NovelToon NovelToon
Sumayah

Sumayah

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / Misteri / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:206k
Nilai: 4.9
Nama Author: aisy hilyah

Teruntuk para wanita yang sedang memperjuangkan haknya untuk hidup. Teruntuk para ibu yang sedang mempertaruhkan segalanya demi si buah hati.

Sumayah, seorang wanita yang baru beberapa saat lalu mendapatkan gelar sebagai wanita sempurna. Menjadi seorang Ibu bagi anak yang baru saja dilahirkannya ke dunia dengan bertaruh nyawa. Berjuang antara hidup dan mati.

Ia harus melarikan diri sejauh mungkin membawa bayi yang baru saja terlahir demi menghindari rencana busuk suaminya. Perjalanan penuh luka, kaki tanpa alas itu harus bertahan di atas bara.

Sumayah difitnah. Di balik jeruji besi ia mendekam. Dingin dan mencekam udara dalam ruang sempit yang tak ramah itu, ia lalui dengan tegar dan keyakinan atas apa yang sedang ia perjuangkan.

Sampai ia mencapai tujuannya, Sumayah tak akan menghentikan langkah meski harus memeras darah, ia tak akan berhenti berjuang.

Sumayah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Hilang

Teriknya mentari membuat denyut di kepala semakin menjadi. Luka di kulit dada yang terus disesap bagai disiram air garam, perih dan panas. Sama panasnya dengan sang Surya pemilik cahaya terkuat.

Sumayah merintih, meringis, ia menggigit daging bibirnya menahan setiap perih yang dihantarkan luka di sekujur tubuh. Telapak kaki hingga ujung kepala, semua berdenyut nyeri. Bergelenyar di setiap sendi membuatnya serasa akan putus.

Urat-urat di kepala menonjol akibat rasa sakit yang hebat, otot-otot di sekujur tubuh kehilangan fungsi dengan baik. Sumayah lunglai, tak bertenaga. Tiada daya dan upaya walau sekedar untuk berpindah tempat saja.

Tenggorokannya bergerak naik turun menelan ludah guna membasahinya. Darah merembes dari sela-sela bibirnya yang kering nan pucat. Sumayah berdesis lemah.

"Haus ... aku butuh air, ya Allah!" lirih Sumayah dengan mata terpejam. Kelopak itu bahkan terasa berat untuk dibuka. Dunia seolah berputar, langit serasa akan runtuh menimpa diri saat matanya terbuka sedikit.

Di tengah keputusasaan itu, telinga Sumayah mendengar sesuatu di kejauhan. Samar sehingga ia harus mempertajam indera rungunya untuk memastikan suara yang ia dengar.

"Air ... itu air ...." gumamnya serak.

Sumayah membuka paksa kelopak matanya, rasa pening segera menyerbu. Keadaan di sekitar seperti fatamorgana di penglihatannya. Berputar tiada henti membuat kepalanya berdenyut-denyut tak terperi.

"Allahu ... kuat, aku harus kuat," ucapnya dengan napas tersengal. Ia berdesis saat gusi bayinya menggigit gemas daging di dalam mulut. Mungkin ia geram dari butiran daging itu tak kunjung keluar air.

Sumayah menarik kulit dadanya, ia membiarkan bayi itu menangis. Harapan ada di depan mata, air yang dicarinya ada di balik semak itu. Sumayah mengerahkan seluruh tenaganya untuk bangkit.

Ia berdiri tegak meski sakit dari luka-luka di kaki terus-menerus menghujam rasanya. Ia harus berjalan sampai di tempat air itu berada. Ia membawa dirinya serta Salim yang terus menangis menuju suara riak air yang ia dengar secara samar.

Dengan langkah terseret hingga menyebabkan jejak berdarah di setiap bebatuan yang ia pijak, Sumayah berjuang untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

"Sabar, Nak! Sebentar lagi kau akan dapat minum," gumam Sumayah dengan suara parau akibat keringnya tenggorokan.

