukul 19:00.
Panas, gerah, keringat bercampur menjadi satu. Bahkan Al membuka jas hitamnya, dan dasi yang melilit dilehernya. Pusing lama-lama.
"Al."
"Hm."
"Terbang yuk." Key terkekeh, sembari menatap jalanan dari kaca mobil.
"Panas, gue gak tahan."
"Buka baju aja."
"Apaan sih Al." ucap key kesal.
"Dikasih saran malah gak mau."
"Tapi bukan gitu juga– eh ngapain buka baju?"
Key menahan jemari Al, yang hendak membuka kancing kemejanya satu persatu. Key pikir Al bercanda, eh malah beneran.
"Panas."
"Iya gue tau, tapi gak buka baju juga kali Al. ini jalanan, aneh-aneh aja."
"Gak tembus." Tunjuk Al kearah kaca mobil.
"Tetap gak boleh."
"Dua kancing."
Key hanya mengangguk kan kepalanya, sembari mengarahkan tatapannya kearah yang lain. Key tidak boleh terpesona, apalagi Al makin hot berpenampilan seperti itu. Rambutnya yang berantakan menambah kesan tampan dimatanya.
"Al pesan makanan aja yah, gue udah malas masak kalo begini ceritanya."
"Hm."
Key tersenyum lebar, kembali mengotak ngatik ponselnya. Bukan hanya itu saja memang, key juga ngantuk pikirannya perlu diistirahatkan.
Pukul 19:30, mereka baru sampe dirumah. Dengan plastik-plastik penuh bahan makanan, Al dan key membagi duanya walau tetap saja Al yang paling banyak. Istri nakal.
"Kedapur Al."
"Hm." Al mengikuti langkah kaki Istrinya, dan meletakkan semua belanjaan diatas meja makan.
"Mandi sana."
Al hanya diam, membuka kantong plastik satu persatu.
"Terserah." Key hanya mengangkat bahunya acuh, dan ikut mengeluarkan belanjaan satu persatu.
Berkat kerjasama, belanjaan kini tertata rapi. Dan key akhirnya bisa menghela napas lega.
Dengan langkah lesu, key melangkah kearah kamarnya sebelum ketukan pintu mengehentikan langkahnya.
Tok tok
"Gak terima tamu." Teriaknya kesal, dan masuk kedalam kamarnya tanpa memperdulikan siapa dibalik pintu.
Al hanya mengelengkan kepala, sembari melangkah kearah pintu. Sebelumnya Al mengintip siapa tau wanita semalaman. Untungnya hanya pengantar makanan.
Makan malam kali ini sama seperti biasanya, hanya terdengar dentingan sendok dan suara televisi.
"Besok gak usah kerja kekantor, kerja dirumah diaja. Bantuin gue nyusun barang-barang sekalian."
"Barang?"
"Iya, perlengkapan rumah."
Al hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Istrinya.
"Lo udah siap makan?"
"Hm."
Dengan cepat key membersihkan meja, dan mencuci piring bekas makanan mereka berdua. Kembali lagi keruang tengah, dengan membawa dua gelas susu.
"Minum, Lo udah kerja seharian."
Al menerima gelas pemberian key, dan langsung meneguknya. Tumben-tumbenan Istrinya perhatian, biasanya durhaka kayak tadi pagi. Soal tadi pagi, Al tidak terlalu memikirkan itu.
Melihat wajah lelah key, Al mengurungkan niat jahatnya. Apalagi saat makan key hanya makan sedikit, katanya gak n4psu makan.
"Sakit?"
Key hanya mengelengkan kepalanya, fokus kearah layar televisi. Al tidak perlu tau apa penyebabnya, yang ada malah khawatir. Maag nya kambuh, gara-gara terlambat makan tadi siang. Key lupa perutnya sedikit bermasalah, malah terlambat makan.
"Bohong."
"Ck, gak."
"Muka Lo pucat."
"Itu udah biasa, Lo aja baru nyadar."
"Gak percaya."
"Terserah."
"Udah minum obat?"
Key menaikan alisnya, menoleh kearah suaminya. Obat? Emang Al tau dia kenapa? Gak mungkin.
"Maag Lo kambuh, masih ngeyel."
Al beranjak dari tempatnya, melangkah kearah kamarnya. Key hanya diam, menatap lurus kearah televisi. Berharap pikirannya teralih dari perutnya.
"Minum." Al meletakkan obat ditelapak tangan key, sembari menyodorkan air mineral.
"Jangan melamun."
Key menatap obat ditelapak tangannya, dengan ragu menoleh kearah suaminya.
"Lo gak ngerjain gue kan?"
"Gak, itu obat maag."
Key kembali menatap telapak tangannya, dengan ragu memasukkan obat kedalam mulutnya.
"Lo tau darimana gue sakit maag?" tanya key heran kearah suaminya.
"Mama."
"Sejak kapan?"
"Lo gak perlu tahu."
Key hanya mengangguk kepalanya, dengan mata yang perlahan tertutup.
"Pindah kekamar, jangan tidur disini."
Dengan cepat Al mematikan televisi, membantu key berdiri sembari melilitkan tangannya kepinggang ramping Istrinya.
"Lain kali jangan telat makan, tau punya maag masih aja malas makan."
"Iya-iya."
"Jangan cuman iya key."
"Tumben ngomong panjang lebar." Key terkekeh, sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjang dibantu Al.
Tanpa memperdulikan ucapan Istrinya, Al mematikan lampu kamar dan mengantikanya dengan lampu tidur.
Tepat Al didepan pintu, key kembali bersuara dengan suara sayu nya.
"Malam Al, mimpi indah."
Al tersenyum tipis, perlahan menutup pintu kamar Istrinya. Lama-lama jadi gemes dengan tingkah Istrinya, kalo begini ceritanya Al mana tahan.
💪💪💪💪