Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 9
Waktu terus berlalu. Jarum jam tak pernah berhenti berputar, dari detik, menit, jam, menjadi hari yang terus berganti dan berkumpul menjadi bulan. Bulan-bulan pun tak mau kalah untuk berhenti. Kini telah memasuki bulan Oktober, 6 bulan setelah tragedi pengeboman itu. Meski telah selama itu namun Putri masih tak bergeming dari ranjangnya. Bahkan meski itu hanya sebuah herakan kecil dari jarinya.
Luka-luka ditubuhnya telah sembuh, kondisi fisiknya dinyatakan sehat. Namun nampaknya kondisi psikologisnya yang membuatnya tak kunjung terbangun dari tidur panjangnya. Mungkin saat ini ia sedang memimpikan mimpi indah yang membuatnya enggan untuk kembali.
Semuanya beraktifitas seperti biasa, Doni tak lagi berjaga setiap hari dirumah sakit, namun dia akan mampir diwaktu senggang untuk menanyakan perkembangan kesehatan Putri. Begitu pula dengan Lin, meski tak masuk kedalam ruang rawat, namun ia selalu datang 1 minggu sekali.
Diah masih tetap berjualan di SD dekat kontrakannya yang terkadang dibantu oleh Andrea yang selalu beralasan ingin bertemu dengan Dezza. Ia mulai bisa mengikhlaslkan adiknya yang tak kunjung ada kabarnya.
Begitu pula dengan kedua orang tuanya didesa. Meski terkadang ibu Hapsari masih suka menangis saat sedang berkebun, memasak, menonton tv, bahkan terkadang ia harus terbangun dari tidurnya jika teringat dengan anak bungsunya itu, namun Sebastian yang merupakan suaminya selalu setia menghiburnya.
" Sudahlah bu, Ayah juga sedih, tapi ibu ingat saja, ini semua sudah diatur oleh yang maha kuasa, insya allah, kalu memang anak kita itu selamat, pasti kita akan dipertemukan kembali. Tapi kalau memang tidak selamat, kita harus bisa mengikhlaskannya. Anak, harta, semua itu cuma titipan agar kita selalu bersyukur. Yang namanya titipan, bisa kapan saja diambil kembali oleh yang menitipkannya. Jangan menyalahkan siapa-siapa. Karena memang tak pantas jika kita menyalahkan orang lain atas kemalangan kita. " Ujar Ayah
Diusap-usapnya punggung istrinya itu untuk menenangka Ibu yang kembali menangis saat sedang memnersihkan rumput dikebun, meski ia sendiri berusaha menahan air mata yang hampir menitik dipipinya. Sebagai seorang kepala keluarga dan seorang ayah, ia tak ingin memperlihatkan kesedihannya. Karena baginya, ia harus bisa menjadi kekuatan bagi keluarganya.
" Lihat bu. " Serunya sambil menunjuk tanaman cabai yang menghampar disekelilingnya. " Kita bisa gagal panen kalau Ibu terus-terusan menangis kayak gini. " Ujarnya kemudian.
" Apa sih ayah, tidak ada hubungannya. " Sahut Ibu sesegukan.
" Kata siapa tidak ada hubungannya. Kita tanam mereka dengan sepenuh hati seperti anak kita sendiri. Tentu mereka dapat merasakan perasaan sedih Ibu. Mereka jadi ikut sedih. Akhirnya jadi layu, buahnya nggak banyak lagi. Terus buahnya yang cuma sedikit itu ikutan layu juga. Ibu lemes, mereka juga, rambut Ibu rontok, mereka juga, daun-daunnya ikut rontok. Coba deh Ibu bayangin, sudah pasti kita gagal panen. " Kata Sbastian kemudian.
" Emangnya malika, ditanam sepenuh hati. Aneh-aneh saja Ayah ni. " Seloroh Hapsari yang mulai lupa dengan kesedihannya.
" Nah, gitu dong, jangan sedih terus. Udah nanti kita makan bakso di D6*. "
" Iya, Yah. Terima kasih ya, Ayah selalu mau hibur ibu tiap ibu lagi sedih gini. " Ujar Hapsari sambil menyeka air matanya.
" Iya, udah ayok lanjutin lagi kerjanya. Mewek terus, kapan selesainya. " Ajak Sbastian memberi semangat.
Sementara itu di negeri nun jauh disana, Lin Fengyin selalu sibuk dengan pekerjaannya, meski memiliki paras yang rupawan, tampan, muda, namun telah memiliki perusahaannya sendiri, di China maupun di Indonesia. Cabang perusahaannya telah tersebar dibeberapa negara di Asia tenggara, termasuk Korea, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Harta berlimpah, rumah yang mewah, mobil yang berjejer digarasi, tak ada kekurangan apaoun. Termasuk keluarga yang harmonispun ia miliki. Meski tak lagi tinggal bersama, namun Lin sering berkunjung ke kediaman orang tuanya disela-sela kesibukannya. Ia juga rajin menghubungi adik satu-satunya yang saat ini tengah mengemban ilmu dimegeri paman sam.
Sebenarnya sampai saat ini, saat ia telah menginjak usia hampir kepala tiga ia masih belum memiliki pasangan. Beberapa kali ia mencoba dekat dengan beberapa wanita yang dikenalkan kepadanya, namun semuanya tak bertahan lama. Baginya wanita hanyalah beban dan pembuat masalah. Dan itu semua tak lebih hanyalah sebuah bisnis belaka.
Pertanyaan-pertanyaan membosankan tentang kapan dia menikah itu selalu ia dapati dan dengar. Namun Lin selalu saja mengabaikannya. Sampai kedua orang tuanya yang sudah tak tahan lagi-lagi berinisiatif mengenalkan beberapa gadis kepadanya. Seperti hari ini, kedua oranh tuanya mengundanhnya untuk makan malam dikediaman mereka. Tak lain dan tak bukan, tujuannya adalah untuk mengenalkannya pada seseorang.
Tidak salah lagi. Begitu memasuki pintu rumah tersebut, sayup-sayup terdengar suara canda tawa dari dalam rumah tersebut. Meski ia tau tujuan Ibunya memaksanya untuk datang, namun ia tetap mencoba untuk tenang seolah tak tau apa yang sebenarnya terjadi.
" Selamat datang, tuan muda. " Sapa salah seorang pelayan yang langsung menyambutnya begitu ia memasuki pintu. " Tuan dan nyonya sudah menunggu didalam. " Ujarnya lagi. Kemudian pelayan itu membimbing Lin menuju ruang keluarga dimana kedua orang tuanya sedang mengobrol dengan dua orang tamu yang tak begitu akrab dimatanya.
" Apakah saya mengganggu ?" Sapa Lin begitu memasuki ruangan tersebut.
Seketika yang ada didalam ruangan itu langsung memalingkan wajah mereka kearah sumber suara yang terdengar begitu cool dan maskulin keluar dari bibir seorang pria muda tampan nan gagah. Tak terkecuali sepasang mata seorang gadis muda yang tak mampu ia kedipkan begitu melihat sosok "Lin" yang sedang mereka perbincangkan.
*sebutan lain untuk nama desa didaerah bengkulu utara.
Jangan lupa like, klik favorite dan tinggalkan komen kalian untuk kritik dan sarannya ya sahabat readers. Terima kasih😊😊😊