Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
BAB 8
JAMINAN
Sudah sebelas hari Lani tinggal sendirian ketika Wiwid menelepon di tengah hujan.
Apartemen satu kamar yang disewanya tidak besar, tetapi bersih, aman, dan cukup jauh dari Menteng. Lani membayar sewa setahun dari tabungannya sendiri. Ia membeli kasur, meja makan kecil, dua panci, dan satu tanaman lidah mertua yang mulai menguning karena lupa disiram.
Tidak ada barang Gunawan di sana selain kalung perpisahan yang tetap tersimpan di dalam kotak.
Lani berniat bekerja, menabung, dan hidup sendiri. Tidak pacaran. Tidak menikah. Tidak lagi menyerahkan nasibnya kepada janji laki-laki.
Rencana itu terdengar masuk akal sampai nama Rey muncul di layar ponsel.
"Gue barusan lewat kantor polisi dekat studio," kata Wiwid tanpa salam. "Anak Gunawan itu ada di dalam. Mukanya berdarah lagi."
Tangan Lani berhenti menyiram tanaman. "Kenapa kamu tahu dia?"
"Gue pernah lihat fotonya. Sama tadi petugas panggil nama lengkapnya. Katanya berkelahi di tempat biliar, terus salah satu orang luka dan bikin laporan."
"Papanya sudah diberi tahu?"
"Sudah. Gunawan menolak jadi penjamin. Katanya biar anaknya belajar tanggung jawab."
Lani meletakkan botol air. "Itu urusan keluarga mereka."
"Iya. Gue cuma kasih tahu. Jangan datang, ya. Serius. Anak itu masalah berjalan."
"Aku nggak akan datang."
Lani memutus telepon, mengambil tas, lalu turun untuk membeli makan malam.
Tiga puluh menit kemudian, taksi online yang ditumpanginya berputar arah menuju kantor polisi.
***
Rey duduk di balik meja pemeriksaan dengan tangan terlipat.
Kaus putihnya bernoda darah di bahu, bukan darahnya sendiri. Ada luka baru di alis. Ketika Lani masuk bersama petugas piket, ekspresinya berubah dari terkejut menjadi ejekan.
"Papa nyuruh lo?"
"Tidak."
"Terus ngapain ke sini?"
Lani mengabaikannya dan menghadap penyidik. "Saya ingin menjadi penjamin untuk permohonan penangguhan penahanan. Apa yang perlu saya lengkapi?"
Petugas menjelaskan bahwa keputusan tetap berada pada penyidik. Rey harus kooperatif, tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti, dan wajib hadir jika dipanggil. Lani menyerahkan salinan KTP, alamat tempat tinggal, nomor yang bisa dihubungi, lalu menandatangani surat jaminan orang.
"Hubungan Ibu dengan yang bersangkutan?" tanya petugas.
Ujung pena Lani berhenti.
"Kenalan keluarga."
Rey tertawa kecil dari kursinya.
Lani menoleh tajam. "Kalau kamu membuat masalah di sini, aku pulang."
Tawanya langsung mati.
Perkelahian itu belum selesai secara hukum. Pihak yang terluka masih menjalani pemeriksaan medis dan proses mediasi baru dijadwalkan. Namun karena luka yang dilaporkan tidak berat, identitas Rey jelas, dan Lani bersedia menjamin kehadirannya, permohonan penangguhan disetujui malam itu.
Hampir satu jam kemudian, Rey keluar membawa surat wajib hadir.
Petugas mengembalikan ponsel dan ikat pinggangnya, lalu mengingatkan jadwal wajib lapor pertama. Jika Rey mangkir atau menghubungi pelapor untuk mengancam, penangguhan dapat dicabut dan ia kembali ditahan. Lani meminta Rey mengulang jadwal itu sampai benar.
Hujan masih deras.
Lani menyodorkan satu payung dan beberapa lembar uang. "Pesan taksi. Pulang ke rumah papamu."
"Lo sendiri?"
"Aku bisa pesan lagi."
Ia berjalan ke tepi kanopi untuk mencari mobil yang dipesan. Angin membawa hujan ke gaunnya. Seorang laki-laki yang merokok dekat warung terus menatap dari kepala sampai kaki.
Rey melihatnya.
"Apa lo lihat-lihat?" bentaknya.
Ia mengangkat payung seperti hendak melempar. Lani cepat memegang lengannya.
"Baru keluar kantor polisi dan kamu mau masuk lagi?"
"Dia lihat lo kayak begitu."
"Biarkan. Matanya milik dia. Tanganmu tanggung jawabmu."
Rey menatap laki-laki itu sekali lagi, lalu menurunkan payung.
Mobil Lani tiba. Ia membuka pintu belakang, tetapi Rey ikut masuk dari sisi lain.
"Turun."
"Gue nggak punya alamat tujuan."
"Rumah papamu jelas ada."
"Gue nggak mau ke sana."
Pengemudi melirik melalui kaca tengah. Hujan mulai masuk dari pintu yang belum ditutup.
Lani mengatupkan rahang. "Tutup pintunya dulu."
Rey menutup pintu dan menyebut nama apartemen Lani yang tadi tercantum di surat jaminan.
"Kamu membaca alamatku?"
"Petugas ngomong keras."
Mobil bergerak sebelum Lani sempat mengusirnya lagi.
***
Sepanjang jalan Rey bersandar ke jendela.
Lampu Jakarta mengalir di kaca basah, membelah wajahnya menjadi garis-garis warna. Kesombongan yang biasa dipakainya tertinggal di kantor polisi. Yang duduk di samping Lani hanya pemuda kelelahan dengan buku-buku jari bengkak.
"Kenapa berkelahi?" tanya Lani.
"Mereka mulai."
"Jawaban anak SD."
"Mereka ngomong soal Mama."
Lani tidak bertanya, tetapi Rey melanjutkan setelah hening panjang.
"Mama sakit setelah cerai. Kadang dia nggak tahu gue siapa. Kadang dia tahu, terus gue yang dipukul karena wajah gue mirip Papa." Ia mengusap bekas luka di alis. "Papa kasih uang, sopir, sekolah mahal. Tapi kalau gue pulang babak belur, dia cuma tanya siapa yang bakal beresin nama keluarga."
"Itu tidak membuatmu berhak memukul orang."
"Gue tahu."
Jawaban itu terlalu pelan.
Lani memandang tangannya sendiri. Ia datang malam ini bukan karena sudah memaafkan Rey. Ia melakukannya karena Gunawan pernah berdiri di depan kasir rumah sakit ketika keluarganya tidak punya siapa-siapa. Menjamin putranya terasa seperti mengembalikan satu bagian kecil dari utang yang tidak pernah bisa dihitung.
Namun alasan itu tidak menjelaskan mengapa ia membiarkan Rey ikut pulang.
***
Di apartemen, Lani memberikan handuk dan kaus longgar yang baru dibeli sebagai pakaian rumah.
"Mandi. Setelah itu pergi."
Rey keluar dua puluh menit kemudian hanya dengan handuk melilit pinggang. Kaus yang diberikan Lani masih di tangan.
"Kenapa nggak dipakai?"
"Kekecilan."
Lani buru-buru mengalihkan mata. Tubuh Rey dipenuhi bekas luka lama, garis tipis di rusuk, bekas jahitan di bahu, memar dengan usia berbeda. Bukan tubuh yang dipamerkan, melainkan catatan panjang dari semua perkelahian yang tidak pernah menghentikannya.
Rey mengambil minuman jahe hangat di meja dan menghabiskannya.
"Itu punyaku."
"Sekarang habis."
Ia membuka kulkas. "Nggak ada makanan?"
"Kamu pikir ini warung?"
"Gue belum makan dari siang."
Lani menatap wajahnya, lalu menghela napas. Ia mengambil telur, sayur, dan ayam sisa dari kulkas. Tidak lama kemudian, nasi goreng, telur dadar, dan tumis sayur memenuhi meja kecil.
Kotak P3K diletakkan di sebelah piring.
"Makan. Obati lukamu. Setelah hujan reda, kamu pulang."
Rey duduk tanpa membantah. Ia memandangi makanan itu cukup lama.
"Aku melakukan ini untuk membalas kebaikan Pak Gunawan," kata Lani. "Bukan karena aku sudah memaafkanmu."
Sendok Rey berhenti di udara.
"Papa menolak datang," katanya. "Lo datang karena mau balas kebaikan dia."
"Benar."
"Jadi tetap bukan karena gue."
Lani tidak menjawab.
Rey meletakkan sendok. Hujan menampar jendela di belakangnya, sama kerasnya dengan malam saat mereka pertama bertemu.
"Lani," katanya, kali ini tanpa `gue` atau ejekan. "Aku punya rumah nggak sih?"