WARNING!!
Ini Novel Dewasa, so bocil-bocil jangan baca, ntar malah heboh dikolom komentar, ini novel khusus 21+
Sebuah rasa cinta pada seseorang terkadang terlambat untuk disadari. Sekalipun menyadarinya sejak dini, namun kadang hati enggan menunjukan rasa tersebut. Hingga akhirnya menjadi sebuah perasaan yang terpenjara oleh kepura-puraan.
Ini adalah sebuah kisah seorang gadis muda mantan narapidana yang jatuh cinta pada sahabat kecilnya, hingga dia mengagalkan acara lamaran lelaki pujaannya, serta memaksa lelaki tersebut menikahinya. Maka, pernikahan tanpa hitam diatas putih pun terjadi, tapi pernikahan yang dijalaninya penuh intrik dimana dia dibenci oleh keluarga lelakinya.
Disamping kehidupan rumah tangganya yang tidak harmonis, dia harus bergelut mencari tahu penyebab kematian orang-orang terdekatnya.
Mampukah dia mencari kebenaran dibalik kematian orang-orang terdekat dan menumbuhkan cinta dalam pernikahannya?
#Cinta segitiga #Pembunuhan #Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs.Kang Chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingkar janji
Awal pembuka hari yang indah bagi Khalisa, dia merasakan tidur yang nyenyak tidak ada tangisan yang mengantarnya tidur. Khalisa bahkan berangkat kerja lebih pagi sebelum yang lain sarapan. Khalisa memilih sarapan diluar dan menitip pesan pada pembantu kalau dia berangkat kerja duluan.
“Semakin hari semakin banyak tingkahnya dia!” Gerutu Tante Ratna dimeja makan.
“Lain kali kasih pelajaran dia!” Kata Laila mengompori.
“Pelajaran apa? Mau disekolahkan lagi?” Kata Ayahnya Rendy sambil memasukan sendok ke mulutnya.
“Issh Papah itu ya, malah bercanda sih, gak serius amat!” Keluh Laila.
“Ya habisnya tiada hari kalian ngobrolin terus Khalisa!”
“ Tau ah! Cape ngobrol sama papah!” Kata Laila cemberut.
Semantara Rendy dengan khusyuknya menyantap sarapan pagi, pikirannya melayang memikirkan Khalisa yang begitu semangat kerja. Bahkan dia yakin gak yakin akan merayakan ulang tahun bersamanya.
“Ren! Hari ini mamah udah booking Restoran buat merayakan ulang tahun kamu!” Kata Tante Ratna.
“Iya Mah makasih!” Jawab Rendy singkat.
“Ish, kamu tuh ya gak ada gairah apa menyahuti Mamah!” Kesal Tante Ratna.
“Nanti Rendy pasti dateng!”
“Bawa sama Kaila juga ya!”
“ Iya Mah!”
Obrolan pagi hari begitu didominasi oleh Tante Ratna yang sibuk mengatakan persiapan perayaan
ulang tahun Rendy. Kebahagianya semakin bertambah karena tidak melihat Khalisa dipagi hari sarapan bersama.
Di kantor
Rendy seperti biasa sibuk membaca laporan dari tiap divisi. Bahkan dia sibuk menandatangi beberapa dokumen penting, hingga baru jam istirahat dia bisa bernafas lega. Kaila seperti biasa datang membawakan makan siangnya.
Rendy dan Kaila pun makan siang bersama didalam ruangan Rendy. Setelah selesai makan
Kaila tidak lekas kembali ke ruangannya dia sengaja ingin mengobrol sebentar dengan Rendy.
“Ren!” Panggil Kaila pada Rendy yang sibuk melihat ponselnya.
“Iya!”
“Ren! Lihat dulu kesini!” Renggek Kaila sambil memanyunkan bibirnya.
“Iya ya ada apa Kai!” Rendy menoleh dan terlihat Kaila menunjukan tiket menonton ditanganya.
“Ren! Ini film bagus banget! Susah tahu dapetin tiket ini!” Kata Kaila.
Rendy mengangkat satu alisnya , Kaila menghela nafasnya lalu menyerahkan satu tiketnya
pada Rendy dan langsung bangkit dari duduknya.
“Pokokny kamu harus datang!” Kata Kaila sambil berlari kecil keluar ruangan.
****
Khalisa sudah ijin pulang lebih awal pada Bu Meti, sebelum pulang Khalisa menyempatkan diri pergi ke toko jam tangan. Menurutnya memberikan kado jam tangan lebih muda dan harganya lebih terjangkau. Khalisa tidak lupa beli kue ulang tahun yang sederhana.
Kakinya melangkah dengan riang setelah berhasil memilih jam tangan yang terlihat indah dan pas harganya dengan uang dikantongnya. Hari sudah semakin gelap, Khalisa langsung naik ojek online agar bisa menyiapkan dengan sempurna. Balon-balon sudah Khalisa siapkan.
Sementara ditempat lain tanpa sepengetahuan Khalisa, keluarga Rendy dengan keluarga tirinya tengah merayakan ulang tahun Rendy direstoran megah. Tidak lupa Rendy dan Kaila disana sedang menikmati perayaan ulangtahun yang meriah. Kaila jug membelika jam tangan bermerek untuk Rendy. Setelah selesai perayaan Rendy dan Kaila pergi menonton ke bioskop.
Di rumah
Khalisa baru selesai menghias ruang tengah untuk menyambut kedatangan Rendy, kue ulangtahun yang sederhana ssudah disajikan dengan lilin yang siap dinyalakan. Balon-balon sudah menghias ruangan tersebut. Meskipun Khalisa cukup lelah tapi dia merasa puas dengan persiapan menyambut Rendy. Khalisa berharap diawali dengan merayakan ulang tahun bersama, Rendy akan bisa diajaknya berbagi cerita, dan mereka bisa bercengkrama seperti dulu.
Khalisa sudah berdandan untuk menyambut Rendy, sebelum pulang Khalisa menyempatkan diri membeli peralatan make up. Khalisa sangat ingin menyenangkan hati Rendy dihari kelahirannya. Jam dinding sudah menunjukan pukul 9 malam belum ada tanda-tanda kepulangan Rendy. Seorang pembantu datang menghampiri Khalisa yang tengah duduk menatap kue ulangtahun.
“Mbak Khalisa tidak tahu, kalau pak Rendy sama yang lain sedang merayakan ulang tahun diluar! Jadi mereka tidak akan pulang cepat!” Kata seorang pembantu.
“Oh begitu yang Bi! Mereka kemana?”
“Mereka pergi ke restoran, para pembantu disini juga ikut kesana! Saya disuruh pulang dulu bawa kameranya Non Laila!”
“Hmmm, lkira-kira pulangnya jam berapa?”
“Saya tidak tahu pasti! Kalau Pak Rendy kayaknya malam , soalnya nonton dulu bareng Mbak Kaila!” Jelas pembantu tersebut.
Khalisa termenung mendengar perkataan tersebut, hatinya tersa tertusuk seribu duri. Mendengar bahwa Rendy lebih memilih menghabiskan malam ulang tahunnya dengan
Kaila. Matanya terasa perih hingga berkaca-kaca.
“Mbak Khalisa, mau ikut ke restoran? Saya mau balik lagi kesana! Kayaknya tidak akan ada yang
pulang mereka pada nginep dihotel!” Kata lpembantu tersebut.
“Tidak Bi, saya dirumah saja, saya mau istirahat saja!” Kata Khalisa dengan suara serak menahan tangisnya.
“Oh baiklah Mbak, saya duluan ya!” Kata pembantu tersebut.
Pembantu itu pun pergi kembali ke restoran tempat perayaan ulang tahun. Khalisa setelah
itu langsung menanggis terisak. Tanganya meremas gaun yang dipakainya. Khalisa meletakan jam tangan untuk Rendy didekat kue ulang tahun. Dia memilih bangkit dari duduknya meninggalkan tempat tersebut. Khalisa memasuki kamarnya sambil bercucuran air mata karena kecewa.
Kekecewaannya semakin bertambah tatkala melihat status Kaila yang menunjukan pesta ulang
tahun Rendy, kemudian meemotret punggung Rendy yang tengah memesan makanan di loby bioskop. Semakin sakit lagi keluarga tirinya juga hadir dalam ulang tahun tersebut.
“Kenapa hanya aku yang tidak tahu tentang pesta itu? Kenapa hanya aku yang tidak diundang? Apa segitu bencinya keluargaku pun? Dan Rendy sendiri juga sama saja!” Lirih Khalisa sambil menelan kasar salivanya.
Kembali Khalisa menanggis dalam sepinya, dia kembali terlelap. Khalisa menanggis hingga lelah. Kemudian dia terbangun subuh Khalisa menunaikan ibadah sholat subuh, terdengar suara
mobil memasuki pekarangan rumah. Keluarganya Rendy baru pulang.
“Ini apa-apaan!” Suara Laila
“Siapa yang membuat hiasan ini? Apa si mantu narapidana itu?” Kata Tante Ratna.
“Hus jangan keras-keras, gimana kalau dia denger!” Kata ayahnya.
“Alah, palingan masih tidur!”
“Kak Ren, kayaknya dia niatnya mau menyambut pesta kakak deh! Untung kakak gak pulang semalam!” Kata Laila.
Rendy sendiri terdiam melihat sekeliling yang dihias oleh balon-balon dan terdapat ucapan selamat ulang tahun, Rendy juga melihat bolu yang sudah dikerubuni semut.
“Ah dia bikin repot saja! Jadi banyak semut kan!” Kata Tante Ratna.
Tante Ratna dan Laila pun berjalan menuju kamarnya masing-masing, begitupun ayah Rendy yang sudah lebih dulu pergi ke kamar karena bosan mendengarkan hobi isterinya mengomentari meenantunya. Sementara, Rendy masih mematung dekat kue ulang tahun, tangannya menangkap sebuah kotak kecil disamping kado tersebut.
Tangannya hendak mengapai kotak tersebut, namun tangan Khalisa lebih dulu mengambilnya. Sontak Rendy langsung terkejut dengan kehadiran Khalisa yang tiba-tiba.
“Ekhem..Itu untukku kan?” Kata Rendy pada Khalisa yang hendak berbalik.
Khalisa yang matanya sembab, menatap ke arah tangan Rendy yang sudah bertahta jam tangan mahal disana. Khalisa menghela nafasnya.
Itu pasti kado dari Kaila! Lebih pantas untuk Rendy! Batin Khalisa langsung menatap Rendy yang mentapnya lekat.
“Bukan Ren.” Kata Khalisa singkat langsung berbalik.
Rendy menahan tangannya Khalisa. “Maaf!” Kata Rendy sambil memegang tangan Khalisa yang sedang berbalik air mata Khalisa kembali turun mendengar perkataan Rendy.
Khalisa tidak berniat menyahuti perkataan Rendy, ia memilih masuk kembali ke kamarnya. Meninggalkan Rendy yang masih mematung memandangi Khalisa yang masuk ke kamarnya.
Bersambung...
ayo Vinnn
keluarkan jurus maut merebut hati Khaila...
klo perlu langsung lamar... masih perawan loh.. tanpa status janda pula..