Kisah seorang santri bernama Zahra Khoirunnisa yang di jodohkan dengan seorang pengusaha muda bernama Arkan yang tak lain adalah teman dari kakak nya.
Di satu sisi Zahra sudah menyukai seseorang dalam hatinya. Di sisi lain Zahra tidak bisa menolak keinginan ayahnya.
"Bagaimana aku bisa menikah dengannya, sedangkan hatiku sudah untuk orang lain"_Zahra
"Aku bukan orang baik, aku pemabuk dan aku juga tidak suka wanita sepertimu" _Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri risdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan
Zahra POV
Hari berganti Minggu, Minggu berganti Bulan. Tak terasa tiga bulan sudah aku dan mas Arkan menikah. Tapi, tidak ada perkembangan dengan kehidupan pernikahan kami. masih sama seperti sebelumnya.
Aku sangat ingin memperbaiki hubungan kami, sebagai mana suami istri lain nya. Aku ingin mencintai dan di cintai suami ku, di perlakukan romantis dan di ajak kemanapun dia pergi.
Mas Arkan sebenarnya baik, perhatian, dan tak pernah mengeluhkan apapun tentangku.
hanya saya dia tak banyak bicara dan lebih terlihat selalu menghindari ku. Sikap nya itu yang membuat ku sulit mendekat. Apa memang hati nya tertutup untukku?
Oh iya. Mas Arkan tetap akan menghilang menjelang pagi. Sudah beberapa kali aku berusaha mengikuti nya, dan tak sekalipun berhasil. Malam ini aku bertekan untuk bangun sebelum dia agar bisa menguntitnya.
"Zahra saya mau keluar sebentar, kamu mau saya belikan apa untuk makan malam?" Suaranya menyadarkan ku dari lamunan.
"Apa aja Mas"
"Yasudah kalau gitu saya pergi dulu" dia beranjak keluar.
Begitulah percakapan kita. singkat, padat dan jelas. Aku gak berani bertanya lebih karena takut dia tidak nyaman. Lagi pula kalau memang niat, dia sendiri yang akan bilang mau kemana.
Selama menikah kita bahkan belum pernah jalan berdua. paling sesekali keluar itupun hanya untuk belanja bulanan. Mas Arkan gak pernah ngajak aku keluar.
kadang aku pikir mungkin dia malu punya istri seperti aku, mengingat dia dulu pernah bilang kalau aku bukan wanita tipe nya.
"Yaudah lah dari pada mikirin sesuatu yang bikin sakit hati, mending sekarang bersih bersih rumah dulu."
Sembari beres-beres rumah, aku memutar alunan Sholawat kesukaanku.
##
Tak terasa hari sudah sore. Biasanya jam segini
mas Arkan sudah pulang.
"Mass Arkan kemana ya, aku jadi khawatir" gumamku.
"Mau nelpon gak ada nomor nya,"
Aku bahkan baru sadar kalau kami belum punya nomor masing-masing. Hubungan macam apa ini sebenarnya.
Setelah magrib,baru terdengar suara deru mobil di luar. Pasti itu mas Arkan. Aku segera membuka pintu.
"Assalamu'alaikum" ucap nya
"Waalaikumsalam" jawabku sambil menghampiri nya.
"Katanya tadi keluar sebentar mas" ucap ku sambil mengikuti nya masuk ke rumah.
"Iya tadi tiba tiba ada telepon dari asisten ku. katanya ada hal penting, jadi aku ke kantor dulu."
"ini buat kamu makan malam" ucap nya sambil memberikan sekotak makanan.
"Punya mas Arkan mana" Tanya ku
"Aku sudah makan malam tadi di luar" jawabnya datar
"Aku mau istirahat dulu" Ucap nya sambil berlalu meninggalkan ku.
Masih aja cuek. Aku tidak ingin terlalu banyak bertanya tadi karna mas Arkan terlihat lelah. Akhirnya aku pasrah makan malam sendiri disini. padahal dari tadi aku menunggu dia pulang. Setelah pulang tetap sendiri juga.
##
Hari sudah malam, Mas Arkan sudah tidur. katanya tadi lembur, makanya sepulang kerja dia langsung tidur mungkin karena kecapean.
Aku sendiri memutuskan untuk tidak tidur, karna ingin menjalankan misi. Misi menguntit Mas Arkan.
Pukul 3 dini hari, rasa nya mata ini sudah sangat berat tapi aku tahan agar tidak ketiduran.
Hampir saja masuk alam mimpi, aku di kagetkan dengan gerakan di sebelah ranjang ku. sepertinya itu mas Arkan. Ku lihat dia ke kamar mandi, mengganti baju, dan bergegas keluar. segera aku menyusulnya. kali ini aku tidak akan kehilangan jejak.
Jujur saja fikirkan ku sudah begitu buruk. Aku takut dia melakukan hal hal tidak baik. seperti dulu sebelum menikah.
sekitar 5 menit aku berjalan di belakangnya, akhirnya dia berhenti di tempat yang tidak ku duga. Ya Allah berdosanya aku Telah berburuk sangka.
Ku lihat mas Arkan kedalam mesjid. Sejenak aku tertegun, tidak menyangka dengan apa yang ku lihat.
Perlahan ku dekati, aku beringsut di pintu mesjid. Terlihat jelas di sana, suamiku sedang melaksanakan sholat dengan khusyuk nya.
Setelah beberapa saat ku lihat dia berdoa, aku berusaha mendengarkan doa doa nya, apa sebenarnya yang selama ini dia simpan dalam hatinya.
"Ya Allah aku sungguh bersyukur atas karunia yang engkau berikan kepadaku, dia adalah wanita cantik dan juga shalehah. Dia begitu berbakti kepadaku, mencuci baju, memasak, hingga menyadarkan ku dari kekhilafan selama ini." Kulihat dia berhenti sejenak, terisak dalam doa nya. Dia melanjutkan doanya.
"Namun hamba belum berani menyentuhnya. Ya Rabb, hamba tak pantas mendapatkan itu semua. Ya Rabb, agar Zahra tetap indah bersemi, datangkanlah seseorang yang layak untuknya. Seseorang yang setara dan sekupu dengannya, agar dia tak tersiksa dan malu bersuamikan denganku."
Aku tersentak mendengar ucapannya. Seolah ada getaran dasyat yang melingkupi tubuhku.
Seketika aku menangis dan bersimpuh. "Ya Allah ampunilah aku, aku telah berdosa karna berprasangka buruk terhadap suamiku. Bisikan kedalam hatinya betapa aku mencintainya, izinkan dia menjadi pendamping hidupku selama lamanya," Lirihku.
Dengan ledakan tangis yang tak mampu ku bendung, ku datangi suamiku.Dia terkejut melihatku. Dia terlihat tegang saat aku memeluknya tubuhnya, kurasakan tangannya bergetar saat membelai kepalaku.
"Suamiku, jangan pernah berfikir meninggalkanku.Aku adalah istrimu dan engkau berhak atasku." Ucapku di tengah tangisan. "Jadilah pendampingku, maafkanlah aku karna berburuk sangka padamu, aku sangat mencintaimu." Ungkapan perasaanku terucap begitu saja,
Perlahan kurasakan dia merangkul tubuhku.
"Ya Rabb engkau telah memberikan nikmat yang begitu besar padaku," Ku dengar ia berucap lirih di telingaku.
#Mohon krisannya ya readers. jangan lupa selalu dukung ya