Hai, novel sebelumnya adalah karya terburuk bagi saya. Jadi, ijinkan saya mengubah hampir keseluruhan alurnya. Ada banyak sekali kesalahan dan seharusnya tidak ditulis, maafkanlah saya🙏
Pada saat itu saya seperti anak kecil yang sangat di luar batas, menulis bukan dari jiwa. Saya tidak mengakui dan sungguh menyesal menulis karya tersebut. Mohon kerjasamanya. Jika ada yang hendak mereview, tolong ijinkan saya menyelesaikan dulu🙏🙏
Dunia ini identik dengan cinta, kasih sayang. Tampak terdengar begitu indah. saya pikir semua itu bertahan, rupanya ketika kita berharap akan hal itu. Dunia seakan begitu kejam. No! Bukan dunia yang kejam, karena dasarnya dunia ini memang demikian. Di mana cinta yang tak berdasarkan iman pada Rabb adalah kekecewaan. Sungguh perbedaan yang sangat nyata ketika kedua cinta itu dialami oleh manusia sepertiku.
Leona Rain.
di karya ini, semoga dapat menghapus kesalahan di masa lalu terhadap penulisan Novel ini. Saya masih merancang jadi tolong bersabarl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 0409 Ni Luh Budarwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7-Moment Di Lantai 12
SELAMAT MEMBACA ☃️
Kami masuk ke lift lantai 12, hal itu sengaja karena di atas ada banyak sekali tamu yang menyewa hotel. Lantai 12 adalah tempat yang paling aman untuk ku, apalagi ruangan itu bukan ruangan sembarangan. Setelah sampai di depan ruangan A, Margaretha mengetuk pintu. Tidak ada siapapun, jadi kami masuk tanpa rasa khawatir.
"Sempurna ckk!" decak ku kagum, melihat ruangan yang begitu besar dan sangat bersih.
"Ayo Vi, itu CCTV yang kamu perlukan!" Margaretha membuat ku tercengang, mana mungkin itu di katakan Cctv-nya.
"Itu kan tembok!" pekik ku tak percaya.
"Mari!" Margaretha menuntun ku, dengan rasa penasaran aku mengikuti dia saja.
Aku mengikuti Margaretha, lebih takjubnya lagi. Tembok itu terbuka dan menampilkan ruangan yang di penuhi oleh banyak sekali CCTV.
"Terus CCTV yang di luar itu?" tanya ku, ini di luar dugaan semua orang. Dan aku sangat beruntung tahu hal ini.
"Itu, hanya CCTV biasa untuk memantau pergerakan luar dan pengawas untuk karyawan." Margaretha menjelaskan semuanya secara detail.
"Jadi yang ini untuk mengawasi pergerakan dalam?" tanya ku penuh kekaguman.
"Iya, kakak ku itu sangat cerdik. Dia tidak mau terjebak dalam kandang sendiri, hanya aku, kakak ku dan asistennya yang tahu ini. Dan sekarang termasuk kamu, jaga rahasia ya!" Margaretha mempercayai ku, jadi aku harus menjaga kepercayaan ini dengan baik.
"Aman, dengan begini aku bisa tahu apa yang di lakukan oleh Tomi."
"Kamu cek saja! Aku harus menyelesaikan cetak biru, sebagai ganti kamu bisa masuk ke sini." Margaretha bersiap untuk keluar.
"Apa ?? Margaretha terima kasih, aku sungguh tidak tahu kalau kamu sampai melakukan ini." Aku sungguh merasa kasian padanya, benar-benar Sahabat.
"Sama-sama Viana, aku permisi." Margaretha menutup pintu yang berupa tembok itu.
"Iya." Aku memperhatikan seluruh ruangan.
Margaretha keluar dari ruangan itu, akhirnya aku sendiri yang memeriksa CCTV itu dari awal kedatangan Tomi. Tidak sedikit pun yang terlewat, Sempurna sekali. Ku lihat Tomi datang seorang diri dan masuk ke suatu ruangan. Tomi mengadakan rapat dengan beberapa karyawan, hanya saat itu malam hari. Entah apa yang di bicarakan, ketika aku ingin mendengar suaranya ada tangan yang mencegah ku. Sontak aku menoleh ke belakang, ternyata seorang laki-laki berkaca mata hitam nan rupawan.
"Jangan di bunyikan! itu urusan perusahaan kami dengan Tomi." seseorang mencegah ku.
"Maaf tuan, siapa tuan ini?" tanya ku yang aku mengira-ngira dia adalah orang penting di sini. Terlihat penampilannya yang begitu rapi dengan rahang tegak, menambah karismanya.
"Harry Anderson." dia memperkenalkan diri dengan senyum yang sungguh menawan.
"Ouh, baiklah." Aku sebenarnya sangat kagum padanya, tapi tidak mungkin kan aku langsung bilang 'aku sangat mengagumi mu' ayolah jaga image hehe.
