Zyta. Sherlyzyta Mezzaluna menyukai Adam. Kakak kelasnya sejak menengah pertama. Zyta yang termasuk gadis pendiam tak tau apa yang harus dilakukannya saat perasaan asing dan baru pertama kali dirasakannya kepada Adam.
Ingin mendekat tapi tak tau caranya dan hanya dapat melihat dari kejauhan.
Bertahun-tahun berlalu, rasa itu masih ada. Melekat kuat bagaikan prangko pada kertas surat.Waktu yang lalu dan waktu yang sekarang telah berubah. Kata orang bagai langit dan bumi. Terlihat dekat namun jauh. Seolah mudah tergapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 : Zyta's Rules
Happy Reading, chu~😘
! : Typo manjah Bertebaran
📋 Zyta's Rules
Sudah ada 2 jam mereka -Eldan dan Zyta- berbincang-bincang, membahas apapun yang bisa mereka bahas bahkan mereka terlihat sebagai teman lama yang sudah tak sangat lama tak berjumpa satu sama lain. Zyta menyeruput greentea lattenya pelan.
"Jadi, kau setujukan?"
Eldan mengangkat kepalanya dari layar ponselnya lalu berdeham dan mengangguk.
"Kalau begitu, kita ke tempatku untuk membahasnya lebih lanjut," ujar Zyta meminum greentea lattenya hingga tandas.
"Ayo," ajak Zyta berdiri dan melangkah meninggalkan cafe diikuti Eldan dibelakangnya.
Zyta berhenti dan menolehkan kepalanya kebelakang lalu menghela napasnya.
"Lebih baik sedikit demi sedikit kuberitahukan padamu. Jadi, dengarkanlah baik-baik," ujar Zyta mengacungkan jari telunjuknya dan Eldan mengangguk.
"Yang pertama, jangan pernah berjalan dibelakangku,"
Zyta meraih tangan Eldan lalu melingkarkan tangannya dilengan Eldan sehingga mereka berdampingan sekarang.
"Yuk!" ujar Zyta kembali melangkah diikuti Eldan, jadi mereka akhirnya berjalan berdampingan.
"Oh ya, Eldan. Berapa umurmu?" tanya Zyta saat mereka menuju parkiran karena Zyzy cafe berada di salah satu mall terbesar.
"23 tahun," jawab Eldan mengusap tengkuknya malu.
Zyta memasang wajah kaget, "23 tahun? WOW!! 5 tahun lebih muda dariku, dong. Aduhh.. beruntungnya aku mendapatkan pria muda dan tampan sepertimu. Aku merasa sangat tua sekarang," bohong Zyta dengan tawa kecil.
Eldan memasang wajah kaget, "5 tahun lebih tua?" Zyta mengangguk.
"Beneran mbak 5 tahun lebih tua dariku?"
Zyta kembali mengangguk berakting. Tidak apalah untuk kali ini menuakan dirinya. Demi pria disampingnya ini.
"Masa sih? Mbak kelihatan masih sangat muda loh kayak umur 17 tahun,"
Dalam hati Zyta tertawa, tentu saja terlihat muda sedangkan Zyta baru saja berumur 22 tahun. Tahun ini. Zyta terkekeh lalu mencubit lengan Eldan pelan.
"Kau bisa saja, tapi terima kasih atas pujiannya,"
"Tapi, mbak. Di umur mbak yang saat ini kok belum menikah? Bahkan masih...,"
Zyta berhenti dari melangkah. Ia merutuki dirinya karena lupa mencari alasan untuk yang satu itu. Bodoh sekali dirinya, batin Zyta.
"Errr.. ada.. ada something, lah. Jadi, belum ada niat menikah bahkan sampai seperti itu,"
Zyta mengalihkan pandangannya bahkan rangkulan dilengan Eldan tanpa disadarinya terlepas. Eldan kembali mengusap tengkuknya dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Maaf, mbak. Nggak maksud mau bahas hal yang nggak mbak suka,"
Zyta tersenyum dan terkekeh melihat tingkah Eldan yang menurutnya sangat manis. Ingin rasanya Zyta menerjang tubuh pria didepannya dan memberikan setiap jengkal wajah pria itu dengan ciumannya.
"Gak papa. Udahlah. Gak penting juga. Yuk, jalan lagi," ujar Zyta kembali mengampit tangan Eldan dan kembali berjalan menuju mobilnya yang kurang 3 mobil lagi yang perlu dilewati.
"Mbak, bawa mobil?"
Zyta mengangguk setelah mereka berhenti didepan mobil putih Zyta.
"Biar kusetirkan. Boleh?"
Zyta tersenyum lalu mengangguk, "Tentu saja," ujarnya setengah berjinjit dan mengacak pelan rambut Eldan lalu berjalan memasuki mobilnya.
Zyta sangat bahagia karena berhasil menyentuh rambut Eldan. Tak apa-apa. Pasti Eldan juga sering mendapat perlakuan seperti itu dari wanita-wanita yang pernah menyewanya dulu.
Jika mengingatnya hati Zyta terasa sakit tapi tak apa, asalkan ia dapat dekat dengan Adam.
📋📋📋📋📋
Ceklek~
"Selamat datang," ujar Zyta membuka pintu apartementnya.
Eldan mengedarkan pandangannya kepenjuru apartement Zyta, "Apartement mbak Zy besar,"
Zyta terkekeh mendengar ucapan Eldan. Jika menurut Zyta sendiri, ini termasuk apartement yang kecil.