Tangan kanannya yang bebas ia gunakan untuk membuka jalan, semak-semak yang tinggi disibaknya hingga terbuka. Sumayah menerobos masuk ke dalam semak, terus menyeret kakinya yang terluka hingga sampai di tepi sungai.

"Air! Ya Allah, ada air! Alhamdulillah!" pekik Sumayah dengan kedua bola mata berbinar-binar. Semakin cepat ia membawa kakinya berayun, kulit bibir yang terasa perih saat ia menariknya ke atas tak dihiraukan.

Senang bukan main, menemukan air seperti menjumpai sebuah oase di tengah gurun pasir yang tandus. Sumayah menjatuhkan diri di atas bebatuan kali, bertumpu pada kedua lutut di tepi aliran sungai jernih itu.

Sumayah meletakkan bayi Salim di atas bebatuan kering. Ia meraup air sungai menggunakan kedua tangannya, membasuh wajah untuk mendinginkan rasa panas yang membakar kulitnya.

Tak lupa diteguknya air sungai itu berkali-kali. Rasa segar seketika mengalir di tenggorokan memberikan rasa nyaman yang terus mengalir hingga ke lambungnya yang perih.

"Alhamdulillah, ya Allah ... Engkau masih memberi pertolongan kepadaku. Alhamdulillah, Engkau tidak pernah meninggalkanku sedetik pun. Aku bersyukur kepadamu, ya Robbi Tuhan Semesta Alam," syukur Sumayah menjatuhkan kepalanya tersungkur di batu kali yang basah. Bersujud penuh syukur pada Tuhan Semesta Alam.

Air mata bahagia tak terkira mengalir kembali, ini tangis bahagia dari Sumayah. Sujudnya terhenti saat suara Salim menangis kembali mengusik. Ia beranjak duduk bersila di tepi sungai sembari memangku Salim.

"Maaf, Nak! Tidak apa, bukan, untuk saat ini kau minum air sungai dulu. Insya Allah ada keberkahan di dalamnya karena ini adalah bentuk pertolongan dari-Nya," ucap Sumayah sembari menyiduk air mengunakan tangan kanannya dan mendekatkannya pada bibir Salim.

"Bismillahirrahmanirrahim ... dengan rahmat dan cinta Allah jadilah anak yang sholeh. Berani dan terdepan dalam membela keadilan dan menghapus keangkaramurkaan. Jadilah Salim yang kuat yang tak terkalahkan oleh musuh. Jadilah Salim yang cerdas secerdas Pemilik nama ini yang sesungguhnya. Salim, Putraku!"

Air di tangan Sumayah menetes secara perlahan di bibir mungil bayi itu. Merembes ke sela-sela bibirnya menelusup hingga ke langit-langit mulut. Salim membuka mulut seolah meminta lebih dari apa yang baru saja menetes ke dalam mulutnya.

Bayi itu terdiam, ia menjadi tenang. Matanya yang terang memancar penuh kedamaian. Sumayah mengusap sudut mata kecil itu. Air matanya tak tertahan menetes begitu saja, tepat saat tangan mungil Salim meraba wajahnya. Bayi itu seolah mencegah air mata sang Ibu menetes ke bumi.

Sumayah menggenggam jemari kecil itu dan menciuminya. Ia tersenyum, air mata yang ia teteskan adalah bentuk kebahagiaan darinya. Salim memberikan kebahagiaan dalam bentuk lain untuk hidupnya.

"Ibu berjanji setelah semua ini berakhir, kau hanya akan menemukan kebahagiaan dalam hidupmu, Nak."

Gelak tawa Salim seolah mengaminkan doa sang Ibu. Bayi merah itu tersenyum menghantarkan gelenyar bahagia pada setiap pembuluh darah dalam diri Sumayah. Ia mendekap Salim memberinya rasa hangat dari sentuhan kulit mereka.

Dibalik semak, di tempat Sumayah beristirahat, di batu besar bekas bersandar wanita itu, orang-orang berseragam hitam datang bergerombol memeriksa tempat itu.