Aku tidak mengambil pusing dengan Harry yang juga ikut melihat rekaman itu, tidak ada hak ku untuk melarang dia. Lagi pula ini ruangannya, di berikan melihat rekaman itu saja aku sudah beruntung. Tanpa ku sadari Harry memperhatikan ku dari atas hingga ke bawah, aku membelakanginya. Tapi sebagai seorang perempuan aku dapat merasakan hal itu.
*******
Author POV
Harry tidak bisa berpaling dari tubuh Viana yang sanggup mendebarkan jantungnya. Padahal niat awal Harry adalah untuk hal yang lain, tetapi dia melupakan tujuan utamanya. Harry juga kehilangan dahaganya, sebisa mungkin Harry menahan diri agar tidak tergesa-gesa. Ketika melihat aura kemarahan yang terpancar dari wajah Viana, akhirnya Harry menemukan cara.
Harry juga melihat rekaman yang menampilkan sosok laki-laki dan perempuan yang sedang bercinta, mungkin sebentar lagi akan terjadi adegan panas di antara mereka berdua. Sebelum terjadi, Viana sudah mematikan rekaman itu. Anehnya Harry tidak melihat air mata patah hatilah namanya atau cemburu, dia hanya memancarkan mata marah. Setelahnya Viana menyalin rekaman tersebut, setelah berhasil Viana tersenyum puas.
Author POV end
****
Viana POV
"Terima kasih Harry, berkat mu aku berhasil." Aku mengucapkan terima kasih padanya.
"Sama-sama, kalau perlu bantuan lagi. Datanglah kemari, temui saja aku di sini!" Harry tanpa ragu mengatakan hal itu padaku, sontak aku sangat senang.
Ketika melihat Harry terbersit sebuah ide gila di otak ku, akan tetapi aku mencoba untuk menepisnya. Kami bertatapan satu sama lain, Harry mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tak menolaknya, memang ini yang aku inginkan. Ingin sekali aku membuat darah Tomi mendidih saat melihat ku melakukan ini dengan orang lain.
Di ruangan itu dengan lembut Harry membangkitkan gairah ku, jarak tubuh kami semakin terkikis. Perkenalan yang begitu singkat ini mampu membuat kami begitu dekat, bahkan tanpa kata dan sebuah rasa ini terjadi begitu saja. Kami berpelukan tanpa jarak sedikit pun, hingga aku terpojok di dinding ruangan itu.
Skip Ya😊
Kami mengakhirinya dengan senyum penuh arti, harus ku akui. Aku salah karena aku melakukan apa yang di lakukan oleh Tomi dengan orang lain, entah sejak kapan aku seperti ini. Aku dan Harry mulai berbincang, hingga tukar-tukaran Nomor telepon.
"Perlu aku antarkan?" tanya Harry memangku ku.
"Tidak, aku membawa mobil." Aku menolaknya dengan halus.
"Besok aku boleh kan berkunjung ke rumah mu?" tanyanya to the poin.
"Maaf Harry, aku masih terikat dengan Tomi." Aku tidak mau terjebak di antara dua lelaki sekaligus, lagi pula Aku hanya menganggap ini sebagai tindakan yang salah di waktu yang salah.
"Kamu menjalani hubungan tanpa cinta dengan Tomi?" tanyanya menatap ku dalam.
"Entah, baru saja kita menjalani ini tanpa cinta kan?" tanya ku balik padanya.
"Kalau aku mencintaimu?" tanyanya yang membuat ku diam, mana mungkin aku percaya begitu saja.
"Tidak mungkin! kita baru saja bertemu!" Aku menyanggah ucapannya yang sepertinya serius, terlihat dari manik matanya yang tidak sedikit pun meninggalkan kebohongan.
******
Aku sampai di Mansion, ku lihat mobil Tomi sudah ada di halaman Mansion. Para pembantu melihat ku dengan terkejut.
"Nona muda, kenapa dari luar?" tanya salah satu dari mereka, menatap ku dari atas sampai bawah.
"Maaf, aku pergi ketika kalian masih di dapur. Ini aku mengambil mobil yang di pinjam teman." sengaja ku besarkan suaraku, supaya di dengar oleh Tomi.
Dari dalam Tomi muncul dengan wajah sumringahnya. Aku tersenyum semanis mungkin agar dia tidak curiga. Ku minta mereka masuk dan melanjutkan pekerjaan. Tomi hendak memelukku, tapi ku hentikan.
"Sebentar ya sayang, aku ganti baju dulu!" Aku menolaknya dengan halus.
"Iya." Tomi menatap ku dengan senyuman.
Aku meninggalkannya di ruang Tamu, sengaja aku melakukan itu. Jangan sampai Tomi mencium bau parfum laki-laki di tubuh ku, jadi aku langsung mengganti bajuku. Sebelum aku meninggalkannya, aku ingin dia menyadari kesalahannya terhadap ku sehingga aku seperti ini.
"Sayang, kita ngobrol di balkon belakang yuk!" ajak ku pada Tomi.
"Ayo!" Tomi menggandeng tangan ku, sesekali dia mencium tangan ku.
Kami menuju balkon belakang, karena aku tidak mau ada yang mendengar pembicaraan kami berdua. Kami duduk di sofa empuk yang ada di sana.
Bersambung 🌻