Kisah cinta seorang gadis cantik yang rela mengorbankan masa depan demi kakak kesayangannya. Anin rela menikah dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Anindira, harus menjadi pengantin pengganti kakaknya yang kabur. Tak disangka sebelumnya, jika hari ini dia akan menjadi seorang pengantin dan menikah dengan calon suami kakaknya sendiri.
Akankah rumah tangga Anin dan Rico bertahan lama dan membuahkan benih cinta atau sebaliknya?
ikuti terus kisahnya....
ig :sitijenab451
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Jenab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran part 1
“Nona Tiara bukanlah anak kandung Keluarga Bramantyo” Jelasnya
“APA…!!!?” Tangannya menggebrak keras meja di depannya hingga terdengar sangat nyaring di ruangan tersebut.
Berita yang dibawa Juna, sukses membuat Rico membulatkan mata. Rico sangat terkejut mendengar kabar satu ini.
Tiara bukan anak kandung keluarga Bramantyo? Kenapa dia baru mengetahuinya.
Rico tidak pernah mencari Identitas Tiara sebelumnya, karena baginya itu sudah terpampang jelas di semua majalah dan social media jika dia adalah anak keluarga Bramantyo. Hal itu tidak menimbulkan kecurigaan bagi Rico.
Rico terdiam. Sekertaris Juna bergidik ngeri ketika tuannya tersenyum penuh arti.
“Pantas saja dia kabur dan tidak memperdulikan malu yang ditanggung keluarga Bramantyo.!” Ujar Rico tersenyum sinis.
“Iya tuan, kita juga mendapatkan undangan ulang tahun perusahaan tuan Jack (Ayah Daniel)”
“Kerja bagus Jun.. .! Siapkan semuanya aku akan kesana.” Ucap Rico tegas dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.
“Baik tuan” Ucap Juna sambil membungkukan badan kemudian melangkan pergi.
Dikamar
Anindira mencari-cari kotak P3K yang mungkin tersedia dikamar Rico, Anindira berjalan menuju nakas tepat di samping tempat tidur Rico.
Anindira sempat mematung melihat foto yang terpajang di atas nakas. Foto sepasang kekasih yang sedang duduk berdampingan sambil si pria mencium pipi wanitanya yang tak lain adalah Tiara (Kakaknya).
Ya, foto yang dipajang diatas nakas adalah foto kebersamaan Rico dan Tiara.
Sedikit banyak hatinya tergores melihat begitu besar cinta Rico kepada kak Tiara. Hal itu dibuktikan dengan dia masih menyimpan foto mereka disaat dia sudah menikah sekalipun.
Hey apa yang kau fikirkan Anindira, ingatlah batasanmu. Gumam Anindira menyadarkan dirinya sendiri.
Anindira menemukan apa yang dicarinya di nakas Rico, kemudian ia mengambilnya dan berjalan menuju meja rias. mulai mengoles seluruh bagian wajah, menyingkirkan rambut hitam kesamping telinganya.
“Pantas saja pak Mud langsung bertanya tadi, wajahku sudah seperti make over gagal.” Ucap Anindira cekikian.
Seorang pria menyerngitkat dahinya melihat kelaukuan Anin.
“Gadis aneh..!” Gumam Rico yang aneh terhadap tingkah Anindira. Sedang sakit bukannya menangis malah tertawa.
Anindira yang sedang sibuk mengoleskan salep diwajahnya dikejutkan dengan sosok Rico dibelakangnya. Sosok itu terlihat dari pantulan kaca sedang melipat tangan menatap kearahnya. Anindira jadi kikuk ketika Rico tak kunjung pergi dari posisinya.
Rico terus saja menatap Anindira dan memerhatikan gerak-geriknya.
“Ada yang anda butuhkan tuan?” Tanya Anindira berhati-hati takut jika membuat mood Rico kembali buruk.
Tapi Rico tak menggubris pertanyaan Anindira, membuat Anindira menghembuskan nafasnya pelan kemudian melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan keberadaan Rico dibelakang nya.
Rico yang menyadari akan kebodohnya langsung enyah dari posisi tersebut.
“Bodoh…!” Gumamnya pelan kemudian beranjak menaiki ranjang king sizenya dan kembali berkutat dengan pekerjaan yang masih tersisa.
Anindira yang baru selesai memoles wajah, menatap wajah Rico intens.
Bukannya tadi dari ruang kerja, kenapa masih saja bekerja?. Batin Anindira heran kemudian berjalan menuju sofa dan tertidur disana.
Rico memang merupakan pria yang gila kerja, dia tidak akan beristirahat jika pekerjaannya belum selesai.
Menyadari jika Anindira sudah tidur, Rico baru meletakan laptop keatas nakas. Tanpa sengaja Rico menyenggol bingkai foto, hal itu membuat Anindira yang sudah tertidur menggeliat.
Rico meraih foto tersebut, nafasnya kembali memburu setiap kali mengenai Tiara. Karena kesal akan penghiantan Tiara, Rico membalikan foto tersebut dengan kasar.
Rico beranjak mendekati sofa, menatap lekat wajah Anindira yang sedikit tersibak rambut hitamnya.
Pria itu berjongkok mensejajari gadis yang masih tertidur, kemudian menatap lebih jelas wajah Anindira.
Tanpa komando, tangannya sudah bergerak menyingkirkan rambut Anindira yang menghalangi pemandangannya.
