Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.
Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.
Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.
Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.
Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.
ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BDS. Chapter 8 (Bicaralah kak)
"kenapa ada perjanjian seperti itu mbak?"
tanya Suci tidak bisa menutupi rasa heran sekaligus terkejut dari pengakuan pembantu barunya.
"Aku juga nggak tahu nona, aku menerima kerja ini begitu terpaksa, sebenarnya berat ninggalin ayah dalam keadaan sakit, yang hanya di jaga suster jika adiku sedang kuliah." jawaban Lyra membuat Suci paham jika beban yang di rasakan pembantunya bukan hal mudah.
"Mbak maafkan aku, kita cari waktu buat menjenguk ayah mbak, tapi tolong setelah itu, jangan pergi dari sini ya?" pinta Suci sambil meraih tangan Lyra di hadapan-nya.
"Mbak tangan mu kasar banget sih, emang kerja di rumahan Begini cape banget Ya?" tanya Suci polos, senyum terbit dari bibir Lyra, "Mbak sudah belajar menjadi ibu rumah tangga sejak masih SMP tahu." jelas Lyra, dan sukses membuat Suci kaget.
"Jadi mbak sudah menikah?"
pertanyaan Suci belum terjawab, suara teriakan sang kakak terdengar di luar.
"Suciii dimana kamu?" suara lantang menggema di luar, Bayu berteriak memanggil adiknya.
"Ada apa sih kak?" suci menyahut dari dapur bergegas melangkah menemui sang kakak.
"dari mana kamu, jangan-jangan kamu kumpul dengan pembantu tidak tahu diri itu, kenapa kamu tidak mengganti seprai kamar Sonia, dia gatal-gatal dan minta tidur di kamar kakak." protes Bayu berkacak pinggang, dengan pandangan kesal.
"repot amat kak, kamar banyak ini, kakak mengalah saja tidur di kamar lain, jangan-jangan itu alasan dia saja buat tidur bareng kakak."
Jawaban Suci membuat tangan Sonia gatal, ingin mendamprat mulut gadis itu, kalau saja tidak ada bayu dia akan menjambak nya.
Kesal Sonia melangkah mendekat kearah Suci, "ini pasti gara-gara pembantu kurang ajar itu, adik kamu jadi tidak punya sopan santun." cerca Sonia dengan tatapan kesal.
"Aku tidak merasa salah kok kak Sonia terhormat, lagian aku nggak akan berani minta satu kamar dengan pria yang belum jadi suami, amit-amit saja walau pun aku bukan wanita baik, setidaknya aku ingin menghargai diri sendiri sebagai perempuan."
Jawaban Suci membuat Bayu terdiam, dia baru kali ini mendengar penuturan adik cerewet judes dan uring-uringan berbicara bijak, juga pas mengenai apa isi dari perkataannya.
Suci meninggalkan mereka, dengan perasaan puas, unek-unek yang di pendam selama ini dia keluarkan, berjalan menuju kamar Murni.
"Pakai saja kamarku, aku akan tidur dengan kak Murni." pinta Suci pada kakaknya, dia berdiri menekan kenop pintu kamar kakak perempuannya.
Sial dia mulai berani tulang ajar, awas kamu.
Gerutu kesal dalam hati Sonia, makin kesini dia makin kesal sama adik-adik Bayu, yang semakin berani menentangnya.
"Bay...gue mau ngobrol sama loh, mau di bawa kemana hubungan kita ini, jika kamu masih diam-diam tidak memberi kepastian aku pergi saja, lagian kamu nggak bisa ambil keputusan juga, lebih baik aku pergi."
suara Sonia lantang dia kesal akhirnya dia pura-pura marah, dan mencoba pergi dari sana, dan berharap seperti biasa Bayu akan mengejarnya dan memohon seperti biasanya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
sampai tujuh langkah Bayu masih terdiam, dia masih ingat dan terngiang perkataan adiknya tadi.
Dia tidak terlalu pokus pada perkataan kekasihnya.
"Tunggu So, apa mau kamu?"
Senyum kemenangan terbit dari bibir Sonia, dia sangat yakin jika dia masih merajai hati pria tampan berduit itu.
