"Aku bukan dalang dari kematian orang tuamu"
Diasuh oleh kedua orang tua orang lain sejak kecil karena kematian orang tuanya, namun anak dari orang tua asuhnya mencintainya sehingga mereka menjadi sepasang kekasih, hubungannya mereka sempurna karena mendapatkan restu dari orang tuanya.
Namun, hal buruk menimpa keluarganya, tiba-tiba seseorang datang ke rumahnya dan membunuh kedua orang tuanya, dan mengatakan kalau ini adalah Siska, salah satu anak angkatnya.
Hal ini membuat Devan (anak kandungnya +kekasih Siska sendiri) menjadi membencinya, sudah berulang kali Siska katakan bulan dia pelakunya namun Devan tak pernah percaya.
Penuh misteri, apakah kebenarannya akan terungkap, siapakah pembunuh yang sebenarnya?
Akankah Devan terlambat?
Mampukah Siska tetap bertahan di sisi Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naaaaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah
Rumah
Sampainya di rumah, Devan langsung membuka pintu mobil lalu pergi kedalam rumah.
"Dimana perempuan itu?" Devan bertanya pada salah satu pengawal yang ia temui.
"Nona masih di dalam kamar tuan" kata pengawal memberitahu Devan.
Devan langsung berlari menuju kamar Siska dan kembali menendang pintu dengan keras.
"Bruak................" Suara tendangan pintu yang keras
"Devan.......aku mohon izinkan aku Dev..." Siska masih mencoba memohon pada Devan agar ia diizinkan untuk pergi ke pemakaman Herry dan Essy.
"Apa kau pikir aku bodoh?"
"Aku tak akan mengizinkan wanita sepertimu pergi kesana!"
"KATAKAN!"
"Siapa orang yang kau suruh membunuh orang tuaku?"
"Apa yang kau inginkan?"
"Dev...aku sungguh tak tau.....hiks...." Siska menangis mendengar pertanyaan yang Devan lontarkan.
Devan menjambak rambut Siska dengan keras"Aku akan membuatmu mengakui semuanya!"
"Hiks......Dev....ini sakit Dev...." Siska merintih kesakitan.
"Sakit hm?"
"Ini hanya permulaan!"
"Ini hanyalah permulaan Siska"
"Hidup sesungguhnya akan segera menghampiri dirimu!"
"Kau tak akan pernah bisa hidup bahagia lagi!"
Devan langsung menghempaskan Siska ke lantai lalu berjalan keluar namun sebelum itu Siska menghentikan langkahnya.
"Dev.......bukan aku"
"Sungguh itu bukan aku...."
"Aku tak mungkin melakukannya Van"
"Aku menyayangi mama dan papa seperti aku menyayangi diri mu"
"Aku tak akan pernah melakukannya" Siska memegang tangan Devan berharap Devan mau mendengarkan diri nya
"Jangan pernah memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa!"
"Dia bukan mama papamu!"
"Dan kini ayah dan ibuku pasti sudah menyesal karena telah merawat dirimu"
"Dia tak akan pernah Sudi dipanggil mama dan papa oleh seorang seperti dirimu!"
"Dan satu lagi!"
"Kita tidak ada hubungan apapun mulai saat ini!"
"Simpan saja rasa sayang mu itu pada orang-orang suruhanmu!"
Setelah mengatakan itu Devan langsung keluar dan kembali mengunci pintu kamar Siska.
Sementara Siska dikamar…………
" Mengapa ini terjadi padaku?"
"Ayah dan ibuku pergi meninggalkan diriku"
"Dan saat aku merasa bahagia semua ini malah menimpa hidup ku"
"Mama Essy dan papa Herry juga pergi meninggalkan diri ku"
"Bahkan sekarang Devan juga sudah membenciku"
"Aku tidak tau apakah aku akan sanggup menjalankan hidupku lagi?"
"Sampai kapan aku akan bertahan?"
"Aku sungguh tak sanggup lagi... hiks....hiks........." Siska menyesali semua yang kini sudah terjadi, kini dia tidak tau entah sampai kapan dia bisa terus menjalani hidup dengan keadaan seperti ini.
"Aduh.....kepalaku sakit sekali" menyentuh kepalanya.
"Apa ini?darah?"
"Sakit sekali hiks......hiks ......hiks ....,."
"Sangat sakit...hiks...hiks......" Setelah beberapa lama Siska menahan sakitnya akhirnya dia jatuh tak sadarkan diri.
"Tuan mengapa tanganmu berdarah?" Tanya bibi yang menyadari tangan Devan berdarah.
"Darah apa ini?"
"Aku tidak terluka sedikitpun" Devan berpikir dalam hati sambil terus berpikir darimana darah di tangannya berasal.
Beberapa menit kemudian Devan baru menyadari kalau tadi sebelum ke pemakaman ia sempat mendorong Siska sampai kepala terluka karena terbentur ujung meja.
"Urus wanita itu!" Ungkap Devan menyuruh bibi mengurus Siska.
Bibi langsung masuk kedalam kamar Siska lalu membukanya.
Alangkah terkejutnya saat dia melihat Siska terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Tuan......nona tuan..."
Devan langsung menghampiri bibi dilihatnya Siska yang sudah tak sadarkan diri dengan cepat Devan mengangkat tubuh Siska.
Dilihatnya darah yang masih mengalir dari kepala Siska.
"Cepat siapkan mobil"
"Baiklah tuan"
Devan dan Anton serta bibi pergi ke rumah sakit.