Ada sedikit rasa penyesalan ketika Rico melihat jelas luka merah akibat ulahnya. Tapi ego kembali memenangkan hatinya membuat Rico kembali membenci Anindira. Karena baginya sekarang, semua wanita sama aja, sama sama manusia tak berhati yang hanya menginginkan uang termasuk Tiara dan Anindira.
Rico sudah bertekad tidak akan memberikan sedikitpun cinta dan kasihnya kepada gadis di depannya ini, cukup sekali dirinya dikhianati ketika dia sudah sangat percaya akan cinta. Rico sengaja menerima pernikahan ini hanya untuk membalas Tiara akan pengkhianatan lewat adiknya Anindira.
Tak lama kemudian, Rico mengingat ucapan Sekertaris Juna yang mengatakan bahwa Tiara bukanlah putri kandung keluarga Bramantyo. Itu artinya, Anindira bukanlah adik kandung Tiara.
Lalu untuk apa dia menyiksa gadis ini jika mereka bukanlah saudara kandung.
“Arghhh” Teriak Rico yang muak dengan semua permasalahan ini.
Rico berteriak sambil menarik rambut hitam Anindira yang tadi sedang dirapihkan secara halus.
“Auww sakit tuan” Pekik Anindira yang langsung terbangun dan mendapati Rico sedang menarik rambutnya.
Rico seolah tuli, dia tidak mendengarkan ringisan Anindira. Dirinya malah menambah rasa sakit yang di rasa oleh Anindira. Rico mengelus halus pipi merah yang baru saja di obati kemudian mencengkramnya.
“Auww sakit tuan kumohon lepaskan” Lirih Anindira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rico tersenyum puas melihat Anindira yang hendak menangis, dia membayangkan seolah sedang menyiksa dan membalaskan dendamnya kepada Tiara.
“Apa kau bilang?sakit? Luka ini…” Rico menunjuk bagian luka di wajah Anin kemudian semakin mencengkram bagian luka tersebut sambil menekannya.
kakak kumohon tolong aku. ..Lirih Anin mengingat Haikal.
“Luka ini tak sebanding dengan luka yang kakakmu berikan….!” Ucap Rico terdengar sangat berat di telinga Anindira.
Anindira yang semakin kesakitan akibat cengkraman Rico hanya menggigit bibir bawahnya menahan sakit, sekuat tenaga Anindira membendung air matanya agar tidak jatuh. Dia tidak ingin dianggap lemah oleh pria di depannya ini.
Puas menyiksa Anindira, Rico menghempaskan dan menyingkirkan wajah Anindira dengan sangat kasar.
“Pergi dari kamarku..!” Bentak Rico dengan sangat keras membuat Anindira terlonjak.
Tanpa menunggu lama, Anindira berlari keluar meninggalkan Rico dengan kemarahannya.
Anindira berlari menuruni anak tangga dengan mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi, air matanya jatuh tanpa permisi.
Anindira menjatuhkan dirinya diatas sofa yang terdapat diruang keluarga. Menumpahkan seluruh kesedihan lewat air matanya.
Pak Mud yang masih bersiaga mendapati nyonyanya sedang duduk diruang keluarga kemudian menghampirinya.
“Apa anda membutuhkan sesuatu nyonya?” Tanya Pak Mud sopan tanpa berani menatap wajahnya.
Mendengar suara Pak Mud, Anindira segera menyeka air matanya. Dia tidak ingin orang lain mengetahui kesedihannya meski itu keluarga sendiri apalagi orang lain. Biarlah orang lain hanya mengetahui dirinya selalu bahagia.
“Tidak ada pak Mud terima kasih”
“Baiklah, saya permisi”
“Sebentar Pak Mud” Panggilan Anindira menghentikan langkah Pak Mud.
“Ya nyonya muda, ada yang bisa saya bantu?" Bertanya tetap dengan menundukan pandangannya.
“Apa ada kamar lain di lantai bawah ini?” Tanya Anindira tiba-tiba. Dia tidak mungkin jika kembali ke kamar itu.
“Tentu nyonya, mau saya antarkan?.”
“Bolehkah” Tanya Anindira antusias
“Tentu saja, mari nyonya.” Ujar Pak Mud mempersilahkan.
Anindira beranjak mengikuti langkah Pak Mud menuju kamar tamu yang terdapat dilantai dasar.
“Terima kasih Pak Mud.” Ujar Anindira yang sudah tiba di depan pintu kamar.
“Sama-sama nyonya” Jawab Pak Mud yang langsung membungkukan badan kemudian pergi.
Anindira masuk kedalam kamar tersebut, masih sama dengan kamar yang ditempatinya tadi. Kamar ini juga sama-sama mewah dan luas meski lebih luas kamarnya Rico.
Anindira duduk di kasur dan menyentuh pipinya yang terasa perih. Anindira menunduk sedih dengan nasibnya yang sekarang. Baru saja Rico bersikap sedikit lembut dengan menyuruh mengobati lukanya. Tapi kini Rico kembali menyakitinya dengan alasan balas dendam kepada Tiara.
Anindira menangis menikmati luka yang menerpa wajahnya.
“Mama, aku ingin pulang…” Lirih Anindira sambil menangis.
Lama menumpahkan air mata membuatnya lelah, hingga akhirnya dia tertidur.