"Tidurlah di kamar ku biar aku tidur, dikamar Suci." "terimakasih sayang."
kecupan mendarat di pipi Bayu, dan Bayu hanya terdiam, Sonia tersenyum kegirangan, dia melangkah naik menuju kamar Bayu, dengan hati berbunga, dia membuka pintu kamar pria itu, dia langsung merebahkan badannya, di kasur empuk milik kekasihnya.
***
"Kakak berbicaralah dengan ku, sudahi kesakitan kita, kita harus merubah hidup kita jadi lebih baik, apa kakak tidak ingin bahagia, dan tidak ingin melihat kak Bayu bahagia, dia sudah cukup umur untuk menikah, tidak mungkin dia melajang seumur hidup untuk menjaga kita, lihatlah dia semakin dewasa, tapi dia belum bisa memilih perempuan yang benar-benar cinta padanya."
suara tangisan terisak dari bibir murni, setelah sekian lama, bahkan bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah merespon perkataan siapapun kini dia menangis di pelukan adiknya.
"Kakak." bahagia terlukis dari raut wajah Suci, untuk pertama kalinya, dia mendengar respon dari kakaknya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Nona Murni mbak masuk ya."
Suara Lyra membuat Suci menatap wajah Murni, jadi Mbak Ly selalu datang kemari sebelum kakak tertidur.
Nampan berisi susu coklat panas masih mengepul di nampan yang masih di pegang Lyra.
"Nona Suci ada di sini juga?" tanya Lyra sambil menyimpan nampan di meja.
"Mbak bagaimana siku mu?" tanya Suci khawatir, "Sudah nggak apa-apa kok."
Jawab Lyra sambil menyodorkan susu coklat pada Murni, "Ambilah dan minumlah ada banyak orang-orang yang tidak bisa meminum susu seperti ini, karena mereka tidak bisa mencukupi untuk membelinya."
Suara Lyra membuat kedua adik kakak itu saling pandang dan Suci meraih gelas itu, meminumnya sampai tandas.
Murni melongo, itukan buat aku
Gerutu dalam hatinya, dia menatap sang adik yang mengelap bibir dengan punggung tangannya, "Mbak aku juga mau di buatkan setiap malam, tapi jangan susu coklat aku susu tawar hangat saja." Pinta Suci dan mendapat anggukan dari Lyra.
"Mau."
Kedua wanita yang sedang saling pandang melirik kaget, terkejut luar biasa, mereka melirik kearah wanita yang barusan bersuara.
"Kakak."
Tangisan pecah dari Bibir Suci, dia bisa mendengar kakaknya bersuara setelah bertahun-tahun terdiam seribu bahasa.
Lyra tertegun melihat Suci menangis, dia jadi kangen sama adiknya. Ya Allah jaga adik dan ayahku.
Gerutu Lyra dalam hati sambil mendekat kearah gadis yang menjadi majikannya itu.
"Mbak Murni mau di bikinin susu ya?"
Tanya Lyra dengan lembut sambil duduk di sisian ranjang melihat wajah Suci yang sembab.
"Kalian mengingat kan aku pada adiku satu-satunya, dia pasti kesepian menjaga ayah sendirian." perkataan Lyra di iringi pandangan kosong, dan membuat kedua adik kakak tersebut menatap Iba.
"Masya Allah aku lupa tadi aku manasin air bau apa ini." rutuk Lyra sambil melangkah cepat berlari turun menuju dapur.
Api...
Api...
Suara teriakan Lyra membuat Bayu membuka matanya turun mengambil langkah seribu, berlari menuju dapur, terlihat Api mengepul mengeluarkan asap hitam dari panci yang sudah gosong.
Lyra takut dia gemetar dan menangis menutup mulutnya dengan pashmina yang dia kenakan.
Api.
Api.
Suaranya masih terdengar,,dan semakin mengecil, dan brukkk dia terkulai lemas di lantai.
"Bodoh."
Bayu mematikan tombol kompornya, dia juga kaget, namun lebih kaget melihat Lyra tergolek tidak sadarkan diri.
"Hey..bangun kenapa pingsan sih?" suara Bayu prustasi, dia menepuk pipi kiri dan kanan Lyra.