"Cepat periksa sekitar tempat ini!" Suara teriakan itu menyentak tubuh Sumayah. Ia termenung, duduk bersimpuh di tepi sungai. Berpasrah pada nasib. Sumayah memejamkan mata.

Suara derap langkah yang banyak membuat Sumayah tersadar bahwa ia harus segera bangkit melarikan diri. Ia berdiri dan berjalan menyusuri sungai. Entah ke mana kaki akan membawanya, yang pasti ia harus menjauh dari orang-orang yang mengejarnya.

Jejak darah yang ditinggalkannya hilang terhapus air sungai yang akan naik hanya untuk menghapus jejaknya. Kuasa Tuhan, dengan cara-Nya sendiri ia menyelamatkan hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan.

Di tepi sungai itu tak satu pun jejak kaki berdarah milik Sumayah tertinggal. Semua pupus seolah seseorang langsung menghapusnya begitu saja. Sumayah terus berjalan menyusuri aliran sungai jernih.

"Jejaknya hilang!" seru salah satu dari mereka. Orang-orang itu telah sampai di tepi sungai tempat Sumayah tadi meneguk air.

"Kurang ajar! Ke mana dia pergi!" hardik pemimpin mereka dengan panik.

"Kemungkinan ke seberang sana karena jejak kakinya hilang di sini," sahut yang lain menunjuk pada pesawahan yang berada di seberang sungai.

"Kau yakin tadi melihat jejak kakinya di sini?" tanyanya sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Tak ada jejak apa pun di sana.

"I-iya, di si ... ni." Kalimatnya tersangkut saat ia melihat pada bebatuan yang tertinggal jejak Sumayah. Namun, kini jejak itu raib seolah tak pernah ada apa pun di sana. Ia termangu, merasa bingung sendiri. Hatinya bergumam apakah matanya salah melihat karena semalaman tak henti mencari Sumayah.

"Bodoh! Tak ada apa pun di sini! Kembali!" putus pemimpin mereka sembari berbalik meninggalkan tepi sungai itu diikuti yang lain. Kecuali dia yang masih berdiri tertegun mengingat-ingat apa yang dilihatnya tadi bukanlah sekedar halusinasi.

"Ayo, kita kembali!" tegur rekannya sembari menekuk punggung laki-laki itu untuk bergegas mengikuti yang lain.

Selamatlah Sumayah beserta anaknya dari kejaran orang-orang suaminya.

1
zz
pembaca ikut tegang
Daliffa
menarik
Endang Sulistia
bagus thor
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Endang Sulistia
mantap Thor 👍👍👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Endang Sulistia
Kevin goblok...udah berapa taon masih aja blom safar2
Endang Sulistia
siro selingkuh kah...🤦🤦🤣🤣🤣
Endang Sulistia
pengen lindas si kevin
Raden
sedih banget🥹🥹🥹🥹
Raden
alhamdulilah akhirnya selamet dari kejaran orang orang zalim, deg deg kan juga bacanya
Raden
kuat kuat sumayah ayo semangat🥹🥹🥹
Raden
ya Alloh bikin dek dek kan critanya, banjir banjir air mata🥹🥹🥹
riiina
salut dengan tekad perjuangan Sumayah....
Aisy Hilyah: setiap ibu pasti akan seperti itu
total 1 replies
riiina
Aku pingin baca ini lagi kak Aisy....😊
Aisy Hilyah: silahkan kakak
total 1 replies
neur
kereeen 👍😎❤
Ra Jib
suka..
Aisy Hilyah: Alhamdulillah terima kasih banyak
total 1 replies
Retno Elek
Luar biasa
Anonim
lafazkan terus nm allah ..
dzat pembawa kehidupan.
novel yg sgt bagus & menyentuh hati nurani prmpuan.
kk .. sgt hebat menuliskannya.
smg novel kk ini membawa rating tertinggi.
Aisy Hilyah: aamiin terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
YK
lari terus, capek...
YK
dasar penjilat...
Wiwin Wintarsih
ya ampun kenapa baru nemu cerita sekeren ini. 🥰👍👍👍👍
Aisy Hilyah: terima kasih banyak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!