Kisah tentang cinta dan persahabatan yang konyol..
Tentang bagaimana kehilangan lalu bangkit dan terus melanjutkan hidup...
Kita tak bisa melawan takdir.Karena sekeras apapun kita menolak takdir tetap akan berjalan sebagaimana mestinya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditolongin
...Dengar, mulai sekarang aku mengawasi mu....
...-...
...Tere...
...•...
...•...
...•...
...Now playing...
...Yovie & Nuno - Dia Milikku...
...°°°°°...
Hari ini pelajaran olahraga mengadakan penilaian renang. Karena sekolah mereka tidak memiliki kolam renang pribadi, mau tidak mau mereka berenang dikolam renang umum. Beberapa sudah berangkat menuju kolam renang dan ada pula yang masih bersiap seperti halnya dengan Nindya.
"Ndu, ke kosan dulu ya ngambil handuk"!
"Hemmm."
Mau Nindya ceritakan sesuatu?
Pak Mamat guru olahraga mereka memang sedikit unik. Pernah suatu hari mereka diminta untuk naik prosotan setinggi tiga puluh meter untuk nilai ulangan. Nindya yang takut ketinggian sampai-sampai dibuat menangis demi mendapat nilai olahraga. Itupun ditemani Rita yang duduk didepannya serta Tari dibelakangnya.
Ketika sampai, Nindya melihat beberapa temannya sudah ada yang berendam di air tapi ada juga yang belum datang. Dan kenjtannya, ternyata penilaian renang kali ini barbarengan dengan kelas Deny.
"Lama amat baru pada nyampe lo berdua," tanya Tari begitu Nindya dan Rindu ikut bergabung dengan mereka masuk kedalam kolam khusus anak-anak.
"Nih si Nindya ngambil haduk dulu ke kosan."
"Pak Mamat belom dateng?" Tanya Nindya tidak menanggapi.
"Belum. Kebiasaan, guru ngaret kan dia ma," memang benar kata Dian.
"Emak pulang bareng siapa ntar?"
"Nebeng sama Ulil," teman satu kelas mereka yang bercita-cita menjadi make up artist.
"Ndu, pulang nebeng lagi ya."
"Iyaaaaa...! Ampun ngomong mulu."
Tak lama, Pak Mamat yang sejak tadi jadi bahan ghibah mereka lun datang. Ia meminta absen satu dan dua berjejer untuk bersiap penilaian renang. Sampai tiba giliran Nindya dan temannya Tania. Merekapun diminta mengambil posisi untuk renang jarak lima puluh meter. Nindya memang tidak terlalu pandai berenang tapi, setidaknya ia bisa sedikit gaya kodok.
Prittt..
Mereka berdua segera masuk kekolam. Baru dua puluh meter tiba-tiba kaki Nindya mengalami kram karena tidak mendengarkan nasihat Tari untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Tari yang paling jago berenang diantara mereka pun berinisiatif menolong Nindya tapi, dia yang masih dalam posisi hendak masuk ke kolam kalah cepat dengan Deny.
"Uhuk..uhuk!" Bayangkan saja Nindya sedang memerankan model iklan obat batuk di televisi karena caranya batuk yang sedikit berlebihan.
"Lo gak apa-apa?" Tanya Deny yang tak bisa menutupi kekhawatirannya pada Nindya.
"Uhuk.., iya gak apa-apa. Makasih udah nolongin."
"Nin, lo gak apa-apa?" Tanya teman-teman Nindya yang mulai mengerubunginya.
"Ya lo pikir? Gua hampir tenggelem Cong." Jawabannya sangat jauh berbeda ketika Deny menanyakan keadaannya beberapa saat lalu. Dibantu Nana, ia berjalan menuju gazebo terdekat.
"Yee.., gue ceburin lagi lo!" Seloroh Dian yang kesal mendengar jawaban Nindya.
Deny pun segera meninggalkan Nindya setelah memastikan kondisinya tidak apa-apa.
"Si Deny sigap juga ya!" Rita yang baru datang malah mulai bergosip.
"Iya, gua liat minuman dia aja ampe dilempar pas liat lo tenggelem." Rindu adalah saksi kunci kejadian tersebut.
"Tahu gitu ma gua duduk manis, bikin malu gue aja tuh anak, mana posisi gue aneh banget keliatannya gara-gara gak jadi nyebur ke kolam!" Gerutu Tari.
"Lo mau liat gak? Tadi gue dapet fotonya," ujar Dian lirih namun terdengar jelas di telinga Tari.
"Emang dasar temen laknat lo pada!"
"Ngulang lagi nih gue? Ya elah, apes banget sih gue," keluh Nindya.
Benar saja setelah kakinya sudah tidak kram Nindya diminta mengulang, beruntungnya kali ini semua berjalan lancar.
"Gua rasa lu bakal jadi bahan gosip besok, Nin!" kata Dian.
"Gimana enggak orang dia ditolongin sama Deny," Nana yang menyahut.
"Apalagi pernah dibayarin makan di kantin, kan?" Tari mengingatkan kejadian saat itu. "Siap-siap aja lo jadi bulan-bulanan Tere!" Satu sekolah bahkan tahu bagaimana usaha Tere selama ini untuk mendapatkan Deny.
"Yang dibayarin kan bukan gua doang," sanggah Nindya.
"Siap-siap mental aja lo dari sekarang," Rita ikut memprovokasi.
"Bener tuh," yang lainnnya ikut membenarkan.
"Tenang selama ada kita, Nin." Rindu mencoba menyemangati Nindya yang tampak pias.
"Si anak belagu itu?" Tari mengedarkan pandangannya.
"Gausah kenceng-kenceng," ujar Nana mengingatkan.
"Lagian siapa yang mau jadi rival dia juga."
Saat masuk ke ruang ganti, mereka berpapasan dengan Tere serta teman-temannya yang memandang sinis pada Nindya. Tapi hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Nindya. Justru teman-temannya lah yang merasa kesal setengah mati dengan sikap Tere.
Rindu yang awalnya janji akan pulang dengan Nindya mengatakan jika ia buru-buru karena adiknya minta dijemput dari tempat les. Mau tidak mau Nindya harus pulang menggunakan angkutan umum yang ia yakin akan sulit ditemukan melintas disana ketika hari sudah menjelang sore begini.
"Ngapain lo disini? Mana Rindu?" Tanya Rita menghampiri Nindya berdiri dipintu masuk.
"Pulang duluan. Lagi pesen gojek cuma daritadi gada yang ngambil orderan," jawab Nindya lesu.
"Bareng si Deny aja. Dia kosong gak ada barengannya," usul Ervan yang baru saja datang.
"Gausah deh naek gojek aja."
"Den, Deny sini!" Rita melambaikan tangan pada Deny yang sedang berjalan menuju parkiran.
"Kenapa, Ta?"
...*****...
...Mlipir ke Someday yuk,...
lagian Deny alasan sebenarnya apa sih waktu mutusin Nindya.....
nikah dulu woy...
otHoR emang bisa bikin hepi ngakak2
jd kl g ada terjemahannya nanti sulit untuk memahami...dan kl sulit paham lama2 mls bacanya...jd ntar sepi dech
semangat y
bkin skit bgt n smpe baper, nangis",, 😭😭