"Aduh bagaimana ini bocah ngerepotin aja sih !" gerutu Bayu sambil memangku Lyra menuju Sova di ruang keluarga.
"Kakak ada apa Kenapa, ada apa dengan mbak Lyra?" tanya Suci khawatir dia melihat Bayu menggendong Lyra dengan khawatir, entah kenapa hatinya merasa mereka cocok, Suci malah ingin tersenyum bukannya panik.
"Hey ...bangun." "kasih napas buatan saja kakak." buru-buru Suci memberi solusi, membuat Bayu terperangah dia mendelik, "bagaimana dia kalau tidak bangun-bangun sesak napas, kita nanti yang repot buruan kasih napas buatan."
Seruan Suci membuat Bayu bingung dan salah tingkah, untuk pertama kalinya dia harus mencium gadis yang tidak ada hubungan apapun dengannya, tapi dia berpikir masa bodo dia juga terpaksa melakukan itu.
Hingga Bayu mendekatkan wajahnya, menilik wajah cantik di hadapannya.
dia sadar wanita ini, yang pingsan di tempo hari kelaparan, jangan-jangan dia punya maksud tertentu dan ingin mengganggu keluarganya.
Bayu terdiam, dan saat wajahnya tinggal beberap senti, bola mata hitam bulat berkilau, terbuka dengan hiasan bulu mata lebat hitam lentik bergerak-gerak.
Uhuk...uhuk...
"Aaaaaaaaa."
Plak.
Plak.
terdengar batuk dan jeritan lantang tercipta, hingga dua tamparan mendarat di pipi Bayu, Lyra kaget saat bangun melihat wajah pria lebih dekat dari lima senti meter. dia replek melakukan tamparan keras itu.
"Aw."
"Sialan wanita jadi-jadian tangan mu keras sekali menampar pipiku." Rutuk Bayu kesal, dan tawa membahana di depan mereka.
"Hahahaha."
Suci tertawa puas melihat Lyra menampar keras wajah kakaknya.
ada drama hiburan sebelum tidur.
"Suruh siapa mencari kesempatan mencium wanita sedang pingsan."
Suara lantang tanpa merasa bersalah dari mulut Suci, padahal semua itu usulan dia yang suruh melakukan itu. dia hanya tertawa puas melihat wajah kedua orang di hadapannya.
sial adiku mengerjaiku.
Gerutu hati Bayu kesal, dia berdiri meninggalkan Lyra yang terkejut sekaligus merasa bersalah.
dia menatap seluruh tubuhnya, baik baik saja.
"Aku juga tidak mungkin mau mencium si jelek itu, cehh."
Suara kesal bercampur malu juga, padahal kenapa harus malu, dia juga tidak menyentuk bibir wanita itu.
"Tuan terimakasih telah menolong saya."
Suara Lyra lantang, dan tanpa respon apapun dari sang empunya, Bayu berjalan cepat, dengan rasa malu, dia malu adiknya menyuruh dia yang menciumnya, dan dia juga yang menuduhnya mencium gadis itu.
Gadis bodoh itu pasti dia salah sangka.
Gerutu Bayu sambil berjalan menuju kamar adiknya, dia menatap sekeliling kamar adiknya, ada yang berbeda, sekarang, buku-buku novel dan buku-buku lainnya tertata rapih, susunannya juga terlihat teratur.
"Apakah Suci benar-benar telah berubah, atau pekerjaan pembantunya, yang melakukan semua ini."
Gerutu Bayu.
Malam semakin larut, mereka semua telah tertidur, meraih alam mimpi, Mata Bayu tiba-tiba terbuka terasa dingin bagian atas tubuhnya, dia juga merasa ada goncangan yang terjadi di ranjang sana, dan betapa terkejutnya melihat sosok Sonia di sampingnya, dengan hanya menggunakan tanktop yang menjadi penutup badannya, selimutnya menyibak dia tertegun, melihat wanita itu masuk kekamar tidurnya, padahal dia sudah di sediakan kamar pribadinya tadi.
Bayu menatap gunung kembar menonjol di hadapannya, juga leher jenjang yang mulus, tenggorokannya tercekat, dia juga lelaki normal, dia mencoba mengalihkan pandangan liarnya.