"Masuk yuk,"
Eldan mengangguk dan mengikuti Zyta memasuki apartementnya.
"Duduk dulu. Kubuatkan minum,"
Eldan yang tengah mengamati apartement Zyta tersadar dan mengangguk
"Nyamankan dirimu senyaman-nyamannya seolah rumahmu sendiri,"
Zyta segera melangkah pergi menuju dapur. Zyta meluruh kebawah saat ia sampai di pantry.
Kakinya terasa lemas sekarang dan juga ia bingung saat menghadapi Eldan nanti ia harus bersikap seperti apa. Ia dilanda rasa gugup tingkah tinggi. Otaknya yang sudah diasah bertahun-tahun mendadak tumpul.
Zyta menutup kedua wajahnya saat mengingat wajah memerah Eldan yang kedapati tengah mengagumi apartement. Benar juga. Eldan tak semampu dirinya. Tak sekaya dirinya yang bisa mendapatkan apapun dengan mudah.
Sekarang Zyta dilanda kebingungan. Apakah Eldan mau menerima permintaannya atau malah menolaknya. Zyta tak tau biarkan saja nanti ia mendapatkan jawabannya sendiri dari orangnya daripada berspekulasi tak berujung seperti ini.
Zyta berusaha berdiri dengan kaki yang masih lemas. Zyta mengambil napas banyak-banyak lalu membuangnya perlahan. Berulang kali.
"Yosh... semangat Zyta," ujar Zyta menyemangati dirinya.
Zyta kembali keruang tamu dengan 2 jus jeruk ditangannya.
"Silahkan," ujar Zyta meletakkan jus tersebut dimeja lalu duduk diseberang Eldan. Eldan mengucapkan terima kasih.
"Sekarang apa yang harus kita bahas? Kurasa tidak ada karena semuanya tadi sudah kita bahas di cafe. Eumm... bagaimana kalau kita langsung keintinya saja?"
Zyta terkekeh kecil melihat wajah kebingungan Eldan sedangkan pria didepan Zyta ini semakin bingung karena kekehan Zyta.
"Tunggu sebentar," ujar Zyta beranjak dari duduknya dan setengah berlari menuju kamarnya.
Tak berapa lama Zyta kembali dengan map coklat ditangannya. Setelah didepan Eldan, Zyta menyodorkan map tersebut yang diterima Eldan dengan wajah bingung.
"Bukalah,"
Dengan ragu Eldan membuka map tersebut yang berisi beberapa kertas. Eldan memandang Zyta sebentar lalu membaca tulisan-tulisan dikertas tersebut. Eldan memandang Zyta dan gadis itu mengangguk.
"Itu adalah beberapa hal yang boleh dan tak boleh kau lakukan,"
Eldan mengangguk dan kembali membaca map tersebut dengan dahi berkerut, Zyta menangkap ada yang aneh dengan Eldan.
"Kenapa?"
Eldan menggeleng, "Hanya saja... biasanya jika seperti ini para wanita yang menye...,"
"Aku paham," potong Zyta.
"Tapi, aku buka wanita-wanita itu. Aku hanya ingin kau menjadi kekasihku. Semua biaya hidupmu, aku yang menanggungnya termasuk biaya sekolah adikmu. Juga aku ingin kau bekerja di cafe milikku," lanjut Zyta menjelaskan dan Eldan membulatkan matanya kaget.
Bagaimana mungkin wanita didepannya ini tau jika ia mempunyai seorang adik. Wanita didepannya ini benar-benar menakutkan.
"Bagaimana mbak tau kalau aku punya adik?"
Zyta tersenyum misterius, "Itu tak penting yang pasti. Kau maukan?"
Eldan meletakkan map tersebut diatas meja dan mengusap tengkuknya.
"Eumm... bagaimana, ya? Di kertas itu, tertulis kalau aku harus menjadi kekasihmu selama 6 bulan. Kurasa itu terlalu lama,"
Zyta menghela napasnya, "Eldan dengar. Aku bisa membiayai semua kebutuhanmu. Menfasilitasimu, keluargamu, atau adikmu dan memberikan apapun yang kau inginkan. Tapi, sebagai gantinyanya kau harus menjadi kekasihku seperti yang tertera didalam kertas. Bukankah kau juga membutuhkan banyak uang untuk sekolah adikmu?"
Eldan terdiam. Benar dengan apa yang dikatakan Zyta ia membutuhkan banyak biaya untuk menghidupi adiknya. Sedangkan pekerjaan yang diterimanya masih serabutan tak jelas.
Dan juga sekarang semua kebutuhan juga naik hingga ia harus bekerja ekstra termasuk pekerjaan gelapnya.
"Bagaimana?" ujar Zyta menaikkan sebelah alisnya tak sabar melihat Eldan yang terus saja berpikir.
Eldan menatap Zyta lama sebelum akhirnya mengangguk pelan sedangkan Zyta sendiri tersenyum lebar.
Bagus. Kalau begitu sekarang ikut aku," ujar Zyta berdiri dari duduknya.
Eldan memandang Zyta bingung, "Kemana?"
"Pekerjaan pertamamu. Ayo," ujar Zyta meraih tangan pria itu lalu menyeretnya meninggalkan apartement.
🎡📋🎡TBC🎡📋🎡
Itulah cerita absurd penuh typo-typo muanjyahh dari aing~ Thank's for u~ See u next chapter~ By Queen of typo much💋💋
5 ⭐⭐⭐⭐⭐
bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA