Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
Tekanan udara di sekitar tepian sungai kecil itu mendadak menegang hingga terasa seperti ribuan jarum tak kasat mata menusuk kulit. Tiga jenis energi Naegong yang sangat kuat—pancaran es murni milik Kang Hyu-Jin, aura baja berat milik Choi Min-Hyuk, serta pendar elemen api milikku—saling berbenturan di udara, menciptakan getaran hebat yang membuat air sungai di dekat kami beriak gelisah.
Lee Do-Yun, yang tadinya tertidur pulas akibat kelelahan, akhirnya terbangun seketika. Pemuda berambut perak itu langsung melompat berdiri, menarik keluar pedang pusakanya dari sarung, dan memasang kuda-kuda siaga di sisiku. Matanya menyapu tajam ke arah dua senior yang berdiri di hadapan kami.
"Hyu-Jin! Kak Min-Hyuk!" seru Do-Yun dengan nada suara yang penuh peringatan keras. "Apa-an kalian berdua malam-malam begini mendatangi perkemahan kami dan menciptakan kekacauan?!"
Suasana semakin memanas. Aku sendiri sudah merasa kepala mau pecah menghadapi situasi absurd ini. Bayangkan saja, alih-alih menikmati pelarian damai di dunia Murim, aku malah dikepung oleh tiga pendekar paling berbahaya di dataran tengah—dua di antaranya mendadak jadi bucin akut yang mengejarku sampai ke tengah hutan antah berantah.
Aku menghembuskan napas panjang, menepis rasa pusing di kepalaku, lalu melangkah maju melewati Do-Yun. Aku berkacak pinggang, menatap tajam bergantian ke arah Kang Hyu-Jin dan Choi Min-Hyuk dengan ekspresi jengkel yang tidak lagi ditutup-tutupi.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Tuhan... Ujian hidup macam apa lagi ini? Dikasih kekuatan Lima Elemen Sempurna bukan bikin hidup jadi tenang, malah diserbu sama dua tokoh utama pria yang kesurupan cinta monyet! Kurang ajar banget penulis aslinya!”
"Hei! Kalian berdua ini sudah kehilangan kewarasan, ya?!" bentakku keras, memecah keheningan malam tanpa rasa gentar sedikit pun. "Aku tunangan Lee Do-Yun, kenapa kalian berdua repot-repot mengikutiku sampai ke tempat terpencil begini?!"
Mendengar pertanyaanku yang dilontarkan secara blak-blakan tanpa filter, kedua pendekar hebat itu terdiam sejenak. Namun reaksi mereka justru membuatku ingin menepuk jidat sendiri.
Kang Hyu-Jin melangkah maju satu langkah, mengabaikan keberadaan Do-Yun yang sudah mengarahkan ujung pedang kepadanya. Sepasang mata kelam pria itu menatapku lekat-lekat, memancarkan kepedihan bercampur obsesi yang begitu pekat hingga membuat uap es mengepul dari napasnya. Tanpa ragu, Hyu-Jin menjawab dengan suara berat dan tanpa keraguan:
"Karena aku menyukaimu."
Deg!
Belum sempat aku mencerna kejujuran frontal dari si psikopat es tersebut, Choi Min-Hyuk yang berdiri di sampingnya mendengus pelan. Senior kaku berwibawa itu merapikan jubah hitam bergaris emasnya, lalu mengangkat dagunya sedikit sambil menatapku lurus-lurus dengan sorot mata yang tak kalah intens.
"Aku juga," ucap Min-Hyuk datar, tanpa ada rasa malu sedikit pun meskipun ia sedang berdiri di hadapan tunanganku sendiri.
Seketika itu juga, suasana di tepi sungai menjadi Hening. Hening yang benar-benar sunyi, seolah detak angin malam pun ikut berhenti berputar.
Aku tertegun, mulutku sedikit terbuka karena kaget luar biasa.
Han So-Bin : "Ah..."
(Batin Diah / Han So-Bin): “Ah?! Cuma ‘ah’ doang respon otakku?! Sumpah, ini plot romantis paling nggak masuk akal yang pernah aku alami seumur hidupku! Dua pendekar terkuat sekte, maskulin, dielu-elukan sejuta umat, malam-malam di tengah hutan antah berantah, secara terbuka ngakuin naksir ke aku di depan tunanganku sendiri?! Sinetron Indosiar versi Murim kalah telak sama drama ini!”
Lee Do-Yun, yang berdiri tepat di sebelahku, hampir saja menjatuhkan pedangnya karena terlalu shock mendengar pengakuan blak-blakan dari sahabat dan kakaknya sendiri. Pemuda berambut perak itu membelalakkan mata, menatap Hyu-Jin dan Min-Hyuk secara bergantian dengan ekspresi tidak percaya.
"Kalian berdua... apa kalian sudah gila?!" teriak Do-Yun tidak terima, suaranya bergetar antara marah dan tidak habis pikir. "Dia tunanganku! Kami baru saja meninggalkan sekte bersama-sama untuk membangun masa depan baru! Beraninya kalian datang ke sini dan terang-terangan merebutnya?!"
Hyu-Jin melirik Do-Yun sekilas dengan sebelah alis terangkat dingin. "Status pertunangan itu hanya lelucon dewan tetua untuk mengikat kekuatannya, Do-Yun. Dan aku tidak peduli pada aturan sekte. Hatiku tidak bisa dibatasi oleh selembar surat perjanjian kolot."
Min-Hyuk menambahkan dengan nada suara yang tenang namun mematikan, "Dan aku tidak berniat merebut siapa pun secara paksa, Do-Yun. Aku hanya menuruti apa yang diteriakkan oleh hatiku—sesuatu yang baru kusadari setelah gadis bodoh ini menempelkan bunga liar di bahuku."
Mendengar Min-Hyuk menyinggung soal bunga liar, aku langsung merona merah, merasa salah tingkah sendiri di tengah situasi tegang tersebut.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, sialan! Kenapa juga aku iseng banget ngasih bunga waktu itu! Niatnya kan cuma mau nge-prank bapak ketua kelas galak, eh malah berakibat fatal bikin dia ikut-ikutan bucin akut!”
Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degupan jantungku yang berantakan, lalu menatap tajam ke arah tiga pria yang kini justru saling memperebutkan posisinya di sekitarku.
"Dengar ya, kalian bertiga!" kataku dengan nada suara penuh penegasan, menghentikan ketegangan yang nyaris meledak. "Pertama, urusan pertunanganku dengan Do-Yun adalah urusan kami berdua. Kedua, untuk kalian berdua—Hyu-Jin dan Kak Min-Hyuk—tolong gunakan akal sehat kalian! Jangan jadikan aku pelampiasan rasa penasaran atau obsesi aneh kalian terhadap kekuatan Lima Elemen!"
Hyu-Jin melangkah lebih dekat lagi, mengabaikan omelanku. Pria itu menatapku dengan sorot mata yang begitu dalam. "Ini bukan soal kekuatan, So-Bin. Sejak hari di Hutan Bambu, matamu, suaramu, dan cara perlawananmu... semuanya sudah merusak duniaku. Aku tidak akan pergi."
Min-Hyuk menghela napas panjang, melipat tangannya di dada. "Sama sepertinya, aku tidak bisa membiarkanmu berjalan sendirian di dunia Gangho yang penuh duri ini. Terserah kalian mau menyebut ini apa, tapi aku akan tetap berada di sekitar sini."
Do-Yun menatap geram ke arah mereka berdua, lalu menarik tanganku pelan ke belakang punggungnya. "Sudah kubilang, dia di bawah perlindunganku!"
Aku menepuk jidatku pelan.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Tamat sudah... Alih-alih jadi petualang bebas yang tenang, aku malah resmi jadi pawang tiga ekor singa jantan galak yang siap mangsa siapa pun yang mendekat. Ampuni dosa-dosa figuran ini, ya Tuhan!”