Hingga gerayangan tangan Sonia menyentuh bagian leher, hingga turun menggapai pedang tajam pusaka dirinya.
Deg.
Deg.
Bayu kaget luar biasa, dia tidak menyangka kekasihnya seberani itu, hingga dia tahan gejolak dalam dadanya.
hingga bibir Sonia menyentuh lehernya, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuatnya jiwa lelakinya bangun, seluruh tubuhnya merinding.
Bayu masih bertahan di posisinya, dia ingin tahu seperti apa wanita yang akan menjadi tunangannya itu, hingga terjadi terjadi di area leher hingga dadanya, dan entah dari kapan baju atasannya tidak di tempatnya.
Dengan Liar Sonia terus memberikan sentuhan yang membuat pedang pusaka milik Bayu bangun, mereka saling membalas penyatuan bibir mereka, mereka asyik, semakin panas, dan semakin menuntut, hingga Bayu sadar, dia mendorong tubuh Sonia.
"Jangan, Sonia." Bayu menghentikan adegan panas mereka, dengan hasrat yang sudah menggunung, dia sadar jika di teruskan akan berakibat patal, dia punya adik-adik perempuan, bagaimana dia menjadi contoh untuk adik-adiknya.
Bayu turun menghentikan semuanya, dia menuju kamar mandi menyiram tubuhnya dengan air dingin.
untuk pertama kalinya ada perempuan yang nyosor ke ranjangnya, dia bergidik ngeri, jika saja tadi terbuai terus oleh godaan yang di lakukan Sonia.
Terdengar pintu kamarnya tertutup keras, sepertinya Sonia kecewa adegan panas mereka tertunda. dan malah di tinggalkan di tengah asiknya permainan mereka.
Saat keluar sudah tidak ada sosok Sonia di dalam kamar itu, Bayu bergegas ganti baju, setelah mandi menurunkan senjatanya.
dia menatap dirinya di cermin, bahagia, dia bisa menahannya kali ini, dia tidak ingin kelakuannya akan berbuah menjadi bom waktu di masa depan, walau pun dia bukan pria muslim baik-baik, namun untuk melakukan hubungan terlarang dalam agama mereka, dia bisa menjaganya sampai sejauh ini.
Dia keluar kamar, saat waktu sudah dini hari, saat akan membuka kamarnya, ternyata di kunci dari dalam.
hingga dia ingin melihat adik-adiknya.
Saat pintu terbuka dia tidak melihat mereka disana.
"kemana mereka?"
Gerutu Bayu sambil memeriksa satu persatu kamar tamu, hingga dia berpikiran buruk jangan-jangan adik mereka ada yang nyulik dia berpikir keras.
terus wanita bodoh itu biasa tidur dimana, semua kamar tamu kosong.
Gerutu Bayu sambil melangkah menuju dapur, dia ingat ada kamar gudang yang tidak pernah di pakai, dia juga entah sudah berapa lama tidak menginjakan kakinya di kamar itu.
Dia iseng dan penasaran, mencoba melihat kesana, dan saat pintu terbuka betapa terkejutnya melihat kedua adiknya berada di kasur lepet yang terhampar di lantai, satu selimut bertiga, dan Alyra berada di tengah-tengah mereka.
Saat ini Kerudung yang selalu menempel di kepala Alyra terlepas, wajah cantik, rambut hitam, bibir merah merekah, juga bulu mata lentik nampak terlihat damai, mendapat dua pelukan dari adiknya.
"Kalian kenapa tidur disini."
Gerutu Bayu sambil berpendar melirik keseluruh gudang itu, terlihat bersih dan rapi, namun ada yang berbeda, ada lukisan bunga bunga cantik yang menghias tercipta sederhana, ada gambar Cake-cake yang tidak asing di pandangannya.
"Siapa gadis ini sebenarnya."
Gerutu Bayu Lirih, dia masih mengamati sekitar, dus dus besar berisi foto-foto keluarganya berada disana, hatinya sakit mengingat semua itu.
Dia kembali keluar dengan perasaan tidak menentu.
semoga aja mey jodoh nya derek